Saturday 19 October 2013

Dinamisme Cita-Cita

Menurut saya, cita-cita itu dinamis. Berubah-ubah alias tidak istiqomah. Kenapa? Bayangkan saja! Saat saya masih TK, saya ingin sekali menjadi seorang model profesional. Entah kenapa, dulu saya senang sekali berias diri. Pakai blush on, eyes shadow, lipstick, maskara, dan lain-lainnya. Saya juga suka ikut lomba fashion show. Namun, ini bukan sebuah praktek eksploitasi anak karena saya melakukannya dengan senang hati dan tanpa paksaan. 

Saat SD, cita-cita saya berubah. Kali ini saya ingin jadi pelukis, pianis, bahkan konduktor musik. Ngomong-ngomong tentang konduktor musik, sebenarnya saya terinspirasi saat melihat penampilan Tya Subiakto di televisi. Entah dalam acara apa, saya belum terlalu paham, dia terlihat sedang memimpin sebuah orchestra di atas panggung yang dihiasai lampu sorot warna-warni. Saat itu, dia berdiri di depan sebuah piano hitam menarikan tangan-tangannya mengatur irama musik. Ujung jilbabnya yang putih dan panjang dikaitkan di salah satu jemarinya sehingga jilbabnya seakan melayang mengikuti irama musik. Saat itu, saya ingin seperti dia. Saya mulai les Piano. Karena dulu biaya lesnya mahal, akhirnya saya sudahi saja.

Saat duduk di bangku SMP, saya masuk ke sebuah pesantren. Dan, cita-cita saya berubah lagi. Saya ingin menjadi seorang pengajar Bahasa Arab, baik itu guru ataupun dosen. Cita-cita itu masih terbawa hingga duduk di bangku kuliah, bahkan hingga detik ini kalau boleh jujur. Saya ingin memberi pemahaman pada masyarakat awam bahwasannya Islam dan Arab adalah dua hal berbeda karena banyak sekali kesalahpahaman yang terjadi dalam hal ini. Namun, saat menyaksikan berita di televisi, saya prihatin dengan nasib para tenaga kerja Indonesia, khususnya TKW, yang mengalami peyiksaan atau terkena hukuman mati di sana. Rasanya saya ingin sekali membantu mereka. Saat itu juga, dalam hati saya, saya membatin bahwa saya ingin bekerja di kedutaan besar Indonesia sebagai seorang diplomat.

Naik tahun kedua, cita-cita saya kembali lagi menjadi seorang dosen Bahasa dan Sastra. Semakin banyak yang saya tahu, semakin saya tergila-gila dengan rahasia di balik bahasa dan kesusastraan, khususnya kesusastraan Arab. Saya masih ingat pembahasan singkat tentang puisi Dante Alighieri yang berjudul La Divina Comedia dan hubungannya dengan kesusastraan Arab. Saya masih ingat dulu saya terkagum-kagum saat dijelaskan tentang fi'il yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Pada akhirnya saya tertarik pada Semiotika. Ditambah lagi, saya suka membaca petualangan Robert Langdon yang membahas tentang makna berbagai macam simbol. Akhirnya saya ketagihan puisi dan semiotika.

Saking ketagihannya, setelah lulus saya berencana langsung melanjutkan kuliah. Namun, ternyata beasiswa dan kesempatan bukan milik saya. Seberapapun kemauanmu, usahamu bahkan doamu, kau tidak akan pernah mendapatkannya jika itu bukan jodohmu dan bukan jalan terbaik dari-Nya. Itu pemahaman saya selama ini. Namun, semangat saya belum padam. Keinginan saya belum surut. Saya akan terus mencoba dan mencoba. Di selang waktu menunggu kesempatan kedua, akhirnya saya memutuskan untuk ikut ujian CPNS salah satu departemen sebuah kementerian dan kembali mengukir asa menjadi seorang pegawai yang bekerja di keduataan besar Indonesia. Hingga detik ini, cita-cita saya masih bergerak dan berubah-ubah. Semua saya pasrahkan pada yang di Atas. Apapun yang saya dapatkan, saya ingin berguna bagi orang lain. Apaun hasilnya, jika baik, saya harus banyak bersyukur. Jika sebaliknya, saya harus mengikhlaskan.

#detik-detik pengumuman hasil TKD

1 komentar:

 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang