Monday, 10 March 2014

Galeri Delapan Tahun Silam




Sepotong pagi nan cerah di tahun 2006 namun tak secerah suasana hati. Jantung ini berdetak dua kali lebih cepat, sedangkan kaki berjalan lambat seperti enggan berjalan. Serasa macam pesakitan yang akan menerima hukuman gantung. Hari itu benar-benar hari penentuan. Lulus dari Kampung Damai atau masih mendekam setahun lagi? Ah! Lebih baik pasrahkan saja bukan? Yang terpenting, sudah berusaha sekuat mungkin.

Hari itu adalah hari yudisium kelulusan saya dari Gontor Putri. Deg degan gak karuan. Takut nggak lulus padahal sudah 6 tahun di sana. Sedihkan kalau gak lulus? Hari itu lapangan depan gedung Kuwait sudah dipenuhi para wali murid yang akan menyaksikan kelulusan dan menjemput kami sebagai alumni Gontor Putri 2006. Di satu sudut lapangan, tampak sebuah mobil Ambulance bertengger manis siap siaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan (baca: ada santri yang belum lulus ujian akhir) terjadi. Untungnya, orang tua saya tidak datang. Jadi, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan itu, setidaknya saya tidak melihat langsung raut sedih kedua orang tua saya. Saya memilih duduk di satu kursi dekat pinggiran tenda. Menunggu dengan resah dan gelisah.

Akhirnya, panggilan gelombang pertama pun mulai. Gelombang pertama adalah panggilan untuk para santriwati yang lulus dan mengabdi di pondok pusat dan cabang. Nama pertama yang dipanggil pastilah santriwati yang mendapatkan nilai mumtaz alias cumlaude. Lalu dilanjutkan dengan naman-nama yang akan ditempatkan di setiap pondok cabang. Well! Saya yakin nama saya tidak akan ada di panggilan gelombang satu ini. Namun, tiba-tiba nama saya disebutkan. Sontak saya ternganga dan teman-teman di sebelah saya juga terbelalak tak percaya.

Dengan langkah gemetaran, saya berjalan menuju tangga. Di ujung tangga, Saya melihat ustad Budi, wali kelas saat saya kelas V, tersenyum sambil mengucapkan selamat. Saya mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah penuh. Akhirnya saya tahu bahwa saya akan mengabdikan diri selama setahun di Gontor Putri 4 Lamomea, Konda, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Glek! Saya akan merantau lagi rupanya. Kali ini ini ke Celebes. Okey baiklah! Yang sangat saya syukuri saat itu adalah kami semua, angkatan 2006, lulus semua. Alhamdulillah...

Sujud Syukur

Setelah Sujud Syukur
Teman-teman seperjuangan di Gontor Putri 4

Dan inilah petualangan di Gontor Putri 4 Kendari.....

Gedung al-Azhar Gontor Putri 4

Pengasuh Gontor Putri 4 dan staf pengajar

Jadi, Kampung Damai (PMD Gontor) mempunyai tradisi di setiap awal tahun ajaran, yaitu acara Khutbatul Arsy atau pekan perkenalan. Acaranya bermacam-macam, dari apel tahunan hingga pentas seni kelas 6. Nah di Gontor Putri 4 sendiri juga ada, namun tentu saja lebih sederhana daripada acara di pondok pusat. Kalau di pondok pusat, para staf pengajar akan dibantu siswa/i kelas 6 untuk kepanitiannya. Kalau di GP 4 semuanya menjadi tanggung jawab para pengajar. Pagi ngajar, siang ngajar, sore ngajar TPA di sekitar pondok, malam begadang menyiapkan acara. Yap! Kerjakan dengan riang dan tentu saja dengan penuh rasa ikhlas seperti yang telah diajarkan para ustad pengasuh pondok dan Trimurti pendiri pondok. Inia dia galeri fotonya:

1. Apel Tahunan



2. Pentas Seni
Berhubung di GP 4 belum ada kelas V dan kelas VI, maka seluruh santriwatilah yang menampilkan bakat dan kebolehan mereka. Dan kegiatan ini sangat berkesan bagi saya pribadi karena saya bisa terjun mengajarkan tari Gelombang khas Sumatera Barat. Cekidot!

Paduan Suara sebagai pembuka acara. "Darussalam"
Coached by me (hehe)

Jika liburan datang, dan para santriwati pulang biasanya kami akan pergi refreshing ke pantai. Dan pantai di Sulawesi Tenggara masih bersih banget. Yang saya ingat adalah Nambo dan Batu Gong.



Para Ustad (yang dulunya pada masih lajang :D) dan pekerja pondok

Kangen sangat rasanya. Suatu saat pengen sekali saya kembali kesana untuk sejenak bernostalgia. Ah Semoga.

Rambo. Mobil serba guna


Bazar April Cafe

Lebaran!!!

Yang gak pake seragam ketahuan banget orang di balik layar (baca: masak-masak)


Sebenernya masih banyak sekali kisah-kisah suka dan duka di sana. Namun, posting kali ini cukup meredam rasa rindu saya. Semoga kita dapat bermanfaat bagi masyarakat di lingkungan sekitar kita ya teman-teman.

Sunday, 9 March 2014

Review Skripsi Semiotika

Walau sudah tidak menjadi mahasiswi Sastra Arab lagi, beberapa orang adik angkatan masih bertanya seputar semiotika khususnya untuk meneliti puisi. Hmm. Sebenarnya ilmu saya masih sangat cetek. Bahkan saya pun belum diberi kesempatan untuk melanjutkan studi lagi ke jenjang strata dua. Namun, semoga saja kekurangan ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat tentu saja. Saya hanya bisa berbagi pengalaman saya saat mengerjakan skripsi. Saya mungkin akan menjelaskan dengan bahasa sederhana saja dan tidak memakai istilah yang aneh-aneh lagi menakutkan.

Salah satu masalah yang sering saya dapati adalah cara memaknai puisi. Contoh kasusnya biasanya terdapat pada puisi yang berisi tentang perjuangan dan kritik terhadap pemerintah. Di dalam beberapa judul puisi, terkadang dapat ditemui tanggal yang biasanya merujuk pada suatu peristiwa non fiktif  alias nyata. Dan tanggal ini biasanya memiliki kolerasi dengan isi puisi. Biasanya si peneliti langsung saja memaknai isi puisi  tersebut dengan memaparkan peristiwa  nyata yang terjadi tanpa menekuri kata demi kata dalam bait puisi. Lantas jika memaknai seperti demikian apa bedanya Semiotika dengan Sosiologi Sastra bukan?

Yap! Sebenarnya dua teori ini berbeda. Dulu saya juga sempat seperti itu. Saya sering kali googling mencari 'sejarah' dan 'kisah' yang terjadi di dalam puisi yang saya teliti. Namun Dosen Pembimbing saya mengatakan bahwa saya tidak perlu repot mencari peristiwa nyata yang terjadi, namun maknailah kata demi kata setiap bait puisi tersebut karena teori yang digunakan adalah Semiotika.

Agar saya selalu ingat dan tidak tertukar lagi antara Semiotika dan Sosiologi Sastra, saya mengingat-ingat empat orientasi Sastranya Abrams dalam buku The Mirror and The Lamp, yaitu Mimetik, Pragmatik, Ekspresif, dan Subjektif. Simpelnya, teori Mimetik adalah teori yang beranggapan bahwa karya sastra adalah imitasi atau tiruan dari alam semesta. Teori Pragmatik adalah teori yang beranggapan bahwa pencipta karya sastra dianggap telah mati, sedangkan karyanya akan dinilai oleh para pembaca. Teori Ekspresif adalah teori yang menyatakan bahwa karya sastra adalah bentuk ungkapan perasaan sastrawan itu sendiri, sedangkan teori Subjektif adalah teori yang memaparkan bahwa karya sastra adalah sesuatu yang otonom alias berdiri sendiri (ingatkan saya jika penjelasan ini salah).



Nah, apa hubungannya dengan Semiotika dan Sosiologi Sastra? Tentu saja berhubungan. Mudahnya, Sosiologi Sastra adalah turunan dari teori Mimetik, sedangkan Semiotika adalah turunan dari teori Subjektif. Jadi, saat memaknai puisi, fokuslah pada kata-kata yang terdapat dalam puisi karena saat itu puisi menjadi sesuatu yang otonom alias berdiri sendiri. Adapun peristiwa nyata yang memang terjadi hanyalah sebagai penguat pemaknaan kita.

Kata teman-teman, yang sudah terlebih dahulu melanjutkan studi di strata dua, pelajaran yang seperti ini tidak ada artinya sama sekali sih. Tapi setidaknya cukuplah untuk menambah pengetahuan kita. Yah. Semoga saja saya bisa menyusul mereka untuk melanjutkan studi saya. Amiin. Semangat!!!

Friday, 7 March 2014

Loving Arabic Literature

Really miss his voice so much when he's reading his poetry!!



I'am back! Yeah kembali lagi menekuri Introduction of Modern Arabic Poetry, Semiotic of Poetry-nya Riffaterre, Modern Arabic Literature 1800-1970, A Critical Introduction to Modern Arabic Poetry, dan masih banyak lagi. Aih! Betapa rindu rasanya menekuri kembali kumpulan puisi Arab karya Nizar Qabbani. Sekilas, puisi-puisi ciptaan Qabbani memang terlihat erotis. Beberapa teman Arab saya sendiri tidak menyukai karya-karya Qabbani. Saat mengerjakan skrispi dulu, mereka banyak menyarankan saya agar meneliti karya Mahmud Darwisy yang puisinya memang berisi tentang semangat perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan mereka atau Jubran Khalil Jubran (aka Kahlil Gibran) yang romantis ataupun Mikhail Nuaimah dan lain sebagainya.

Sebenarnya, saya menyukai semua puisi dan pepatah Arab. Semuanya indah dengan wazn dan ritme yang sangat harmonis. Kalau dijabarkan di sini mungkin akan panjang dan bisa jadi sebuah karya ilmiah. Keindahan bahasa Arab memang tidak tertandingi. Bahkan mungkin keromatisan kata-katanya juga akan mengalahkan bahasa Prancis yang dijuluki bahasa teromantis. Selain romantis, puisi dan pepatah Arab memiliki ruh yang rasa-rasanya dapat mengendalikan emosi dan semangat saya. Contohnya saja, puisi Ibrahim Tauqan yang berjudul at-Tafaaul yang berarti optimis. Saking ngefansnya, saya mengutip beberapa baris puisinya untuk halaman motto di skripsi saya. Saya suka semuanya, namun yang paling saya suka adalah Nizar Qabbani walau kata orang puisinya banyak yang erotik dan menggunakan kata-kata yang vulgar. Nah inilah yang menarik untuk diteliti. Menurut saya, keerotisan puisi Qabbani pasti memiliki makna penting yang ingin disampaikan olehnya. Tugas kita adalah meneliti makna yang tersembunyi tersebut. Dan di sinilah Semiotika menjalankan tugasnya. Saya benar-benar jatuh cinta pada puisi Arab dan semiotika. Tahun ini sepertinya tahun terakhir untuk mendapat kesempatan 'sekolah' kembali. Jadi, saya harus bekerja keras dan tetap optimis. Semoga Tuhan mendengar doa-doa saya. Amiin.

Dulu saya pernah bertanya-tanya dalam hati. Kenapa saya memilih sastra? Dengan kasat mata, sastra bukanlah bidang ilmu yang sepertinya punya peran dalam kehidupan kita sehari-hari. Beda dengan orang yang mengambil Teknik, Kedokteran, Psikologi, Ekonomi, Komunikasi, dan lain sebagainya. Anak teknik dapat membantu masyarakat dengan menciptakan sebuah alat, anak kedokteran dapat membantu dengan mengobati orang dan lain sebagianya. Terus sastra? Apakah hanya berkutat di dalam ruang sumpek penuh buku untuk sekedar membaca dan menulis? Namun, saya akhirnya menemukan jawaban. Ilmu sastra juga berguna untuk masyarakat sekitar kita bahkan untuk negara. Memang sih anak sastra tidak bisa menciptakan mesin canggih atau mengobati orang sakit, namun mereka membantu lewat tulisan mereka. Yap! Tanpa disadari, tulisan adalah sebuah media yang dapat mempengaruhi orang. Lihat saja berapa banyak sastrawan yang dijebloskan ke dalam penjara karena tulisan mereka yang berisi kritikan. Salah satunya sebut saja Pramoedya Ananta Toer. Bahkan, di dunia Arab, puisi adalah salah satu media untuk berjuang membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan kritikan pada pemerintah.

Mungkin ilmu Humaniora belum populer saat ini dan dipandang sebelah mata. Namun, seiring berjalannya waktu, saat dunia menjadi cyber, 20 atau 50 tahun lagi manusia akan melirik ilmu-ilmu ini. Tentu saja karena ilmu-ilmu Humaniora membantu melestarikan peninggalan dan catatan perjalanan umat manusia. Manusia tidak akan bisa menuju masa depan tanpa melalui masa lalu bukan?

#Trust me! Arabic is truly awesome!

Wednesday, 5 March 2014

Bagaimanakah Dakwah Kita?

Kala itu ahun 2009. Saya sedang duduk bersama teman-teman di selasar lantai I FIB saat beberapa perempuan memakai jilbab panjang dan lebar, berbaju gombrong serta rok panjang tiba-tiba saja mendekati kami mengajak kami berdiskusi. Salah satu di antara mereka memulai pembicaraan. Awalnya tentang kenaikan harga BBM dan kebijakan subsidinya. Mbak tersebut memaparkan panjang lebar. Kami hanya melongo mendengarkan. Beberapa orang di antara kami malah sudah tidak betah dan kasak-kusuk sendiri. Malah beberapa ada yang meninggalkan tempat tersebut berpura-pura mau masuk kelas. 

Saya sendiri masih mendengarkan dengan serius merasa tertarik dengan perbincangan ini. Pada akhirnya pemaparan si Mbak tadi beralih dari masalah bensin ke masalah penerapan hukum-hukum Islam di Indonesia. Hmm. Berat ini ternyata! Akhirnya si Mbak bertanya pada saya apakah saya setuju jika hukum Islam diterapkan di negeri ini. Karena mereka berpendapat bahwa syariat Islam adalah hukum yang paling benar dengan memaparkan sejarah kemakmuran pada masa Rasulullah dan para khalifah.

Menurut saya? Menurut saya memang jika dikaji aturan-aturan dalam Islam memang sempurna. Semuanya diatur dengan rapi tanpa cela. Saya setuju saja sebenarnya. Namun dari sudut pandang lain, penerapan hukum Islam ini sepertinya belum bisa diaplikasikan di Indonesia. Ini tentu saja karena penduduk Indonesia yang multikultural. Banyak suku, ras, etnis, dan agama. Jadi, saya menyimpulkan bahwa belum memungkinkan untuk menerapkan aturan tersebut di Indonesia. Si Mbak lalu bertanya lagi, "Lantas jika sebenarnya Anda setuju, lalu apa solusinya?". Saya berpikir kembali. Dengan pola pikir anak seumuran saya pada saat itu, saya mengatakan mungkin bisa saja hukum dan aturan negara ini 'mencontek' sebagian dari hukum Islam dan dipadukan dengan hukum negara kita sehingga toleransi antar agama tetap utuh dan terjaga. Intinya jangan sampai ada yang tersakiti.

Si Mbak memberi pernyataan bahwa hukum Islam tidak akan merugikan orang lain, jadi seharusnya hukum Islam dapat diterapkan di negeri ini. Okey! Kalau sudah berbicara kesempurnaan hukum Islam, saya akan angkat tangan menyerah. Yang jadi masalah bukan Islam dan hukumnya, namun kita, para penganut agama Islam. Kita seharusnya lebih banyak introspeksi diri terlebih dahulu. Apakah kita telah mengikuti teladan kita, Rasulullah SAW, contoh kecilnya dalam muammalah kita pada sesama umat Islam dan pada mereka yang non muslim?? Sudahkah? Kalau sudah, mengapa sering kali terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh organisasi yang mengatasnamakan Islam? Tidak hanya satu dua kali. Sudah sering malah. Saya miris melihat, mendengar, atau membaca sepak terjang organisasi atau golongan tertentu yang sering kali bikin onar dengan mengatasnamakan untuk membela Islam. Membela Islam macam apa itu? Yang ada hanya menjelekkan citra agama yang kita cintai ini.



Islam sejatinya adalah rahmatan lil alamiin. Rahmat bagi seluruh alam termasuk seluruh umat manusia apapun keyakinan mereka. Islam itu indah dan damai. Islam bukanlah kekerasan dan peperangan. Pasti masih ingat kan di benak kita bagaimana Rasul memperlakukan seseorang yang telah melempar beliau dengan kotoran? Kita masih ingatkan tentang perlakuan adil dan toleransi para khalifah terhadap masyarakat non muslim? Namun, apa yang terjadi di negara kita? Kekerasan yang katanya adalah penegakkan syariat Islam. Kekerasan yang katanya adalah bentuk pembelaan pada agama. Bahkan omong kosong yang katanya untuk dakwah mengajak orang-rang ke dalam pelukan Islam.

Dakwah. Ya saya akui seluruh umat Islam memiliki kewajiban untuk berdakwah. Tapi dakwah yang bagaimana sih? Sepengamatan saya, dakwah kita ini aneh. Benar! Aneh! Ada yang dengan kekerasan. Ada yang dengan omongan, tapi sayang omong kosong dan menyakitkan. Kalau kekerasan mungkin contohnya sudah banyak ya di surat kabar dan tayangan televisi nasional. Kalau omong kosong yahh lihat saja di sekitar kita. Saya pernah ikut pengajian yang intinya adalah masalah anak muda 'banget' apalagi kalau bukan masalah cinta dan pergaulan dengan lawan jenis. Intinya si pembicara meminta kita menjaga hati dari yang namanya laki-laki yang bukan muhrim. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Orang yang mengajak malah melakukan larangan yang mereka katakan sendiri. Miris sekali rasanya melihat teman-teman yang mulanya bersemangat untuk lebih mengenal kindahan agama kita menjadi malas dan tidak tertarik lagi. Belum lagi yang berdakwah dengan melontarkan omongan pedas, menggurui, bahkan terkesan memuji diri sini mengaggap dirinya paling soleh. Lah bagaimana orang akan terbujuk jika seperti itu?

Saya setuju dengan opini Ustad Shamsi Ali. Dalam satu program televisi beliau mengatakan bahwa dakwah itu harus dilakukan dengan kasih sayang karena kegelapan tidak akan pernah terang dengan caci maki. Lantas, saya menyimpulkan bahwa kita harus berdakwah dengan pelan-pelan, lemah lembut, dan tidak hanya dengan omongan yang pada akhirnya bak janji-janji palsu para caleg. Jika berdakwah dengan perkataan, maka  berkatalah dengan halus, tidak menggurui, dan tidak menganggap bahwa diri kita paling benar serta pegang teguhlah apa yang dikatakan lantas contohkan dengan tindakan yang sinkron dengan apa yang kita katakan.

Setelah panjang lebar mengungkapkan opini saya pada si Mbak. Mbak itu lalu bertanya, Lalu bagaimana Dek? Mau ikut tidak untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia? (dalam hati: Yah! Pertanyaan itu lagi!!). Saya menggeleng saja. "Tidak ikut Mbak. Tapi saya mendukung saja dengan catatan yang sudah saya paparkan tadi, Si Mbak menjawab, "Ya sudah. Kalau hanya mendukung dan tidak ikut berjuang, Adek bakal masuk syurganya terakhiran. Wassalamualaikum." Si Mbak berlalu begitu saja. Saya hanya tersenyum dan membatin, "Wallahu a'lam..."

Monday, 3 March 2014

Sebuah Cerita Di Kedai Kue Ceria

Pagi itu Kedai Kue Ceria masih tampak sepi pengunjung. Ciara, putri tunggal Bunda Dewi, sang pemilik toko, tampak sibuk mengelap kaca etalase sambil menata kembali kue-kue kering yang akan dijual. Ia juga menyisihkan beberapa kotak kue yang telah dipesan oleh para pelanggan. Hari-hari menjelang Lebaran seperti ini adalah hari yang sibuk sekaligus hari keberuntungan bagi keluarga Ciara. Pembeli akan bertambah banyak dan para pelanggan tetap akan memesan kue lebih banyak dari biasanya.

Di tengah kesibukannya, diam-diam, sudut mata Ciara menangkap gerak-gerik seseorang yang tengah memasukkan adonan kental Chocolate Slice Cake ke dalam beberapa buah loyang yang terlebih dahulu telah dilapisi kertas roti dan diolesi mentega. Dengan cekatan, jemari kokoh itu meratakan adonan menggunakan sepatulah plastik. Pekerjaannya nyaris sempurna tanpa ada setitik noda adonan yang tumpah di atas meja. Beberapa saat kemudian, sosok itu pergi sambil membawa dua loyang adonan menuju oven yang terletak di sebuah sudut ruangan. Ciara setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwasannya seorang lelaki terlihat seksi saat mereka memasak bukan pada saat pamer otot gede dan perut six pack di kontes sebuah produk susu.

Bang Ailul. Itulah panggilan yang selalu Ciara gunakan untuk memanggil sosok tersebut. Ia adalah mantan anak murid bunda Ciara di sebuah sekolah kejuruan. Kata bunda, Bang Ailul adalah anak yang rajin bekerja dan tak banyak bicara. Ciara pertama kali bertemu dengannya ketika masih duduk di bangku SD, saat bertandang ke sekolah bundanya dan tanpa sengaja melihat Bang Ailul sedang mengukir daging buah semangka membentuk kelopak-kelopak bunga. Bunda beberapa kali juga meminta bantuannya untuk bekerja di toko mereka saat Lebaran akan tiba.

Hari-hari pun berlalu. Singkat kata, Ciara beranjak dewasa da melanjutkan pendidikannya di luar kota. Begitu juga Bang Ailul. Ia memutuskan merantau ke negeri tetangga untuk bekerja. Lama sekali Ciara tak berjumpa dengannya hingga tibalah saat ini; Ciara sedang liburan bulan Ramadhan dan Bang Ailul sendiri mengambil cuti setelah sepuluh tahun meninggalkan tanah air. Tak banyak yang berubah darinya termasuk sifat rajin bekerja dan tak banyak bicara. “Ra! Ara” Tiba-tiba saja Bang Ailul sudah berdiri di sampingnya. Membuat dirinya tergugup takut ketahuan bahwa ia sedang memerhatikan dan memikirkan Bang Ailul.

“Ra… tolong buatkan adonan Mocca Coffee Cookies. Nanti Abang yang mencetaknya”. Tanpa banyak tanya, Ciara langsung melesat masuk ke dapur dan mulai meracik adonan kue kering yang diminta. Jantung Ciara berdetak dua kali lebih cepat. Grogi karena Bang Ailul memerhatikannya meracik adonan. Ciut karena sedang diperhatikan oleh ‘pakar’ pembuat kue. Jika dibandingkan, kemampuannya dan kemampuan Bang Ailul sangatlah jauh berbeda. Ciara sendiri belajar meracik adonan secara otodidak, sedangkan Bang Ailul sudah belajar sejak sekolah ditambah lagi dengan pengalaman kerjanya menjadi seorang chef hotel bintang lima. Bang Ailul sendiri tampak tersenyum geli melihat wajah dan pergelangan kemeja Ciara yang sudah dipenuhi oleh tepung terigu dan mentega. “Udah deh Bang! Jangan lihat Ciara seperti itu! Ciara nggak PD nih lagian ini kan bukan acara Master Chef. Tuh Black Forest Bang Ailul sudah ngambek minta dihias,” kata Ciara sewot sambil menunjuk Black Forest malang, yang tergeletak di atas meja hias, dengan sepatulah yang dipegangnya. Rada nggak sopan sih, tapi terpaksa. “Iya deh…,” katanya sambil berlalu membawa semangkuk cherry merah bertangkai.

Tiba-tiba Tante Noni, adik ipar bunda, sudah berdiri sejajar di sampingnya sambil senyam-senyum menggoda. Ciara sempat kaget. Untung saja essen mocca yang dipegangnya tidak tumpah ke dalam adonan buatannya. “Ra, apa kamu tidak tertarik dengan Bang Ailul? Ganteng, cool, nggak banyak omong, dan pintar masak lagi,” Tante Noni mulai promosi. Promosi yang sama sejak Bang Ailul datang ke Kedai Kue Ceria tahun ini. “Duh tante! Ngagetin aja deh! Ciara belum berpikir untuk punya pasangan tante. Umur Ciara masih 22 tahun pula,” jawab Ciara sok kalem. “Apa? 22?? Kenapa jadi lebih muda empat tahun Ra? Gak salah dengar apa telinga tante ini?” Ciara mematikan mixer yang dipegangnya sambil berkata, “Just kidding tante! Jangan masukin ke hati. Hmm gimana ya? Sepertinya Ciara belum tertarik,” Tante Noni melengos kecewa dan pergi ke etalase mengambil beberapa kotak Nastar dan Kastengel pesanan pelanggannya. Ciara geleng-geleng kepala melihat tingkah tantenya yang tetap gaul walau umur sudah jauh dari kata ABG.

Tertarikkah ia? Jawaban hatinya adalah ‘iya’. Ciara tidak memungkiri bahwa diam-diam, ia tertarik dengan Bang Ailul. Baik, kalem, pekerja keras, bonus pintar masak pula. Bahkan rasa tertariknya sudah over dosis. Bahkan telah menjelma menjadi sesuatu yang keramat, yaitu cinta. Tapi, Ciara tidak mau lagi banyak berharap. Memori itu memang telah 6 tahun berlalu, tapi goresan lukanya masih belum sembuh hingga kini. Mungkin ia masih memerlukan banyak waktu untuk recovery. Biarlah ia titipkan saja rasa cintanya pada sang maha Cinta. Ciara yakin bahwa Dia lebih tahu siapa yang terbaik untuknya. Jika jodoh dekatkanlah, jika tidak, mohon jauhkanlah dia, Tuhan…. Berserah. Mungkin ini adalah pengobat luka hatinya. Ciara tersenyum menyadari bahwa ia telah berdamai dengan cinta. Namun, cinta kali ini biarlah hanya Ciara dan Tuhan yang tahu. Dan Tuhan pula yang memutuskan akhirnya. Bukan tebak-tebakan ia, bukan Tante Noni, dan bukan juga sahabat-sahabat gokilnya.

“Ra! Adonannya dah jadikah?  Ni Abang buatkan Banana Cake tuk takjil nanti. Sedap dinikmati dengan tea. Resep baru Abang!” Kalimat Bang Ailul dengan logat bahasa Melayu khas negara tetangga sebelah menyadarkan Ciara dari lamunannya. Ciara tersenyum mengucapkan terima kasih.

---TAMAT---

#Efek baca novel genre romatis mellow-mellow. Ayo donk Oom Dan Brown! keluarkan lagi karyamu setelah Inferno!!! Biar gak mellow kayak gini. Pliss!

Saturday, 1 March 2014

Jogjakarta Again

Hola! Como estas? Bien?! Sudah tiga hari menginjakkan kaki lagi di Jogjakerdah. Rasanya senang tak terkira kayak ketemu kekasih hati yang terlibat cinta jarak jauh (halah! kayak pernah aja!). Jogja sudah mendingan daripada saat saya tinggal sekitar seminggu yang lalu. Minggu lalu Jogja penuh abu vulkanik kayak video klipnya lagu Guzaarish, tapi tiga hari ini Jogja sudah lumayan bersih walau sesekali ada butiran-butiran debu nyasar masuk mata dan bikin efek kedap-kedip nggak karuan. Selain kangen Jogja, saya juga kangen berat sama teman paling setia saya, teman yang mau saja saya suruh-suruh angkat benda-benda berat bahkan angkat jagung manis 20 kg dari Demangan ke Jakal, siapa lagi kalau bukan Si Jago Merah, motor hasil pinjaman dari ortu (belum mampu beli sendiri hehe...). Tampangnya Si Jago Merah tidak kalah berantakannya dari kota Jogja seminggu yang lalu. Warna merahnya sudah agak memudar tertutupi abu vulkanik gunung Kelud (Ah! Percuma saja kemaren dimandiin nih motor).

Hari pertama sampai, langsung merencankan beberapa list yang harus dikerjakan hari itu juga macam ngerjain motivation letter, minta surat rekomendasi dari kedua bapak dosen yang baik hati, janjian sama Eva, mandiin Si Jago Merah, dan beli jam tangan. Walhasil yang bisa dikerjakan hanya bertemu dengan Eva dan minta contoh format surat rekomendasi yang rada-rada British gitu. Setelah itu, pergi ke Elizabeth beli jam tangan (lagi-lagi) dengan Eva. Pada dasarnya mungkin yang namanya cewek emang doyan yang namanya shopping. Yang awalnya cuma beli jam tangan eh jadi keterusan lihat-lihat tas, dompet, dan sepatu. Well, kalau tas dan dompet mungkin nggak terlalu masalah karena saya tidak terlalu suka membeli dua barang itu. Nah kalau sepatu beda lagi itu perkaranya. Tapi, bukan Nta kalau tidak bisa menahan nafsu untuk shopping. Hahahaha. Setelah puas lihat-lihat, kami cabut dari toko itu dan ternyata hujan sudah turun dengan lebat. Akhirnya ngacir menuju foodcourt toko sebelah beli makanan. Iya sih beli makanan, tapi modus utamanya tetap aja cari tempat berteduh yang cozy (Maap ya mas yang jualan Ayam Lari). 



Di sini mulailah, saya dan Eva mengobrol ngalor ngidul tentang berkas-berkas persyaratan S2 dan hunting beasiswa dari beberapa negara. Yaya... saya sama Eva sekarang lagi jadi Scholarship Hunter. Kami punya keinginan yang sama. Sama-sama pengen jadi dosen Bahasa Arab. Untuk jadi dosen, ya harus S2 dulu, tapi kami tidak ingin lagi merepotkan orang tua. Maka jadilah kami ini para pemburu beasiswa. Kalau dengar atau baca tentang beasiswa sinyal kami langsung penuh deh. Rupanya percakapan kami beralih ke soal nikah (*halahhh! itu lagi). Nikah hmm topik yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan dan sepertinya lebih sensasional daripada gosip artis di tipi. Tiba-tiba saja tertohok dengan pertanyaan Eva. Nanti seandainya mendapatkan beasiswa (khususnya beasiswa luar negeri) terus ada seseorang yang "mengkhitbah" (asyikkk istilahnya khitbah cyinn!!) lalu mau bagaimana? Tik... tok... tik... tok... terdiam dan berpikir cari ide pakai gaya Ikyu San sambil melongo dan bilang "oh iyaya". Nah lho? Bagaimana ya? Saya juga bingung. Tapi dengan (sok) kalem saya jawab saja. Ya kalau hati sreg ya nikah aja dulu. Bagaimanapun ikatan pernikahan kan lebih erat dibanding ikatan pertunangan apalagi pacaran. Kalau ternyata yang dipermasalahkan adalah masalah beasiswanya, ya ya belum ada solusi yang konkret sih, tapi mungkin masalah ini harus dikomunikasikan dengan si "dia". saya yakin sudah banyak laki-laki yang berpikiran maju dan tidak kolot lagi di tahun 2014 ini. Yup. Mungkin lagi-lagi solusinya adalah komunikasi yang intens (mirip judul acara infotainment). Klise sih, tapi banyak benernya.

Tiba-tiba teringat novel-novel karya mbak Fanny Hartanti yang sering kali mengangkat cerita tentang perempuan. Yeah... pada akhirnya perempuanlah yang harus mengalah. Okey. Ini juga klise. Tapi setidaknya kita telah berusaha untuk speak up tentang ide dan impian kita. Kalau si "dia" memperbolehkan kita untuk melanjutkan pendidikan ya betapa beruntungnya kita karena mendapatkan seorang lelaki (Aih... bahasanya pakai "lelaki" bo!) yang pengertian dan memikirkan kelangsungan pernikahan ke depannya saat tiba masanya memiliki anak. Ya seperti kita  tahu, zaman terus maju dan berkembang pesat, begitu pula dengan generasi mendatang. Mereka akan berlipat-lipat kali lebih cerdas. Jadi, tak ada salahnya perempuan memiliki pendidikan yang tinggi karena dia akan menjadi seorang ibu. Yap. Ibu bukan hanya lembut, tapi juga tangguh, kuat, dan pintar. Salah satunya dengan apa? tentu saja dengan pendidikan.

Hujan pun akhirnya reda. Kami keluar menuju parkiran lalu melesat ke area kampus untuk mengambil motor Eva. Setelah ber"dadah-dadah" ria, kami berpisah di parkiran belakang. Sepanjang perjalanan ingatan saya masih terngiang-ngiang dipenuhi percakapan kami di foodcourt. Kalau boleh jujur sebenarnya, kalau berada di posisi seperti itu, saya tidak rela sih. karena itu adalah impian terbesar saya. Saya ingin melanjutkan S2 dan menajdi dosen Bahasa Arab yang ahli dalam kajian Semiotika atau Kritik Sastra Feminis. Ah! Semoga saja Tuhan mengirimkan seseorang yang mengerti akan keinginan ini. Amiin.

Okey! Baiklah saatnya terbangun dari lamunan tentang masalah ini. Now! It's show time!!! Hunting beasiswa lagi. Susah-susah lagi. Berusaha lebih keras dan keras lagi. Yup. Tiada suatu yang besar tanpa perjuangan yang hebat kata Yovie n Nuno.

Thursday, 27 February 2014

Conversation of Dad and Her Daughter

Anak perempuan: Papa apa kabar? Sehat?
Papa: Alhamdulillah sehat. Kamu apa kabar di sana?
Anak perempuan: Sehat juga. Papa jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan dan cukup istirahat biar gak sakit.
Papa: Iya nak
Anak perempuan: Adek lagi ngapain Pa? Kok dihubungi gak diangkat-angkat handphonenya?
Papa: Tuh lagi di teras. Pacaran (berkata dengan santainya)
Anak perempuan: Apa pacaran??? Huahhhh.... kok adek duluan sih! Aku kan 26 tahun jomblo!!! (histeris)
Papa: Makannya cari juga donk!. Masa kalah sama adek
Anak perempuan: (krik krik krik) Iya deh besok nyari. Mana tahu ada di warung sebelah kos (ngasal). Ya udah deh Pa. Besok kakak telepon lagi. Sore Pa...
Sepupu yang ternyata nguping percakapan: Kak, kalo umur 14 tahun jomblo masih wajar kan? Lah kalo 26 tahun gimana?
Anak perempuan: tut... tut... tut... keluar asap dari atas kepala

#Sore yang geje.


Saturday, 8 February 2014

CLR PART 3



Cerita ini adalah fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan peristiwa, tokoh, dan latar itu hanya kebetulan semata atau kadang agak terinspirasi dari kisah nyata. Please enjoy it! (Haha kayak ada yang mau baca aja)--Nta--


Gue berjalan di antara genangan becek sisa ujan tadi sore menuju sebuah pelataran parkir sebuah toko di bilangan jalan Solo. Tadi siang gue dapet SMS dari Kak Adri. Dia ngajak gue ketemuan dan jalan-jalan. Karena gue lagi nggak ada kerjaan juga, makannya gue mau diajak. Yah mana tau dapet traktiran makan gratis. Hehehehe

Setelah sampe di tempat janjian, gue celingak-celinguk nyari orang pake jaket warna oren. Buset deh! Kenapa harus oren sih? Tukang parkir kan pada pake baju oren juga, jadi gue susah ngebedainnya. Gue masih celingak-celinguk sambil memilih-milih mana tukang parkir, mana jeruk Sunkist eh... kak Adri maksudnya.
"Amor!" Gue denger seseorang manggil nama gue. Ketika gue noleh ke sumber suara, gue nemuin tuh orang yang gue cari-cari dari tadi. Fiuhh. Lega setengah mati. Gue liat dia jalan ngedeketin gue. Mata gue kedap-kedip silau gara-gara ngeliat jaket orennya yang ngejreng
“Tadi aku udah lihat kamu, tapi kamu kayak orang kebingungan gitu,” katanya.
“Hehe… maaf Kak. Tadi aku rada bingung soalnya nggak bisa bedain kakak ama tukang parkir… upss!” 
Astaga! Gue keceplosan ngomong begitu.
Gue ngelirik dia takut-takut. Eh… bukannya marah besar, dia malah ikut ketawa ngakak.
“Kamu lucu banget sih!” katanya sambil masih tetep ngakak.

---- 

Gue memandang ke sekitar restoran dan mematut-matut keunikannya yang sangat "Jawa". Restoran itu sederhana terbuat dari bambu-bambu mengkilap dengan tempat duduk ala lesehan. Dua patung Bagong berdiri membungkuk di pinggir kolam ikan yang terletak di tengah-tengah restoran. Gue tersepona! Eh maksudnya terpesona banget dengan tempat itu. Cozy!
“Amor… Amor… kamu bengong ya?” Sebuah suara mengagetkan gue.
“Eh… nggak… nggak kok,” kata gue gelagapan.
“Kok bengong?” kata Kak Adri sambil meletakkan piring makanan di depan gue.
“Hehe… nggak papa. Cuma takjub aja ama restorannya. Bagus,” kata gue.
“Mmm. Restoran ini adalah restoran yang penuh kenangan untukku, Amor,” kata Kak Adri.
“Kenapa? Kak Adri pernah kerja part time di sini?”
“Ya bukanlah… dulu aku sering ke sini sama Nuansa, pacarku. Tapi itu dulu. Sebelum aku putus” Kata Kak Adri menerawang.
“Oh gitu!” kata gue singkat. 
Plis deh! Gue nggak mau lagi dengerin orang curhat tentang cinta. Gue keinget aja ama deretan temen-temen gue yang ngantri curhat ke gue tentang masalah cinta mereka. Wew! Ampe enek sebenernya gue dengerin. Dikira gue psikolog atau peramal cinta kali ya?! Lagian… mana gue tau! Gue kan belon tau gimana rasanya jatuh cinta.
“Hmm kamu suka sama arsitektur ya?” kata dia memecah kesunyian.
“Ya suka… suka menikmati aja. Biarlah para arsitek yang susah-susah bikinnya, aku mau jadi pengagum aja hehe,” kata gue cengengesan.
“Aku kuliah di jurusan Teknik Arsitektur loh,” katanya tiba-tiba.
“Oh! Iya ya? Hehe,” kata gue sok kaget.
“Oh iya kak. Ini udah jam setengah Sembilan. Kosanku jam sepuluh tutup. Kita pulang sekarang aja ya,” kata gue sambil ngelirik arloji di pergelangan tangan (Yaiyalah arloji di pergelangan tangan! Kalo jam dinding sih itu letaknya di dinding)
“Boleh… boleh… tapi besok-besok kita masih bisa ketemu kan?” Katanya sambil tersenyum.
Gue hanya mengangguk aja.



---Bersambung*---
*kalo yang nulis masih punya niat dan tekad kuat untuk ngepost tulisan 'sampah' ini hehe

Friday, 31 January 2014

100 years

Saya juga tidak tahu 'setan' apa yang merasuki saya hingga saya tertarik sekali dengan India. Entah itu dari bahasa, budaya, festival, tarian, nyanyian, dan tentu saja perfilmannya, bahkan para aktor dan aktrisnya. Awalnya sih, saya 'biasa' saja dengan dengan perfilman India hingga sekitar semester empat saat saya menonton film 3 Idiots. 

Pertama saya terkaget. Wah! Ternyata ada juga film India yang nggak mewek. Setelah nonton film tersebut, akhirnya saya sering browsing info sekitar perfilman negeri Gangga itu. Dan mulailah saya banyak mengonsumsinya. Dari cerita yang serius tentang kritik sosial, macam film Rann, Rajneeti, Rang De Basanti, No One Killed Jessica, Taare Zameen Par, dan English Vinglish (panjang banget kalau disebutkan satu persatu) hingga film komedi romantis ringan macam Love Aaj Kal, Chennai Express, Pyaar Impossible, Thoda Pyaar Thoda Magic, Salam Namaste, dan Namaste London. Tak ketinggalan juga film action India macam Dhoom, Don, dan Race. atau bahkan film yang bikin sedih dan nyesek minta ampun macam Ghajini (ini film favorit saya) dan Kabhi Alvida Na Kehna.

Awalnya aneh sekali nonoton film India karena kebanyakan lagu. Aneh juga kalau film action tetap dikasih lagu. Tapi, yang namanya film India gak pake nyanyi dan nari ya sama dengan sayur tanpa garam. Biasanya, kalau sudah masuk sesi nyanyian dan tarian, saya akan langsung mempercepatnya, tapi lama kelamaan saya menyukai lagu-lagu tersebut. Musiknya bagus. Tariannya enerjik dan unik, dan settingnya indah banget (Yah walaupun aslinya, India itu tidak seperti India dalam film). Kesukaan ini, akhirnya berlarut pada suka pada aktor dan aktrisnya. Kalau sudah ngerumpi soal film India dengan Monik bakalan kayak ABG labil yang sedang kena sindrom K-Pop dan aktor 'cantik' Korea. Bedanya, mereka suka K-Pop, kami suka I-Pop (maksa dikit). Mereka 'becek ngiler-ngiler' lihat video Lee Min Hoo, Park Sum Bing, dan entah siapalah itu, sedangkan kami juga ngiler sambil teriak 'mencicit' histeris lihat video Aamir Khan nyanyi dengan gaya cool-nya. Hohoho... Anyway... Selamat ulang tahun ke-100 buat perfilman Bollywood walau telat banget ngucapinnya. 



Friday, 24 January 2014

Abang

Abang ganteng banget deh, tapi cuma di film Jab We Met. Cool, cuek, tapi diam-diam perhatian. Hihihi
Andai saja... hohoho


*Sorry hanya iseng he...

Wednesday, 22 January 2014

Blog Malang

Sudah beberapa hari ini nggak ngeblog. Parah! Ibarat kata kalau blog ini seperti rumah kayaknya udah kumuh banget dan penuh dengan jaring laba-laba. Tapi mau gimana lagi ya. Yang punya blog lagi (sok) sibuk membuka lembaran baru kehidupan dan mengejar mimpi yang tertunda di tahun lalu. Hehehe. Ya gitu masih 'sibuk' mencoba mengejar mimpi untuk melanjutkan pendidikan. Karena kapok kejadian seperti tahun lalu, kali ini si empu blog berburu beasiswa kesana-kemari. Wira-wiri cari rekomendasi dan ikut tes TOEFL lagi. Ya persiapan tahun ini harus lebih matang. Semua harus diurus jauh-jauh hari biar nggak kalang kabut. Selain itu, harus nyiapin serep (emang ban mobil) alias plan B, plan C, sampai plan Z. Dan konsekuensinya adalah menelantarkan blog ini. Fiuh. Sedih. Nanti kalau ada waktu yang cocok buat menghayal dan sinyal modem lancar jaya, si empu akan menulis lagi. Finally, selamat mengejar mimpi, Sobat!

Tuesday, 14 January 2014

Jadikan Motivasi

Sudah 10 hari tidak menulis di blog. Tiba-tiba saja, saya sudah bersibuk ria kembali mengejar mimpi dan harapan. Awal tahun kali ini, dimulai dengan kesibukkan apply beasiswa. Oleh karena beasiswa pakai surat rekomendasi dosen, jadilah saya kembali ke alam saya, alam Jogjakarta. Nggak mungkin kan minta rekomendsi lewat sms dan e-mail. Agak-agak kena homesick sih karena kelamaan pulang ke rumah kemaren. Kalau di rumah, makan dan keperluan gak usah dipikirkan. Nah kalau di sini, ya harus memikirkan sendiri cara untuk hidup. Jalannya ya bekerja lagi seperti dulu. Kerja apa saja yang penting halal demi dapat beasiswa melanjutkan studi. Ini di Jogjakarta! Jadi nggak ada kata gengsi untuk bekerja. Inilah salah satu yang saya sukai dari kota ini. Mahasiswa seterkenal apapun kampusnya tetap tidak gengsi untuk bekerja. Masyarakatnya juga tidak suka mencemooh mahasiswa yang bekerja. Mereka malah menyemangati dan memuji sehingga kami lebih bersemangat untuk mengejar mimpi. That's why I love this City very much.

Kembali lagi ke topik pertama yaitu berburu surat rekomendasi dosen. Berhubung beasiswa kali ini adalah beasiswa luar negeri, kami (saya dan Eva) memutuskan untuk meminta surat rekomendasi dari dosen-dosen yang sudah bergelar Profesor dan Doktor. Awalnya, saya agak takut dan grogi. Kalau sudah terjangkit virus grogi akut, saya bakal melakukan hal-hal ceroboh. Dari mulai menjatuhkan map hingga menabrak meja. Sebenarnya takut saja jika beliau-beliau tidak 'welcome'. Hari pertama mengadu nasib, alhamdulillah ternyata dimudahkan. Berhubung kami belum mengisi formulir, maka kami membuat janji bertemu hari Ahad pagi di rumah beliau. Ternyata di hari H, kami terlambat datang karena beliau sudah pergi menghadiri sebuah acara. Sore hari, kami datang lagi ke sana. Namun beliau sedang istirahat. Langsung saja merasa tak enak hati karena kami terlambat datang. Akhirnya hari Senin pagi, kami datang keruangan dosen yang lain. Dan ternyata beliau sedang ada rapat. Akhirnya kami menunggu hingga selesai rapat. Walhasil, setelah diberi beberapa nasehat, kami mendapatkan tanda tangan beliau. Beliau sangat berharap agar kami berhasil mendapatkan beasiswa itu.

Setelah pamit, kami kembali ke ruangan dosen yang tidak jadi kami temui kemaren. Awalnya takut dimarahi karena telat datang. Saat masuk ruangan, malah beliau yang minta maaf karena kemaren harus pergi menghadiri acara. Dan kami mendapat satu 'bonus' dosen lagi, seorang profesor dalam bidang Sastra. OMG! I'am his fans! Beliau adalah dosen yang meperkenalkan saya pada Dante, sang maestro pencipta La Divina Comedia, dalam waktu 10 menit saja. Setelah itu, beliau tidak mengajar kami karena menjadi atase pendidikan di Mesir. Seperti biasa. sebelum meminta tanda tangan, beliau berdua membuka obrolan ringan menanyakan kabar dan seputar beasiswa. Beliau-beliau tampak interested sekali saat kami mengajukan beasiswa tersebut. Sekali lagi, Beliau-beliau sangat berharap kami bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Baiklah! Jadi ada tiga orang dosen yang sangat berharap. Saat kami melangkahkan kaki ke luar ruangan, salah seorang dari beliau berkata' "Kalau sudah sampai di sana, jangan lupa kirim e-mail ke saya, nanti saya jenguk berdua dengan Pak Syamsul". 

Cesss! Saya terharu sekaligus terbebani. Harapan mereka tampaknya besar sekali. Saya takut mengecewakan beliau bertiga. Saya takut mengecewakan alamamater saya. Namun, saya berpikir kembali. Kenapa harus terbebani. Semestinya saya menjadikan harapan ini menjadi motivasi saya. Saya harus tetap optimis. Saya harus memperbanyak usaha dan tentu saja doa saya. Baiklah. Saya akan menjadikan harapan ini sebagai motivasi bukan sebagai beban.
   

Saturday, 4 January 2014

Teruntuk Jodohku, Entah siapapun Itu

Untukmu Calon Jodohku Yang Tertulis Di Lauhul Mahfuzd

Bismillah ... Mungkin diriku bukanlah matahari yang setiap siang menerangi bumi tapi aku akan mencoba menjadi cahaya
ketika hatimu telah kelam

Mungkin diriku bukanlah bumi yang luas yang memudahkanmu untuk bergerak tapi aku akan berusaha menjadi ruang kosong
tempat untuk mencurahkan segala rasamu

Mungkin aku bukanlah angin yang mampu menyejukkanmu ketika dirimu merasa panas tapi aku akan berusaha menjadi kipas
penyejuk yang dapat engkau gunakan setiap saat engkau butuhkan

Mungin aku bukanlah paranormal yang dapat membaca pikiranmu tapi aku akan berusaha menjadi buku yang siap menampung curahan segala suka dan dukamu

Mungkin aku bukanlah hujan yang dapat menyirami semesta Alam tapi aku berusaha menjadi embun yang menyegarkan jiwamu

Duhai engakau yang masih rahasia aku akan tetap berusaha membahagiakanmu dengan segala kemampuanku bahagiamu adalah senyumku dukamu adalah perihku

Untukmu Calon Jodohku Yang Tertulis Di Lauhul Mahfuzd (By Asyika Rahmah)

Akhirnya saya ngepost juga tentang hal yang satu ini. Hal yang sebenarnya agak "tabu" bagi saya (hehehe) untuk ditulis di blog. Apalagi kalau bukan soal jodoh. Puisi yang di atas ini adalah puisi teman saya ketika masih mondok dulu. Kata-katanya sederhana, tapi penuh makna. Usut punya usut, si penulis ini ternyata merindukan sosok imamnya yang masih menjadi rahasia Illahi. Katanya kalau lagi merindu tentang kehadiran sang imam, langsung deh ide untuk menulis, seperti tulisan di atas, muncul.

Setelah saling balas comment, tiba-tiba saya sadar, dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ternyata memiliki kerinduan pada Imam saya juga. Ya walau selama ini, saya selalu mengingkarinya. Selalu cuek. Selalu tidak ambil pusing bahkan menutup diri for thingking of him. Memikirkan jodoh saya. Memikirkan apa gerangan yang akan saya katakan saat saya bertemu dengannya. Memikirkan apa yang dapat saya lakukan untuknya kelak. Memikirkan masa depan berdua dengannya. Yeah... mungkin saya belum move on secara kaffah. Masih trauma dengan yang lalu. Saya kira cinta, tapi ternyata hanya perhatian saja. Haha. Saya masih buta dengan yang namanya cinta atau hanya perhatian semata. Saya masih perlu belajar membedakan antara keduanya *PS: Jadi, untuk jodoh saya, entah siapapun itu, agak bersabarlah menghadapi diri saya yang tidak sensitif karena saya bodoh untuk membedakan antara cinta dan perhatian sesaat saja.

Mungkin kalau saya bertemu dengan imam saya yang masih jadi rahasia Illahi itu, saya akan berpikir kurang lebih sama dengan bait-bait puisi yang ditulis teman saya di atas. Setidaknya saya akan menambahkan beberapa poin.

Teruntuk jodohku, entah siapapun itu... 
Jika aku memiliki pendidikan lebih tinggi atau gaji lebih besar, cobalah untuk tidak merasa kecil. Karena, bagaimanapun juga, dalam rumah tangga, kaulah yang menjadi pemimpinnya. Dan aku harus mengikutimu.

Teruntuk jodohku, entah siapapun itu...
Jika kita telah dititipkan amanah dari-Nya, maka marilah kita berikan kasih sayang bersama-sama. Mengajaknya bermain bersama, mengajarkannya mengaji, shalat, berhitung atau membaca bersama-sama pula karena mereka dititipkan untuk kita berdua. Ya. Sesibuk apapun kita kelak...

Teruntuk jodohku, entah siapapun itu...
aku akan selalu mengikuti perkataanmu. Tapi, berikanlah aku kesempatan untuk mengungkapkan pemikiranku juga.

Mungkin ini bukan puisi ya. Hanya kata-kata saja. Belum semuanya sih. Tapi cukuplah. Well. Teruntuk jodohku, siapapun itu, aku setia menanti kehadiranmu....

Friday, 3 January 2014

Malarindu Akut

Malarindu akut sama rumah kedua saya. Malarindu akut sama dua ayahanda terhebat saya. Malarindu akut dengan teman-teman saya. Malarindu akut dengan kenangan-kenangan indah bahkan Malarindu akut dengan bagian keamanan pondok yang galaknya ruarrr biasa! Ini beberapa photo yang saya ambil dari aku fb Seperempat Abad Gontor Putri. Beberapa gedung dan tempat sudah banyak perubahan. Semakin cantik saja. Here they are:


 Bangunan hijau ini adalah Gedung Bosnia.Yang paling depan bawah adalah kamar ustadzah pengasuhan pondok. Bangunan ini adalah kamar pertama di rumah kedua saya. Saksi bisu perjalanan awal saya berkecimpung dengan pelajaran agama dan bahasa Arab. Saya mungkin berbeda dengan teman-teman saya yang kebanyakan sudah kenal bahasa Arab ketika duduk di sekolah dasar. Bahkan kamar mandinya, yang biasa disebut tong seng, adalah saksi bisu tangisan pertama saat saya ditinggalkan orang tua pulang. Ini adalah pilihan saya sendiri, jadi saya harus bertanggungjawab dengan pilihan ini. Di gedung inilah saya mati-matian mulai berusaha mencintai bahasa Arab. Walau saya jauh tertinggal dari teman-teman yang lain, saya harus tetap berusaha. 


Bangunan berkubah putih itu tentu saja mesjid. Namun, mesjid ini bukan sembarang mesjid. Mesjid ini sangat berarti buat semua santri di sana. Tak terkecuali saya. Selain digunakan untuk shalat, mesjid ini juga digunakan untuk belajar. Dan ruang kelas pertama saya adalah di mesjid ini. Ya. Memang sebenarnya fungsi mesjid, selain untuk shalat, juga dipakai untuk belajar seperti di zaman Rasulullah. Jika sepertiga malam tiba, para santri saling membangukan teman-teman yang lain, lalu ramai-ramai tahajjud di sana. Ah! betapa merindunya saya dengan 'kegiatan' yang satu ini.


Ini Auditorium. Tempat semua acara diadakan. Dari pentas seni kelas 6 dan kelas 5 hingga menerima tamu yang datang. Sebelum auditorium ini dibangun. Semua kegiatan dipusatkan di mesjid atau lapangan depan mesjid. Di sinilah, setiap tahunnya dua ayahanda terhebat saya selalu berpidato menasehati putri-putrinya. Yang paling berkesan adalah acara menjelang liburan akhir tahun. Semua santri bersalam-salaman. Tidak terbayangkan berapa ribu orang yang harus disalami. Seru sekali. Di agenda ini ayahanda Almarhum ustad Sutadji selalu berpesan agar kami memanfaatkan liburan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Beliau berkata bahwasannya pengertian liburan adalah mengganti suatu kegiatan ke kegiatan yang lain. Di akhir pidato, beliau selalu berkata bahwa beliau menunggu kedatangan kami kembali di rumah tercinta.

Dan gambar tersebut adalah gambar suasana sebelum masuk ujian. Tidak ada satu pun yang bercanda dengan teman. Semuanya asyik berkutat membaca buku menghabiskan waktu yang tersisa sebelum lonceng tanda masuk ruang ujian berdentang. Karena jika sudah masuk ruang ujian, tidak ada kesempatan untuk mencontek. Dan saya sepakat dan setuju sekali dengan sistem yang satu ini. Saya akui bahwa inilah ujian yang paling murni yang pernah saya temui. Sistemnya sederhana, tapi dapat berpengaruh besar. Jika mungkin diterapkan di sekolah umum, maka  nepotisme dan pilih kasih akan sirna. Kapan-kapan akan saya ulas di blog ini.


Bangunan ini dulunya sangat sederhana. Namun, kini sudah secantik ini. Jika malam tiba, banyak santri yang belajar di sini. Belajar kami tentu saja berbeda dengan anak sekolahan. Kalau anak sekolahan biasanya belajar dalam kamar sambil mendengarkan radio atau musik, maka kami belajar dengan bersuara keras melafalkan kalimat-kalimat penting yang ada di dalam buku. Berbicara tentang buku, buku pelajaran kami banyak sekali yang cepat usang dan kusut. Pasalnya kemana-mana kami harus membawa buku untuk dibaca. Khoiru jalisin fi zamani kitabun. Sebaik-baiknya teman duduk adalah buku. Namun sekarang, setelah keluar dari sana, saya tidak pernah menemukan pemandangan orang-orang menenteng buku kalau pergi ke cafe atau sedang menunggu. Dimana-mana saya hanya menemukan orang-orang memegang gadget dan sibuk senyam-senyum sendiri. Tapi, buat saya pribadi, mantra Khoiru jalisin fi zamani kitabun terpatri sangat dalam di benak saya hingga saya selalu menyempatkan diri membawa buku bahkan saat pergi liburan sekalipun. Mungkin inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan buku.

 
Lonceng tua ini bisa dibilang jantungnya pondok. Bayangkan saja jika tidak berdetak, maka tak akan ada kehidupan di sana. Semua kegiatan diatur dengan lonceng ini. Lonceng sederhana tetapi mempunyai fungsi yang sangat penting. Miss ya!
 
Sebenarnya banyak sekali momen-momen yang bikin saya terinfeksi Malarindu akut. Dan kalau diceritakan mungkin akan jadi satu novel tebal yang mengalahkan ketebalan novel Om Dan Brown. Yang terpenting, berbicara tentang kehidupan di pesantren... hmmm... tentu saja banyak suka dan duka, Banyak senang dan susah. Duka dan susah memang mendominasi. Namun, marilah lihat susah dan duka itu dari segi positif. Insyaallah, kita akan menemukan sesuatu bermanfaat yang menjadi bekal hidup di luar lingkungan pesantren.

Thursday, 2 January 2014

Gadgeter

Tidak dipungkiri lagi kalau zaman semakin maju. Teknologi semakin cangih. Ya yang lagi booming dan lagi ngetren tentu saja gadget kayak smart phone, ipad, tab, dan apalah itu. Saya juga tidak terlalu mengerti spesifikasinya. Intinya sih GADGET.

Hampir semuanya berlomba-lomba untuk menjadi orang yang selalu update gadget terbaru. Gadget sudah selayaknya life style. Kalau mau diterima dalam pergaulan dan tidak dibilang ndeso ato gaptek, lu harus punya gadget walau sebenernya lu juga gak tau manfaat dan penggunaannya apa. Yang penting, punya aja biar kelihatan keren dan nggak kalah dari yang lain.

Tapi, sebagian lagi tetap ada yang tampil sederhana apa adanya alias tanpa gadget bahkan dua orang pengusaha sukses yang saya temui saat berkunjung ke negara tetangga. Dua bapak ini sukses berat. Bapak yang satu adalah orang Minang yang tinggal di Negeri Jiran. Punya delapan restoran masakan Padang. Satu cabangnya ada di Singapura.Bapak yang satu lagi asli orang sana. Punya hotel mewah dua buah kalau tidak salah. Satu di Malaka dan yang lain di Puterajaya. Yah pendapat saya sih, kalau ingin sukses ya harus sederhana.

Di lain hal, saya sering geli sendiri kalau ada beberapa teman yang minta pin BB, WA, LINE, dan apalah itu. Saya jujur saja kalau saya tidak punya semua itu. Bagaimana bisa punya ya. Handphone saya Nokia C3. Bayangkan saja kalau diisi aplikasi macam WA dan apalah itu. Bisa-bisa handphone saya langsung "tewas". Sering kali juga temen saya terkaget-kaget dan nggak percaya kalau saya tidak punya BB atau smart phone atau gadget yang lain. Sebenernya saya bukan orang yang anti gadget kok. Hanya saja, saya belum merasa membutuhkan. Buat saya, handphone Nokia C3 ini sudah lebih dari cukup. Bisa dipakai telpon, SMS, browsing internet, dan yang penting bisa dengerin lagu atau radio. Selagi masih ada modem, bagi saya, dunia udah damai dan tentram. Jadi, belum terlalu perlulah punya gadget.

Hmm. Kalau diperhatikan lagi, banyak sekali ya orang yang rela ngutang cuma demi gadget terbaru. Kasarnya, ngutang demi pergaulan dan life style. Hadeuhh, jangan sampailah terjadi pada saya. Naudzubillah, ngutang hanya karena pengen diterima dalam pergaulan. Saya yakin masih banyak orang-orang yang memang benar-benar ingin bergaul dengan tulus. Teman adalah orang yang ada saat kamu berduka, bukan di saat kamu bahagia.

Wednesday, 1 January 2014

Haruskah Menjadi Sama?

Niat awal, pengen ngerjain essay buat apply beasiswa. Tapi, mood keburu menguap. Mau tidur, sayang gak ngatuk. Akhirnya gonta-ganti template blog, balesin beberapa orang yang ajak chat di facebook, baca-baca artikel di internet, nyambi nonton televisi juga.

Finally, setelah baca beberapa artikel dan ulasan, saya tergerak untuk menulis tentang Jodoh. Hmm jodoh, belahan jiwa, atau apalah istilahnya. Sepengamatan saya, orang-orang sering kali berkata bahwa mereka memilih pasangan mereka karena mereka punya kesamaan. Ya sama hobi, sama pemikiran, sama makanan kesukaan dan lain sebagainya.

Tapi apakah benar bahwa kita berjodoh karena kita memiliki kesamaan? Tuhan saja menciptakan manusia berbeda-beda. Jadi, mana mungkin ada yang sama plek-plek. Kalau kita menerima si dia karena kesamaan yang kita punya. Lalu di tengah perjalanan ternyata ada yang tak sama, apakah kita tidak menerimanya lagi? So? Haruskan menjadi sama untuk berjodoh?

Kalau menurut saya pribadi, berjodoh bukan masalah kesamaan, tapi bagaimana menyatukan perbedaan dua pribadi bahkan visi misi ke depannya nanti. Yup. Berjodoh itu bukan tentang mencari kesamaan tapi bagaimana menyatukan dua hal yang berbeda.

Tuhan saja berfirman bahwa perbedaan adalah rahmat. Coba bayangkan saja, jika kita dan si dia mempunyai hobi yang sama, makanan kesukaan yang sama, pemikiran yang sama. How Boring! Apa-apa sama hingga kita tidak mencoba sesuatu yang berbeda. Sebaliknya, jika kita berbeda, kita akan mempelajari sesuatu yang baru. So, just be your self! Gak usah ikut-ikut apa yang si dia suka untuk menjadi sama.  Yah... Being Different is not a bad thing. It's mean you are brave to be your own self.
 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang