Showing posts with label coretan tangan. Show all posts
Showing posts with label coretan tangan. Show all posts

Friday, 2 September 2016

Realita

Hai kamu yang terhalang jarak dan waktu bahkan terhalang sinyal yang tidak menentu....

Ini malam kedua saya tidak bisa memejamkan mata. Saya masih memikirkan masa depan kita. Saya tidak pungkiri bahwa saya ingin seperti teman-teman lainnya. Menikah dan memiliki keluarga kecil yang pastinya kadang bahagia kadang juga penuh duka. Karena tidak ada keluarga yang sempurna. Itu menurut saya. Saya dan kamu juga punya mimpi seperti mereka. Namun, realita tidak selalu sesuai dengan angan-angan kita. Sayangnya, terkadang manusia memandang sebelah mata. Menghakimi hubungan seperti ini penuh dengan zina dan memberi pilihan sempit dengan slogan "halalkan atau tinggalkan". Terlebih lagi setelah seorang anak ustad memutuskan menikah di usia 17 tahun sehingga muncullah kampanye nikah muda dengan slogan yang tak kalah provokatifnya, "Menikahlah agar terhindar dari zina" atau "anak ustad aja umur 17 tahun udah nikah, kamu umur segini udah ngapain aja". Hahahaha... seakan-akan nikah muda adalah suatu prestasi kayak pemenang lomba lari. 

Mereka hanya bisa berkata, namun tidak mau melihat dari sudut pandang lainnya. Realitanya, manusia berbeda. Manusia memulai garis awal kehidupan mereka dalam posisi yang tidak sama. Sebagian dianugerahi kekayaan, sebagian lagi tidak. Sebagian dianugerahi kepintaran, sebagian lagi tidak. Sebagian dikaruniai kesehatan, sebagian lagi tidak dan begitu seterusnya. Begitu juga dengan menikah. Sebagian mampu segera menggenapkan separuh agama karena berbagai kemudahan. Jodoh mudah, harta orang tua berlimpah, karir bagus, usaha lancar, atau mungkin faktor keberuntungan. Sebagian lagi harus berpikir, berusaha keras, bahkan hingga taraf berserah pada sang Maha Kuasa.

Dan faktanya, kita terjebak pada golongan kedua. Saya baru akan wisuda program pasca sarjana. Setelah ini harus berjuang mendapatkan pekerjaan yang didamba. Kamu baru merintis karir dengan tanggungan yang luar biasa banyaknya. Kamu pengganti sosok papa bagi adik-adik kamu dan pelindung bagi mama. Saya bertanggung jawab untuk mengurus papa setelah kepergian mama. Mimpi kita berbanding terbalik dengan realita. Jalan kita ternyata memang tidak mudah dan kita tidak tahu dimana ujungnya. Kita hanya bisa berusaha keras dan pada akhirnya menitipkan semua asa pada Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan memberikan jalan bagi kamu dan saya. Untuk membangun keluarga. Untuk menggenapkan separuh agama. Saya yakin akan selalu muncul pelangi setelah hujan. Akan selalu ada terang sehabis gelap. Akan selalu ada kelapangan setelah kesusahan. Akan selalu ada suka setelah duka. Saya yakin selalu ada hikmah di balik seluruh peristiwa yang kita hadapi. Semoga kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menjalani ketidakpastian ini. Semoga kelak kita menjadi hamba yang ikhlas dan lebih bijak menghadapi kehidupan.




Monday, 22 August 2016

Kita Ini Apa

Kita ini apa sih? 
Itu tanyamu dulu. Saya sendiri tidak mengerti kita ini apa. Dan saya tidak ingin terjebak dalam dunia yang abu-abu. Terjebak dalam masyarakat yang seolah-olah berlomba menyatakan diri mereka paling baik dan saleh daripada manusia lainnya. Agama tidak ada esensinya. Hanya digunakan untuk saling mencelakai, membenarkan diri sendiri, bahkan dipakai untuk promosi. Miris. Ah sudahlah! Lupakan masalah dunia yang abu-abu itu. Saat ini saya tidak ingin ikut serta nyinyir. Saya hanya ingin bercerita tentang kita. Kita yang dulu terjebak dalam pertanyaan 'kita ini apa sih?' Pertanyaan ini sering kita diskusikan hingga akhirnya memunculkan kesimpulan. Tidak usah kita namai hubungan ini. Itu katamu. Saya pun setuju. Mungkin kita juga abu-abu. Ya. Abu-abu yang tersembunyi di kisi-kisi perdebatan masyarakat yang merasa golongan mereka paling benar. Hubungan ini abu-abu. Entah itu pacaran atau kenalan (baca; Ta'aruf).

Dibilang pacaran, sekalipun kamu tidak pernah mendeklarasikan pertanyaan 'Mau nggak jadi pacar saya'. Kamu hanya bilang 'saya punya niat menikah dengan kamu. Bisakah saya mengenal kamu lebih dekat'. Padahal kamu tahu dan merasakan aksi jutek tidak ramah saya tiga tahun lamanya. Dan saya hanya menjawab 'Ya. Mari kita jalani' karena sejujurnya (dulu) saya belum punya rasa. Awal pertemuan kita pun hanya papasan di tangga dan saya tidak menyadari kehadiran kamu kala itu. Kamu yang akhirnya mengaku pernah melihat saya yang sedang tertawa-tawa bersama adik semata wayang saya. Kita jarang bertatap muka. Bisa dihitung jari berapa kali frekuensi berjumpa. Setelah Jogjakarta, kita berjumpa di rumah orang tua saya. Saya membiarkanmu berkenalan dan mengobrol panjang lebar dengan keluarga saya, sedangkan saya asyik mengaduk adonan atau mencetak kue kering dagangan saya. Oh ya, kala itu saya beserta adik dan teman-teman yang membantu bisnis kue kering juga berkunjung ke rumah paman kamu yang sudah bersedia 'menampung' kamu berteduh selama kamu meninggalkan rumah di kampung. Saat itu, kita mendengarkan petuah paman kamu yang punya obsesi jadi militer negara. Itu saja. Setelah itu, kita terpisah oleh jarak dan waktu. Kamu di pulau Sumatera dan saya kembali ke pulau Jawa. Kita berkomunikasi kembali via dunia maya.

Dibilang kenalan (baca: Ta'aruf), sepertinya juga tidak. Beberapa kali kita pergi hanya berdua saja, di malam hari pula. Karena di siang hari kita harus menjalani rutinitas kita. Kamu menjajakan dagangan dan saya menulis tugas akhir program pascasarjana saya. Saya ingat kita keliling kota. Kadang tanpa tujuan yang berakhir dengan ngobrol panjang di Mall yang menyediakan banyak bangku dan mushala nyaman atau main di beringin alun-alun kota yang terkenal di kalangan wisatawan lokal dan mancanegara. Selama kebersamaan singkat itu, kamu sabar mendengarkan cerita dan keluh kesah saya. Kamu berusaha menghibur saya yang berduka. Akhirnya Tuhan mengambil Mama dari sisi saya, kita pun terpisah dan dipertemukan lagi di pulau Sumatra. Seperti dulu, perjumpaan kita hanya sebentar saja. Dua kali kita jalan berdua tanpa adik saya dan 'antek-anteknya'nya. Kita mengobrol di tengah-tengah keributan anak gaul kota yang memenuhi ruangan restoran siap saji. Kita mulai membicarakan bagaimana langkah selanjutnya untuk pernikahan kita. Mau tidak mau, kita harus realistis. Bagi kita, pernikahan bukan sekedar menghalalkan sesuatu yang haram dilakukan sebelum menikah dan kita menganut kepercayaan jika rezeki itu harus dicari bukan dinanti dengan doa semata tanpa usaha berarti. Setelah itu, kita terpisah jarak kembali hingga saat ini. Kamu pun bekerja dan berusaha mengumpulkan pundi-pundi untuk masa depan kita. Saya pun begitu, jualan untuk mengumpulkan pundi-pundi juga sambil menunggu hari wisuda yang rasanya masih lama. Kemudian berencana mengadu nasib dalam dunia akademisi yang sudah lama saya damba.

Itulah kita. Kita tidak mau repot lagi memikirkan kita ini apa. Apalagi memikirkan ini pacaran, kenalan (baca: Ta'aruf), atau istilah yang lagi ngetrend gegara buku anaknya Adi Bing Slamet, 'temenan'. Yang pasti, kita punya komitmen untuk melangkah ke jenjang pernikahan beberapa bulan ke depan. Saya juga tidak tahu hubungan kita ini berdosa atau tidak. Hanya Tuhan yang berhak dalam urusan perdosaan. Wallahu a'lam. Tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa saya kontra terhadap sistem kenalan (baca: Ta'aruf) dan pro terhadap sistem Pacaran. Sekalipun tidak. Saya hanya tidak ingin menjadi anggota abu-abu yang hanya taqlid saja. Bagi saya, agama itu lebih agung dan lebih tinggi daripada hanya digunakan untuk memproklamirkan bahwa kita lebih saleh daripada manusia lainnya. Itu saja. Semua saya serahkan dan pasrahkan kepada Tuhan dan segala kebesaran-Nya. Termasuk menyerahkan rencana besar kita. Semoga Tuhan semakin mempermudah langkah-langkah kita ini. Menikah, mendidik dan membesarkan anak-anak, menua, berpisah oleh maut, dan kemudian dipertemukan kembali di tempat yang paling indah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.


Monday, 28 March 2016

Hai Mama

Hai Mama yang berbahagia di surga

Nta kangen. Kangen akut Ma. Kangennya baru kerasa setelah kembali ke perantauan ini. Nta kangen sama mama yang selalu telpon terus menerus apalagi kalau sudah malam minggu. Kamu dimana, Nak? Di kos melulu? Nggak pergi malam Minggu? Nggak pengen punya pacar kamu? Pertanyaan mama yang bertubi-tubi itu cuma Nta jawab dengan kata 'nggak'. Dan malam minggu kemarin adalah malam minggu pertama di rantau tanpa ada telepon dari Mama. Ah Mama. Nta teramat kangen sama Mama. Bahkan Nta kangen sama bawel mama yang nanya terus kapan Nta punya kekasih. Kapan Nta menikah. Tapi pada akhirnya, pertanyaan Mama tentang kekasih hati Nta sudah terjawab bukan? Mama juga sudah sempat ngobrol via telepon walau hanya hitungan menit. 

Mama... 
Itulah lelakinya! Dulu ia maya, sekarang ia nyata. Nta selalu ingat pesan Mama untuk mencari teman hidup yang tidak mengandalkan harta orang tua. That's him, Mama! Dia sekarang sedang berjuang Mama. Mencari rezeki Tuhan untuk membahagiakan keluarganya dan Nta. Nta juga masih berjuang menyelesaikan studi ini dan menggapai cita-cita lainnya. Ya, Mama. Kami sama-sama sedang berjuang memperjuangkan cita dan cinta. Terpisah jarak dan waktu. Tetap melangkah maju walau lemah dan terseok-seok. Nta yakin jika selalu ada kebahagian setelah kita mengalami kesusahan. Karena pada hakikatnya manusia tidak akan pernah merasakan bahagia, jika ia belum pernah merasakan kesusahan. Bukankah begitu hukum alam Ma? Berjuang dari bawah berdua lebih indah kan Ma? Seperti kata Mama dan tentu saja seperti Mama dan Papa. Betapa Nta ingin bercerita kepada Mama seluruh perasaan yang Nta rasa. Karena Mama adalah ibu kandung Nta yang pasti mendengarkan penuturan putrinya, bukan langsung menghakimi dan murka seperti mereka.

Mama...
Saat sendirian Nta selalu membayangkan masa depan dimana Nta akan menikah dan kelak memiliki anak. Dan Nta akan menjalani itu semua tanpa Mama di sisi Nta. Nta tidak menyalahkan Tuhan karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik teruntuk hamba-hamba-Nya. Nta harus mandiri Mama. Nta harus mulai belajar sendiri bagaimana menjadi istri dan ibu bagi anak-anak Nta kelak. Bahkan Nta harus belajar sendiri cara merawat bayi. Semuanya serba mandiri karena Mama telah bahagia di sana. Nta yakin itu. Mama tidak harus merasakan sesak nafas lagi. Mama tidak harus merasakan sakitnya tusukan jarum suntik lagi. Selamat berbahagia Mama. Nta selalu mencoba mengikhlaskan Mama. Toh pada akhirnya kita akan berkumpul kembali. InsyaAllah. Salam kangen juga teruntuk Mbah Kakung...

Monday, 30 November 2015

Teruntuk Teman Part 2

Dan gak kerasa sudah jam setengah enam gara-gara terlalu khusyuk ngerjain tugas terakhir plus presentasi di semester tiga. Padahal pengen posting sesuatu sebagai penutup bulan November yang sebenernya lebih tepat jika disebut Lovember (abaikan istilah maksa ini). Yaps. Banyak hal yang terjadi di bulan November 2015. November kali ini sukses banget bikin adrenalin terpacu dan jantung berdetak dua kali lipat lebih kencang. Penuh dengan tawa, tapi tidak luput juga dengan duka. Kalau diibaratkan makanan, bulan ini berasa gado-gado (lapar!). Hal-hal konyol, koplak, geblek, sedih, pahit, asem, asin, manis sampai romantis berseliweran sepanjang bulan ini. Namanya juga hidup. Penuh dengan misteri dan hal-hal yang nggak pernah kita duga sebelumnya. Entah ada kejutan apa lagi di bulan esok dan selanjutnya? Semua tetap misteri dan lebih baik tetap menjadi misteri agar manusia tidak cepat puas dan terus berusaha mencari.

Hai kamu. Terima kasih telah hadir di dalam kehidupanku. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah berhenti untuk menjadi insan yang lebih baik lagi. Entahlah... tiba-tiba jemariku kelu. Ide-ide di otakku terbang berlalu. Mungkin tak ada satu patah kata pun yang dapat mengungkapkan rasa. Mungkin karena rasa ini tercipta begitu saja tanpa rekayasa. Datang tanpa rencana dan tak terduga sebelumnya. Mungkin ada benarnya judul lagu Agnes Monica. Cinta Tak Ada Logika. Mari kita terus berusaha dan tentu saja selalu mengingat Dia, Sang Penguasa hati manusia, dalam kondisi dan situasi apapun kita. Memohon yang terbaik untuk masa depan kita. 



*Tiba-tiba pengen nyungsep di bawah bantal sambil selimutan

Thursday, 29 October 2015

Grup Para Mamah Muda

Nggak kerasa kalau umur sudah nggak muda lagi. Hahaha... Saya baru sadar saat saya dimasukkan ke dalam grup teman-teman lawas saya dulu. Kalau dulu kayaknya masalah yang paling berat adalah soal Matematika dan Fisika, tapi sekarang lika-liku rumah tangga sudah masuk ke dalam ranah diskusi grup sebuah jaringan sosial media di Android. Sebut saja grup tersebut dengan nama Grup Para Mamah Muda. Sebenarnya, tidak semua anggota grup tersebut sudah berstatus menikah, cuma kebanyakan yang saling melempar komen adalah mereka-mereka yang telah berstatus 'Kawin' seperti yang biasanya tertera di KTP. Sebagai seorang ilmuwan (gadungan), saya hanya menjadi silent reader dan tetap mengamati perkembangan grup tersebut. Alasan sok ilmiah sebenarnya. Alasan utamanya sih ya tetap karena belum punya pengalaman menikah, melahirkan, dan mengasuh anak. Hahahaha. Senang sih baca berita tentang teman-teman yang baru mengakhiri masa lajang mereka, teman-teman yang melahirkan anak pertama mereka, hingga sharing tentang pengasuhan serta pendidikan anak. Ya... hitung-hitung bekal buat saya nanti kalau sudah dipertemukan dengan si 'dia' yang masih entah dimana. Ahayy

Tapi kadang saya merasa sedih kalau ada yang 'debat' atau hanya nge-share postingan yang isinya 'provokator' antara golongan Mamah Muda ASI eksklusif dan Mamah Muda Susu Formula, Mamah Muda yang melahirkan normal dan juga Mamah Muda yang melahirkan SC, bahkan yang menyangkut Mamah Muda or Mamah Muda Wannabe, alias para perempuan yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan atau berkarir dan perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Sebenarnya fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di sosial media saja, tetapi juga di lingkungan sekitar kita. Kadang heran kenapa harus dipermasalahkan?

Sebagai seorang perempuan, ya harusnya kita bisa berempati dan merasakan perasaan perempuan yang berbeda pilihan hidup dengan kita. Bersyukurlah bagi para perempuan yang dapat memberi bayi-bayi mereka ASI, tetapi jangan mengecilkan hati mereka yang hanya bisa memberikan anak-anak mereka Susu Formula. Karena pastinya ada alasan tertentu. Tidak semua perempuan dianugrahi ASI yang berlimpah dan tidak semua perempuan dikaruniai PD yang menunjang ketersediaan ASI. Hal ini diperburuk lagi dengan iklan layanan masyarakat dan aturan rumah sakit yang menghimbau atau menyaratkan pemberian ASI kepada bayi. Boro-boro bisa memproduksi ASI, iklan dan aturan tersebut sudah keburu bikin para ibu stres dan malah nggak bisa memproduksi ASI. Begitu juga dengan melahirkan normal dan SC. Para mamah muda punya alasan masing-masing untuk memilih jalan mana yang ditempuh. Toh, dua-duanya sama-sama bentuk perjuangan seorang ibu yang di telapak kaki mereka terdapat surga bagi kita. 

Dan yang nggak kalah penting adalah 'perdebatan' antara para perempuan yang memilih tetap berkarir dengan para perempuan yang memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Yup! masalah yang satu ini sering banget mencuat kepermukaan. Kalau tidak mencuat di publik, ya mungkin di publik jejaring sosial saya. Dua golongan ini saling mengklaim lebih unggul daripada golongan yang lain bahkan hingga taraf bawa-bawa dalil agama yang menjanjikan pahala-pahala tertentu. Bagi saya, perempuan yang masih berstatus 'Single' dan masih melanjutkan pendidikan, IRT atau IRT plus karir ya sama-sama mulianya selama tetap menyadari fitrah mereka sebagai seorang ibu maupun istri. Banyak yang 'merendahkan' perempuan yang memutuskan untuk menjadi IRT penuh agar lebih dekat dengan keluarganya. Pertimbangan itu sebetulnya adalah sebuah pertimbangan yang berat. Begitu juga sebaliknya, para perempuan yang memutuskan untuk berkarir dan sekaligus menjadi IRT saat mereka kembali ke rumah mereka. Mereka sering kali diberi label sebagai perempuan yang mendominasi dalam rumah tangga dan tidak akan pernah memiliki ikatan batin dengan anak-anak mereka. Sadis banget!

Namun, sebagai sesama perempuan, alangkah baiknya jika kita saling mendukung tanpa saling menjatuhkan. Karena secara alami, perempuan memiliki hati yang lebih lembut dan sensitif daripada kaum lelaki. Apapun pilihannya, perempuan tetaplah perempuan yang bebas memilih jalan hidupnya tanpa dihantui tuntutan konstruksi sosial. Kalau pilihan saya? Hmm... saat ini saya masih bercita-cita jadi Mamah Muda yang berkarir. Hehehehe.

Wednesday, 28 October 2015

Memaafkan Cinta

Mungkin memang benar bahwa memaafkan itu lebih sulit, sulit, dan sulit daripada meminta maaf. Tidak mudah rasanya menghilangkan memori buruk yang dialami di masa lalu. Tidak mudah juga untuk melupakan tempat-tempat dan orang-orang yang melukis kenangan itu. Ya.. semuanya terasa sulit. Butuh bertahun-tahun untuk pulih. Butuh berhari-hari untuk bangkit. Hari ini, tepat 6 tahun, akhirnya saya berhasil untuk memaafkan tapi bukan untuk melupakan. Biarlah memori lalu tetap terukir dalam benak saya sehingga bisa saya tertawakan sebagai lelucon, sebagai hal-hal bodoh yang pernah saya lalukan. Hari ini rasanya bahagia sekali. Pikiran tak terbeban dan hati pun menjadi semakin tenang. Tak ada lagi dendam pada cinta. Tidak tersisa lagi trauma. 

Hanya ada untaian doa pengharapan untuk masa yang akan datang. Hanya ada rasa optimis untuk menatap ke depan. Hanya ada rasa berani untuk merasakan cinta bahkan jika harus patah hati untuk kedua kali. Sungguh tak ada lagi alasan untuk takut jatuh cinta. Untuk merasakan bahagia. Untuk mencicipi berjuta rasa-rasa cinta. Kini tembok kusam menjulang yang menutupi hati telah runtuh. Siap untuk menghirup udara baru yang segar. Siap untuk merasakan sinar mentari yang hangat. Siap untuk menyentuk tangkai-tangkai ilalang. Siap untuk mendekapmu... Cinta. 


Tuesday, 20 May 2014

Menjauhlah

Kau duduk di hadapanku sambil sesekali menggerakkan telunjukmu mengitari bibir cangkir berisi kopi hitam. Aku memang duduk di hadapanmu. Benar-benar tepat di hadapanmu. Namun, pandanganku bukan tertuju padamu, melain tertuju pada embun yang menempel di permukaan kaca. Aku merapatkan syal di leherku. Dingin semakin menjalar. Sunyi semakin menebar.

Tidak ingatkah kau di hari itu? Di hari saat jemarimu menekan "send" di alamat emailmu. Hari itu sangat memilukan, Sayang. Oh bukan sayang! Kata itu tak pantas lagi kugunakan. Dari jarak beribu-ribu mil, kau kirimkan kabar bahwa kau menemukan cinta. Bukan cintaku dan bukan cinta kita. Namun cinta baru yang tengah merekah. Jika cinta telah berkata, sungguh aku tak bisa melakukan apa-apa. Kau juga tahu kan bahwa cinta absolut bahkan arbiter? Datang dan pergi begitu saja. Sesukanya. 

Kau tahu? Perlahan-lahan aku menajuh darimu. Meninggalkan jauh di belakang dengan cinta barumu yang masih merekah segar. Buat apa aku mencintamu, jika kau tidak mencintaku? Jadi kuputuskan saja untuk pergi dari lingkaran. Membiarkanmu bergenggaman dengan cinta barumu itu.

Bumi tetap berputar pada porosnya. Waktu pun terus berlalu. Kau tahu? Aku menemukan kehidupan baruku. Kehidupan tanpamu. Kehidupan yang membuatku selalu tersenyum syahdu. Kutemukan cintaku. Cinta yang mengobati luka yang kau toreh pada hatiku. Kau tahu? Kali ini hanya bahagia yang kurasa hingga akhirnya kau tiba (lagi) dengan kata-kata cinta.

Senja itu kau menyapaku lewat dunia maya. Bertanya tentang keadaan dan kabarku. Klise! Aku tak menggubris untaian kalimatmu. Untuk apa? Karena tak ada lagi sesuatu yang terjalin di antara kita. Kau harus ingat itu! Namun, kau tidak berhenti rupanya. Kau kirimkan untaian kata-kata yang terdengar klise itu padaku. Kau tahu? Aku muak! Untuk apa kau tiba lagi? Untuk apa kau hadir lagi dalam hidupku lagi? Apakah cintamu yang dulu merekah kini telah layu? Dan kau ingin kembali padaku di saat penyatuan cintaku akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.

"Aku mohon menjauhlah dariku, Pay," Kataku sambil tetap menatap embun yang mulai meleleh. Dia tidak bergeming sedikit pun. Sunyi. Hanya suara jam dinding saja yang terdengar berdetak. "Aku mencintaimu" katamu spontan. Jemarimu tak lagi melingkari bibir cangkir berisi kopi. Aku tersenyum.
"Maaf aku tak bisa walau cintamu tumbuh sangat rindang. Cinta yang lain sedang menantiku. Cinta yang telah mengobati luka yang kau toreh. Cinta yang selalu ada saat kau tak lagi menoleh. Aku lebih memilih dia," Kusambar saja mantel musim dinginku dan berlalu dari hadapannya tanpa sepatah kata.

Friday, 21 March 2014

Guru Mengaji

Selalu saja ada kesan yang tertinggal dari sosok seorang guru. Selain Ustad Budi, salah satu yang berkesan adalah guru mengaji saat SD dulu. Sejatinya, semua guru di sana baik, halus, dan tentu saja pintar. Namun yang paling berkesan adalah Pak Pun Ardi. Kami biasanya memanggil beliau Pak Pun. Dulu, Pak Pun adalah guru mengaji yang paling muda di antara yang lainnya. Ya jelas saja. Itu karena Pak Pun masih berstatus mahasiswa. Beliau orangnya lucu dan menyenangkan. Banyak sekali kami yang akrab dengan beliau. Jika hari Ahad, jadwal maraton masal tiba, saya bersemangat sekali untuk ikut serta. Biasanya, kami pergi ke pantai dan Pak Pun pasti ikut. Beliau tentu saja bercerita seru sekali. Jadi, namanya bukan maraton, melainkan jalan santai sambil ngborol. Terkadang, saya dan teman-teman suka jahil pada beliau. Beberapa kali kami minta dibelikan es krim Paddle Pop. Saat sudah dewasa dan merasakan jadi mahasiswa yang harus berhemat, saya jadi menyesal 'malak' beliau. Ntah kapan, saya tidak ingat, tiba-tiba saja beliau tidak mengajar kami lagi. Dan kami tidak pernah bertemu lagi hingga akhir tahun lalu.

Satu pagi yang diguyur hujan, Pak Pun dan Pak (ah! Saya lupa) datang bertamu ke rumah saya. Tunggu! Tunggu! Ini bukan karena saya adalah murid durhaka karena malah guru saya yang bertandang ke rumah. Ceritanya, beliau berdua dulu dekat dengan almarhum kakek saya. Jadi, pagi itu beliau berdua bersilaturahim ke rumah untuk bertemu dengan nenek dan ibu saya. Kebetulan, saya sedang di rumah. Jadi kami sempat bertemu. Pertemuan kembali setelah bertahun tahun lamanya. Sekarang Pak Pun bukan guru mengaji lagi, namun seorang anggota DPRD kota kami. Tak banyak yang berubah. Pak Pun tetap Pak Pun kami yang dulu. Penampilannya tetap sederhana dan bersahaja. Yang paling menyenangkan, beliau masih tetap mengenali saya dan mengenali nama teman-teman mengaji dulu. Saya hanya berharap semoga Pak Pun tetap menjadi Pak Pun kami yang dulu. Pak Pun yang baik, sederhana, dan bersahaja. Semoga saja beliau dapat menjadi wakil rakyat yang benar-benar merakyat dan membela kepentingan rakyat. Amiin.

Tampaknya saya senang sekali membicarakan atau menulis tentang guru-guru saya. Bahkan skrispsi saya, selain dipersembahkan untuk orang tua, juga saya persembahkan sebagai penghormatan kepada para guru. Khususnya guru-guru yang telah berjasa membagi ilmu mereka pada saya. Guru-guru yang bersabar atas kenakalan dan kebodohan saya. Saya masih mengingat kalimat Imam Syafi'i yang diajarkan oleh guru saya di pondok. Bahwasannya salah satu syarat agar kita mendapatkan ilmu adalah dengan menghormati guru. 


Artinya kira-kira begini: Wahai Saudaraku, Kau tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara sebagai mana yang saya aku jelaskan: kecerdasan, tamak akan ilmu (semangat), bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, menghormati guru, dan waktu yang panjang.

Monday, 3 March 2014

Sebuah Cerita Di Kedai Kue Ceria

Pagi itu Kedai Kue Ceria masih tampak sepi pengunjung. Ciara, putri tunggal Bunda Dewi, sang pemilik toko, tampak sibuk mengelap kaca etalase sambil menata kembali kue-kue kering yang akan dijual. Ia juga menyisihkan beberapa kotak kue yang telah dipesan oleh para pelanggan. Hari-hari menjelang Lebaran seperti ini adalah hari yang sibuk sekaligus hari keberuntungan bagi keluarga Ciara. Pembeli akan bertambah banyak dan para pelanggan tetap akan memesan kue lebih banyak dari biasanya.

Di tengah kesibukannya, diam-diam, sudut mata Ciara menangkap gerak-gerik seseorang yang tengah memasukkan adonan kental Chocolate Slice Cake ke dalam beberapa buah loyang yang terlebih dahulu telah dilapisi kertas roti dan diolesi mentega. Dengan cekatan, jemari kokoh itu meratakan adonan menggunakan sepatulah plastik. Pekerjaannya nyaris sempurna tanpa ada setitik noda adonan yang tumpah di atas meja. Beberapa saat kemudian, sosok itu pergi sambil membawa dua loyang adonan menuju oven yang terletak di sebuah sudut ruangan. Ciara setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwasannya seorang lelaki terlihat seksi saat mereka memasak bukan pada saat pamer otot gede dan perut six pack di kontes sebuah produk susu.

Bang Ailul. Itulah panggilan yang selalu Ciara gunakan untuk memanggil sosok tersebut. Ia adalah mantan anak murid bunda Ciara di sebuah sekolah kejuruan. Kata bunda, Bang Ailul adalah anak yang rajin bekerja dan tak banyak bicara. Ciara pertama kali bertemu dengannya ketika masih duduk di bangku SD, saat bertandang ke sekolah bundanya dan tanpa sengaja melihat Bang Ailul sedang mengukir daging buah semangka membentuk kelopak-kelopak bunga. Bunda beberapa kali juga meminta bantuannya untuk bekerja di toko mereka saat Lebaran akan tiba.

Hari-hari pun berlalu. Singkat kata, Ciara beranjak dewasa da melanjutkan pendidikannya di luar kota. Begitu juga Bang Ailul. Ia memutuskan merantau ke negeri tetangga untuk bekerja. Lama sekali Ciara tak berjumpa dengannya hingga tibalah saat ini; Ciara sedang liburan bulan Ramadhan dan Bang Ailul sendiri mengambil cuti setelah sepuluh tahun meninggalkan tanah air. Tak banyak yang berubah darinya termasuk sifat rajin bekerja dan tak banyak bicara. “Ra! Ara” Tiba-tiba saja Bang Ailul sudah berdiri di sampingnya. Membuat dirinya tergugup takut ketahuan bahwa ia sedang memerhatikan dan memikirkan Bang Ailul.

“Ra… tolong buatkan adonan Mocca Coffee Cookies. Nanti Abang yang mencetaknya”. Tanpa banyak tanya, Ciara langsung melesat masuk ke dapur dan mulai meracik adonan kue kering yang diminta. Jantung Ciara berdetak dua kali lebih cepat. Grogi karena Bang Ailul memerhatikannya meracik adonan. Ciut karena sedang diperhatikan oleh ‘pakar’ pembuat kue. Jika dibandingkan, kemampuannya dan kemampuan Bang Ailul sangatlah jauh berbeda. Ciara sendiri belajar meracik adonan secara otodidak, sedangkan Bang Ailul sudah belajar sejak sekolah ditambah lagi dengan pengalaman kerjanya menjadi seorang chef hotel bintang lima. Bang Ailul sendiri tampak tersenyum geli melihat wajah dan pergelangan kemeja Ciara yang sudah dipenuhi oleh tepung terigu dan mentega. “Udah deh Bang! Jangan lihat Ciara seperti itu! Ciara nggak PD nih lagian ini kan bukan acara Master Chef. Tuh Black Forest Bang Ailul sudah ngambek minta dihias,” kata Ciara sewot sambil menunjuk Black Forest malang, yang tergeletak di atas meja hias, dengan sepatulah yang dipegangnya. Rada nggak sopan sih, tapi terpaksa. “Iya deh…,” katanya sambil berlalu membawa semangkuk cherry merah bertangkai.

Tiba-tiba Tante Noni, adik ipar bunda, sudah berdiri sejajar di sampingnya sambil senyam-senyum menggoda. Ciara sempat kaget. Untung saja essen mocca yang dipegangnya tidak tumpah ke dalam adonan buatannya. “Ra, apa kamu tidak tertarik dengan Bang Ailul? Ganteng, cool, nggak banyak omong, dan pintar masak lagi,” Tante Noni mulai promosi. Promosi yang sama sejak Bang Ailul datang ke Kedai Kue Ceria tahun ini. “Duh tante! Ngagetin aja deh! Ciara belum berpikir untuk punya pasangan tante. Umur Ciara masih 22 tahun pula,” jawab Ciara sok kalem. “Apa? 22?? Kenapa jadi lebih muda empat tahun Ra? Gak salah dengar apa telinga tante ini?” Ciara mematikan mixer yang dipegangnya sambil berkata, “Just kidding tante! Jangan masukin ke hati. Hmm gimana ya? Sepertinya Ciara belum tertarik,” Tante Noni melengos kecewa dan pergi ke etalase mengambil beberapa kotak Nastar dan Kastengel pesanan pelanggannya. Ciara geleng-geleng kepala melihat tingkah tantenya yang tetap gaul walau umur sudah jauh dari kata ABG.

Tertarikkah ia? Jawaban hatinya adalah ‘iya’. Ciara tidak memungkiri bahwa diam-diam, ia tertarik dengan Bang Ailul. Baik, kalem, pekerja keras, bonus pintar masak pula. Bahkan rasa tertariknya sudah over dosis. Bahkan telah menjelma menjadi sesuatu yang keramat, yaitu cinta. Tapi, Ciara tidak mau lagi banyak berharap. Memori itu memang telah 6 tahun berlalu, tapi goresan lukanya masih belum sembuh hingga kini. Mungkin ia masih memerlukan banyak waktu untuk recovery. Biarlah ia titipkan saja rasa cintanya pada sang maha Cinta. Ciara yakin bahwa Dia lebih tahu siapa yang terbaik untuknya. Jika jodoh dekatkanlah, jika tidak, mohon jauhkanlah dia, Tuhan…. Berserah. Mungkin ini adalah pengobat luka hatinya. Ciara tersenyum menyadari bahwa ia telah berdamai dengan cinta. Namun, cinta kali ini biarlah hanya Ciara dan Tuhan yang tahu. Dan Tuhan pula yang memutuskan akhirnya. Bukan tebak-tebakan ia, bukan Tante Noni, dan bukan juga sahabat-sahabat gokilnya.

“Ra! Adonannya dah jadikah?  Ni Abang buatkan Banana Cake tuk takjil nanti. Sedap dinikmati dengan tea. Resep baru Abang!” Kalimat Bang Ailul dengan logat bahasa Melayu khas negara tetangga sebelah menyadarkan Ciara dari lamunannya. Ciara tersenyum mengucapkan terima kasih.

---TAMAT---

#Efek baca novel genre romatis mellow-mellow. Ayo donk Oom Dan Brown! keluarkan lagi karyamu setelah Inferno!!! Biar gak mellow kayak gini. Pliss!

Thursday, 27 February 2014

Conversation of Dad and Her Daughter

Anak perempuan: Papa apa kabar? Sehat?
Papa: Alhamdulillah sehat. Kamu apa kabar di sana?
Anak perempuan: Sehat juga. Papa jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan dan cukup istirahat biar gak sakit.
Papa: Iya nak
Anak perempuan: Adek lagi ngapain Pa? Kok dihubungi gak diangkat-angkat handphonenya?
Papa: Tuh lagi di teras. Pacaran (berkata dengan santainya)
Anak perempuan: Apa pacaran??? Huahhhh.... kok adek duluan sih! Aku kan 26 tahun jomblo!!! (histeris)
Papa: Makannya cari juga donk!. Masa kalah sama adek
Anak perempuan: (krik krik krik) Iya deh besok nyari. Mana tahu ada di warung sebelah kos (ngasal). Ya udah deh Pa. Besok kakak telepon lagi. Sore Pa...
Sepupu yang ternyata nguping percakapan: Kak, kalo umur 14 tahun jomblo masih wajar kan? Lah kalo 26 tahun gimana?
Anak perempuan: tut... tut... tut... keluar asap dari atas kepala

#Sore yang geje.


Wednesday, 22 January 2014

Blog Malang

Sudah beberapa hari ini nggak ngeblog. Parah! Ibarat kata kalau blog ini seperti rumah kayaknya udah kumuh banget dan penuh dengan jaring laba-laba. Tapi mau gimana lagi ya. Yang punya blog lagi (sok) sibuk membuka lembaran baru kehidupan dan mengejar mimpi yang tertunda di tahun lalu. Hehehe. Ya gitu masih 'sibuk' mencoba mengejar mimpi untuk melanjutkan pendidikan. Karena kapok kejadian seperti tahun lalu, kali ini si empu blog berburu beasiswa kesana-kemari. Wira-wiri cari rekomendasi dan ikut tes TOEFL lagi. Ya persiapan tahun ini harus lebih matang. Semua harus diurus jauh-jauh hari biar nggak kalang kabut. Selain itu, harus nyiapin serep (emang ban mobil) alias plan B, plan C, sampai plan Z. Dan konsekuensinya adalah menelantarkan blog ini. Fiuh. Sedih. Nanti kalau ada waktu yang cocok buat menghayal dan sinyal modem lancar jaya, si empu akan menulis lagi. Finally, selamat mengejar mimpi, Sobat!

Saturday, 4 January 2014

Teruntuk Jodohku, Entah siapapun Itu

Untukmu Calon Jodohku Yang Tertulis Di Lauhul Mahfuzd

Bismillah ... Mungkin diriku bukanlah matahari yang setiap siang menerangi bumi tapi aku akan mencoba menjadi cahaya
ketika hatimu telah kelam

Mungkin diriku bukanlah bumi yang luas yang memudahkanmu untuk bergerak tapi aku akan berusaha menjadi ruang kosong
tempat untuk mencurahkan segala rasamu

Mungkin aku bukanlah angin yang mampu menyejukkanmu ketika dirimu merasa panas tapi aku akan berusaha menjadi kipas
penyejuk yang dapat engkau gunakan setiap saat engkau butuhkan

Mungin aku bukanlah paranormal yang dapat membaca pikiranmu tapi aku akan berusaha menjadi buku yang siap menampung curahan segala suka dan dukamu

Mungkin aku bukanlah hujan yang dapat menyirami semesta Alam tapi aku berusaha menjadi embun yang menyegarkan jiwamu

Duhai engakau yang masih rahasia aku akan tetap berusaha membahagiakanmu dengan segala kemampuanku bahagiamu adalah senyumku dukamu adalah perihku

Untukmu Calon Jodohku Yang Tertulis Di Lauhul Mahfuzd (By Asyika Rahmah)

Akhirnya saya ngepost juga tentang hal yang satu ini. Hal yang sebenarnya agak "tabu" bagi saya (hehehe) untuk ditulis di blog. Apalagi kalau bukan soal jodoh. Puisi yang di atas ini adalah puisi teman saya ketika masih mondok dulu. Kata-katanya sederhana, tapi penuh makna. Usut punya usut, si penulis ini ternyata merindukan sosok imamnya yang masih menjadi rahasia Illahi. Katanya kalau lagi merindu tentang kehadiran sang imam, langsung deh ide untuk menulis, seperti tulisan di atas, muncul.

Setelah saling balas comment, tiba-tiba saya sadar, dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ternyata memiliki kerinduan pada Imam saya juga. Ya walau selama ini, saya selalu mengingkarinya. Selalu cuek. Selalu tidak ambil pusing bahkan menutup diri for thingking of him. Memikirkan jodoh saya. Memikirkan apa gerangan yang akan saya katakan saat saya bertemu dengannya. Memikirkan apa yang dapat saya lakukan untuknya kelak. Memikirkan masa depan berdua dengannya. Yeah... mungkin saya belum move on secara kaffah. Masih trauma dengan yang lalu. Saya kira cinta, tapi ternyata hanya perhatian saja. Haha. Saya masih buta dengan yang namanya cinta atau hanya perhatian semata. Saya masih perlu belajar membedakan antara keduanya *PS: Jadi, untuk jodoh saya, entah siapapun itu, agak bersabarlah menghadapi diri saya yang tidak sensitif karena saya bodoh untuk membedakan antara cinta dan perhatian sesaat saja.

Mungkin kalau saya bertemu dengan imam saya yang masih jadi rahasia Illahi itu, saya akan berpikir kurang lebih sama dengan bait-bait puisi yang ditulis teman saya di atas. Setidaknya saya akan menambahkan beberapa poin.

Teruntuk jodohku, entah siapapun itu... 
Jika aku memiliki pendidikan lebih tinggi atau gaji lebih besar, cobalah untuk tidak merasa kecil. Karena, bagaimanapun juga, dalam rumah tangga, kaulah yang menjadi pemimpinnya. Dan aku harus mengikutimu.

Teruntuk jodohku, entah siapapun itu...
Jika kita telah dititipkan amanah dari-Nya, maka marilah kita berikan kasih sayang bersama-sama. Mengajaknya bermain bersama, mengajarkannya mengaji, shalat, berhitung atau membaca bersama-sama pula karena mereka dititipkan untuk kita berdua. Ya. Sesibuk apapun kita kelak...

Teruntuk jodohku, entah siapapun itu...
aku akan selalu mengikuti perkataanmu. Tapi, berikanlah aku kesempatan untuk mengungkapkan pemikiranku juga.

Mungkin ini bukan puisi ya. Hanya kata-kata saja. Belum semuanya sih. Tapi cukuplah. Well. Teruntuk jodohku, siapapun itu, aku setia menanti kehadiranmu....

Friday, 20 September 2013

Terbaik Untukmu

Yang aku yakini adalah Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan selalu mengabulkan semua doa-doa hamba-Nya. Dia juga senantiasa melihat usaha hamba-Nya. Jika doamu belum dikabulkannya, bukan berarti Tuhan membencimu. Hanya saja Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untukmu. Kau hanya perlu percaya dan berserah diri pada-Nya.

Terkadang kau merasa bahwa usahamu lebih maksimal daripada temanmu, namun kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan sedangkan temanmu mendapatkannya. Ini bukan berarti Tuhan tidak sayang padamu. Dia memiliki rencana yang lebih indah daripada rencanamu. Kau hanya perlu percaya dan berserah pada-Nya. Ya. Dia pasti punya jalan lain yang lebih indah untukmu. Sesuatu yang menyenangkan itu akan didapatkan setelah bersusah payah bukan. Ya. Manusia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan jika ia tidak pernah mengalami kepedihan. Percayalah! Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang lebih indah. Kau hanya perlu tambahan doa dan usaha serta serahkan segala sesuatu pada-Nya.

Friday, 17 May 2013

Terima Kasih

Terima kasih Tuhan. Di hari istimewa ini, satu harapan yang telah lama kupendam akhirnya terwujudkan. Semua telah kembali seperti sedia kala, saat kami saling berdekapan membagi kesedihan. Saat kami berpelukan saling menularkan kebahagiaan. Aku benar-benar merindukan kebersamaan masa lalu itu, Tuhan. Walau sebenarnya, aku yakin, bahwa bekas luka masih menganga di hati masing-masing, sisa-sisa  memori tidak menyenangkan masih memenuhi ruang-ruang benak kami. Bagaimanapun masa lalu tak kan pernah bisa terhapuskan. Simpan sajalah sebagai kenangan. Cukuplah yang kutahu sekarang kita bergenggaman lagi walau dalam sisa-sisa kebersamaan yang tak lama. Semoga ini cukup untuk menggantikan semua luka dan kepedihan.

Ini bukanlah trio kwek-kwek, tiga kucing, atau bahkan tiga macan. Ini bukanlah genk gadis-gadis perempuan yang sadis, manis, dan laris atau macam genk money and beauty. Ini hanya persahabatan tiga perempuan berbeda karakter dan kepribadian. Persahabatan ini pernah rekat di masa lalu, namun pernah retak di tengahnya hingga akhirnya kini persahabatan ini tak memiliki status resmi. Persahabatankah atau hanya pertemanan untuk menyambung tali silaturrahim yang sempat terputus lama? Apapun statusnya, aku tak peduli. Yang terpenting, kita bersama kembali menghabiskan sisa waktu yang tak seberapa lama. Pada akhirnya, kita mencari teman bukan karena mereka memiliki kesamaan dan kecocokan, namun bagaimana kita bisa menerima perbedaan itu.

#Tulisan ini teruntuk kalian,dua sobat gila yang punya mimpi berbeda


Saturday, 19 January 2013

Dalam Diam Papa

Saat mendengar kata "Papa", yang kuingat adalah sosok lelaki pendiam tanpa banyak kata. Namun terlihat jelas bahwa di balik diamnya, ia berkata bahwa ia mencintai dan menyayangi kita sepenuh hatinya. Diam-diam, ia memperhatikan dan mengamati segala tingkah laku kita, segala sesuatu yang kita sukai, bahkan segala sesuatu yang kita benci. 

Dalam diamnya, ia selalu berdoa agar setiap langkah anak gadis tercintanya selalu dilindungi Yang Maha Kuasa. Dalam diamnya, ia mengkhawatirkan putri kecilnya yang telah beranjak dewasa lalu pergi merantau untuk sekedar menuntut ilmu. Dalam diamnya, terbersit sedikit rasa cemburu saat anak gadisnya mulai masuk ke dalam sebuah ikatan cinta. Dalam diamnya, ia menangis dan berusaha rela melepaskan putrinya kepada seorang pemuda. Dalam diamnya, ia meletakkan kepercayaan pada pemuda itu untuk menjaga putri kecilnya yang telah dewasa. Dalam diamnya, sungguh tersirat beribu-ribu CINTA.

Papa, aku tak pernah melihatmu menangis sekalipun. Akankah kau menumpahkan air mata dari perasaan terpendammnu saat kau ucapkan ijab pernikahan putri tersayangmu ini? Papa, diammu adalah CINTA yang selalu kurasakan frekuensi dan intensitasnya. Papa, semoga Tuhan senantiasa memberikanmu kebahagian di dunia dan juga di akhirat kelak. 


Tuesday, 16 October 2012

Hymne: Tong Seng

Instrumen hymne "Oh Pondokku" masih mengalun syahdu mengingatkan aku dengan sesuatu. Aku teringat tong seng. Namun, tong seng ini bukan tong seng gulai khas Jawa itu. Tong seng ini nama suatu tempat di area tempatku mondok dulu. Tong seng ini adalah deretan kamar mandi panjang berdinding seng dan baknya dari tong. Maka, jadilah kami menyebutnya tong seng.

Walau sederhana dan bukan merupakan tempat terkenal, tong seng ini punya tempat khusus di hati. Bagaimana tidak? Tong Seng ini bisa dibilang saksi bisu yang menyaksikanku menangis untuk pertama kalinya karena pisah dari orangtua untuk mondok selama 6 tahun lamanya. 

Aku ingat benar hari itu. Saat banyangan mama sirna dari pandangan, aku langsung sedih ingin menangis. Aku langsung masuk kamar dan mengambil baju ganti, handuk, dan alat mandiku. Setelah itu, aku menuju tong seng, masuk ke dalamnya dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya. Selesai mandi di tong seng, hilang sudah rasa sedih itu. Kenapa harus sedih ya? Toh semua orang di sekitarku senasib denganku semua; sama-sama jauh dari orangtua.

Saturday, 7 July 2012

Betapa Merindunya

Beberapa hari yang lalu, air mata saya sempat menetes saat mengetik nama alm. mbak Kakung di halam persembahan skripsi. Saya rindu setengah mati dengan kehadirannya beliau. Sempat berandai-andai sedikit bahwa pasti mbah akan tersenyum bahagia saat saya wisuda dan menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mbah kakung adalah sosok yang sangat berjasa bagi saya. Walau rada galak dan disiplin, mbah sangat menyayangi saya. Dari saya bayi, saya dirawat oleh mbah kakung dan mbah putri. Namun, kedekatan saya lebih berintensitas tinggi dengan mbah kakung. Mungkin karena mbah kakung yang sering menemani saya tidur, jalan-jalan sore, beli mainan, dan mengabulkan semua permintaan saya.

Dulu, saat saya kecil, acap kali saya masuk ke dalam pangkuannya dan menjadikan sarung, yang sedang dipakainya, sebuah ayunan. Kemudian perlahan-lahan mbah akan bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kakinya sehingga tubuh saya terbuai lembut. Setiap hari, mbah kakung menemani saya tidur siang sambil bercerita tentang perjuangannya di zaman Jepang dan tentu saja cerita Si Kancil. Walau cerita itu sering diulang-ulang, tapi saya tidak pernah bosan dan selalu menganggapnya menarik. Saat sore tiba, biasanya kami akan jalan-jalan keliling kompleks tempat kami tinggal sambil jajan sate padang, coklat, permen dan semua makanan yang aku sukai. Kalo hari Ahad datang, biasanya kami akan main sepeda ke Siteba, By pass, atau Pantai Padang.

Setelah saya duduk di bangku SD, mbah membeli sebuah motor, dan setelah itu, kami makin sering jalan-jalan dan makin jauh arah tujuan kami. Saat supermarket pertama di Padang buka, kami langsung jalan-jalan ke sana melihat barang-barang yang dipajang di etalase. Saat itu, saya sangat menyukai film "Pokemon" dan tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah jam tangan bergambar tokoh utama "Pokemon", yaitu Pikhacu. Tiba-tiba mbah langsung membeli jam itu dan memberikannya kepada saya. Saya hanya terbengong dan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Setelah melihat jam, kami mengunjungi bagian furniture, saat itu saya melihat tempat tidur bertingkat yang sedang ngetrend saat itu. Tanpa sadar, saya berucap bahwa tempat tidur itu bagus karena saya bisa sekamar berdua dengan adik saya saat dia sudah TK kelak. kata mbah, tempat tidur yang kami lihat itu berkualitas buruk. Setelah itu, tanpa bicara panjang lebar lagi, kami meninngalkan plaza itu. Seminggu kemudian, saat saya pulang sekolah, saya dapati kamar saya telah berubah. Tempat tidur biasanya telah berganti dengan tempat tidur bertingkat. Namun, tempat tidur yang ini kokoh dan lebih bagus daripada tempat tidur yang kami lihat di plaza. Betapa senangnya saya saat itu.

Suatu hari, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sebuah pondok pesantran di Jawa Timur. Papa dan Mama sebenarnya agak keberatan karena masalah ekonomi. Namun mbah kakung langsung berinisiatif mebayar semua biaya itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan sekolahku ke pondok pesantren. Suatu hari, mbah kakung datang ke pondok untuk menjengukku. Sebenarnya mbah kakung datang dari jam 7 pagi, namun aku baru bisa bertemu dengan beliau jam 7 malam [bayangkan!]. Saat itu mbah kakung bilang jika akan pergi berangkat haji. Dan sebelum berangakat, mbah ingin ketemu saya dulu. Saat mbah mau pulang, mbah memberi saya meja belajar lipat dan uang 500.000 [jumlah yang sangat fantastis untuk anak sekecil saya saat itu]. Beberapa bulan kemudian, saya dikirimi paket yang berisi sebuah jam tangan hitam sejenis G-shock. Kata orantua jam itu adalah pemberian mbah sebagai oleh-oleh naik haji untuk saya. Ketika saya menelpon ke rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada mbah, orang-orang di rumah bilang bahwa mbah sedang tidur. Hal ini mereka lakukan berulang kali sehingga saya merasa ada yang disembunyikan dari saya tentang mbah. 

Suatu hari, orangtua saya datang ke pondok dan mengajak saya ke Yogya karena ada yang akan dibicarakan. Saat sampai di Yogya, saya diberitahu bahwa mbah telah tiada. Mbah meninggal sesampainya di Padang setelah menunaikan ibadah haji. Hanya hanya diam sedikit kesal karena tak ada seorang pun yang pun yang memberitahu saya berita ini. Namun, sebelum berita itu saya dengar, saya sudah punya rasa bahwa mbah telah meninggal.

Mbah... begitu cepat rasanya mbah pergi
Terima kasih untuk semuanya mbah
Terima kasih untuk cinta
sayang
mainan
dipan bertingkat
biaya sekolah dan semuanya yang tidak saya sebutkan satu persatu karena terlalu banyak kasih sayang yang mbah berikan
Maafkan saya juga mbah
karena saya tidak bisa menjaga jam tangan terakhir pemberian mbah
Model jam tangan itu dilarang di pondok dulu
saya sudah berusaha menyembunyikannya, tapi akhirnya ketahuan bagian keamanan pondok. 

Mbah...
sebentar lagi saya pendadaran dan wisuda
Andai mbah masih ada, pasti saya akan melihat senyum bangga mbah karena cucu mbah yang nakal ini menjadi seorang sarjana
Namun, walau mbah telah pergi dari sisi saya, saya bercaya mbah pasti sedang tersenyum bangga di surga sana

Mbah...
saya juga mengikuti jejak profesi mbah. Tapi tentu saja bukan jadi tentara. Saya memilih jadi pengusaha. Bedanya, saya bukan pengusaha burung puyuh seperti mbah. Rasanya ingin bercerita banyak pada mbah. Mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali di tempat yang disebut surga... [amiin]


Friday, 8 June 2012

Sedikit Serpihan



Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang mampu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita
dan di pusarnya besemayam pusat tata surya
kecuali engkau

Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang di atas lingkaran pinggangnya masa-masa berkumpul
dan ribuan planet berkeliling
kecuali engkau
 [Serpihan yang terkumpul dari puisi Nizar Qabbany]

Tuesday, 10 April 2012

Bukan Aksi, Melainkan Adaptasi

Beberapa hari yang lalu, tampaknya seluruh masyarakat Indonesia dihebohkan oleh isu naiknya harga BBM. Hal ini sangat berimbas besar bagi negara dan juga masyarakatnya. Bagi kalangan menengah ke atas, mungkin tidak terlalu kerasa, namun bagi masyarakat menengah ke bawah (termasuk mahasiswa), hal ini sangat dirasakan efeknya. Bayangkan saja! Tidak hanya tarif kendaraan umum yang naik, semua bahan pokok juga naik. Padahal BBMnya saja belum naik loh harganya! Akibat isu kenaikan BBM ini, menjamurlah unjuk rasa menolak kenaikan BBM dari semua kalangan masyarakat kita. Dari buruh, ormas, pelajar, bahkan mahasiswa pun tak ketinggalan.

Namun saya pribadi punya pemikiran lain tentang masalah ini. Saya lebih memilih diam dan tidak ikut aksi turun ke jalan ikut-ikutan menolak kenaikan harga BBM. Terlepas dari masalah kebijakan atau dan yang diselewengkan oleh para penguasa negara, menurut saya yang harus kita lakukan saat ini bukan aksi, melainkan adaptasi. Kenapa?

Karena kita adalah manusia yanh hidup dalam kehidupan nyata yang penuh tantangan sampai akhir hayat kelak. Dengan adanya masalah seperti ini, setidaknya, jadilah problem solver, bukan turun ke jalan unjuk rasa. Tapi dengan menjadi problem solver dan beradaptasi dengan suasana yang baru ini (kenaikan BBM), setidaknya kita didik agar lebih cerdik dan berpikir lebih kreatif untuk menciptakan ide baru yang segar untuk kehidupan kita selanjutnya. Sayangkan kalau otak tidak digunakan untuk berpikir? Padahal otak diciptakan untuk alat berpikir manusia. So... Beradaptasilah dengan keadaan yang baru, bukan beraksi.

INDONESIA PASTI BISA BERUBAH!!!!!!! SAYA YAKIN ITU!

Saturday, 17 March 2012

Aaron

Genangan air hujan masih tersisa di jalanan. Sisa-sisa air hujan jatuh satu persatu dari ujung-ujung lentik dedaunan menciptakan suara tik-tik yang merdu dan berirama. Sedangkan langit di atas sana masih menyisakan warna hitam sisa-sisa hujan yang mengguyur bumi dengan deras. Seperti apakah hujan? Apakah hujan seperti ribuan jarum yang menghujam bumi? Ataukah hujan seperti benang putih yang terburai ke muka bumi?

Aku masih melangkahkan kakiku di atas jalan setapak dan sekali-kali berjingkat-jingkat berusaha melindungi sepatu bututku dari genangan air yang kelak akan merusaknya. Tiba-tiba kurasakan sekelebat bayangan berjalan mengiringi langkah-langkahku. Kulirik arloji hitam di pergelangan tanganku. Jam 4 sore. Bayangan itu selalu datang tepat waktu di jam 4 sore. Hari ini pun, bayangan tersebut datang seperti biasa jam 4 sore.

"Hei Mira. Apa kabarmu hari ini?" bayangan itu, Aaron, menyapaku seperti biasa. Aku tidak menjawab sepatah kata pun. Aku hanya tersenyum menandakan bahwa aku baik-baik saja. Kulihat Aaron membalas senyumku dengan senyuman indahnya yang sangat mempesona seraya berkata,
"Keadaanmu tidak baik, Mira. Aku bisa membaca kedua bola mata beningmu,"
Sial! seperti biasa, Aaron selalu bisa menebak apapun yang aku pikirkan.
"Okey! Seratus untukmu. Kau benar! Keadaanku tidak baik," kataku menyerah.

Dia tersenyum dan merangkul pundakku. Hangat. setidaknya itulah yang kurasakan. Sedetik kemudian kurasakan hangat nafas berbau mintnya merambat melalui udara ke telinga kananku membisikkan sesuatu,
"Jika kau merasa menjadi manusia yang paling tiidak beruntung di dunia ini, lihatlah ke sekelilingmu. Lihatlah mereka yang jauh kekurangan dari keadaanmu,"
Aku menatap sekelilingku. Di sana kutemui pengemis tua duduk merenung di atas kardus lusuh yang lembab akibat percikan air hujan. Aku menatap seorang kakek buta yang mengangkat dagangannya di atas kepala sambil meraba-raba. Ya. Aku melihat semuanya. Semuanya. Penderitaan. Kesedihan. Kesakitan. Oh betapa beruntungnya aku! Setidaknya ada Aaron yang selalu menghiburku dalam duka ini,"

Aaron melepaskan rangkulannya dan menggenggam jemariku. Kulihat senyumannya masih terlukis indah di wajahnya tak terhapus oleh tetes air hujan yang jatuh. Namun, hari ini kulihat senyumannya sekan-akan menyimpan sebuah rahasia besar. Aku menatap mata Aaron dalam-dalam berharap aku dapat mengetahui rahasia yang disembunyikannya. Namun nihil. Aku tak mampu.

"Mira. Ini hari terakhirku menemani tiga puluh menit di setiap hari yang kau lalui. Kini, saatya kau mencari seseorang penggantiku"
Aku terperangah mendengar kata-katanya,
"kenapa Aaron? kenapa kau meninggalkanku? Apakah kau tidak menyukaiku lagi seperti mereka yang meniggalkanku?" Air mataku mulai berlinang membasahi kedua belah pipiku.
Aaron masih tetap tersenyum. Jemarinya mulai menelusuri kedua belah pipiku menghapus air mata yang menganak sungai.

"Mira. Kini saatnya kau menyambut kehidupan barumu. Kini saatnya kau membuka pintu dan jendela hatimu untuk menerima seseorang di luar sana"
"Kenapa? Kenapa Aaron?" kataku lemah
"Karena aku hanya imajinasimu,"



 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang