Showing posts with label buah pikiran. Show all posts
Showing posts with label buah pikiran. Show all posts

Friday, 2 September 2016

Realita

Hai kamu yang terhalang jarak dan waktu bahkan terhalang sinyal yang tidak menentu....

Ini malam kedua saya tidak bisa memejamkan mata. Saya masih memikirkan masa depan kita. Saya tidak pungkiri bahwa saya ingin seperti teman-teman lainnya. Menikah dan memiliki keluarga kecil yang pastinya kadang bahagia kadang juga penuh duka. Karena tidak ada keluarga yang sempurna. Itu menurut saya. Saya dan kamu juga punya mimpi seperti mereka. Namun, realita tidak selalu sesuai dengan angan-angan kita. Sayangnya, terkadang manusia memandang sebelah mata. Menghakimi hubungan seperti ini penuh dengan zina dan memberi pilihan sempit dengan slogan "halalkan atau tinggalkan". Terlebih lagi setelah seorang anak ustad memutuskan menikah di usia 17 tahun sehingga muncullah kampanye nikah muda dengan slogan yang tak kalah provokatifnya, "Menikahlah agar terhindar dari zina" atau "anak ustad aja umur 17 tahun udah nikah, kamu umur segini udah ngapain aja". Hahahaha... seakan-akan nikah muda adalah suatu prestasi kayak pemenang lomba lari. 

Mereka hanya bisa berkata, namun tidak mau melihat dari sudut pandang lainnya. Realitanya, manusia berbeda. Manusia memulai garis awal kehidupan mereka dalam posisi yang tidak sama. Sebagian dianugerahi kekayaan, sebagian lagi tidak. Sebagian dianugerahi kepintaran, sebagian lagi tidak. Sebagian dikaruniai kesehatan, sebagian lagi tidak dan begitu seterusnya. Begitu juga dengan menikah. Sebagian mampu segera menggenapkan separuh agama karena berbagai kemudahan. Jodoh mudah, harta orang tua berlimpah, karir bagus, usaha lancar, atau mungkin faktor keberuntungan. Sebagian lagi harus berpikir, berusaha keras, bahkan hingga taraf berserah pada sang Maha Kuasa.

Dan faktanya, kita terjebak pada golongan kedua. Saya baru akan wisuda program pasca sarjana. Setelah ini harus berjuang mendapatkan pekerjaan yang didamba. Kamu baru merintis karir dengan tanggungan yang luar biasa banyaknya. Kamu pengganti sosok papa bagi adik-adik kamu dan pelindung bagi mama. Saya bertanggung jawab untuk mengurus papa setelah kepergian mama. Mimpi kita berbanding terbalik dengan realita. Jalan kita ternyata memang tidak mudah dan kita tidak tahu dimana ujungnya. Kita hanya bisa berusaha keras dan pada akhirnya menitipkan semua asa pada Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan memberikan jalan bagi kamu dan saya. Untuk membangun keluarga. Untuk menggenapkan separuh agama. Saya yakin akan selalu muncul pelangi setelah hujan. Akan selalu ada terang sehabis gelap. Akan selalu ada kelapangan setelah kesusahan. Akan selalu ada suka setelah duka. Saya yakin selalu ada hikmah di balik seluruh peristiwa yang kita hadapi. Semoga kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menjalani ketidakpastian ini. Semoga kelak kita menjadi hamba yang ikhlas dan lebih bijak menghadapi kehidupan.




Monday, 22 August 2016

Kita Ini Apa

Kita ini apa sih? 
Itu tanyamu dulu. Saya sendiri tidak mengerti kita ini apa. Dan saya tidak ingin terjebak dalam dunia yang abu-abu. Terjebak dalam masyarakat yang seolah-olah berlomba menyatakan diri mereka paling baik dan saleh daripada manusia lainnya. Agama tidak ada esensinya. Hanya digunakan untuk saling mencelakai, membenarkan diri sendiri, bahkan dipakai untuk promosi. Miris. Ah sudahlah! Lupakan masalah dunia yang abu-abu itu. Saat ini saya tidak ingin ikut serta nyinyir. Saya hanya ingin bercerita tentang kita. Kita yang dulu terjebak dalam pertanyaan 'kita ini apa sih?' Pertanyaan ini sering kita diskusikan hingga akhirnya memunculkan kesimpulan. Tidak usah kita namai hubungan ini. Itu katamu. Saya pun setuju. Mungkin kita juga abu-abu. Ya. Abu-abu yang tersembunyi di kisi-kisi perdebatan masyarakat yang merasa golongan mereka paling benar. Hubungan ini abu-abu. Entah itu pacaran atau kenalan (baca; Ta'aruf).

Dibilang pacaran, sekalipun kamu tidak pernah mendeklarasikan pertanyaan 'Mau nggak jadi pacar saya'. Kamu hanya bilang 'saya punya niat menikah dengan kamu. Bisakah saya mengenal kamu lebih dekat'. Padahal kamu tahu dan merasakan aksi jutek tidak ramah saya tiga tahun lamanya. Dan saya hanya menjawab 'Ya. Mari kita jalani' karena sejujurnya (dulu) saya belum punya rasa. Awal pertemuan kita pun hanya papasan di tangga dan saya tidak menyadari kehadiran kamu kala itu. Kamu yang akhirnya mengaku pernah melihat saya yang sedang tertawa-tawa bersama adik semata wayang saya. Kita jarang bertatap muka. Bisa dihitung jari berapa kali frekuensi berjumpa. Setelah Jogjakarta, kita berjumpa di rumah orang tua saya. Saya membiarkanmu berkenalan dan mengobrol panjang lebar dengan keluarga saya, sedangkan saya asyik mengaduk adonan atau mencetak kue kering dagangan saya. Oh ya, kala itu saya beserta adik dan teman-teman yang membantu bisnis kue kering juga berkunjung ke rumah paman kamu yang sudah bersedia 'menampung' kamu berteduh selama kamu meninggalkan rumah di kampung. Saat itu, kita mendengarkan petuah paman kamu yang punya obsesi jadi militer negara. Itu saja. Setelah itu, kita terpisah oleh jarak dan waktu. Kamu di pulau Sumatera dan saya kembali ke pulau Jawa. Kita berkomunikasi kembali via dunia maya.

Dibilang kenalan (baca: Ta'aruf), sepertinya juga tidak. Beberapa kali kita pergi hanya berdua saja, di malam hari pula. Karena di siang hari kita harus menjalani rutinitas kita. Kamu menjajakan dagangan dan saya menulis tugas akhir program pascasarjana saya. Saya ingat kita keliling kota. Kadang tanpa tujuan yang berakhir dengan ngobrol panjang di Mall yang menyediakan banyak bangku dan mushala nyaman atau main di beringin alun-alun kota yang terkenal di kalangan wisatawan lokal dan mancanegara. Selama kebersamaan singkat itu, kamu sabar mendengarkan cerita dan keluh kesah saya. Kamu berusaha menghibur saya yang berduka. Akhirnya Tuhan mengambil Mama dari sisi saya, kita pun terpisah dan dipertemukan lagi di pulau Sumatra. Seperti dulu, perjumpaan kita hanya sebentar saja. Dua kali kita jalan berdua tanpa adik saya dan 'antek-anteknya'nya. Kita mengobrol di tengah-tengah keributan anak gaul kota yang memenuhi ruangan restoran siap saji. Kita mulai membicarakan bagaimana langkah selanjutnya untuk pernikahan kita. Mau tidak mau, kita harus realistis. Bagi kita, pernikahan bukan sekedar menghalalkan sesuatu yang haram dilakukan sebelum menikah dan kita menganut kepercayaan jika rezeki itu harus dicari bukan dinanti dengan doa semata tanpa usaha berarti. Setelah itu, kita terpisah jarak kembali hingga saat ini. Kamu pun bekerja dan berusaha mengumpulkan pundi-pundi untuk masa depan kita. Saya pun begitu, jualan untuk mengumpulkan pundi-pundi juga sambil menunggu hari wisuda yang rasanya masih lama. Kemudian berencana mengadu nasib dalam dunia akademisi yang sudah lama saya damba.

Itulah kita. Kita tidak mau repot lagi memikirkan kita ini apa. Apalagi memikirkan ini pacaran, kenalan (baca: Ta'aruf), atau istilah yang lagi ngetrend gegara buku anaknya Adi Bing Slamet, 'temenan'. Yang pasti, kita punya komitmen untuk melangkah ke jenjang pernikahan beberapa bulan ke depan. Saya juga tidak tahu hubungan kita ini berdosa atau tidak. Hanya Tuhan yang berhak dalam urusan perdosaan. Wallahu a'lam. Tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa saya kontra terhadap sistem kenalan (baca: Ta'aruf) dan pro terhadap sistem Pacaran. Sekalipun tidak. Saya hanya tidak ingin menjadi anggota abu-abu yang hanya taqlid saja. Bagi saya, agama itu lebih agung dan lebih tinggi daripada hanya digunakan untuk memproklamirkan bahwa kita lebih saleh daripada manusia lainnya. Itu saja. Semua saya serahkan dan pasrahkan kepada Tuhan dan segala kebesaran-Nya. Termasuk menyerahkan rencana besar kita. Semoga Tuhan semakin mempermudah langkah-langkah kita ini. Menikah, mendidik dan membesarkan anak-anak, menua, berpisah oleh maut, dan kemudian dipertemukan kembali di tempat yang paling indah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.


Thursday, 26 November 2015

Teruntuk Teman

Siang itu Jogja kembali romantis dan syahdu. Titik-titik hujan mulai menyapa pepohonan satu persatu dan merayap mengendap-endap di kisi-kisi jendela berkaca biru. Entah apa yang harus kukatakan. Aku hanya bisa terdiam menerima kenyataan. Kenyataan yang mungkin tak kuinginkan. Tapi satu yang pasti, aku adalah manusia yang menghormati kejujuran. Lebih baik jujur yang menyakitkan daripada bahagia yang terbangun karena kebohongan. Terima kasih kuhaturkan untuk seluruh kejujuran.

Manusia memang makhluk lemah. Tempatnya lupa dan salah. Termasuk diri ini dan juga dirimu, teman. Tapi, manusia berhak mendapat kesempatan kedua. Bukankah Tuhan yang Kuasa saja mengampuni hamba-Nya? Apalagi kita yang lemah dan bukan apa-apa dibandingkan Dia. Yang terpenting adalah penyesalan yang terdalam dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Yang tak kalah penting juga adalah penerimaan terhadap mereka yang bertaubat dan menyesal atas kesalahannya. Sebagai manusia yang berstrata sama di hadapan-Nya, bukan hak kita untuk menghakimi kesalahan mereka. Tugas kita hanya menggenggam jemari mereka agar tidak terjatuh ke lubang yang sama. Begitulah seharusnya muamalah sesama manusia.

Manusia itu penuh cela. Tak habis-habis bila dirincikan kata perkata. Namun di sisi lain, manusia memiliki segudang kebaikan yang terkadang tertutup begitu saja karena noktah kecil noda. Begitu juga aku dan kamu. Cela kita tak kan pernah habis, tapi berhentilah sejenak untuk membersihkan noda. Lihatlah berlian yang terkubur di dalam kubangan lumpur hitam pekat.

Hei teman! Kamu mungkin menganggap dirimu tidak layak berteman denganku. Terpuruk dalam penyesalan kisah masa lalumu. Menganggap remeh dirimu bahkan terkesan tidak percaya pada kebaikan yang tersimpan di dalam jiwamu. Mari kita lupakan keburukanmu! Bagiku, kamu adalah seorang teman yang mengajarkan arti tegar. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku tidak setegar jiwamu. Mungkin aku malah terpuruk dan menyalahkan Tuhan yang sejatinya adalah tempat kita mengadu. Di saat teman sebayamu masih hura-hura dengan harta orang tua, kau memutuskan untuk bekerja demi keluarga tercinta. Merasakan sakitnya terhina dan mungkin bahkan terlunta-lunta. Mungkin jalanmu memang terjal, mungkin jalanmu memang penuh dengan duri. Ini bukan karena Tuhan murka padamu, malah sebaliknya karena Tuhan menyayangimu dan ingin menjadikanmu hamba-Nya yang akan selalu memuja kebesaran-Nya. Jangan pernah merendahkan dirimu. Jangan pernah lagi. Karena kita sama di hadapan-Nya.

Hei teman! Semoga kamu tak kan pernah lelah untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang kamu yakini harus kamu perjuangkan. Jangan pernah lelah memperbanyak sujudmu pada-Nya. Jangan pernah bosan untuk mengadukan segala kesahmu kepada-Nya. Tetap berjuang, berdoa, dan berserah pada Dia, Sang Penguasa hati Manusia. Wish you all the best. Semoga Tuhan selalu meringankan setiap langkahmu dan melapangkan masalah-masalahmu.

Wednesday, 25 November 2015

Misteri

Bukannya narsis, tapi saya memang suka berteman dengan siapa pun selama pertemanan itu memberi dampak positif bagi saya. Yang saya rasa unik adalah teman-teman saya tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada mereka-mereka yang khusus menjadi teman-teman diskusi persoalan serius, teman-teman ngocol hore-hore, teman-teman yang menjadi tempat curhat saya, teman-teman yang membagi tips tentang seluk-beluk pekerjaan rumah tangga, bahkan teman-teman yang memberi nasehat persoalan 'relationship' dengan lawan jenis.

Entah kenapa, di sore dengan hujan yang lebat itu saya terdampar di salah satu rumah teman saya. Kebetulan ia menikah dengan teman masa kecil saya dan sudah dikaruniai seorang bayi laki-laki berumur 9 bulan. Sambil mengeringkan badan dan guling-gulingan dengan si Kecil, teman saya mulai membuka percakapan tentang 'relationship'. Tiba-tiba ia berujar ke saya: "Nta, tahu nggak? Betapa beruntungnya kamu nggak pernah pacaran loh! Saran saya, jangan pernah pacaran". Oke, tiba-tiba suasana jadi serius dan saya bertanya mengapa. Kemudian ia pun menjawab, "Rugi dan sia-sia. Menghabiskan waktu kamu aja. Kita mana tahu sih, ternyata jodoh kita adalah orang yang tiap hari seliweran di depan mata kita".

Dipikir-pikir, memang ada benarnya pernyataan teman saya yang satu ini. Pertama, mungkin saya memang wajib bersyukur belum pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran walaupun sebenarnya saya tidak mempermasalahkannya. Kedua, memang benar kalau jodoh adalah misteri. Bisa jadi orang yang 'gue banget' ternyata bukan jodoh kita. Bisa jadi juga orang yang seliweran di depan mata kita ternyata adalah jodoh kita. Yaps. Semua bisa terjadi karena semua masih misteri. Ini juga bisa terjadi pada saya pribadi. Saya tidak tahu, mungkin saja jodoh saya adalah salah seorang teman saya yang jadi tempat curhat saya tentang laki-laki yang 'gue banget' versi saya. Mungkin juga jodoh saya adalah orang yang hanya papasan sekali di jalan. Bisa jadi juga, jodoh saya adalah seseorang yang sering saya jutekin mati-matian. Ya. Semua bisa terjadi karena masih misteri.

Jadi, nikmati saja kejombloan ini dan proses lika-liku jalan bertemu jodoh! Tidak perlu malu dan misuh-misuh sendiri kalau dikatai masih berstatus jomblo. Kata seseorang yang baru menjomblo, menjadi jomblo itu keren kok. Oke baiklah. Selamat menikmati hari kawan-kawan dan teman semangat!

Sunday, 22 November 2015

Transformasi Perempuan

Kata Bang Tere Liye perempuan yang pernah tersakiti hatinya dan berhasil bangkit, maka perempuan itu tidak lagi seperti perempuan yang kita kenal sebelumnya. Perempuan tersebut akan lebih tangguh, lebih kuat, dan lebih mandiri. Yap. Saya setuju binggo dengan pendapat Bang Tere di atas. Pengalaman tersakiti memang total mengubah perempuan dari segala sisinya. Pemikirannya lebih luas mendalam menyimpan banyak pertanyaan, logikanya berjalan, instingnya menjadi tajam, perasaannya lebih sensitif, sikapnya menjadi tegas, bahkan hatinya tidak ia berikan seluruhnya pada lelaki manapun hingga perhelatan akad nikahnya kelak.

Transformasi perempuan. Bukan berarti perempuan menjadi dominan. Hanya saja mereka menjaga diri dan mencari lelaki yang tepat yang tidak akan pernah mempermainkan dan menyakitinya untuk kedua kali. Ia akan lebih keras berusaha dan bahkan tawakal dalam doa-doa panjangnya. Memohon lelaki terbaik dari Tuhan untuknya Yaps! Hanya lelaki yang tulus, sabar, dan jujur yang akan mendapatkan seluruh hati perempuan tersebut.

Wednesday, 18 November 2015

Galau, Never Ending

Bagi saya, manusia itu unik dengan berbagai kelebihan yang diberikan Tuhan dan juga dengan keterbatasannya. Memang benar manusia itu tidak akan pernah merasa puas dan cukup. Begitu juga dengan rasa galau. Yap. Kalau Jogja adalah 'Never Ending Asia', maka Galau adalah 'Never Ending Manusia'. Hahaha. Abaikan istilah yang terdengar memaksa itu.

Tidak jauh-jauh menilai atau mengamati prilaku orang. Kali ini, pengalaman sendiri cukup merepresentasikan galau yang never ending. Hahahaha. Hidup memang lucu dan penuh misteri tentu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Kesedihan dan kebahagiaan bisa datang silih berganti bahkan malah bisa stagnan untuk beberapa lama. Begitu juga dengan hal-hal konyol yang terjadi. Bahkan hal-hal yang tidak pernah diduga dan kita prediksikan sebelumnya.

Entah saya mimpi apa, tiba-tiba ada seseorang yang kirim pesan berisi ungkapan untuk serius ke jenjang pernikahan. Saya baca pesan itu dengan rasa cengok mania. Terdiam tanpa kata-kata. Lalu nangis di kolong meja. Hahahahaha. Terlepas pesan itu serius atau nggak, ya itu masih dalam proses analisa saya. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa saya merasa galau. Nah di sinilah galau itu never ending bagi manusia. Kenapa galau hingga menangis? beginilah kisahnya....

Menikah itu adalah suatu kata yang ajaib dan sakral bagi saya. Tidak boleh dibuat permainan apalagi candaan. Menikah itu ya gak cuma senang-senang jadi raja dan ratu sehari. Ada konsekuensi setelah menikah yang tentu saja berhasil membuat kita berubah. Selama ini kita hanya peduli pada diri kita sendiri, tapi di saat menikah, kita harus membagi kepedulian diri kita dengan indivudu lain, ya tentu saja pasangan kita. Di sinilah yang bikin galau. Galau kalau kita tidak bisa semerdeka dulu, galau bertemu dengan calon mertua, galau kalau kita bukan lagi tanggung jawab orang tua kita bahkan galau karena mengingat kegalauan kita saat kita masih berstatus single happy. Hahahaha. Tuh kan... galau is never ending.

Bayangkan ketika sudah berstatus menikah, kita pasti akan galau mengingat kenangan-kenangan saat berstatus masih single happy yang penuh dengan kegalauan juga. Galau untuk merasakan cinta, galau ketika memendam rasa, bahkan galau akibat patah hati. Dan mungkin sebagian lagi, kita pernah melakukan galau masal dengan teman-teman single happy lainnya dengan kegiatan yang berguna bagi nusa dan bangsa (lebay) seperti masak-masak atau hanya bobok bareng sambil nonton film horor Thailand atau bobok bareng sambil ngrumpi tentang perasaan terpendam kita terhadap lawan jenis yang 'gue banget'nya kita.

Yap! Galau is never ending thing in our life. Just enjoy it! Bahkan ketika kita menua, mungkin kita juga akan galau mengingat indahnya kegalauan saat masih berstatus single happy dan nikmatnya kegalauan saat kita memutuskan untuk mengakhiri masa lajang. 

Thursday, 29 October 2015

Grup Para Mamah Muda

Nggak kerasa kalau umur sudah nggak muda lagi. Hahaha... Saya baru sadar saat saya dimasukkan ke dalam grup teman-teman lawas saya dulu. Kalau dulu kayaknya masalah yang paling berat adalah soal Matematika dan Fisika, tapi sekarang lika-liku rumah tangga sudah masuk ke dalam ranah diskusi grup sebuah jaringan sosial media di Android. Sebut saja grup tersebut dengan nama Grup Para Mamah Muda. Sebenarnya, tidak semua anggota grup tersebut sudah berstatus menikah, cuma kebanyakan yang saling melempar komen adalah mereka-mereka yang telah berstatus 'Kawin' seperti yang biasanya tertera di KTP. Sebagai seorang ilmuwan (gadungan), saya hanya menjadi silent reader dan tetap mengamati perkembangan grup tersebut. Alasan sok ilmiah sebenarnya. Alasan utamanya sih ya tetap karena belum punya pengalaman menikah, melahirkan, dan mengasuh anak. Hahahaha. Senang sih baca berita tentang teman-teman yang baru mengakhiri masa lajang mereka, teman-teman yang melahirkan anak pertama mereka, hingga sharing tentang pengasuhan serta pendidikan anak. Ya... hitung-hitung bekal buat saya nanti kalau sudah dipertemukan dengan si 'dia' yang masih entah dimana. Ahayy

Tapi kadang saya merasa sedih kalau ada yang 'debat' atau hanya nge-share postingan yang isinya 'provokator' antara golongan Mamah Muda ASI eksklusif dan Mamah Muda Susu Formula, Mamah Muda yang melahirkan normal dan juga Mamah Muda yang melahirkan SC, bahkan yang menyangkut Mamah Muda or Mamah Muda Wannabe, alias para perempuan yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan atau berkarir dan perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Sebenarnya fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di sosial media saja, tetapi juga di lingkungan sekitar kita. Kadang heran kenapa harus dipermasalahkan?

Sebagai seorang perempuan, ya harusnya kita bisa berempati dan merasakan perasaan perempuan yang berbeda pilihan hidup dengan kita. Bersyukurlah bagi para perempuan yang dapat memberi bayi-bayi mereka ASI, tetapi jangan mengecilkan hati mereka yang hanya bisa memberikan anak-anak mereka Susu Formula. Karena pastinya ada alasan tertentu. Tidak semua perempuan dianugrahi ASI yang berlimpah dan tidak semua perempuan dikaruniai PD yang menunjang ketersediaan ASI. Hal ini diperburuk lagi dengan iklan layanan masyarakat dan aturan rumah sakit yang menghimbau atau menyaratkan pemberian ASI kepada bayi. Boro-boro bisa memproduksi ASI, iklan dan aturan tersebut sudah keburu bikin para ibu stres dan malah nggak bisa memproduksi ASI. Begitu juga dengan melahirkan normal dan SC. Para mamah muda punya alasan masing-masing untuk memilih jalan mana yang ditempuh. Toh, dua-duanya sama-sama bentuk perjuangan seorang ibu yang di telapak kaki mereka terdapat surga bagi kita. 

Dan yang nggak kalah penting adalah 'perdebatan' antara para perempuan yang memilih tetap berkarir dengan para perempuan yang memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Yup! masalah yang satu ini sering banget mencuat kepermukaan. Kalau tidak mencuat di publik, ya mungkin di publik jejaring sosial saya. Dua golongan ini saling mengklaim lebih unggul daripada golongan yang lain bahkan hingga taraf bawa-bawa dalil agama yang menjanjikan pahala-pahala tertentu. Bagi saya, perempuan yang masih berstatus 'Single' dan masih melanjutkan pendidikan, IRT atau IRT plus karir ya sama-sama mulianya selama tetap menyadari fitrah mereka sebagai seorang ibu maupun istri. Banyak yang 'merendahkan' perempuan yang memutuskan untuk menjadi IRT penuh agar lebih dekat dengan keluarganya. Pertimbangan itu sebetulnya adalah sebuah pertimbangan yang berat. Begitu juga sebaliknya, para perempuan yang memutuskan untuk berkarir dan sekaligus menjadi IRT saat mereka kembali ke rumah mereka. Mereka sering kali diberi label sebagai perempuan yang mendominasi dalam rumah tangga dan tidak akan pernah memiliki ikatan batin dengan anak-anak mereka. Sadis banget!

Namun, sebagai sesama perempuan, alangkah baiknya jika kita saling mendukung tanpa saling menjatuhkan. Karena secara alami, perempuan memiliki hati yang lebih lembut dan sensitif daripada kaum lelaki. Apapun pilihannya, perempuan tetaplah perempuan yang bebas memilih jalan hidupnya tanpa dihantui tuntutan konstruksi sosial. Kalau pilihan saya? Hmm... saat ini saya masih bercita-cita jadi Mamah Muda yang berkarir. Hehehehe.

Thursday, 28 May 2015

Menyapa

Hai kamu yang di sana. Apa kabarnya? Sudah lama saya tak menyapa dan bertanya kabar berita. Bulan lalu pun saya hanya posting tulisan dua. Dan bulan ini mungkin hanya satu-satunya. Entahlah, mungkin saya begitu sibuk untuk sekedar bercengkrama menuliskan spatah dua patah kata hanya untuk sekedar menyapa. Semester ini mungkin tidak seberat semester sebelumnya. Tugas lebih ringan dan bersahaja. Tidak membatasi pergerakan diri juga. Hanya saja, saya harus banyak membaca dan membaca. Berpetualang di dunia maya. Mencari dan terus mencari data untuk mahakarya saya yang kedua, setelah skripsi tentunya. Rasa-rasanya saya tidak boleh lengah, ongkang-ongkang kaki, dan berleha-leha. Saya tidak boleh menenangkan hati saya dengan kata "Tenanglah Nta, waktu mengerjakan tesis masih lama! Kamu ini masih di semester dua!"

Walaupun percuma karena seorang anak tidak akan bisa membalas jasa-jasa ibu-bapaknya, namun saya tetap ingin memberi bahagia teruntuk mereka. Saya ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi mereka. Waktu saya tidak banyak bersisa. Mengapa? Tentu saja karena saya wanita. Setelah seorang wanita menikah, maka ia akan membagi kasih sayang dan cintanya. Tentu saja bagi orang tuanya dan suaminya. Juga mertuanya. Tuntutan bagi wanita. Konstruksi sosial kita. Walau disadari, tapi tetap dijalani si wanita.

Baiklah. Makin siang makin menceracau saja. Saatnya berlari mengantri sepeda. Dan melesat menuju gedung Pascasarjana. Sampai jumpa hei kamu yang di sana (atau entah dimana-mana). hasta maƱana!!!
 

Friday, 24 April 2015

Hiburan

Keluarga dan teman-teman saya sering sekali geleng-geleng kepala melihat saya menenteng, setidaknya, satu eksemplar buku setiap pergi hang out. Saya sih cuma senyam-senyum aja. Bukannya sok rajin, tapi memang sudah jadi kebiasaan yang tertanam sejak masuk pesantren. Khairu jalisin fi zamani kitabun. Sebaik-baiknya teman duduk adalah buku. Jadi, sempatkanlah untuk membaca walaupun sedikit. Biar terbiasa membaca ya salah satu caranya adalah bawa buku. Walau sekarang gak terlalu berlaku sih karena udah ada gadget yang bisa dimanfaatkan untuk baca e-book. Hehehe. Kalau saya pribadi sih lebih suka tetap bawa buku yang berupa fisik. Lebih afdol aja kayaknya. Hahaha

Sekarang-sekarang ini, saya lagi gandrung baca novel Arab. Kemana-mana nenteng novel tebal berbahasa Arab. Sampai-sampai seorang teman ngeledekin kalau saya kerjaannya belajar melulu. Padahal saya gak pernah menganggap baca novel Arab adalah sebuah keharusan sebagai akademisi (ceile) yang berkecimpung di Kajian Timur Tengah. Saya menganggap baca novel Arab itu seperti hiburan. Sama halnya saat saya membaca novel Indonesia dan novel-novelnya Om Dan Brown. Syukur-syukur juga sih kalau-kalau ada 'sesuatu' yang ditemukan saat proses membaca itu. Hehehe. Semacam pepatah 'Sambil menyelam minum air'.

Di Indonesia sendiri memang banyak sekali novel Arab yang sudah diterjemahkan. Tapi, tetap saja sensasinya beda. Taste 'Arab'nya udah menguap entah kemana. Ditambah lagi bahasa terjemahannya yang kacau balau nggak beraturan. Bikin yang baca nggak bisa berimajinasi. Padahal salah satu kenikmatan membaca ya kenikmatan saat  berimajinasi itu. Tul kan??


Monday, 2 June 2014

My Little Sister

Saya punya seorang adik perempuan saja. Anaknya manja, agak pencemburu, dan malas membersihkan kamar tidur. Selama kurang lebih 10 tahun saya merantau, ketika satu bulan saya habiskan untuk liburan di rumah, setiap itulah saya harus berteriak-teriak mengingatkannya untuk meletakkan pakaian kotornya dalam keranjang khusus kain kotor. Begitu juga dengan membersihkan kamar. Jika saya pulang liburan, adik saya bisa dua kali lipat tidak membersihkan tempat tidur. Lagi-lagi saya misuh-misuh sendiri sambil tetap merapikan kamar tidur yang kelak akan berantakan lagi saat dia kembali. Selain itu, sering kali ia menjadi amat pencemburu ketika kedua orang tua saya membelikan saya barang atau uang hingga, untuk menjaga perasaannya, sering kali saya menyembunyikan barang-barang tersebut atau menolak saat orang tua ingin membelikan saya.

Jujur, saya amat bahkan teramat jengkel dengan ulah dan sikapnya. Saat di rantau, saya harus kuliah dan bekerja untuk menambah uang jajan saya. Saat saya di rumah, saya juga tidak bisa refrshing. Tetap dengan tugas rutin saya. Dan parahnya tidak ada liburan. Padahal, setiap saya di rantau, adik dan keluarga sering kali pergi ke luar kota untuk bertamasya. Kadang kesal sendiri, tapi biarlah saya jalani saja. Toh, saya percaya bahwa bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Walau terkadang tak saya pungkiri, saya merasa jengkel dan iri.


Namun, setelah mendengar cerita teman saya yang adiknya mengancam bunuh diri karena tidak dibelikan BB, saya merasa lebih beruntung memiliki saudari seperti adik perempuan saya. Dia memang manja dan malas, namun dia bukan cabe-cabean, bahasa gaul yang akhir-akhir ini lagi ngehits. Dia tidak pernah ngumpul-ngumpul di cafe dengan mengenakan pakaian minim, dandan menor, serta nenteng-nenteng gadget paling update. Walau dia pencemburu kelas kakap, dia juga tidak pernah meminta gadget terupdate pada orang tua kami apalagi mengancam akan bunuh diri kalau tidak dibelikan. Walau dia malas membersihkan tempat tidur, namun ia tetap rajin belajar dan pintar. Untuk hal otak, saya akui adik saya jauh lebih unggul dari saya. Mungkin itulah kakak beradik. Berbeda seperti bunga dalam taman yang sama. Kakak tidak seutuhnya sempurna begitu pula si adik.

Oh Pepok! I miss you already!!

Monday, 19 May 2014

Terima Kasih Untuk Kalian

Saat saya kanak-kanak, ulang tahun adalah sesuatu yang sangat istimewa. Di satu hari dalam setahun itu, saya akan mendapatkan banyak kado berupa baju, boneka, atau bahkan mobil-mobilan. Mama biasanya membuatkan saya sebuah kue tart dengan krem warna-warni dan hiasan patung badut atau puteri. Teman-teman dan sanak saudara, bahkan yang dari luar kota, datang ke acara ulang tahun saya. Bahkan Angku dan Andung, tetangga sebelah rumah, juga datang sambil meneteng boneka panda yang besar.


Saat dewasa, ulang tahun tak lagi terasa istimewa. Terkadang malah saya lupa. Lagian untuk apa berhura-hura merayakannya? Saya pikir lebih baik merenung intropeksi diri dan berdoa semoga umur yang bertambah akan lebih barokah. Itu saja cukup bagi saya. Namun, saya sangat menghargai orang-rang sekitar saya yang mengingat hari istimewa saya. Saya katakan hari istimewa karena hari itu saya diberi kesempatan untuk lahir ke dunia walau konon katanya seorang bayi sebetulnya menyesal telah dilahirkan. Namun, ini sudah jadi takdir Illahi. Setidaknya di dunia ini saya tidak sendiri. Saya bertemu dengan orang-orang yang mencintai dan menyayangi saya dari keluarga hingga sahabat-sahabat saya.

Tahun ini. Umur saya tak lagi remaja. Dua puluh enam tahun. Dan saya belum bisa menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, sahabat, apalagi bagi nusa, bangsa, dan agama. Labih nahasnya lagi kontrak hidup saya juga berkurang setahun. Ini membuat saya risau  dan sedih. Di umur segini dengan kontrak hidup makin berkurang, saya belum bisa menjadi orang yang berguna. Namun risau saya lenyap dengan doa-doa dari keluarga dan juga sahabat-sahabat saya. Ya. Terima kasih untuk kalian yang mendoakan saya agar kedepannya saya mendapatkan apa yang saya cita-citakan dan dambakan. Saya sangat bersyukur pada Tuhan karena memiliki kalian. Sekali lagi terima kasih untuk doa dan beberapa bingkisan.


Terima kasih untuk keluarga dan krucil-krucil usil, Ulfa Adib, Chaca, dan Calysta yang menyanyikan lagu "Happy Birthday To You" saat saya duduk sendirian dalam Bus Trans Jogja tanpa cahaya yang berjalan lamban karena macet malam mingguan Terima kasih untuk teman kecil saya, Monika, dan teman-temannya yang menjadi teman saya juga, Rizal dan Mbak Kirz. Terima kasih juga buat Aishi, Eva dan Mbak Yayun. Terima kasih untuk kalian yang tak mungkin satu persatu saya sebutkan. Dan tentu saja, terima kasih untuk PARAM yang selalu gagal merencanakan pesta kejutan. Tapi tak apa, saya sangat menghargai "pengorbanan" kalian. Terima kasih tetap mengingatkan hari istimewa saya di sela kesibukan. Semoga kelak saya menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa bangsa, dan yang terutama agama. Amiin.

Monday, 14 April 2014

Cerita Random

Beberapa hari yang lalu iseng-iseng ikut seorang teman untuk beauty class. Di dalam ruangan, telah berkumpul ibu-ibu yang sibuk membicarakan make up, tas, pakaian, shopping, hingga travelling ke luar negeri. Oh tidak! Sejujurnya ini bukan dunia saya! Tapi tak apalah. Hitung-hitung menambah ilmu. Ternyata itu bukan beauty class biasa, namun beauty class untuk rekruitmen sebuah MLM kosmetik. Tentu saja tidak langsung ke acara rias-merias, melainkan pengenalan profil perusahaan yang dipandu seorang ibu paruh baya penuh gaya dan tampak lebih muda dari usia sebenarnya. Standar, beliau mulai menerangkan profil perusahan macam pendiri lalu keuntungan yang didapatkan dari join perusahaan tersebut. Hingga salah satu slide memperlihatkan impian apa saja yang telah ia capai melalui perusahaan tersebut seperti menyekolahkan dua anaknya ke universitas termahal (termahal ya bukan terbaik) di kotanya, umrah, dan jalan-jalan keliling dunia sambil shopping mewah.

Saya hanya manggut-manggut dan mencoba bermimik takjub atas keberhasilan beliau walau dalam hati saya terus berteriak: Oh Tuhan! Sekali lagi, ini bukan dunia saya! Dan pada intinya, beliau mengatakan jika punya mimpi, maka join perusahaan tersebut. Well! sekali lagi saya hanya manggut-manggut sambil senyum. Duh... kalau Anda tahu, mimpi saya gak muluk-muluk. Saya hanya ingin menjadi orang berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar serta negeri ini. That's it! Itu saja. Yah... walau terkadang miris sendiri lihat negeri ini. Korupsi dimana-mana, urusan birokrasi yang susah banget, para monirotas yang tak terjangkau, orang-orang cerdas yang "dicampakkan", hingga sikap sinis masyarakat kita terhadap penemuan hebat anak bangsa macam N250 Pak Habibie.

Sekali lagi... jangan pernah bertanya apa yang telah negara berikan pada kita, namun bertanyalah apa yang telah kita berikan pada negeri. Berikanlah apa yang bisa kita berikan untuk bangsa walau hanya seorang biasa dan tak terkenal dimana-mana. Yup... that's my dream, mam! Gak muluk-muluk. Saat ini saya hanya ingin melanjutkan pendidikan agar kedepannya saya dapat seperti mereka yang telah lebih dulu memberikan manfaat kepada keluarga, masyarakat sekitar, dan bangsa.

Tuesday, 11 March 2014

Hikmah Di Balik Musibah

Beberapa hari ini berita hilangnya Malaysa Airlines masih marak terdengar dimana-mana. Berita ini menjadi perbincangan hangat dan diulas berkali-kali. Baik di layar kaca, media cetak, media online, bahkan jejaring sosial. Berita yang ditampilkan bukan hanya tentang peristiwa hilangnya pesawat, tetapi juga mencakup opini ahli penerbangan, perbincangan seputar aturan keselamatan penerbangan domestik, bahkan juga prasangka "freak" yang dilontarkan para pengguna jejaring sosial. 

Nah komentar inilah yang akan diangkat dalam tulisan kali ini. Ada sebuah komentar yang mengatakan bahkan musibah ini terjadi akibat para penumpang pesawat akan pergi berjudi ke Beijing. Lantas Tuhan menurunkan azab-Nya dengan cara seperti itu. Sama seperti musibah-musibah besar yang terjadi sebelumnya, khususnya di Indonesia. Misalkan saja, saat Letusan Gunung Merapi 2010 lalu. Ada yang mengatakan bahwa Yogyakarta merupakan kota yang penuh maksiat sehingga diazab dengan musibah itu. Begitu juga dengan gempa Padang, Tsunami Aceh dan lain sebagainya.

Saya pribadi sangat menyayangkan komentar macam tersebut. Musibah mungkin memang adalah azab. Namun, tidak seharusnya kita menghakimi. Biarlah hanya Tuhan yang tahu, Harusnya kita bersimpati dan membayangkan jika kita berada di posisi mereka. Bayangkan saja! Mereka sudah susah dan sedih lalu ditambah lagi dengan hujatan yang kita lontarkan. Betapa sedihnya bukan? Jadi sebelum menulis atau mengucapkan komentar semacam itu, tanya dulu pada hati nurani kita. 

Mungkin terkadang musibah adalah sebuah peringatan dan teguran dari Tuhan. Namun, ingatlah bahwa di balik musibah pasti ada hikmah. Saya pernah melihat dan merasakan itu saat gempa Padang beberapa tahun lalu. Para tetangga yang biasanya saling cuek, tiba-tiba saja saling membantu bahkan membantu orang yang tidak dikenal sama sekali. Ketimpangan sosial antara si Miskin dan si Kaya pun tiba-tiba saja menghilang. Permusuhan yang terjadi sebelum musibah juga lenyap entah kemana. Semuanya saling membantu, bahu membahu, dan bekerjasama. Tuhan ingin memperkuat "muammalah baina nas" di antar kita. Nah, mungkin itu hikmah dan teguran-Nya. Agar kita, sebagai umat-Nya bersatu karena sejatinya kita bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka yang lain juga akan merasakannya.


Saturday, 1 March 2014

Jogjakarta Again

Hola! Como estas? Bien?! Sudah tiga hari menginjakkan kaki lagi di Jogjakerdah. Rasanya senang tak terkira kayak ketemu kekasih hati yang terlibat cinta jarak jauh (halah! kayak pernah aja!). Jogja sudah mendingan daripada saat saya tinggal sekitar seminggu yang lalu. Minggu lalu Jogja penuh abu vulkanik kayak video klipnya lagu Guzaarish, tapi tiga hari ini Jogja sudah lumayan bersih walau sesekali ada butiran-butiran debu nyasar masuk mata dan bikin efek kedap-kedip nggak karuan. Selain kangen Jogja, saya juga kangen berat sama teman paling setia saya, teman yang mau saja saya suruh-suruh angkat benda-benda berat bahkan angkat jagung manis 20 kg dari Demangan ke Jakal, siapa lagi kalau bukan Si Jago Merah, motor hasil pinjaman dari ortu (belum mampu beli sendiri hehe...). Tampangnya Si Jago Merah tidak kalah berantakannya dari kota Jogja seminggu yang lalu. Warna merahnya sudah agak memudar tertutupi abu vulkanik gunung Kelud (Ah! Percuma saja kemaren dimandiin nih motor).

Hari pertama sampai, langsung merencankan beberapa list yang harus dikerjakan hari itu juga macam ngerjain motivation letter, minta surat rekomendasi dari kedua bapak dosen yang baik hati, janjian sama Eva, mandiin Si Jago Merah, dan beli jam tangan. Walhasil yang bisa dikerjakan hanya bertemu dengan Eva dan minta contoh format surat rekomendasi yang rada-rada British gitu. Setelah itu, pergi ke Elizabeth beli jam tangan (lagi-lagi) dengan Eva. Pada dasarnya mungkin yang namanya cewek emang doyan yang namanya shopping. Yang awalnya cuma beli jam tangan eh jadi keterusan lihat-lihat tas, dompet, dan sepatu. Well, kalau tas dan dompet mungkin nggak terlalu masalah karena saya tidak terlalu suka membeli dua barang itu. Nah kalau sepatu beda lagi itu perkaranya. Tapi, bukan Nta kalau tidak bisa menahan nafsu untuk shopping. Hahahaha. Setelah puas lihat-lihat, kami cabut dari toko itu dan ternyata hujan sudah turun dengan lebat. Akhirnya ngacir menuju foodcourt toko sebelah beli makanan. Iya sih beli makanan, tapi modus utamanya tetap aja cari tempat berteduh yang cozy (Maap ya mas yang jualan Ayam Lari). 



Di sini mulailah, saya dan Eva mengobrol ngalor ngidul tentang berkas-berkas persyaratan S2 dan hunting beasiswa dari beberapa negara. Yaya... saya sama Eva sekarang lagi jadi Scholarship Hunter. Kami punya keinginan yang sama. Sama-sama pengen jadi dosen Bahasa Arab. Untuk jadi dosen, ya harus S2 dulu, tapi kami tidak ingin lagi merepotkan orang tua. Maka jadilah kami ini para pemburu beasiswa. Kalau dengar atau baca tentang beasiswa sinyal kami langsung penuh deh. Rupanya percakapan kami beralih ke soal nikah (*halahhh! itu lagi). Nikah hmm topik yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan dan sepertinya lebih sensasional daripada gosip artis di tipi. Tiba-tiba saja tertohok dengan pertanyaan Eva. Nanti seandainya mendapatkan beasiswa (khususnya beasiswa luar negeri) terus ada seseorang yang "mengkhitbah" (asyikkk istilahnya khitbah cyinn!!) lalu mau bagaimana? Tik... tok... tik... tok... terdiam dan berpikir cari ide pakai gaya Ikyu San sambil melongo dan bilang "oh iyaya". Nah lho? Bagaimana ya? Saya juga bingung. Tapi dengan (sok) kalem saya jawab saja. Ya kalau hati sreg ya nikah aja dulu. Bagaimanapun ikatan pernikahan kan lebih erat dibanding ikatan pertunangan apalagi pacaran. Kalau ternyata yang dipermasalahkan adalah masalah beasiswanya, ya ya belum ada solusi yang konkret sih, tapi mungkin masalah ini harus dikomunikasikan dengan si "dia". saya yakin sudah banyak laki-laki yang berpikiran maju dan tidak kolot lagi di tahun 2014 ini. Yup. Mungkin lagi-lagi solusinya adalah komunikasi yang intens (mirip judul acara infotainment). Klise sih, tapi banyak benernya.

Tiba-tiba teringat novel-novel karya mbak Fanny Hartanti yang sering kali mengangkat cerita tentang perempuan. Yeah... pada akhirnya perempuanlah yang harus mengalah. Okey. Ini juga klise. Tapi setidaknya kita telah berusaha untuk speak up tentang ide dan impian kita. Kalau si "dia" memperbolehkan kita untuk melanjutkan pendidikan ya betapa beruntungnya kita karena mendapatkan seorang lelaki (Aih... bahasanya pakai "lelaki" bo!) yang pengertian dan memikirkan kelangsungan pernikahan ke depannya saat tiba masanya memiliki anak. Ya seperti kita  tahu, zaman terus maju dan berkembang pesat, begitu pula dengan generasi mendatang. Mereka akan berlipat-lipat kali lebih cerdas. Jadi, tak ada salahnya perempuan memiliki pendidikan yang tinggi karena dia akan menjadi seorang ibu. Yap. Ibu bukan hanya lembut, tapi juga tangguh, kuat, dan pintar. Salah satunya dengan apa? tentu saja dengan pendidikan.

Hujan pun akhirnya reda. Kami keluar menuju parkiran lalu melesat ke area kampus untuk mengambil motor Eva. Setelah ber"dadah-dadah" ria, kami berpisah di parkiran belakang. Sepanjang perjalanan ingatan saya masih terngiang-ngiang dipenuhi percakapan kami di foodcourt. Kalau boleh jujur sebenarnya, kalau berada di posisi seperti itu, saya tidak rela sih. karena itu adalah impian terbesar saya. Saya ingin melanjutkan S2 dan menajdi dosen Bahasa Arab yang ahli dalam kajian Semiotika atau Kritik Sastra Feminis. Ah! Semoga saja Tuhan mengirimkan seseorang yang mengerti akan keinginan ini. Amiin.

Okey! Baiklah saatnya terbangun dari lamunan tentang masalah ini. Now! It's show time!!! Hunting beasiswa lagi. Susah-susah lagi. Berusaha lebih keras dan keras lagi. Yup. Tiada suatu yang besar tanpa perjuangan yang hebat kata Yovie n Nuno.

Thursday, 2 January 2014

Gadgeter

Tidak dipungkiri lagi kalau zaman semakin maju. Teknologi semakin cangih. Ya yang lagi booming dan lagi ngetren tentu saja gadget kayak smart phone, ipad, tab, dan apalah itu. Saya juga tidak terlalu mengerti spesifikasinya. Intinya sih GADGET.

Hampir semuanya berlomba-lomba untuk menjadi orang yang selalu update gadget terbaru. Gadget sudah selayaknya life style. Kalau mau diterima dalam pergaulan dan tidak dibilang ndeso ato gaptek, lu harus punya gadget walau sebenernya lu juga gak tau manfaat dan penggunaannya apa. Yang penting, punya aja biar kelihatan keren dan nggak kalah dari yang lain.

Tapi, sebagian lagi tetap ada yang tampil sederhana apa adanya alias tanpa gadget bahkan dua orang pengusaha sukses yang saya temui saat berkunjung ke negara tetangga. Dua bapak ini sukses berat. Bapak yang satu adalah orang Minang yang tinggal di Negeri Jiran. Punya delapan restoran masakan Padang. Satu cabangnya ada di Singapura.Bapak yang satu lagi asli orang sana. Punya hotel mewah dua buah kalau tidak salah. Satu di Malaka dan yang lain di Puterajaya. Yah pendapat saya sih, kalau ingin sukses ya harus sederhana.

Di lain hal, saya sering geli sendiri kalau ada beberapa teman yang minta pin BB, WA, LINE, dan apalah itu. Saya jujur saja kalau saya tidak punya semua itu. Bagaimana bisa punya ya. Handphone saya Nokia C3. Bayangkan saja kalau diisi aplikasi macam WA dan apalah itu. Bisa-bisa handphone saya langsung "tewas". Sering kali juga temen saya terkaget-kaget dan nggak percaya kalau saya tidak punya BB atau smart phone atau gadget yang lain. Sebenernya saya bukan orang yang anti gadget kok. Hanya saja, saya belum merasa membutuhkan. Buat saya, handphone Nokia C3 ini sudah lebih dari cukup. Bisa dipakai telpon, SMS, browsing internet, dan yang penting bisa dengerin lagu atau radio. Selagi masih ada modem, bagi saya, dunia udah damai dan tentram. Jadi, belum terlalu perlulah punya gadget.

Hmm. Kalau diperhatikan lagi, banyak sekali ya orang yang rela ngutang cuma demi gadget terbaru. Kasarnya, ngutang demi pergaulan dan life style. Hadeuhh, jangan sampailah terjadi pada saya. Naudzubillah, ngutang hanya karena pengen diterima dalam pergaulan. Saya yakin masih banyak orang-orang yang memang benar-benar ingin bergaul dengan tulus. Teman adalah orang yang ada saat kamu berduka, bukan di saat kamu bahagia.

Monday, 30 December 2013

Kuda Emas

Sehari lagi 2013 benar-benar sampai pada penghujungnya dan akan digantikan dengan tahun yang baru, tahun 2014. Kalau kata orang Tionghoa, tahun ini adalah tahun kuda emas. Tahun yang konon katanya tahun penuh sial. Katanya, di tahun ini, yang menikah akan gampang berpisah, bahkan emas diramalkan akan turun harganya. Ya terserahlah. Itu urusan masing-masing. Mau percaya atau tidak.

Tapi yang buat saya tergelitik adalah kata-kata seorang peramal tadi siang di televisi. Tahun 2014 adalah tahun sulit. Namun, bagi mereka yang berusaha mati-matian, di tahun tersebut, akan memetik hasilnya di tahun 2015. Yang positif ini tampaknya harus dipercayai walaupun setiap tahunnya tetap berusaha keras. Mungkin 2014 saya harus berusaha lebih keras lagi. Lebih mati-matian lagi. Lebih njelimet lagi. Harus lebih banyak doa juga. Finally... ini malam terakhir tidur di 2013. Good night!

Sunday, 22 December 2013

Fenomena Jejaring Sosial

Mungkin memang benar jika pribahasa arab Khairu jaalisin fi az-zamaani kitaabun sudah berubah menjadi Khoiru jaalisin fi az-zamaani smartphone. Lihat saja! Dimanapun orang-orang duduk atau menunggu pasti sibuk utak-atik smartphone dan gadget lainnya untuk berselancar di dunia maya khususnya di jejaring sosial.  Inilah fenomena yang marak terjadi sekarang. 

Namun yang bikin saya tambah tergelitik adalah beberapa status jejaring sosial. Lucu dan nggak masuk akal aja. Dari yang mengabarkan orang tuanya meninggal contohnya. Kok bisa ya lagi berduka tapi tetap sempat update status di jejaring sosial? Bahkan dari mengabarkan waktu meninggal sampai saat prosesi pemakaman. Kalau saya, mungkin saya sudah stress dan gak bakal peduli sama yang namanya 'update status'. 

Belum lagi yang sudah bersuami istri. Kalau lagi mesra, kemesraannya di-update pula di jejaring sosial bahkan kemesraan yang harusnya menjadi rahasia rumah tangga. Wajar-wajar aja sih sebenarnya, tapi tetap harus bisa pilah-pilih mana yang boleh di-share, mana yang harus jadi rahasia. Begitu juga kalau lagi marahan, status yang isinya jelek-jelekin pasangan pasti bakalan berseliweran di timeline.

Dan yang lucu lainnya adalah status tentang melahirkan. Heran saya! Kok sempat-sempatnya habis melahirkan update status ya? Iya sih, bisa update lewat handphone. Tapi, apakah tidak sebaiknya waktunya dipake untuk istirahat atau mengasuh sang bayi atau juga menerima tamu yang datang menjenguk?

Belum lagi status yang berisi tentang keluhan sakit yang dirasakan. Lagi sakit perutlah,  ASI gak keluarlah, jahitan operasi masih nyerilah bahkan sedang datang bulan aja sampai di-update di jejaring sosial.

Belum lagi status yang minta advise cara terbaik menunda kehamilan plus nulis pilihan-pilihan gitu. Dan salah satunya adalah kata 'k*n**m'. Haduh! Apa gak ingat ya kalau, mungkin saja, yang menjadi friend atau follower ada anak di bawah umur?

Ini segelintir fenomena zaman cyber. Saking canggihnya,rasanya manusia tidak lagi memiliki privasi. Semua diungkapkan saja bahkan diungkapkan juga pada orang yang tak dikenal. Seharusnya kita memilah-milih sesuatu antara yang boleh dibagi atau menjadi rahasia pribadi. Semoga saja kita pandai memanfaatkan kebaikan jejaring sosial dan meninggalkan keburukannya karena sesuatu itu pasti punya sisi positif dan sisi negatif. Tul kan?

Wednesday, 23 October 2013

Menulis Romantis

Sudah tak terhitung berapa banyak hari yang terlewati tanpa sedikitpun menulis kisah-kisah romantis lagi. Kangen juga nulis tentang cinta yang selalu saja rasanya nano-nano atau gado-gado. Namun, setiap ingin melanjutkan tulisan, selalu saja ide menguap begitu saja. Ah! Sepertinya saya harus memulai lagi. Mana tahu rezeki saya ada lewat tulisan bukan?


Monday, 16 September 2013

This Is My Own Way

Terus mau apa selesai S1? Pertanyaan yang basi dan kadang bikin sakit hati ini rasanya terngiang-ngiang selalu di ruang pendengaran. Mau tidak mau, sebelum lulus kita harus punya plan selanjutnya. Dulu awalnya, setelah S1, saya ingin melajutkan bisnis yang telah kami rintis sebelum lulus. Rencananya, saya akan mengurus penerbitan ini dengan sungguh-sungguh sambil kuliah S2 agar saya kelak menjadi dosen dan juga pengusaha. Namun, plan ini tampaknya belum berhasil. Bisnis kami tidak jalan. Pemimpinnya pergi mengikuti satu keinginannya, Yang lain ada yang tidak peduli, ada yang membangun bisnis sendiri. Sebenarnya masih ada yang peduli, namun kami tak mungkin bisa berdiri sendiri. Awalnya tidak ingin egois dan mendahulukan keinginan pribadi, namun akhirnya saya menyerah. Saya juga punya mimpi sendiri. Saya juga punya keinginan sendiri seperti mereka. Mereka dengan mudah meninggalkan bisnis ini. Kenapa saya tidak? Akhirnya saya memutuskan untuk pergi. S2 pun belum menjadi rejeki saya. Akhirnya saya pulang ke kota saya dengan tetap meninggalkan barang-barang saya di kota itu berharap saya kembali menimba ilmu di sana lagi.

Dan sekarang? Saya harus membuat plan baru. Ya. Saya harus bekerja. Dan inilah saya sekarang... ikut berbondong-bondong mengurus kartu kuning dan segala macamnya. Saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru, yaitu melamar pekerjaan. Hidup butuh proses! Saya percaya toh jika kelak saya dapat pekerjaan, saya masih tetap dapat menulis. Kelak saya juga bisa mengumpulkan uang untuk modal bisnis sendiri. Mungkin saja, saya bisa menjadi karyawati/pegawai plus pengusaha. Kenapa tidak? Banyak yang seperti itu sekarang bukan? Satu yang tak akan pernah kembali mungkin adalah keinginan menjadi seorang dosen. Okey this is my own way! Wish me luck!

Saturday, 22 June 2013

Semiotika Cinta

Cinta itu bak puisi yang harus diteliti dengan teori semiotik karena cinta disampaikan secara tidak langsung bahkan mungkin menggunakan simbol dan isyarat yang tak mudah untuk dimaknai. Cinta itu penuh penggantian arti, penciptaan arti, bahkan penyimpangan arti. Ambiguitas, metafora, alegori, metonimi, bahkan kontradiksi. Yang ada di depan mata, mungkin saja bukan cinta, namun yang ada di hati, siapa yang mengetahui. 

Cinta itu perlu kau baca seperti membaca puisi dengan bacaan heuristik atau pun hermeneutik. Bacalah secara heuristik, sesuai dengan kenyataan yang ada. Lalu lanjutkanlah dengan bacaan hermeneutik agar kau tahu kesungguhan cinta itu. Hanya cinta sesaatkah atau memang cinta sejati nan hakiki.

Carilah matriks tersembunyi dalam potongan-potongan cinta itu agar kau dapat menafsirkannya. Dalam cinta, matriks itu selalu ada. Dia nyata, namun tak kasat mata. Terkepung di antara beribu tanda-tanda. Kau perlu kejelian untuk menemukannya.

Untuk membuktikan kesungguhan cinta. Kau mungkin bisa mencari hipogramnya, alasan-alasan mengapa cinta memilihmu. Hipogram kadang tidak terkeksplisitkan dalam tindakan. Kau harus mengabstraksikan dari tanda-tanda yang ada.

Ah! Semua ini hanya teori yang mungkin belum bisa dipertanggungjawabkan. Apapun teori dan metodenya, Cinta pasti akan menemukan jalannya.




 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang