Showing posts with label literature. Show all posts
Showing posts with label literature. Show all posts

Friday, 24 April 2015

Hiburan

Keluarga dan teman-teman saya sering sekali geleng-geleng kepala melihat saya menenteng, setidaknya, satu eksemplar buku setiap pergi hang out. Saya sih cuma senyam-senyum aja. Bukannya sok rajin, tapi memang sudah jadi kebiasaan yang tertanam sejak masuk pesantren. Khairu jalisin fi zamani kitabun. Sebaik-baiknya teman duduk adalah buku. Jadi, sempatkanlah untuk membaca walaupun sedikit. Biar terbiasa membaca ya salah satu caranya adalah bawa buku. Walau sekarang gak terlalu berlaku sih karena udah ada gadget yang bisa dimanfaatkan untuk baca e-book. Hehehe. Kalau saya pribadi sih lebih suka tetap bawa buku yang berupa fisik. Lebih afdol aja kayaknya. Hahaha

Sekarang-sekarang ini, saya lagi gandrung baca novel Arab. Kemana-mana nenteng novel tebal berbahasa Arab. Sampai-sampai seorang teman ngeledekin kalau saya kerjaannya belajar melulu. Padahal saya gak pernah menganggap baca novel Arab adalah sebuah keharusan sebagai akademisi (ceile) yang berkecimpung di Kajian Timur Tengah. Saya menganggap baca novel Arab itu seperti hiburan. Sama halnya saat saya membaca novel Indonesia dan novel-novelnya Om Dan Brown. Syukur-syukur juga sih kalau-kalau ada 'sesuatu' yang ditemukan saat proses membaca itu. Hehehe. Semacam pepatah 'Sambil menyelam minum air'.

Di Indonesia sendiri memang banyak sekali novel Arab yang sudah diterjemahkan. Tapi, tetap saja sensasinya beda. Taste 'Arab'nya udah menguap entah kemana. Ditambah lagi bahasa terjemahannya yang kacau balau nggak beraturan. Bikin yang baca nggak bisa berimajinasi. Padahal salah satu kenikmatan membaca ya kenikmatan saat  berimajinasi itu. Tul kan??


Thursday, 12 February 2015

My Baby Part Two

Apakah ini normal?
Tadi malam tiba-tiba saja saya bermimpi tentang penelitian yang akan saya angkat untuk calon My Baby alias Thesis saya. Rasa-rasanya tadi malam saya bak Robert Langdon yang sedang menyambungkan satu demi satu persatu peristiwa untuk mendapatkan benang merahnya. Mungkin ini akibat baru dapat pencerahan dari seorang dosen yang sering dan tentunya asyik untuk diajak berdiskusi tentang penelitian sastra (nama dosen disamarkan hehe). 

Yap. Kemaren beliau memberikan masukan buat saya. Tulisan saya nanti, tidak hanya sekedar memaparkan sejarah tentang pergerakan mahasiswa di dalam novel, tetapi lebih pada apa yang menyebabkan pergerakan mahasiswa atau revolusi itu terjadi. Saya akan mencoba menguraikan vision du monde (celiee pakai bahasa aneh-aneh) alias pandangan dunia si pengarang, yang berkedudukan sebagai anggota dalam sebuah masyarakat, tentang pergerakan mahasiswa pada masanya. Singkat kata, ini dinamakan Teori Srukturalisme Genetik-nya Lucian Golmann. Tapi, saya tidak menggunakan fakta sejarah, saya akan masuk melalui ilmu politik. Jika hanya memaparkan kesamaan antara fakta sejrah dan fakta di dalam novel sudah biasa (kata beliau). Makannya, saya diminta untuk melihat sisi lain dari pergerakan mahasiswa tersebut dan salah satunya ya adalah masalah pemicu pergerakan tersebut (ok! Saya anggap ini challenge lagi). Hayyah... menerangkan ini saja sudah belibet. Mungkin karena memang belum masuk kelas Metode Penelitian Sastra deh ya.  

Kadang saya mikir kalau saya ini orangnya terlalu serius mikirin pendidikan sampe-sampe kebawa mimpi. Padahal kan ini masih awal (bahkan belum masuk kelas) semester dua. Belum waktunya nyusun Thesis ataupun ngambil mata kuliah Seminar Proposal. Masih awal-awal semester dan masih waktu untuk hura-hura. Hadeuh. Tapi biarlah... I don't care what they say. Hahaha. Yang terpenting, saya menikmati dan enjoy banget dengan proses ini. Apalagi duduk sebelah orang-orang yang lagi sibuk ngerjain thesis. Hehehehe.


Thursday, 5 February 2015

My Baby

Entah kenapa saya sangat menyukai pribahasa "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Mungkin karena saya percaya bahwa setelah kita berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh, maka insyaallah kita akan mendapatkan hasil yang baik. Saya yakin itu.

Dalam jangka pendek ini, saya ingin sekali mulai menyusun calon baby saya, yaitu Thesis. Jadi, ya saya harus bekerja lebih keras dan keras lagi. Harus bersungguh-sungguh dan membaca banyak literatur. Walau kata orang menamatkan Magister itu mustahil untuk ditempuh dalam dua tahun pas, namun saya harus yakin kalau saya pasti bisa. Bukannya saya buru-buru dan tidak ingin berlama-lama menuntut ilmu, tapi saya rasanya tidak tega dibiayain melulu sama orang tua. Lagian, saat kita mengerjakan proposal Thesis dan terus menulis, rasanya itu sama dengan belajar terus menerus tanpa kita sadari. Ya. belajar tidak hanya melulu di ruang kelas kan.

Demi mewujudkan itu semua, pastinya harus "bersakit-sakit dahulu" ya. Hehe. Di saat yang lain pulang untuk menghabiskan liburan, saya harus tetap ngendon di perpustakaan sambil mantengin huruf demi huruf dalam bermacam-macam literatur, yang alhamdulillah kebanyakan tidak menggunakan bahasa Indonesia. Hahaha. Tapi apapun itu, ya harus saya jabanin dan jangan sampai mengeluh. Mungkin saja, saat kita membaca literatur dalam bahasa asing, maka tanpa disadari kemampuan bahasa kita akan bertambah. Lagian, toh saya masih bisa bersenang-senang dengan teman-teman yang mukim di Jogja. Makan di Prasojo, Makan es krim di Mirota sambil belanja bulanan, nonton film, bahkan tidur di perpustakaan adalah hiburan yang rasanya cukuplah untuk refreshing jiwa raga.

By the way, untuk calon Baby kali ini, saya jauhhh banget move on-nya. Kalau dulu saya meneliti puisi, sekarang saya men-challange diri saya untuk meneliti prosa Arab, berupa novel, dengan teori yang tentu saja berbeda dengan teori skripsi. Dua penelitian ini mungkin memiliki pesona tersendiri. Saat skripsi dulu, saya baru menentukan objek penelitian pada semester 6. Artinya, saya harus ngebut untuk membaca objek penelitian saya. Untungnya objek penelitian saya berupa puisi yang lebih ringkas untuk dibaca dan diartikan walau akhirnya pusing-pusing ria memaknai bahasa puisi. Maklumlah, dalam segi bahasa puisi kan memang jawaranya.

Kali ini, kayaknya gak bisa deh menentukan objek penelitian di semster 3 atau semester 4 awal apalagi kalau mau meneliti prosa terutama novel. Walau bahasanya tidak seindah puisi, namun butuh waktu lama untuk membacanya. Apalagi jika penulis novel tidak terlalu dikenal di Indonesia macam Nawal Sa'dawi, Najib Kilani, Najib Mahfudz, ataupun Taufiq al-Hakim. Ditambah lagi, tidak ada versi terjemahan berbahasa Indonesia yang lumayan memudahkan kita untuk mengetahui isi novel tersebut. Jadi, mau gak mau harus berusaha keras mulai saat ini.  Mumpung libur sebulan, bolehlah ya dimanfaatkan untuk mulai membaca.

Dan... insyaallah calon Baby kali ini adalah novel Arab berjudul Faraj yang ditulis oleh seorang penulis perempuan bernama Radhwa Ashour. Sayangnya, beliau baru saja meninggal dunia pada akhir tahun 2014 lalu (segitu saja perkenalannya. Kita sudah tidak di zaman romantik lagi soalnya hehe). Faraj ini menceritakan tentang seorang anak perempuan blesteran Mesir-Prancis bernama Nada Abdul Qadir. Ia banyak mengalami masa-masa pahit dalam hidupnya, mulai dari penahanan ayahnya yang seorang anggota Ikhwanul Muslimin, perceraian kedua orang tuanya, lika-likunya sebagai aktivis kampus, dan lain sebagainya. Novel ini berlatar Mesir pasca revolusi dan Prancis pada masa kerusuhan Mei 1968. Insyaallah, novel ini akan dibedah dengan Strukturalisme Genetik atau Sosiologi Sastra. Ini challange lagi bagi diri saya. Jujur, saya masih agak awang-awang dan rasanya tidak menguasai teori tersebut. Tapi saya akan terus mencoba dan mencoba. wish me luck!

 

Monday, 24 March 2014

Sesal

Mataku tiba-tiba saja silau akibat cahaya matahari pagi yang tanpa malu-malu menerobos celah tirai jendela. Kukumpulkan nyawa mencoba membuka mata dan melirik jam weker di meja samping ranjang.
"Astaga! Sudah jam 6 pagi!" gumamku dalam hati.
Segera saja aku beranjak mematikan televisi yang begadang semalaman menontonku tidur lalu menuju kamar mandi. Sudah seminggu hidupku carut-marut macam ini karena mengerjakan disain rumah elit seorang klien. Jadilah aku bangun tidak pada waktunya, shalat juga demikian. Belum lagi kamarku yang seperti kapal pecah. Kertas-kertas, alat tulis, dan kulit kacang bertebaran di atas lantai kamar.

Setelah shalat, entah disebut shalat Subuh atau shalat Duha, aku memunguti benda-benda yang berserakan di atas lantai serta mulai membersihkan kamar ala kadarnya. Beberapa saat kemudian, perhatianku beralih pada rak buku di pojok kamar. Buku-buku di rak itu tampak kumal dan lusuh akibat debu yang makin menebal. Refleks tanganku mengambil sebuah buku tebal dengan hard cover bergambar Masjid Biru Turki lalu duduk dipinggir ranjang dan membuka halaman pertama buku membaca sebaris nama seseorang dan beberapa baris kalimat yang tertulis. Aku tersenyum sendiri. Anganku melayang ke sebuah kota yang penuh dengan kenangan itu.
"Hmmm...." 

Amira. Ami. Ya itu namanya. Gadis hitam manis dengan rambut ikal sebahu yang selalu dikuncir ekor kuda. Gadis bermata indah berbinar. Gadis yang memiliki senyuman paling manis selain senyum ibu. Gadis yang selalu ceria, menyenangkan, dan.... Dan ehm, membuat hari-hariku penuh warna. Ah! mengingatnya kembali sama dengan membangkitkan satu rasa sesal yang telah terkubur lama. Harus kuakui aku menyesal tidak jujur dengan perasaanku sendiri. Aku menyesal tidak berani mengungkapkan perasaanku hingga waktu dan jarak memisahkan kami selamanya.
”Kringgg!!!” 
Ponselku berdering. Lamunanku buyar. Kuraih benda hitam yang tergelatak pasrah di atas meja samping ranjang. Dan aku baru ingat bahwa hari ini ada rapat di kantor. Aku bergegas mandi dan meninggalkan operasi semut yang belum sampai 25 persen aku kerjakan.
***

Aku terduduk sambil memikirkan kembali hasil rapat pagi ini. Aku diserahi tanggung jawab untuk meng-handle sebuah proyek di Kendari. Sebenarnya aku sangat bangga mendapat kepercayaan besar ini, tetapi di sisi lain, aku risau jika tanpa sengaja bertemu dengan Mas Dewa, kakakku. Who knows? Iya kan? Beberapa tahun yang lalu, terjadi perseteruan hebat di antara kami perseteruan yang tidak logis bagi sebagian orang. Perseteruan cinta.

Aku melangkah gontai keluar dari ruangan tersebut.
"Hey Bro! Kok lemes banget? Harusnya Lo seneng dapet kepercayaan dari Pak Arman. Kalau Gua yang dapet proyek itu, sekalian deh gua pulang kampung gratis. Oh ya! Nih buat Lo. Pokoknya harus hadir," Kata Toni sambil menyerahkan selembar undangan berwarna biru muda.
"Thanks... Gua usahakan datang kalau kerjaan yang di Kendari kelar tepat waktu,"
***
Aku menapaki kaki di Bandara Wolter Monginsidi Kendari. Ketika keluar dari arrival gate, aku melihat seorang bapak paruh baya membawa sebuah papan bertuliskan namaku.
" Permisi. apakah Bapak yang diminta Pak Mazi untuk menjemput saya?
Bapak setengah baya itu mengangguk seraya berkata,
"Iya. Betul ji. Sa dikasih suruh untuk menjemput Bapak. Kenalkan. Nama saya Pak Musa.
Aku tersenyum mendengar logatnya yang asing di telingaku. "Panggil saja Aryan, Pak. Sekarang kemana dulu tujuan kita, Pak?
"Sa kasih antar saja ke hotel. Istirahat terlebih dahulu. Nanti malam Pak Mazi insyaAllah akan datang,"
Pak Musa membimbingku menuju mobil yang terparkir di area parkir bandara. Tak lupa aku meminta Pak Musa membuka jendela mobil agar aku dapat mengamati pemandangan kota.
***
Semua pekerjaanku akhirnya beres lebih cepat dari yang kuperkirakan. Hanya tinggal menghadiri beberapa meeting lagi. Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk menunggu jadwal kepulanganku. Kuputuskan saja menggunakan waktu yang tersisa untuk berkeliling kota Kendari tanpa ditemani Pak Musa. Tampaknya lebih seru dan menantang menjadi ’bolang’ daripada ditemani pemandu wisata. Beberapa kali aku turun naik pete-pete tanpa tujuan pasti hingga akhirnya terdampar di sebuah toko besar di bilangan Wua-wua. Tiba-tiba saja dari kejauhan aku melihat seorang laki-laki yang sepertinya kukenal. Semakin dekat semakin jelas bahwa dia adalah Mas Dewa. Ketakutanku akhirnya menjadi kenyataan. Buru-buru kulangkahkan kaki menuju pintu keluar. Saat aku menarik gagang pintu, seorang perempuan juga sedang menarik gagang pintu juga dari arah luar. Terjadilah tarik-menarik gagang pintu hingga perempuan itu mengalah dan melepaskan pegangannya.
"Kak Aryan?"
"Ami. Amira?" 

Kuperhatikanparas itu. Ami masih tetap sama. Tidak banyak yang berubah kecuali rambutnya yang kini dibiarkan tergerai bebas. Tak ada rasa kikuk di antara kami untuk memulai obrolan meski sudah bertahun-tahun lamanya terpisah jarak, ruang, bahkan waktu. Ami tersenyum geli mendengarkan cerita yang melatari tragedi tarik-menarik gagang pintu barusan.
"Kak Aryan... Kak Aryan. Dari dulu sampai sekarang sama saja. Gengsinya masih tinggi setinggi Burj Khalifah. Apologizing does not always means that you're wrong and the other person is right. It just means... you value your relationship more than your ego,"
Aku termangu.
"Hmm. You're right! Thanks a lot!"
***
Sore itu, aku berjalan beriringan dengan Ami menyusuri dermaga Kendari Beach. Rasanya ringan dan lega. Pekerjaan kantor beres begitu juga dengan masalah Mas Dewa.
"Mi, besok saya akan kembali ke pulau seberang. Apa boleh saya berbicara jujur?
"Bicara apa kak? Serius sekali tampaknya," timpal Ami santai.
"Sebenarnya sejak dulu, saya sayang... Mi. Maksud saya... saya suka kamu... maksud saya... saya mencintai kamu," Kataku tergagap.
Ami diam sesaat lalu menghembuskan nafas seraya berkata,
"Saat itu... saya mencintai seseorang. Seseorang yang sudah saya anggap sahabat karib bahkan kakak kandung. Namun, saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang saya rasa. Saya hanya menunggu dan berharap dia punya rasa yang sama hingga akhirnya penantian saya sia-sia. Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa dia tidak memiliki rasa yang sama dengan yang saya rasakan. Dan hari ini, saya mendengarkan pengakuan bahwa dia punya rasa yang sama.
"Jadi, masikah ada harapan dan kesempatan untuk memulainya sekarang?"
"Terima kasih telah mencintai saya. Namun semua telah tertinggal jauh di masa lalu dan cukup menjadi kenangan. Semua telah berubah. Termasuk rasa. Kini, saya telah menemukan cinta lain yang telah menjanjikan masa depan. Maafkan saya,"
***
Sebulan telah berlalu, namun pertemuan kembali dengan Ami masih terekam dalam memori. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang sebagai penutup kisah. Mungkin masa lalu tidak akan pernah bisa untuk dilupakan dan tidak perlu dilupakan. Yeah!  You may not be able to forget but you have to move on. Seiring berjalannya waktu, aku akan menemukan cinta baru. Sama seperti Ami. Cinta yang akan kutawari masa depan yang mungkin masih jauh dari kata sempurna karena memang tidak ada yang sempurna. Ini adalah pelajaran buatku bahkan buat Ami juga. It's hurts to love someone and not be loved. But, what is painful is to never have the courage to let that person know how you feel.

"Hey! Bengong aja. Kita udah sampai nih. Sampai kapan mau bengong dalam mobil? Yang lain udah pada turun," Suara Razsya mengusikku. Bergegas aku turn dari mobil dan membuntut di belakang teman-teman kantor yang berjalan masuk ke dalam gedung resepsi. Setelah menyerahkan kado dan mengisi buku tamu, kami segera menuju pelaminan untuk bersalaman dan memberikan selamat. Beberapa teman bahkan sempat menoyor kepala Toni. Saat tiba giliranku menyalami mempelai wanitanya, aku terkejut begitu juga sang mempelai yang tak lain adalah Ami.
"Ami? Toni? Toni... dan Ami?"
Tuhan! Skenario apalagi yang Kau berikan padaku? Aku berusaha tetap tenang walau jantungku berdetak dua kali lipat lebih kencang. Untung saja tak ada satu pun di antara mereka menyadari 'sesuatu' yang terjadi di antaraku dan sang mempelai wanita berbaju putih itu. Rupanya... the most painful thing in the world is to know that someone you love got married with your working partner!

#Harta karun (baca: cerpen ini)  ditulis tanggal 6 Juni 2010 dan baru ditemukan tadi malam. Ngikik sendiri bacanya. Deuh. Alay!










Saturday, 22 March 2014

Sepotong Syair Qabbaniy

قصص الهوي قد أفسدتك 
فكلها غيبوبة و خرافة و خيال
الحب ليس رواية شرقية بختامها يتزوج الأبطال
لكنه الإبحار دون سفينة

Sesungguhnya kisah percintaan itu merusakmu
Semuanya  hanyalah legenda, mitos, dan khayalan
Cinta bukanlah bak novel timur  yang pada bagian akhirnya para pahlawan menikah
Namun sesungguhnya cinta bak para pelaut tanpa kapal… 



Sunday, 9 March 2014

Review Skripsi Semiotika

Walau sudah tidak menjadi mahasiswi Sastra Arab lagi, beberapa orang adik angkatan masih bertanya seputar semiotika khususnya untuk meneliti puisi. Hmm. Sebenarnya ilmu saya masih sangat cetek. Bahkan saya pun belum diberi kesempatan untuk melanjutkan studi lagi ke jenjang strata dua. Namun, semoga saja kekurangan ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat tentu saja. Saya hanya bisa berbagi pengalaman saya saat mengerjakan skripsi. Saya mungkin akan menjelaskan dengan bahasa sederhana saja dan tidak memakai istilah yang aneh-aneh lagi menakutkan.

Salah satu masalah yang sering saya dapati adalah cara memaknai puisi. Contoh kasusnya biasanya terdapat pada puisi yang berisi tentang perjuangan dan kritik terhadap pemerintah. Di dalam beberapa judul puisi, terkadang dapat ditemui tanggal yang biasanya merujuk pada suatu peristiwa non fiktif  alias nyata. Dan tanggal ini biasanya memiliki kolerasi dengan isi puisi. Biasanya si peneliti langsung saja memaknai isi puisi  tersebut dengan memaparkan peristiwa  nyata yang terjadi tanpa menekuri kata demi kata dalam bait puisi. Lantas jika memaknai seperti demikian apa bedanya Semiotika dengan Sosiologi Sastra bukan?

Yap! Sebenarnya dua teori ini berbeda. Dulu saya juga sempat seperti itu. Saya sering kali googling mencari 'sejarah' dan 'kisah' yang terjadi di dalam puisi yang saya teliti. Namun Dosen Pembimbing saya mengatakan bahwa saya tidak perlu repot mencari peristiwa nyata yang terjadi, namun maknailah kata demi kata setiap bait puisi tersebut karena teori yang digunakan adalah Semiotika.

Agar saya selalu ingat dan tidak tertukar lagi antara Semiotika dan Sosiologi Sastra, saya mengingat-ingat empat orientasi Sastranya Abrams dalam buku The Mirror and The Lamp, yaitu Mimetik, Pragmatik, Ekspresif, dan Subjektif. Simpelnya, teori Mimetik adalah teori yang beranggapan bahwa karya sastra adalah imitasi atau tiruan dari alam semesta. Teori Pragmatik adalah teori yang beranggapan bahwa pencipta karya sastra dianggap telah mati, sedangkan karyanya akan dinilai oleh para pembaca. Teori Ekspresif adalah teori yang menyatakan bahwa karya sastra adalah bentuk ungkapan perasaan sastrawan itu sendiri, sedangkan teori Subjektif adalah teori yang memaparkan bahwa karya sastra adalah sesuatu yang otonom alias berdiri sendiri (ingatkan saya jika penjelasan ini salah).



Nah, apa hubungannya dengan Semiotika dan Sosiologi Sastra? Tentu saja berhubungan. Mudahnya, Sosiologi Sastra adalah turunan dari teori Mimetik, sedangkan Semiotika adalah turunan dari teori Subjektif. Jadi, saat memaknai puisi, fokuslah pada kata-kata yang terdapat dalam puisi karena saat itu puisi menjadi sesuatu yang otonom alias berdiri sendiri. Adapun peristiwa nyata yang memang terjadi hanyalah sebagai penguat pemaknaan kita.

Kata teman-teman, yang sudah terlebih dahulu melanjutkan studi di strata dua, pelajaran yang seperti ini tidak ada artinya sama sekali sih. Tapi setidaknya cukuplah untuk menambah pengetahuan kita. Yah. Semoga saja saya bisa menyusul mereka untuk melanjutkan studi saya. Amiin. Semangat!!!

Friday, 7 March 2014

Loving Arabic Literature

Really miss his voice so much when he's reading his poetry!!



I'am back! Yeah kembali lagi menekuri Introduction of Modern Arabic Poetry, Semiotic of Poetry-nya Riffaterre, Modern Arabic Literature 1800-1970, A Critical Introduction to Modern Arabic Poetry, dan masih banyak lagi. Aih! Betapa rindu rasanya menekuri kembali kumpulan puisi Arab karya Nizar Qabbani. Sekilas, puisi-puisi ciptaan Qabbani memang terlihat erotis. Beberapa teman Arab saya sendiri tidak menyukai karya-karya Qabbani. Saat mengerjakan skrispi dulu, mereka banyak menyarankan saya agar meneliti karya Mahmud Darwisy yang puisinya memang berisi tentang semangat perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan mereka atau Jubran Khalil Jubran (aka Kahlil Gibran) yang romantis ataupun Mikhail Nuaimah dan lain sebagainya.

Sebenarnya, saya menyukai semua puisi dan pepatah Arab. Semuanya indah dengan wazn dan ritme yang sangat harmonis. Kalau dijabarkan di sini mungkin akan panjang dan bisa jadi sebuah karya ilmiah. Keindahan bahasa Arab memang tidak tertandingi. Bahkan mungkin keromatisan kata-katanya juga akan mengalahkan bahasa Prancis yang dijuluki bahasa teromantis. Selain romantis, puisi dan pepatah Arab memiliki ruh yang rasa-rasanya dapat mengendalikan emosi dan semangat saya. Contohnya saja, puisi Ibrahim Tauqan yang berjudul at-Tafaaul yang berarti optimis. Saking ngefansnya, saya mengutip beberapa baris puisinya untuk halaman motto di skripsi saya. Saya suka semuanya, namun yang paling saya suka adalah Nizar Qabbani walau kata orang puisinya banyak yang erotik dan menggunakan kata-kata yang vulgar. Nah inilah yang menarik untuk diteliti. Menurut saya, keerotisan puisi Qabbani pasti memiliki makna penting yang ingin disampaikan olehnya. Tugas kita adalah meneliti makna yang tersembunyi tersebut. Dan di sinilah Semiotika menjalankan tugasnya. Saya benar-benar jatuh cinta pada puisi Arab dan semiotika. Tahun ini sepertinya tahun terakhir untuk mendapat kesempatan 'sekolah' kembali. Jadi, saya harus bekerja keras dan tetap optimis. Semoga Tuhan mendengar doa-doa saya. Amiin.

Dulu saya pernah bertanya-tanya dalam hati. Kenapa saya memilih sastra? Dengan kasat mata, sastra bukanlah bidang ilmu yang sepertinya punya peran dalam kehidupan kita sehari-hari. Beda dengan orang yang mengambil Teknik, Kedokteran, Psikologi, Ekonomi, Komunikasi, dan lain sebagainya. Anak teknik dapat membantu masyarakat dengan menciptakan sebuah alat, anak kedokteran dapat membantu dengan mengobati orang dan lain sebagianya. Terus sastra? Apakah hanya berkutat di dalam ruang sumpek penuh buku untuk sekedar membaca dan menulis? Namun, saya akhirnya menemukan jawaban. Ilmu sastra juga berguna untuk masyarakat sekitar kita bahkan untuk negara. Memang sih anak sastra tidak bisa menciptakan mesin canggih atau mengobati orang sakit, namun mereka membantu lewat tulisan mereka. Yap! Tanpa disadari, tulisan adalah sebuah media yang dapat mempengaruhi orang. Lihat saja berapa banyak sastrawan yang dijebloskan ke dalam penjara karena tulisan mereka yang berisi kritikan. Salah satunya sebut saja Pramoedya Ananta Toer. Bahkan, di dunia Arab, puisi adalah salah satu media untuk berjuang membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan kritikan pada pemerintah.

Mungkin ilmu Humaniora belum populer saat ini dan dipandang sebelah mata. Namun, seiring berjalannya waktu, saat dunia menjadi cyber, 20 atau 50 tahun lagi manusia akan melirik ilmu-ilmu ini. Tentu saja karena ilmu-ilmu Humaniora membantu melestarikan peninggalan dan catatan perjalanan umat manusia. Manusia tidak akan bisa menuju masa depan tanpa melalui masa lalu bukan?

#Trust me! Arabic is truly awesome!

 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang