Showing posts with label harapan. Show all posts
Showing posts with label harapan. Show all posts

Monday, 22 August 2016

Kita Ini Apa

Kita ini apa sih? 
Itu tanyamu dulu. Saya sendiri tidak mengerti kita ini apa. Dan saya tidak ingin terjebak dalam dunia yang abu-abu. Terjebak dalam masyarakat yang seolah-olah berlomba menyatakan diri mereka paling baik dan saleh daripada manusia lainnya. Agama tidak ada esensinya. Hanya digunakan untuk saling mencelakai, membenarkan diri sendiri, bahkan dipakai untuk promosi. Miris. Ah sudahlah! Lupakan masalah dunia yang abu-abu itu. Saat ini saya tidak ingin ikut serta nyinyir. Saya hanya ingin bercerita tentang kita. Kita yang dulu terjebak dalam pertanyaan 'kita ini apa sih?' Pertanyaan ini sering kita diskusikan hingga akhirnya memunculkan kesimpulan. Tidak usah kita namai hubungan ini. Itu katamu. Saya pun setuju. Mungkin kita juga abu-abu. Ya. Abu-abu yang tersembunyi di kisi-kisi perdebatan masyarakat yang merasa golongan mereka paling benar. Hubungan ini abu-abu. Entah itu pacaran atau kenalan (baca; Ta'aruf).

Dibilang pacaran, sekalipun kamu tidak pernah mendeklarasikan pertanyaan 'Mau nggak jadi pacar saya'. Kamu hanya bilang 'saya punya niat menikah dengan kamu. Bisakah saya mengenal kamu lebih dekat'. Padahal kamu tahu dan merasakan aksi jutek tidak ramah saya tiga tahun lamanya. Dan saya hanya menjawab 'Ya. Mari kita jalani' karena sejujurnya (dulu) saya belum punya rasa. Awal pertemuan kita pun hanya papasan di tangga dan saya tidak menyadari kehadiran kamu kala itu. Kamu yang akhirnya mengaku pernah melihat saya yang sedang tertawa-tawa bersama adik semata wayang saya. Kita jarang bertatap muka. Bisa dihitung jari berapa kali frekuensi berjumpa. Setelah Jogjakarta, kita berjumpa di rumah orang tua saya. Saya membiarkanmu berkenalan dan mengobrol panjang lebar dengan keluarga saya, sedangkan saya asyik mengaduk adonan atau mencetak kue kering dagangan saya. Oh ya, kala itu saya beserta adik dan teman-teman yang membantu bisnis kue kering juga berkunjung ke rumah paman kamu yang sudah bersedia 'menampung' kamu berteduh selama kamu meninggalkan rumah di kampung. Saat itu, kita mendengarkan petuah paman kamu yang punya obsesi jadi militer negara. Itu saja. Setelah itu, kita terpisah oleh jarak dan waktu. Kamu di pulau Sumatera dan saya kembali ke pulau Jawa. Kita berkomunikasi kembali via dunia maya.

Dibilang kenalan (baca: Ta'aruf), sepertinya juga tidak. Beberapa kali kita pergi hanya berdua saja, di malam hari pula. Karena di siang hari kita harus menjalani rutinitas kita. Kamu menjajakan dagangan dan saya menulis tugas akhir program pascasarjana saya. Saya ingat kita keliling kota. Kadang tanpa tujuan yang berakhir dengan ngobrol panjang di Mall yang menyediakan banyak bangku dan mushala nyaman atau main di beringin alun-alun kota yang terkenal di kalangan wisatawan lokal dan mancanegara. Selama kebersamaan singkat itu, kamu sabar mendengarkan cerita dan keluh kesah saya. Kamu berusaha menghibur saya yang berduka. Akhirnya Tuhan mengambil Mama dari sisi saya, kita pun terpisah dan dipertemukan lagi di pulau Sumatra. Seperti dulu, perjumpaan kita hanya sebentar saja. Dua kali kita jalan berdua tanpa adik saya dan 'antek-anteknya'nya. Kita mengobrol di tengah-tengah keributan anak gaul kota yang memenuhi ruangan restoran siap saji. Kita mulai membicarakan bagaimana langkah selanjutnya untuk pernikahan kita. Mau tidak mau, kita harus realistis. Bagi kita, pernikahan bukan sekedar menghalalkan sesuatu yang haram dilakukan sebelum menikah dan kita menganut kepercayaan jika rezeki itu harus dicari bukan dinanti dengan doa semata tanpa usaha berarti. Setelah itu, kita terpisah jarak kembali hingga saat ini. Kamu pun bekerja dan berusaha mengumpulkan pundi-pundi untuk masa depan kita. Saya pun begitu, jualan untuk mengumpulkan pundi-pundi juga sambil menunggu hari wisuda yang rasanya masih lama. Kemudian berencana mengadu nasib dalam dunia akademisi yang sudah lama saya damba.

Itulah kita. Kita tidak mau repot lagi memikirkan kita ini apa. Apalagi memikirkan ini pacaran, kenalan (baca: Ta'aruf), atau istilah yang lagi ngetrend gegara buku anaknya Adi Bing Slamet, 'temenan'. Yang pasti, kita punya komitmen untuk melangkah ke jenjang pernikahan beberapa bulan ke depan. Saya juga tidak tahu hubungan kita ini berdosa atau tidak. Hanya Tuhan yang berhak dalam urusan perdosaan. Wallahu a'lam. Tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa saya kontra terhadap sistem kenalan (baca: Ta'aruf) dan pro terhadap sistem Pacaran. Sekalipun tidak. Saya hanya tidak ingin menjadi anggota abu-abu yang hanya taqlid saja. Bagi saya, agama itu lebih agung dan lebih tinggi daripada hanya digunakan untuk memproklamirkan bahwa kita lebih saleh daripada manusia lainnya. Itu saja. Semua saya serahkan dan pasrahkan kepada Tuhan dan segala kebesaran-Nya. Termasuk menyerahkan rencana besar kita. Semoga Tuhan semakin mempermudah langkah-langkah kita ini. Menikah, mendidik dan membesarkan anak-anak, menua, berpisah oleh maut, dan kemudian dipertemukan kembali di tempat yang paling indah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.


Friday, 22 January 2016

Terima Kasih Tuhan

Tuhan memang Maha Kuasa. Dengan mudah bak membalikkan telak tangan, Ia membalikkan keadaan. Kebahagian diubah dengan mudah menjadi kesedihan. Pun Kesedihan dengan mudah diubah menjadi kebahagian. Itulah kehidupan. Anugerah terindah pemberiaan Tuhan. Anugerah dan nikmat dimana kita diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama. Itulah anugerah terindah yang menciptakan bahagia. Hidup dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan menemani kita dalam susah dan duka.

Percayalah teman! Cobaan yang datang bukanlah karena Tuhan murka pada masa lalumu yang kelam di kehidupan. Percayalah bahwa cobaan adalah tanda bahwa Tuhan menyayangimu dan menginginkanmu menjadi hamba-Nya yang tangguh. Menjadi hamba yang selalu patuh. Menjadi hamba yang tidak angkuh. Menjadi hamba-Nya yang selalu mengingat kuasa-Nya di setiap helaan nafas, di setiap detakan jantung, di setiap langkahan kaki, bahkan di saat hati rapuh dan semangat luruh.

Jangan pernah mengganggap kehidupan kita adalah kehidupan yang paling malang. Karena mungkin tanpa kita sadari di luar sana banyak manusia yang menginginkan kehidupan yang kita jalani sekarang. Mari kita selalu berprasangka baik kepada-Nya dari kini hingga kelak waktu lekang. Mari kita selalu bersyukur atas segala nikmat yang Ia curahkan untuk kita dan juga teruntung orang-orang tersayang.

Kita sadar bahwa kita memang manusia biasa. Manusia lemah dan tak memiliki kuasa. Namun, kita diberi kesempatan untuk selalu berusaha, berusaha, dan terus berusaha dengan iringan keikhlasan serta doa yang tiada berujung hingga akhir masa kita.

Hai teman yang di sana. Mari kita sama-sama mengingat Dia, mensyukuri seluruh nikmat-Nya, memuja dalam doa-doa, bahkan menitipkan asa, rasa, dan rindu ini pada-Nya. Never lose hope because Allah is always with us.


Thursday, 26 November 2015

Teruntuk Teman

Siang itu Jogja kembali romantis dan syahdu. Titik-titik hujan mulai menyapa pepohonan satu persatu dan merayap mengendap-endap di kisi-kisi jendela berkaca biru. Entah apa yang harus kukatakan. Aku hanya bisa terdiam menerima kenyataan. Kenyataan yang mungkin tak kuinginkan. Tapi satu yang pasti, aku adalah manusia yang menghormati kejujuran. Lebih baik jujur yang menyakitkan daripada bahagia yang terbangun karena kebohongan. Terima kasih kuhaturkan untuk seluruh kejujuran.

Manusia memang makhluk lemah. Tempatnya lupa dan salah. Termasuk diri ini dan juga dirimu, teman. Tapi, manusia berhak mendapat kesempatan kedua. Bukankah Tuhan yang Kuasa saja mengampuni hamba-Nya? Apalagi kita yang lemah dan bukan apa-apa dibandingkan Dia. Yang terpenting adalah penyesalan yang terdalam dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Yang tak kalah penting juga adalah penerimaan terhadap mereka yang bertaubat dan menyesal atas kesalahannya. Sebagai manusia yang berstrata sama di hadapan-Nya, bukan hak kita untuk menghakimi kesalahan mereka. Tugas kita hanya menggenggam jemari mereka agar tidak terjatuh ke lubang yang sama. Begitulah seharusnya muamalah sesama manusia.

Manusia itu penuh cela. Tak habis-habis bila dirincikan kata perkata. Namun di sisi lain, manusia memiliki segudang kebaikan yang terkadang tertutup begitu saja karena noktah kecil noda. Begitu juga aku dan kamu. Cela kita tak kan pernah habis, tapi berhentilah sejenak untuk membersihkan noda. Lihatlah berlian yang terkubur di dalam kubangan lumpur hitam pekat.

Hei teman! Kamu mungkin menganggap dirimu tidak layak berteman denganku. Terpuruk dalam penyesalan kisah masa lalumu. Menganggap remeh dirimu bahkan terkesan tidak percaya pada kebaikan yang tersimpan di dalam jiwamu. Mari kita lupakan keburukanmu! Bagiku, kamu adalah seorang teman yang mengajarkan arti tegar. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku tidak setegar jiwamu. Mungkin aku malah terpuruk dan menyalahkan Tuhan yang sejatinya adalah tempat kita mengadu. Di saat teman sebayamu masih hura-hura dengan harta orang tua, kau memutuskan untuk bekerja demi keluarga tercinta. Merasakan sakitnya terhina dan mungkin bahkan terlunta-lunta. Mungkin jalanmu memang terjal, mungkin jalanmu memang penuh dengan duri. Ini bukan karena Tuhan murka padamu, malah sebaliknya karena Tuhan menyayangimu dan ingin menjadikanmu hamba-Nya yang akan selalu memuja kebesaran-Nya. Jangan pernah merendahkan dirimu. Jangan pernah lagi. Karena kita sama di hadapan-Nya.

Hei teman! Semoga kamu tak kan pernah lelah untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang kamu yakini harus kamu perjuangkan. Jangan pernah lelah memperbanyak sujudmu pada-Nya. Jangan pernah bosan untuk mengadukan segala kesahmu kepada-Nya. Tetap berjuang, berdoa, dan berserah pada Dia, Sang Penguasa hati Manusia. Wish you all the best. Semoga Tuhan selalu meringankan setiap langkahmu dan melapangkan masalah-masalahmu.

Monday, 19 May 2014

Terima Kasih Untuk Kalian

Saat saya kanak-kanak, ulang tahun adalah sesuatu yang sangat istimewa. Di satu hari dalam setahun itu, saya akan mendapatkan banyak kado berupa baju, boneka, atau bahkan mobil-mobilan. Mama biasanya membuatkan saya sebuah kue tart dengan krem warna-warni dan hiasan patung badut atau puteri. Teman-teman dan sanak saudara, bahkan yang dari luar kota, datang ke acara ulang tahun saya. Bahkan Angku dan Andung, tetangga sebelah rumah, juga datang sambil meneteng boneka panda yang besar.


Saat dewasa, ulang tahun tak lagi terasa istimewa. Terkadang malah saya lupa. Lagian untuk apa berhura-hura merayakannya? Saya pikir lebih baik merenung intropeksi diri dan berdoa semoga umur yang bertambah akan lebih barokah. Itu saja cukup bagi saya. Namun, saya sangat menghargai orang-rang sekitar saya yang mengingat hari istimewa saya. Saya katakan hari istimewa karena hari itu saya diberi kesempatan untuk lahir ke dunia walau konon katanya seorang bayi sebetulnya menyesal telah dilahirkan. Namun, ini sudah jadi takdir Illahi. Setidaknya di dunia ini saya tidak sendiri. Saya bertemu dengan orang-orang yang mencintai dan menyayangi saya dari keluarga hingga sahabat-sahabat saya.

Tahun ini. Umur saya tak lagi remaja. Dua puluh enam tahun. Dan saya belum bisa menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, sahabat, apalagi bagi nusa, bangsa, dan agama. Labih nahasnya lagi kontrak hidup saya juga berkurang setahun. Ini membuat saya risau  dan sedih. Di umur segini dengan kontrak hidup makin berkurang, saya belum bisa menjadi orang yang berguna. Namun risau saya lenyap dengan doa-doa dari keluarga dan juga sahabat-sahabat saya. Ya. Terima kasih untuk kalian yang mendoakan saya agar kedepannya saya mendapatkan apa yang saya cita-citakan dan dambakan. Saya sangat bersyukur pada Tuhan karena memiliki kalian. Sekali lagi terima kasih untuk doa dan beberapa bingkisan.


Terima kasih untuk keluarga dan krucil-krucil usil, Ulfa Adib, Chaca, dan Calysta yang menyanyikan lagu "Happy Birthday To You" saat saya duduk sendirian dalam Bus Trans Jogja tanpa cahaya yang berjalan lamban karena macet malam mingguan Terima kasih untuk teman kecil saya, Monika, dan teman-temannya yang menjadi teman saya juga, Rizal dan Mbak Kirz. Terima kasih juga buat Aishi, Eva dan Mbak Yayun. Terima kasih untuk kalian yang tak mungkin satu persatu saya sebutkan. Dan tentu saja, terima kasih untuk PARAM yang selalu gagal merencanakan pesta kejutan. Tapi tak apa, saya sangat menghargai "pengorbanan" kalian. Terima kasih tetap mengingatkan hari istimewa saya di sela kesibukan. Semoga kelak saya menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa bangsa, dan yang terutama agama. Amiin.

Saturday, 15 March 2014

Warna-Warni

Setiap orang pasti punya mimpi untuk mengunjungi suatu tempat. Kalau saya, ingin sekali ke negeri Taj Mahal. Ini bukan karena saya ingin bertemu dengan SRK karena saya bukan penggemarnya. Kenapa India? Kenapa tidak kota-kota indah di Eropa? Kalau dilihat-lihat, India memang kumuh, sumpek, polusi suara, dan berantakan. Tambah lagi tingkat kriminalitas yang tinggi dan watak masyarakatnya yang kasar. Tapi, saya meyakini segala sesuatu memiliki sisi positif dan negatifnya (kecuali ilmu hitam). Di sisi lain, India adalah negara dengan daratan luas yang terbelah menjadi bagian utara dan selatan. Punya banyak bahasa dan ragam budaya. Pemandangannya juga indah persis seperti Indonesia. Mungkin yang beda adalah bahwa India merupakan peradabaan tertua lagi masyhur seperti halnya China, Arab, atau Persia. 

Sebagai penyuka bahasa, saya tertarik dengan bahasa Hindi karena beberapa kosa kata yang mirip dengan kosa kata bahasa Arab. Contoh saja arti dari kata 'senapan'. Dalam bahasa Arab senapan adalah bunduuq, sedangkan dalam bahasa Hindi menjadi Banduq. Contoh lain kata 'intidzar' yang berarti menunggu. Dalam bahasa Hindi kata tersebut menjadi Intezar. Dan banyak sekali contoh yang lainnya. Begitu pula dengan kesusastraannya yang terpengaruh dengan kesusastraan Arab seperti yang Haywood jelaskan di dalam bukunya Modern Arabic Literature.


Tapi yang bikin saya teratrik lagi adalah warna-warni festival atau perayaan di India. Saya suka sekali dengan warna-warni. Rasanya ceria, ramai, dan elegan. Penuh warna dan penuh cahaya yang berwarna-warni pula. Nyanyiannya sangat merdu. Musiknya bisa menyayat hati namun kadang membangkitkan semangat. Tariannya indah dan tentu saja warna-warni. Begitu pula dengan kostumnya yang warna-warni dan bagus. Saya suka dengan warna-warni. Karena warna-warni itu seperti hidup kita. Penuh warna. Kadang biru, kadang kuning, kadang merah muda, kadang putih, kadang hitam, kadang merah, dan malah kadang abu-abu.

Sekian,,,

Friday, 7 March 2014

Loving Arabic Literature

Really miss his voice so much when he's reading his poetry!!



I'am back! Yeah kembali lagi menekuri Introduction of Modern Arabic Poetry, Semiotic of Poetry-nya Riffaterre, Modern Arabic Literature 1800-1970, A Critical Introduction to Modern Arabic Poetry, dan masih banyak lagi. Aih! Betapa rindu rasanya menekuri kembali kumpulan puisi Arab karya Nizar Qabbani. Sekilas, puisi-puisi ciptaan Qabbani memang terlihat erotis. Beberapa teman Arab saya sendiri tidak menyukai karya-karya Qabbani. Saat mengerjakan skrispi dulu, mereka banyak menyarankan saya agar meneliti karya Mahmud Darwisy yang puisinya memang berisi tentang semangat perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan mereka atau Jubran Khalil Jubran (aka Kahlil Gibran) yang romantis ataupun Mikhail Nuaimah dan lain sebagainya.

Sebenarnya, saya menyukai semua puisi dan pepatah Arab. Semuanya indah dengan wazn dan ritme yang sangat harmonis. Kalau dijabarkan di sini mungkin akan panjang dan bisa jadi sebuah karya ilmiah. Keindahan bahasa Arab memang tidak tertandingi. Bahkan mungkin keromatisan kata-katanya juga akan mengalahkan bahasa Prancis yang dijuluki bahasa teromantis. Selain romantis, puisi dan pepatah Arab memiliki ruh yang rasa-rasanya dapat mengendalikan emosi dan semangat saya. Contohnya saja, puisi Ibrahim Tauqan yang berjudul at-Tafaaul yang berarti optimis. Saking ngefansnya, saya mengutip beberapa baris puisinya untuk halaman motto di skripsi saya. Saya suka semuanya, namun yang paling saya suka adalah Nizar Qabbani walau kata orang puisinya banyak yang erotik dan menggunakan kata-kata yang vulgar. Nah inilah yang menarik untuk diteliti. Menurut saya, keerotisan puisi Qabbani pasti memiliki makna penting yang ingin disampaikan olehnya. Tugas kita adalah meneliti makna yang tersembunyi tersebut. Dan di sinilah Semiotika menjalankan tugasnya. Saya benar-benar jatuh cinta pada puisi Arab dan semiotika. Tahun ini sepertinya tahun terakhir untuk mendapat kesempatan 'sekolah' kembali. Jadi, saya harus bekerja keras dan tetap optimis. Semoga Tuhan mendengar doa-doa saya. Amiin.

Dulu saya pernah bertanya-tanya dalam hati. Kenapa saya memilih sastra? Dengan kasat mata, sastra bukanlah bidang ilmu yang sepertinya punya peran dalam kehidupan kita sehari-hari. Beda dengan orang yang mengambil Teknik, Kedokteran, Psikologi, Ekonomi, Komunikasi, dan lain sebagainya. Anak teknik dapat membantu masyarakat dengan menciptakan sebuah alat, anak kedokteran dapat membantu dengan mengobati orang dan lain sebagianya. Terus sastra? Apakah hanya berkutat di dalam ruang sumpek penuh buku untuk sekedar membaca dan menulis? Namun, saya akhirnya menemukan jawaban. Ilmu sastra juga berguna untuk masyarakat sekitar kita bahkan untuk negara. Memang sih anak sastra tidak bisa menciptakan mesin canggih atau mengobati orang sakit, namun mereka membantu lewat tulisan mereka. Yap! Tanpa disadari, tulisan adalah sebuah media yang dapat mempengaruhi orang. Lihat saja berapa banyak sastrawan yang dijebloskan ke dalam penjara karena tulisan mereka yang berisi kritikan. Salah satunya sebut saja Pramoedya Ananta Toer. Bahkan, di dunia Arab, puisi adalah salah satu media untuk berjuang membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan kritikan pada pemerintah.

Mungkin ilmu Humaniora belum populer saat ini dan dipandang sebelah mata. Namun, seiring berjalannya waktu, saat dunia menjadi cyber, 20 atau 50 tahun lagi manusia akan melirik ilmu-ilmu ini. Tentu saja karena ilmu-ilmu Humaniora membantu melestarikan peninggalan dan catatan perjalanan umat manusia. Manusia tidak akan bisa menuju masa depan tanpa melalui masa lalu bukan?

#Trust me! Arabic is truly awesome!

Tuesday, 24 April 2012

SUKA




Kalo orang-orang pengen ke Korea dan tergila-gila ama boy band dan film Korea, kalo saya sih hanya tergila-gila dengan Arab, Spanyol, dan India. Kenapa? Hmm... saya sendiri nggak tahu. Pokoknya suka aja. Mungkin saya tertarik sama bahasa dan ragam keseniannya. Kalau Arab, saya suka dengan musiknya dan syair-syairnya. Kalo Spanyol, saya suka pakaian ala gipsinya yang waran-warni dan mengembang. Bagus banget. Musiknya juga nggak kalah menarik. Me encanta espanol!!! Bahasanya juga asik untuk dipelajari. Dan yang terpenting, Spanyol adalah saksi bisu kejayaan Islam masa lalu. Kalo India, saya juga suka musiknya, tariannya, dan filmnya. Sebenarnya dulu nggak suka sih sama filmnya, tapi semakin kesini, film India semakin bagus. Jadi saya suka. Saya bertekad suatu hari, saya harus kesana. Tunggu saya ya!!!

Wednesday, 28 March 2012

My Moslem Family From The Other Country




Someday I Will meet them...

Saturday, 11 February 2012

Teruntuk Kekasihku

Kasih..
Apa kabarmu hari ini? apakah kau di sana merinduku? Sungguh kuberharap kau di sana selalu merinduku seperti aku yang merindukan titik-titik hujan di tengah malam.
Kasih...
Ingatkah kau dengan pertanyaanmu? Kuharap kau selalu ingat akan pertanyaanmu seperti aku mengingat suka duka memori kita.
Kasih...
Dulu kau bertanya tentang tempat yang paling kusukai. Tentang tempat yang kusinggahi ketika aku resah, gelisah, dan merasa kesepian.
Kasih...
Tahukah kau apa jawabannya? aku sangat menyukai jalanan.
Kasih...
Tahukah kau mengapa aku menyukai, bahkan mencintai jalanan, seperti aku mencintaimu?
Karena jalanan adalah kata pertama yang kutulis untuk memulai kisah cinta kita. Karena jalanan adalah saksi awalnya kisah kita ini
Kasih...
Jalanan memang tempat yang sangat kucintai seperti aku mencintaimu. Saat ku merasa sendiri, aku susuri jalanan dan kutemukan keramaian di sana. Di sana kutemukan senyuman ibu-ibu pedagang sayur, bocah-bocah kecil yang berlarian tanpa alas kaki, preman-preman bertampang sangar, bahkan bos-bos yang tergesa-gesa masuk ke dalam kantor bertingkatnya.
Kasih...
Jalanan benar-benar berarti bagiku seperti kau yang sangat berarti bagiku. Jalanan. Ya. Jalananlah yang selalu menambah rasa syukur kepada-Nya. Ya rasa syukur yang selalu saja kita pungkiri. Jalananlah yang mengingatkan diri ini pada kekuasaan dan nikmat-Nya yang berlimpah ruah.
Kasih...
Lihatlah bocah-bocah ingusan yang menengadahkan tangan mereka meminta belas kasihan orang yang berlalu lalang itu!
Lihatlah tukang-tukang becak yang duduk termenung menunggu penumpang yang tak kunjung datang itu!
Lihatlah tukang-tukang koran yang menerjang teriknya mentari untuk menjajakan koran mereka yang tak laku dijual di pagi hari!
Lihatlah para gelandangan yang tidur di bawah kembatan dan emperan toko. Lihatlah tubuh-tubuh mereka yang melingkar menahan dinginnya angin malam!
Kasih...
Dibandingkan mereka, betapa beruntungnya kita!
Kita tak perlu menantang teriknya mentari untuk mendapatkan beberapa keping uang receh.
Kita tak perlu bersabar menunggu rezki yang datang
Kita tak perlu tidur di emperan toko dan menahan dinginnya tiupan angin malam
Kasih...
Semoga kau seperti jalanan yang selalu mengingatkanku pada kebesaran-Nya.
Semoga kau seperti jalanan yang selalu mengingatkanku tentang rizki-Nya yang selalu berlimpah.
Semoga kau seperti jalanan yang selalu mengingatkanku untuk bersyukur kepada-Nya
Kasih...
Di jalanan lembab bekas titik-titik hujan inilah aku setia menunggumu dan merindumu bagai pepohonan yang merindukan godaan buliran angin musim semi.


Friday, 26 August 2011

Jodoh


"Jodoh di tangan Tuhan". Kumpulan kata yang klise memang, tapi itulah kebenarannya. Bahkan orang yang menikah dan mengarungi hidup bersama kita pun, belum tentu jodoh kita. Menikah adalah bentuk ikhtiar untuk mencari siapa jodoh kita. Tapi semoga saja orang yang kita nikahi kelak adalah jodoh kita sebenarnya.

Wednesday, 17 August 2011

Akankah?


Baru tersadar kalau waktu cepat berlalu
Ini sudah hari ke-17
Dan aku tersadar kalau bulan Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan diriku
Sedih... karena akan ditinggal pergi oleh Ramadhan...
Tuhan... semoga masih kau izinkan aku untuk berjumpa dengan Ramadhan lagi dengan segenap kesehatan dan semangat baru




Thursday, 7 July 2011

Sepenggal Cerita Dari Bantaran Code Part 2

Lingkungan baru, bagi mahasiswa perantauan, tentu identik dengan teman baru. Dan inilah yang sedang kulalui dalam episode kehidupanku di bantaran Code. Yup... aku menemukan teman-teman baru yang berbeda dengan teman-teman di zona nyamanku dulu. Teman-teman baruku kali ini memiliki watak dan pergaulan yang berbeda dari teman-teman di zona nyamanku. Mungkin kebanyakan dari teman-teman baruku itu adalah orang-orang kaya dan anak gaul. Hmm... sangat berbeda denganku.

Kesan pertama, tentu saja adalah takut dan minder. Takut kalau kehadiranku di tengah-tengah mereka, tidak diterima. Minder dengan perbedaanku dengan mereka dalam kebiasaan, watak, gaya hidup, dan lain sebagainya. Rasanya sangat tak nyaman dan ingin segera hengkang dari tengah-tengah lingkaran mereka, teman-teman baruku itu.

Tapi, sepertinya bantaran Code dan waktu kebersamaanku dengan mereka, telah menyadarkan aku dari kekeliruan dalam menilai mereka. Hmm... mereka sangat menyenangkan walaupun masih ada sedikit rasa canggung. Tapi tak apalah... aku yakin suatu saat mereka akan menjadi zona nyamanku selanjutnya. Amin.... Pilihan ini tak perlu disesali.


Wednesday, 6 July 2011

Sepenggal Cerita Dari Bantaran Code Part 1


KKN... Kuliah Kerja Nyata bukan Korupsi kolusi Nepotisme. Itulah tiga huruf yang medeskripsikan pekerjaan yang aku lakoni untuk dua bulan ke depan kelak. Rasanya gimana? Hmm... like changing the world-lah bahasa internasionalnya, ahay. Rasanya campur aduk, tapi, yang jelas, rasa yang paling kuat adalah rasa TAKUT. Entahlah... aku pun tak mengerti kenapa rasa itu berpendar besar di relung jiwaku.

Mungkin karena aku memasuki sepotong episode kehidupanku dengan lingkungan, budaya, kebiasaan, dan orang-orang yang baru. Jujur... menemukan sesuatu yang berbeda membuatku gamang dan takut untuk melangkah maju. Takut... takut kalau orang-orang baru itu tidak menyukaiku, takut jika tidak cocok dengan lingkungan baruku, takut jika aku punya perbedaan dalam kebiasaan dan takut takut yang lainnya.Tapi, itulah resiko yang harus diterima atas sebuah konsekuensi, going out from the comfort zone.

Takut? Wajar saja, tapi aku berusaha terus mencoba untuk berpikir positif bahwa semua yang sedang kujalani akan bermanfaat, mengasyikkan, dan menyenangkan. Semoga dengan berpikir positif, Tuhan akan menuntunku menyusuri bantaran positif dan akhirnya bermuara di kesuksesan Amin...


Saturday, 25 June 2011

The Story of Pilem Luar

Libur telah tiba dan semua bergembira. Mungkin bergembira karena melepas sejenak kepenatan tugas-tugas akademik. Sebagian anak-anak rantau sudah hengkang dari kota ini dan sebagian lagi mungkin masih bertahan karena ada beberapa hal yang harus diurus. Kalo aku? aku hanya ngedit, nyoba nerjemah, makan lotis, dan nonton pilem di laptop. Ahay... yang terakhir inilah yang lagi getol aku kerjakan hehe...

Aku adalah orang yang gak suka nonton pilem drama apalagi drama Korea, Mandarin, ato Jepang. Sebenarnya pilem drama itu bagus kok tapi entah kenapa aku selalu aja ngantuk kalo nonton pilem drama. Hmm... tapi ada sih pilem drama yang jadi favoritku dan sukses buat aku nangis-nangis bombay gak karuan hiks hiks... Ya contohnya aja pilem The Note Book, August Rush, dan A Walk to Remember. Aku nih memang sebenarnya orang yang mellow abis, makanya aku meminimalisir nonton pilem drama hehehe. Selain drama, aku suka juga nonton pilem animasi dan khayalan ato tentang kerajaan-kerajaan gitu deh. Sebut saja pilem Thinker Bell, Enchaunted, Alice in Wonderland dan Barbie. Hmm... bener-bener selera yang aneh tampaknya...

Tapi yang paling aku gandrungi itu adalah pilem petualangan dan super hero gitu kayak, pilem National Treasure, Pirates of Carribien, Zorro, dan yang pualing aku suka adalah Star Wars dan Star Trek. Hmm... suka suka banget deh ah. Kayaknya seru aja menjelajah luar angkasa, naik pesawat U.S.S Enterprise, ato naik pesawat Millenium Falcon-nya Han Solo. Wuih menarik, fantastik, bombastik, fonetik, semantiklah pokoknya (Loh kok?)

Untuk pilem Star Wars, aku udah nonton semua serinya deh. Terharu hiks hiks... karena baru bisa nonton semuanya setelah 9 tahun penantian. Ini bener loh! Gak bohong! Suer deh! Waktu itu aku masih kecil, jadi gak boleh nonton pilem luar trus waktu udah sedikit gede, eh malah masuk pesantren dan jarang pulang. Hmmm setelah "hengkang" dari pesantren, akhrinya ada Star Wars's week di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, kira-kira itu tahun 2007. Uhuy!!! I like it so much!!!! Yuhuuu... Aku jadi bisa nonton semua serinya hehehe



Millenium Falcon





Trus pilem yang sering kuputar ulang akhir-akhir ini adalah pilem Star Trek 2009. Entahlah, mungkin udah kali keseribunya pilem itu aku putar ulang hehehe... Tapi tetap gak ngebosenin. Ahay... mungkin pengobat kerinduan untuk mantengin pilem Star Wars lagi kali ya hehehehe. Sebenarnya pilem Star Trek ini juga udah ada dari zaman baheula kayak pilem Star Wars tapi sayang, belum ada kesempatan untuk nonton semua serinya. Selain pilem ini emang seru, aku juga suka sama salah satu tokohnya yaitu Spock, Zhacary Quinto. Ganteng banget dan bibirnya sekseh, kata eva, temenku (kataku juga sih hehe).



USS Enterprise






Spock dan James Tiberius Kirk

Hmm... semoga besok ada Star Trek's Week kayak Star Wars dulu. I wish...

Monday, 6 June 2011

Dua Jam

Siang ini, di bawah teriknya sinar matahari, aku merasa teramat kesal, kesal banget sampe-sampe aku mencucurkan air mata. Pasalnya karena waktu dua jam yang kuhabiskan tanpa berbuat apa-apa. Waktu dua jam yang sebenarnya bisa kupergunakan untuk membaca buku di atas kasur, atau untuk menyetrika baju-bajuku, atau untuk menulis proposal skripsi, dan pekerjaan yang lain.

Dua jamku yang malang ini kuhabiskan dengan menunggu, menunggu, dan menunggu, dengan teramat setia, sebuah fax dari Perpustakaan Nasional RI yang memeberitahukan nomor ISBN buku-buku yang akan diterbitkan oleh penerbit yang kurintis bersama teman-teman. Sepuluh menit pertama, kuhabiskan waktuku untuk mengobrak-abrik tumpukan fax sambil berharap aku menemukan fax itu tapi ternyata... hasilnya nihil. Setengah jam telah berlalu dan fax itu belum juga datang. Akhirnya... aku mencoba menelepon ke pelayanan ISBN. Setelah mencoba, setidaknya memakan waktu setengah jam pula, akhirnya telepon diangkat dan mengabarkan fax akan segera dikirim. Hatiku lega karena sebentar lagi amanah yang dijatuhkan padaku ini akan selesai terlaksanakan. Namun, lagi-lagi fax yang kutunggu-tunggu itu belum juga menari di mesin penerima fax wartel. Akhirnya... setelah menunggu lama dan ternyata tepat dua jam, aku menelepon lagi ke sana dan ternyata fax itu akan dikirim besok pagi, entah besok pagi kapan? benar-benar besok pagi tanggal 7 Juni atau besok pagi dan besok pagi dan besok pagi lagi. Entahlah... setelah mendapat kabar itu rasanya kesal, marah, kecewa sekali banget amat!!!!!

Huff... memang benar ya... betapa lucunya negeri ini... kok segala pelayanannya susah amat dan buat orang males aja. Contohnya aja masalah ISBN ini. Gak jelas.... Aku ngedumel dalam hati mengutuk dua jamku yang malang yang hanya kuhabiskan untuk duduk dan menunggu sesuatu yang tak kan datang walau sudah kutunggu dengan teramat setia dan penuh pengharapan. Pokoknya aku kesel banget dan cuaca hari ini pun sepertinya mendukung rasa kesalku ini. Huff...

Dan akhirnya aku berhenti mengutuk dan ngedumel dalam hati karena aku sadar ngutuk dan ngedumelku itu akan sia-sia. Who care?? Gak ada yang denger toh? Adanya aku juga yang capek. Ya sudahlah... semoga saja dua jam yang sia-sia ini akan diganti-Nya dengan sesuatu yang membahagiakan tanpa batas waktu di kemudian hari, tentunya sesuatu yang membahagiakan lebih dari dua jam. Amin...

Kutulis di sudut sebuah warnet
sambil menunggu waktu mengajar privat
 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang