Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Friday, 2 September 2016

Realita

Hai kamu yang terhalang jarak dan waktu bahkan terhalang sinyal yang tidak menentu....

Ini malam kedua saya tidak bisa memejamkan mata. Saya masih memikirkan masa depan kita. Saya tidak pungkiri bahwa saya ingin seperti teman-teman lainnya. Menikah dan memiliki keluarga kecil yang pastinya kadang bahagia kadang juga penuh duka. Karena tidak ada keluarga yang sempurna. Itu menurut saya. Saya dan kamu juga punya mimpi seperti mereka. Namun, realita tidak selalu sesuai dengan angan-angan kita. Sayangnya, terkadang manusia memandang sebelah mata. Menghakimi hubungan seperti ini penuh dengan zina dan memberi pilihan sempit dengan slogan "halalkan atau tinggalkan". Terlebih lagi setelah seorang anak ustad memutuskan menikah di usia 17 tahun sehingga muncullah kampanye nikah muda dengan slogan yang tak kalah provokatifnya, "Menikahlah agar terhindar dari zina" atau "anak ustad aja umur 17 tahun udah nikah, kamu umur segini udah ngapain aja". Hahahaha... seakan-akan nikah muda adalah suatu prestasi kayak pemenang lomba lari. 

Mereka hanya bisa berkata, namun tidak mau melihat dari sudut pandang lainnya. Realitanya, manusia berbeda. Manusia memulai garis awal kehidupan mereka dalam posisi yang tidak sama. Sebagian dianugerahi kekayaan, sebagian lagi tidak. Sebagian dianugerahi kepintaran, sebagian lagi tidak. Sebagian dikaruniai kesehatan, sebagian lagi tidak dan begitu seterusnya. Begitu juga dengan menikah. Sebagian mampu segera menggenapkan separuh agama karena berbagai kemudahan. Jodoh mudah, harta orang tua berlimpah, karir bagus, usaha lancar, atau mungkin faktor keberuntungan. Sebagian lagi harus berpikir, berusaha keras, bahkan hingga taraf berserah pada sang Maha Kuasa.

Dan faktanya, kita terjebak pada golongan kedua. Saya baru akan wisuda program pasca sarjana. Setelah ini harus berjuang mendapatkan pekerjaan yang didamba. Kamu baru merintis karir dengan tanggungan yang luar biasa banyaknya. Kamu pengganti sosok papa bagi adik-adik kamu dan pelindung bagi mama. Saya bertanggung jawab untuk mengurus papa setelah kepergian mama. Mimpi kita berbanding terbalik dengan realita. Jalan kita ternyata memang tidak mudah dan kita tidak tahu dimana ujungnya. Kita hanya bisa berusaha keras dan pada akhirnya menitipkan semua asa pada Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan memberikan jalan bagi kamu dan saya. Untuk membangun keluarga. Untuk menggenapkan separuh agama. Saya yakin akan selalu muncul pelangi setelah hujan. Akan selalu ada terang sehabis gelap. Akan selalu ada kelapangan setelah kesusahan. Akan selalu ada suka setelah duka. Saya yakin selalu ada hikmah di balik seluruh peristiwa yang kita hadapi. Semoga kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menjalani ketidakpastian ini. Semoga kelak kita menjadi hamba yang ikhlas dan lebih bijak menghadapi kehidupan.




Monday, 28 March 2016

Hai Mama

Hai Mama yang berbahagia di surga

Nta kangen. Kangen akut Ma. Kangennya baru kerasa setelah kembali ke perantauan ini. Nta kangen sama mama yang selalu telpon terus menerus apalagi kalau sudah malam minggu. Kamu dimana, Nak? Di kos melulu? Nggak pergi malam Minggu? Nggak pengen punya pacar kamu? Pertanyaan mama yang bertubi-tubi itu cuma Nta jawab dengan kata 'nggak'. Dan malam minggu kemarin adalah malam minggu pertama di rantau tanpa ada telepon dari Mama. Ah Mama. Nta teramat kangen sama Mama. Bahkan Nta kangen sama bawel mama yang nanya terus kapan Nta punya kekasih. Kapan Nta menikah. Tapi pada akhirnya, pertanyaan Mama tentang kekasih hati Nta sudah terjawab bukan? Mama juga sudah sempat ngobrol via telepon walau hanya hitungan menit. 

Mama... 
Itulah lelakinya! Dulu ia maya, sekarang ia nyata. Nta selalu ingat pesan Mama untuk mencari teman hidup yang tidak mengandalkan harta orang tua. That's him, Mama! Dia sekarang sedang berjuang Mama. Mencari rezeki Tuhan untuk membahagiakan keluarganya dan Nta. Nta juga masih berjuang menyelesaikan studi ini dan menggapai cita-cita lainnya. Ya, Mama. Kami sama-sama sedang berjuang memperjuangkan cita dan cinta. Terpisah jarak dan waktu. Tetap melangkah maju walau lemah dan terseok-seok. Nta yakin jika selalu ada kebahagian setelah kita mengalami kesusahan. Karena pada hakikatnya manusia tidak akan pernah merasakan bahagia, jika ia belum pernah merasakan kesusahan. Bukankah begitu hukum alam Ma? Berjuang dari bawah berdua lebih indah kan Ma? Seperti kata Mama dan tentu saja seperti Mama dan Papa. Betapa Nta ingin bercerita kepada Mama seluruh perasaan yang Nta rasa. Karena Mama adalah ibu kandung Nta yang pasti mendengarkan penuturan putrinya, bukan langsung menghakimi dan murka seperti mereka.

Mama...
Saat sendirian Nta selalu membayangkan masa depan dimana Nta akan menikah dan kelak memiliki anak. Dan Nta akan menjalani itu semua tanpa Mama di sisi Nta. Nta tidak menyalahkan Tuhan karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik teruntuk hamba-hamba-Nya. Nta harus mandiri Mama. Nta harus mulai belajar sendiri bagaimana menjadi istri dan ibu bagi anak-anak Nta kelak. Bahkan Nta harus belajar sendiri cara merawat bayi. Semuanya serba mandiri karena Mama telah bahagia di sana. Nta yakin itu. Mama tidak harus merasakan sesak nafas lagi. Mama tidak harus merasakan sakitnya tusukan jarum suntik lagi. Selamat berbahagia Mama. Nta selalu mencoba mengikhlaskan Mama. Toh pada akhirnya kita akan berkumpul kembali. InsyaAllah. Salam kangen juga teruntuk Mbah Kakung...

Thursday, 26 November 2015

Teruntuk Teman

Siang itu Jogja kembali romantis dan syahdu. Titik-titik hujan mulai menyapa pepohonan satu persatu dan merayap mengendap-endap di kisi-kisi jendela berkaca biru. Entah apa yang harus kukatakan. Aku hanya bisa terdiam menerima kenyataan. Kenyataan yang mungkin tak kuinginkan. Tapi satu yang pasti, aku adalah manusia yang menghormati kejujuran. Lebih baik jujur yang menyakitkan daripada bahagia yang terbangun karena kebohongan. Terima kasih kuhaturkan untuk seluruh kejujuran.

Manusia memang makhluk lemah. Tempatnya lupa dan salah. Termasuk diri ini dan juga dirimu, teman. Tapi, manusia berhak mendapat kesempatan kedua. Bukankah Tuhan yang Kuasa saja mengampuni hamba-Nya? Apalagi kita yang lemah dan bukan apa-apa dibandingkan Dia. Yang terpenting adalah penyesalan yang terdalam dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Yang tak kalah penting juga adalah penerimaan terhadap mereka yang bertaubat dan menyesal atas kesalahannya. Sebagai manusia yang berstrata sama di hadapan-Nya, bukan hak kita untuk menghakimi kesalahan mereka. Tugas kita hanya menggenggam jemari mereka agar tidak terjatuh ke lubang yang sama. Begitulah seharusnya muamalah sesama manusia.

Manusia itu penuh cela. Tak habis-habis bila dirincikan kata perkata. Namun di sisi lain, manusia memiliki segudang kebaikan yang terkadang tertutup begitu saja karena noktah kecil noda. Begitu juga aku dan kamu. Cela kita tak kan pernah habis, tapi berhentilah sejenak untuk membersihkan noda. Lihatlah berlian yang terkubur di dalam kubangan lumpur hitam pekat.

Hei teman! Kamu mungkin menganggap dirimu tidak layak berteman denganku. Terpuruk dalam penyesalan kisah masa lalumu. Menganggap remeh dirimu bahkan terkesan tidak percaya pada kebaikan yang tersimpan di dalam jiwamu. Mari kita lupakan keburukanmu! Bagiku, kamu adalah seorang teman yang mengajarkan arti tegar. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku tidak setegar jiwamu. Mungkin aku malah terpuruk dan menyalahkan Tuhan yang sejatinya adalah tempat kita mengadu. Di saat teman sebayamu masih hura-hura dengan harta orang tua, kau memutuskan untuk bekerja demi keluarga tercinta. Merasakan sakitnya terhina dan mungkin bahkan terlunta-lunta. Mungkin jalanmu memang terjal, mungkin jalanmu memang penuh dengan duri. Ini bukan karena Tuhan murka padamu, malah sebaliknya karena Tuhan menyayangimu dan ingin menjadikanmu hamba-Nya yang akan selalu memuja kebesaran-Nya. Jangan pernah merendahkan dirimu. Jangan pernah lagi. Karena kita sama di hadapan-Nya.

Hei teman! Semoga kamu tak kan pernah lelah untuk berjuang mendapatkan sesuatu yang kamu yakini harus kamu perjuangkan. Jangan pernah lelah memperbanyak sujudmu pada-Nya. Jangan pernah bosan untuk mengadukan segala kesahmu kepada-Nya. Tetap berjuang, berdoa, dan berserah pada Dia, Sang Penguasa hati Manusia. Wish you all the best. Semoga Tuhan selalu meringankan setiap langkahmu dan melapangkan masalah-masalahmu.

Wednesday, 25 November 2015

Misteri

Bukannya narsis, tapi saya memang suka berteman dengan siapa pun selama pertemanan itu memberi dampak positif bagi saya. Yang saya rasa unik adalah teman-teman saya tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada mereka-mereka yang khusus menjadi teman-teman diskusi persoalan serius, teman-teman ngocol hore-hore, teman-teman yang menjadi tempat curhat saya, teman-teman yang membagi tips tentang seluk-beluk pekerjaan rumah tangga, bahkan teman-teman yang memberi nasehat persoalan 'relationship' dengan lawan jenis.

Entah kenapa, di sore dengan hujan yang lebat itu saya terdampar di salah satu rumah teman saya. Kebetulan ia menikah dengan teman masa kecil saya dan sudah dikaruniai seorang bayi laki-laki berumur 9 bulan. Sambil mengeringkan badan dan guling-gulingan dengan si Kecil, teman saya mulai membuka percakapan tentang 'relationship'. Tiba-tiba ia berujar ke saya: "Nta, tahu nggak? Betapa beruntungnya kamu nggak pernah pacaran loh! Saran saya, jangan pernah pacaran". Oke, tiba-tiba suasana jadi serius dan saya bertanya mengapa. Kemudian ia pun menjawab, "Rugi dan sia-sia. Menghabiskan waktu kamu aja. Kita mana tahu sih, ternyata jodoh kita adalah orang yang tiap hari seliweran di depan mata kita".

Dipikir-pikir, memang ada benarnya pernyataan teman saya yang satu ini. Pertama, mungkin saya memang wajib bersyukur belum pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran walaupun sebenarnya saya tidak mempermasalahkannya. Kedua, memang benar kalau jodoh adalah misteri. Bisa jadi orang yang 'gue banget' ternyata bukan jodoh kita. Bisa jadi juga orang yang seliweran di depan mata kita ternyata adalah jodoh kita. Yaps. Semua bisa terjadi karena semua masih misteri. Ini juga bisa terjadi pada saya pribadi. Saya tidak tahu, mungkin saja jodoh saya adalah salah seorang teman saya yang jadi tempat curhat saya tentang laki-laki yang 'gue banget' versi saya. Mungkin juga jodoh saya adalah orang yang hanya papasan sekali di jalan. Bisa jadi juga, jodoh saya adalah seseorang yang sering saya jutekin mati-matian. Ya. Semua bisa terjadi karena masih misteri.

Jadi, nikmati saja kejombloan ini dan proses lika-liku jalan bertemu jodoh! Tidak perlu malu dan misuh-misuh sendiri kalau dikatai masih berstatus jomblo. Kata seseorang yang baru menjomblo, menjadi jomblo itu keren kok. Oke baiklah. Selamat menikmati hari kawan-kawan dan teman semangat!

Wednesday, 18 November 2015

Galau, Never Ending

Bagi saya, manusia itu unik dengan berbagai kelebihan yang diberikan Tuhan dan juga dengan keterbatasannya. Memang benar manusia itu tidak akan pernah merasa puas dan cukup. Begitu juga dengan rasa galau. Yap. Kalau Jogja adalah 'Never Ending Asia', maka Galau adalah 'Never Ending Manusia'. Hahaha. Abaikan istilah yang terdengar memaksa itu.

Tidak jauh-jauh menilai atau mengamati prilaku orang. Kali ini, pengalaman sendiri cukup merepresentasikan galau yang never ending. Hahahaha. Hidup memang lucu dan penuh misteri tentu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Kesedihan dan kebahagiaan bisa datang silih berganti bahkan malah bisa stagnan untuk beberapa lama. Begitu juga dengan hal-hal konyol yang terjadi. Bahkan hal-hal yang tidak pernah diduga dan kita prediksikan sebelumnya.

Entah saya mimpi apa, tiba-tiba ada seseorang yang kirim pesan berisi ungkapan untuk serius ke jenjang pernikahan. Saya baca pesan itu dengan rasa cengok mania. Terdiam tanpa kata-kata. Lalu nangis di kolong meja. Hahahahaha. Terlepas pesan itu serius atau nggak, ya itu masih dalam proses analisa saya. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa saya merasa galau. Nah di sinilah galau itu never ending bagi manusia. Kenapa galau hingga menangis? beginilah kisahnya....

Menikah itu adalah suatu kata yang ajaib dan sakral bagi saya. Tidak boleh dibuat permainan apalagi candaan. Menikah itu ya gak cuma senang-senang jadi raja dan ratu sehari. Ada konsekuensi setelah menikah yang tentu saja berhasil membuat kita berubah. Selama ini kita hanya peduli pada diri kita sendiri, tapi di saat menikah, kita harus membagi kepedulian diri kita dengan indivudu lain, ya tentu saja pasangan kita. Di sinilah yang bikin galau. Galau kalau kita tidak bisa semerdeka dulu, galau bertemu dengan calon mertua, galau kalau kita bukan lagi tanggung jawab orang tua kita bahkan galau karena mengingat kegalauan kita saat kita masih berstatus single happy. Hahahaha. Tuh kan... galau is never ending.

Bayangkan ketika sudah berstatus menikah, kita pasti akan galau mengingat kenangan-kenangan saat berstatus masih single happy yang penuh dengan kegalauan juga. Galau untuk merasakan cinta, galau ketika memendam rasa, bahkan galau akibat patah hati. Dan mungkin sebagian lagi, kita pernah melakukan galau masal dengan teman-teman single happy lainnya dengan kegiatan yang berguna bagi nusa dan bangsa (lebay) seperti masak-masak atau hanya bobok bareng sambil nonton film horor Thailand atau bobok bareng sambil ngrumpi tentang perasaan terpendam kita terhadap lawan jenis yang 'gue banget'nya kita.

Yap! Galau is never ending thing in our life. Just enjoy it! Bahkan ketika kita menua, mungkin kita juga akan galau mengingat indahnya kegalauan saat masih berstatus single happy dan nikmatnya kegalauan saat kita memutuskan untuk mengakhiri masa lajang. 

Thursday, 29 October 2015

Grup Para Mamah Muda

Nggak kerasa kalau umur sudah nggak muda lagi. Hahaha... Saya baru sadar saat saya dimasukkan ke dalam grup teman-teman lawas saya dulu. Kalau dulu kayaknya masalah yang paling berat adalah soal Matematika dan Fisika, tapi sekarang lika-liku rumah tangga sudah masuk ke dalam ranah diskusi grup sebuah jaringan sosial media di Android. Sebut saja grup tersebut dengan nama Grup Para Mamah Muda. Sebenarnya, tidak semua anggota grup tersebut sudah berstatus menikah, cuma kebanyakan yang saling melempar komen adalah mereka-mereka yang telah berstatus 'Kawin' seperti yang biasanya tertera di KTP. Sebagai seorang ilmuwan (gadungan), saya hanya menjadi silent reader dan tetap mengamati perkembangan grup tersebut. Alasan sok ilmiah sebenarnya. Alasan utamanya sih ya tetap karena belum punya pengalaman menikah, melahirkan, dan mengasuh anak. Hahahaha. Senang sih baca berita tentang teman-teman yang baru mengakhiri masa lajang mereka, teman-teman yang melahirkan anak pertama mereka, hingga sharing tentang pengasuhan serta pendidikan anak. Ya... hitung-hitung bekal buat saya nanti kalau sudah dipertemukan dengan si 'dia' yang masih entah dimana. Ahayy

Tapi kadang saya merasa sedih kalau ada yang 'debat' atau hanya nge-share postingan yang isinya 'provokator' antara golongan Mamah Muda ASI eksklusif dan Mamah Muda Susu Formula, Mamah Muda yang melahirkan normal dan juga Mamah Muda yang melahirkan SC, bahkan yang menyangkut Mamah Muda or Mamah Muda Wannabe, alias para perempuan yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan atau berkarir dan perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Sebenarnya fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di sosial media saja, tetapi juga di lingkungan sekitar kita. Kadang heran kenapa harus dipermasalahkan?

Sebagai seorang perempuan, ya harusnya kita bisa berempati dan merasakan perasaan perempuan yang berbeda pilihan hidup dengan kita. Bersyukurlah bagi para perempuan yang dapat memberi bayi-bayi mereka ASI, tetapi jangan mengecilkan hati mereka yang hanya bisa memberikan anak-anak mereka Susu Formula. Karena pastinya ada alasan tertentu. Tidak semua perempuan dianugrahi ASI yang berlimpah dan tidak semua perempuan dikaruniai PD yang menunjang ketersediaan ASI. Hal ini diperburuk lagi dengan iklan layanan masyarakat dan aturan rumah sakit yang menghimbau atau menyaratkan pemberian ASI kepada bayi. Boro-boro bisa memproduksi ASI, iklan dan aturan tersebut sudah keburu bikin para ibu stres dan malah nggak bisa memproduksi ASI. Begitu juga dengan melahirkan normal dan SC. Para mamah muda punya alasan masing-masing untuk memilih jalan mana yang ditempuh. Toh, dua-duanya sama-sama bentuk perjuangan seorang ibu yang di telapak kaki mereka terdapat surga bagi kita. 

Dan yang nggak kalah penting adalah 'perdebatan' antara para perempuan yang memilih tetap berkarir dengan para perempuan yang memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Yup! masalah yang satu ini sering banget mencuat kepermukaan. Kalau tidak mencuat di publik, ya mungkin di publik jejaring sosial saya. Dua golongan ini saling mengklaim lebih unggul daripada golongan yang lain bahkan hingga taraf bawa-bawa dalil agama yang menjanjikan pahala-pahala tertentu. Bagi saya, perempuan yang masih berstatus 'Single' dan masih melanjutkan pendidikan, IRT atau IRT plus karir ya sama-sama mulianya selama tetap menyadari fitrah mereka sebagai seorang ibu maupun istri. Banyak yang 'merendahkan' perempuan yang memutuskan untuk menjadi IRT penuh agar lebih dekat dengan keluarganya. Pertimbangan itu sebetulnya adalah sebuah pertimbangan yang berat. Begitu juga sebaliknya, para perempuan yang memutuskan untuk berkarir dan sekaligus menjadi IRT saat mereka kembali ke rumah mereka. Mereka sering kali diberi label sebagai perempuan yang mendominasi dalam rumah tangga dan tidak akan pernah memiliki ikatan batin dengan anak-anak mereka. Sadis banget!

Namun, sebagai sesama perempuan, alangkah baiknya jika kita saling mendukung tanpa saling menjatuhkan. Karena secara alami, perempuan memiliki hati yang lebih lembut dan sensitif daripada kaum lelaki. Apapun pilihannya, perempuan tetaplah perempuan yang bebas memilih jalan hidupnya tanpa dihantui tuntutan konstruksi sosial. Kalau pilihan saya? Hmm... saat ini saya masih bercita-cita jadi Mamah Muda yang berkarir. Hehehehe.

Friday, 30 May 2014

Mamah! Curhat Dong!

Entahlah saya pun tidak tahu pasti mengapa akhir-akhir ini banyak sekali yang menyangka saya akan segera melepas masa lajang alias menikah. Saya hanya bisa tersenyum dikulum sambil mengamini saja kata mereka. Yah, setidaknya sebuah kata adalah untaian doa. Saya sendiri heran mengapa mereka berspekulasi begitu. Setahu saya, saya tidak pernah update status yang mengarah ke soal "Akan Segera Menikah" dan tak ada gambar calon pengantin pria yang saya tebar di sana. Ya tidak akan saya bagi karena memang belum saya temui. Kalau sudah saya temui belum tentu juga sih saya bagi. Apa mungkin akhir-akhir ini wajah saya lebih berseri-seri bak bidadari? Entahlah.

Pun kalau beliau (beliau!!! ceile) telah datang kelak, mudah-mudahan saya bukan tipe manusia yang latah dunia maya alias apa-apa diupdate. Lagi bahagia-bahagianya menjalin cinta diupdate bahkan lagi berantem juga tatap update status. Ya cukup sekenanya saja dibagi mungkin saat ada berita resepsi. Hehehe. Karena, menurut saya, menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis adalah sesuatu yang sakral. Gak boleh asal-asal umbar sana-sini karena kita tidak tahu apa yang kelak terjadi. Daripada umbar sana-sini mending perbanyak doa. Nah jika waktunya tiba, ya bolehlah membagi kabar bahagia. Saya percaya kalau menikah itu bukan soal siapa yang sudah punya pacar dan siapa yang belum. Yang sudah punya pacar belum tentu nikah duluan daripada yang masih menjomblo. Begitu pula sebaliknya. Menikah hanya soal masa. Ya... jika masanya telah tiba, pasti akan menikah juga. Jadi, santai kayak di pantai sajalah.


Pagi ini seorang teman lama menanyakan saya kapan menikah. Doakan saja. Itu jawaban saya. Jawaban yang menjadi jurus andalan tingkat pertama. Belum sempat saya mengeluarkan jawaban pamungkas saya, teman saya tersebut sudah galau. Dia bilang, "Kamu sudah akan menikah. Si Uli sebentar lagi. Aku doang yang belum". Saya hanya bisa tersenyum membaca pesannya. Dia kira saya akan segera menikah, padahal saya tidak memberi kabar bahwa saya akan segera menikah. Hadeuh! Saya kan hanya bilang doakan saja.

Mungkin saya juga merasakan kegalauan teman saya tersebut. Terkadang kegalauan dan kegelisahan itu datang bukan dari faktor internal, namun juga bisa dari faktor eksternal. Faktor kegalauan saya bukan karena teman yang update kemesraan bersama pasangan mereka di jejaring sosial, melainkan orang tua. Sebagai soerang anak, pasti ingin melakukan apapun untuk membahagiakan atau memenuhi keinginan mereka. Begitu juga saya. Akhir-akhir ini kedua orang tua saya ribut soal "Kapan menikah". Betapa saya ingin mewujudkan keinginan mereka. Tapi sekali lagi menikah adalah masalah masa. Ya. Saya akan segera menikah saat masanya tiba.... Mumgkin hanya itu jawaban saya pada mereka. Fiuuuh. I'am so sorry Mom, Dad. Saya pasti menikah jika waktunya memang telah tiba.... Doakan saja.... 






Thursday, 22 May 2014

Epik

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin membaca epik Ramayana dan Mahabharata. Walau epik ini brasal dari negeri Gangga, tapi bisa dibilang masyhur di Indonesia. Nah, saat ini, epik Mahabharata diangkat menjadi sebuah serial televisi. Bahkan serial Mahabharata juga ditayangakan kembali di Indonesia dengan pemain baru dan tentu saja dengan efek kamera yang lebih bagus daripada serial tahun 90-an (zaman kanak-kanak dulu). Ya. otomatis saya lebih memilih menonton serial ini ketimbang nonton sinetron yang makin hari makin tidak jelas juntrungannya. Ini bukan masalah menjatuhkan karya anak negeri, tapi saya pikir sinetron sekarang ini makin gak jelas dan makin tidak mendidik apalagi yang berisi conten bullying di antara anak-anak sekolahan.

Saya kira lebih baik nonton serial ini walau tidak selalu mengikuti. Saya bisa sedikit bernostalgia dengan cerita Mahabharata dan mengingat kembali nama-nama tokohnya yang seabrek banyaknya. Hehe. Saat saya kecil, almarhum Mbah Kakung saya sering mendongeng tentang epik Mahabharata ataupun Ramayana. Sepertinya beliau sangat menyukai dua epik tersebut. Bahkan nama saya diambil dari salah satu tokoh dalam cerita Ramayana. Seperti yang kita tahu, kisah Mahabharata dan Ramayana ini telah menginspirasi kesusastraan Jawa kita. Ceritanya disadur bahkan kita juga mengilhami pertunjukan sendra tari dan perwayangannya. Rasanya betapa kampungannya jika belum mebaca dua epik ini. Hadeuh. Jadi... secepatnya saya harus membaca epiknya mumpung 'hasrat' membaca masih membara. He.


Monday, 12 May 2014

Beruntung atau Bersungguh-sungguh?

Hi there!
Ternyata sudah masuk tengah bulan Mei dan blog ini pun semakin jarang disentuh. Entah kenapa, rasanya tak ada waktu lagi untuk menuliskan hayalan atau sekedar mencorat-coret page blog ini. Mungkin akhir-akhir ini, saya lagi senang nonton film dan menerjemahkan puisi ditambah mengurus surat-surat aplikasi S2. Akhirnya hari ini saya sempatkan mencoba menulis lagi.

Teman saya bilang, saya bukanlah orang yang beruntung. Tahun lalu, dengan segenap jiwa saya mengurus perlengkapan aplikasi beasiswa S2 yang diadakan DIKTI, namun saya tidak lulus. Hal ini berbanding terbalik dengan salah satu teman saya yang menyiapkan aplikasi seadanya dan ternyata lulus S2 dan mendapat beasiswa. Kata teman saya, saya bukanlah orang yang beruntung. Namun, saya tidak pernah menyesali dan mengutuk Tuhan karena menciptakan saya sebagai orang yang tidak beruntung. Saya yakin semua ada hikmahnya. 

Hikmah yang saya rasakan adalah kebersamaan dengan keluarga terutama papa. Bayangkan kalau tahun lalu saya lulus S2! Tampaknya saya tidak akan pernah menghabiskan waktu agak lama bersama keluarga karena selama ini, sejak menamatkan sekolah dasar hingga kini, saya selalu berkelana meninggalkan rumah. Setidaknya saya bisa berbakti pada kedua orang tua dan bertengkar dengan adik perempuan saya satu-satunya atau bermain dengan sepupu-sepupu kecil saya. Hikmah lainnya adalah saya diberi keberanian lebih untuk bermimpi melanjutkan pendidikan ke belahan bumi lainnya. Dulu, saya tidak berani untuk mencoba apply beasiswa ke luar negeri. Entah kenapa sejak mengunjungi negeri tetangga (lagi-lagi ini hikmah karena tidak lulus S2 tahun lalu), saya ingin melangkahkan kaki lebih dan lebih jauh. Salah seorang teman saya terheran-heran dan berkomentar, "Ngapain apply ke luar banyak-banyak, Nta? Palingan gak lulus," Saya hanya bisa tersenyum. Yang penting saya mencoba. Setidaknya langkah pertama telah terlewati saat kita telah mencoba.

Kembali ke topik semula. Saya lebih memilih untuk menjadi orang yang bersungguh-sungguh daripada orang yang beruntung karena manusia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sebelum mereka merasakan kesedihan. Begitu juga dengan keberuntungan. Orang yang selalu beruntung tidak pernah merasakan nikmat hidup karena mereka tidak pernah bersungguh-sungguh mendapatkan apa yang mereka dambakan. Semua yang mereka inginkan, mereka dapatkan dengan cuma-cuma hingga pada akhirnya mereka pasti kebosanan. Jadi, saya lebih memilih untuk menjadi orang yang bersungguh-sungguh daripada beruntung. Tak masalah jika dibilang bukan orang beruntung. Saya hanya tersenyum simpul saja.

Tuesday, 14 January 2014

Jadikan Motivasi

Sudah 10 hari tidak menulis di blog. Tiba-tiba saja, saya sudah bersibuk ria kembali mengejar mimpi dan harapan. Awal tahun kali ini, dimulai dengan kesibukkan apply beasiswa. Oleh karena beasiswa pakai surat rekomendasi dosen, jadilah saya kembali ke alam saya, alam Jogjakarta. Nggak mungkin kan minta rekomendsi lewat sms dan e-mail. Agak-agak kena homesick sih karena kelamaan pulang ke rumah kemaren. Kalau di rumah, makan dan keperluan gak usah dipikirkan. Nah kalau di sini, ya harus memikirkan sendiri cara untuk hidup. Jalannya ya bekerja lagi seperti dulu. Kerja apa saja yang penting halal demi dapat beasiswa melanjutkan studi. Ini di Jogjakarta! Jadi nggak ada kata gengsi untuk bekerja. Inilah salah satu yang saya sukai dari kota ini. Mahasiswa seterkenal apapun kampusnya tetap tidak gengsi untuk bekerja. Masyarakatnya juga tidak suka mencemooh mahasiswa yang bekerja. Mereka malah menyemangati dan memuji sehingga kami lebih bersemangat untuk mengejar mimpi. That's why I love this City very much.

Kembali lagi ke topik pertama yaitu berburu surat rekomendasi dosen. Berhubung beasiswa kali ini adalah beasiswa luar negeri, kami (saya dan Eva) memutuskan untuk meminta surat rekomendasi dari dosen-dosen yang sudah bergelar Profesor dan Doktor. Awalnya, saya agak takut dan grogi. Kalau sudah terjangkit virus grogi akut, saya bakal melakukan hal-hal ceroboh. Dari mulai menjatuhkan map hingga menabrak meja. Sebenarnya takut saja jika beliau-beliau tidak 'welcome'. Hari pertama mengadu nasib, alhamdulillah ternyata dimudahkan. Berhubung kami belum mengisi formulir, maka kami membuat janji bertemu hari Ahad pagi di rumah beliau. Ternyata di hari H, kami terlambat datang karena beliau sudah pergi menghadiri sebuah acara. Sore hari, kami datang lagi ke sana. Namun beliau sedang istirahat. Langsung saja merasa tak enak hati karena kami terlambat datang. Akhirnya hari Senin pagi, kami datang keruangan dosen yang lain. Dan ternyata beliau sedang ada rapat. Akhirnya kami menunggu hingga selesai rapat. Walhasil, setelah diberi beberapa nasehat, kami mendapatkan tanda tangan beliau. Beliau sangat berharap agar kami berhasil mendapatkan beasiswa itu.

Setelah pamit, kami kembali ke ruangan dosen yang tidak jadi kami temui kemaren. Awalnya takut dimarahi karena telat datang. Saat masuk ruangan, malah beliau yang minta maaf karena kemaren harus pergi menghadiri acara. Dan kami mendapat satu 'bonus' dosen lagi, seorang profesor dalam bidang Sastra. OMG! I'am his fans! Beliau adalah dosen yang meperkenalkan saya pada Dante, sang maestro pencipta La Divina Comedia, dalam waktu 10 menit saja. Setelah itu, beliau tidak mengajar kami karena menjadi atase pendidikan di Mesir. Seperti biasa. sebelum meminta tanda tangan, beliau berdua membuka obrolan ringan menanyakan kabar dan seputar beasiswa. Beliau-beliau tampak interested sekali saat kami mengajukan beasiswa tersebut. Sekali lagi, Beliau-beliau sangat berharap kami bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Baiklah! Jadi ada tiga orang dosen yang sangat berharap. Saat kami melangkahkan kaki ke luar ruangan, salah seorang dari beliau berkata' "Kalau sudah sampai di sana, jangan lupa kirim e-mail ke saya, nanti saya jenguk berdua dengan Pak Syamsul". 

Cesss! Saya terharu sekaligus terbebani. Harapan mereka tampaknya besar sekali. Saya takut mengecewakan beliau bertiga. Saya takut mengecewakan alamamater saya. Namun, saya berpikir kembali. Kenapa harus terbebani. Semestinya saya menjadikan harapan ini menjadi motivasi saya. Saya harus tetap optimis. Saya harus memperbanyak usaha dan tentu saja doa saya. Baiklah. Saya akan menjadikan harapan ini sebagai motivasi bukan sebagai beban.
   

Tuesday, 22 October 2013

No Cry

"TIDAK LULUS"

Dan saya tidak merasakan kesedihan sedikitpun. Berbeda 180 derajat saat tidak lulus beasiswa S2 yang lalu. Saya yakin masih banyak yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan kedua orang tua. Mungkin bukan saat ini waktunya. Selalu saya percaya bahwa Tuhan menyiapkan kejutan yang lebih indah dari yang kita inginkan. Saya hanya dapat berdoa semoga saya diberikan umur yang panjang agar saya dapat membahagiakan kedua orang tua. Begitu juga sebaliknya.

Monday, 12 August 2013

Menurut

Terkadang yang kau impikan tidak kau dapatkan. Ini bukan masalah kurangnya usahamu atau doamu. Bisa saja ini adalah masalah waktu atau orang-orang di sekitarmu. Maklumi saja. Dengarkan saja! Sebagian orang bisa sukses secara instan bak buah-buahan karbitan. Namun, sebagian lagi harus merasakan lika-liku panjang untuk mencapai sesuatu yang disebut kesuksesan. Kau termasuk yang mana. Mungkin aku termasuk golongan kedua.Kau harus mengerti bahwa orang lain tidak pernah menilai dari proses yang kau jalani. Mereka hanya menilai hasil akhirnya saja.

Kau mungkin juga punya mimpi sendiri, namun apalah gunanya mewujudkan mimpi tanpa ridho orang tua. Baiklah. Kau boleh saja bermimpi jadi seorang dosen ahli bahasa dan pengusaha, namun belum tentu kedua orang tua menyetujuinya. Lantas, ikuti saja saran mereka. Toh kau masih bisa mengajar, menulis, dan juga menjadi pengusaha... *Hidup ujian CPNS!!!!!!!!!

Friday, 28 June 2013

Tak Ingin

Dan terkadang kau tak menginginkan cerita-cerita yang kau tulis menjadi kenyataan. Begitu juga denganku, tak semua kisah yang kutulis adalah sebuah dunia imajinasiku yang ingin kuwujudkan. Terkadang, aku menulis sebuah kisah untuk menyampaikan satu ketakutan yang kurasakan. Sungguh! Aku tak ingin kisah yang kutulis beberapa tahun silam itu menjadi kenyataan. 


Friday, 21 June 2013

Rindu Jatuh Cinta

Jatuh cinta itu mungkin menyenangkan, namun terkadang pula menyakitkan. Dan aku pernah merasakan sakitnya jatuh cinta. Dia dekat dan nyata, namun aku tak mampu berkata-kata. Raga mungkin saja dekat, namun hati siapa yang tahu. Aku hanya mampu memikirkannya atau hanya sekedar memandangnya dari jarak yang tak seberapa. Setiap hari hanya berharap semoga dia punya rasa yang sama. Setiap hari hanya berangan-angan menjalin masa-masa bersamanya. Sakit bukan memendam rasa terlalu dalam dan terlalu lama?

 Ah... apalah daya. Ini salahhku jua. Aku bahkan tak punya setitik keberanian untuk mengungkapkan, apalagi sebelangga. Akhirnya, dia benar-benara pergi begitu saja. Tanpa pamit bahkan tanpa meninggalkan sepatah kata. Dan yang terjadi selanjutnya adalah aku tidak ingin merasakan cinta. Siang malam kuingkari semua rasa. Berhari-hari aku berlari meninggalkan cinta jauh di belakangku. Kututp dan kukunci rapat hati ini bak benteng perang nan kusam dan penuh aroma kematian agar tak sepotong cinta pun datang menghampiri.

Aku bebas! Aku tak akan pernah tersakiti oleh cinta! Aku bersorak riang mendeklarasikan kemerdekaanku atas jajahan cinta. Aku tak perlu lagi menangis dan meratap menahan sesak di dada. Bahkan tak ada lagi debaran jantung saat berpapasan dengan seseorang yang menawarkan cinta. Semuanya kulalui dan kutinggalkan. Aku tak mau lagi menoleh pada cinta. Untuk apa mencintai jika akhirnya harus tersakiti? Lebih baik begini. Sendiri tanpa harus tersakiti.

Namun, sang maha cinta tetap berkuasa. Ia luruhkan kebencian yang tertanam dalam ini. Dengan mudah saja bak membalikkan telapak tangan, Ia ciptakan sepotong kecil kerinduan. Kerinduan untuk jatuh cinta kembali. Ya. Rindu jatuh cinta. Benar saja! Aku merindukan debaran-debaran jantung saat aku berpapasan dengan cinta, bahkan aku mungkin merindukan rasa sakit karena harus menahan gejolak cinta yang kurasa.

Mungkin memang kini saatnya aku merobohkan benteng hatiku nan dingin dan kelam. Mungkin memang kini saatnya kubangun rumah mungil penuh cinta di lahan hatiku. Ya. Mungkin memang ini saatnya menghapus semua kebencian dan saatnya berdamai dengan cinta. Jika akhirnya tersakiti lagi, aku yakin bahwa aku siap untuk bangkit kembali dan menemukan cinta yang lainnya. Aku harus tersadar bahwa tidak semua cinta itu menyakitkan...


Tuesday, 14 May 2013

Tergoda Keinginan

Ini bulan Mei 2013. Dan banyak sekali  hal-hal yang menggoda dan benar-benar saya inginkan. Baiklah. Entah kenapa, saya ingin sekali membeli sebuah blus warna biru muda. Ini sebenarnya adalah keinginan yang sudah sangat lama terpendam. Tapi, pas lihat isi dompet, jadi nggak tega untuk membelinya. Kemaren, saat browsing, saya dapat kabar kalau tanggal 17 Mei 2013 ini film Star Trek tayang di seluruh bioskop. Nah lho! Tergoda lagi. Lalu, tadi sore saat baca-baca status di home facebook, saya dapat kabar lagi kalau tanggal 27 Mei 2013 buku terakhir trilogi Negeri 5 Menara akan beredar. Waduhhh!!! Tergoda lagi!!! Ini gawat!

Namun, ketika dipirkan lagi. Hitung-hitung pemasukan lagi. Tampaknya saya lebih memilih membeli barang-barang yang saya butuhkan ketimbang barang-barang yang saya inginkan. Baiklah, untuk saat ini, saya tidak menginjakkan kaki di Pands atau Toko buku. Saya harus menginjakkan kaki ke supermarket dan membeli barang-barang yang memang saya butuhkan. Jadi, utamakanlah kebutuhan daripada keinginan. Kalau dituruti, keinginan itu nggak akal deh ada habisnya. 

Monday, 29 April 2013

Status

"Semoga saja kita masih bisa bertemu di lain waktu"
Kubaca rangkaian kata-kata itu satu persatu. Kemudian memasukkan handphoneku ke dalam tas berlalu begitu saja. Dan akhirnya aku pun terlupa.

"Aku ingin bertemu denganmu lagi. Apakah kau keberatan?"
"Tentu saja tidak,"
Kau memesan secangkir coklat hangat dan aku memesan segelas orange juice. Kita bercakap-cakap seru sambil sesekali menyesap minuman masing-masing. Itu pertemuan kedua kita setelah pertemuan "tak sengaja" sebelumnya.

"Kau beda rupanya. Kau berbeda dari semua teman-teman perempuan yang kukenal. Aku menyukaimu,"
Aku hanya terdiam sambil menyembunyikan pipiku yang rasanya tiba-tiba memerah. Dan... saat itulah debaran hangat mulai menyusup ke dalam hatiku. Mungkinkah aku mulai jatuh cinta?

"Kau tahu, Aku pernah berharap bertemu dengan seseorang yang kuanggap istimewa dengan cara yang tak biasa. Seperti pertemuan kita,"
Lagi-lagi, aku hanya diam menahan debaran-debaran yang semakin hari semakin kencang. Aku tak tahu harus berkata apa.

"Astaga. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu! Jangan pernah berkeliling kota sendirian macam ini lagi,"
"Aku sudah terbiasa seperti ini," Kataku membela diri. Saat itu, aku ingin bertanya padanya mengapa ia terlalu khawatir dan nyaris marah karena aku berkeliling kota sendirian. Namun, sayangnya pertanyaan itu tak pernah terucapkan.

"Sudah sampai mana? Jaga dirimu baik-baik ya. Di sini sedang mati lampu,"
Beberapa kali handphone-ku berdering memuntahkan beberapa pesan singkat darimu. Mengapa kau sekhawatir ini padaku. Padahal kita hanya teman biasa. Apakah kau menyimpan suatu rasa untukku? Lagi-lagi pertanyaan itu tak pernah kutanyakan padamu. Namun, semakin hari, aku semakin berharap.

"Kau harus mampir di kotaku. Aku menunggumu di alun-alun kota,"
Aku tak bisa menolak ajakanmu. Pagi itu, aku singgah di kotamu. Entah kau bawa aku kemana. Yang jelas kita makan makanan khas kota kelahiranmu. Kita bercengkrama hingga waktu memisahkan kita. Dan aku tampaknya benar-benar "menyukai"mu. Namun sayang, kau tetap membisu begitu juga diriku.


 "Aku tidak diperbolehkan menikahi perempuan beda suku,"
Kubaca tulisanmu dalam chatting box di salah satu jejaring sosialku. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku hanya menuliskan satu kata balasan, yaitu "Sabar ya" dengan menambahkan emoticon senyuman. Setelah itu, kau menghilang. Benar-benar menghilang tanpa kabar berita. Ya. Kau tinggalkan aku tanpa kepastian. Dan akhirnya, kau... kau... ah! Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. 

Mungkin memang aku saja yang terlalu perasa dan berprasangka hingga aku berharap kau menyimpan rasa, yang dinamakan cinta itu, utnukku. Rupanya aku salah. Nasi telah menjadi bubur. Kenangan itu tak pernah bisa dihapus. Baikah, kutertawakan saja masa lalu itu. Mungkin cinta memang butuh status agar valid dan tidak mengecewakan pihak-pihak tertentu :D :D

Saturday, 23 February 2013

Kapan Menulis (Lagi)?

Ah. Sudah lama tidak duduk mematung di depan layar laptop sambil menarikan jemari di atas keyboardnya. Rasanya waktu untuk duduk berhayal di depan layar sudah sangat mengecil frekuensinya. Kesibukan yang mulai memadat ini tampak menjadi pemicunya sehingga waktu luang digunakan untuk memanjakan mata alias tidur, menonton film, dan memelototi acara televisi.

Buat saya, menulis itu bukan suatu hal yang harus di-publish sebagai kebanggaan diri. Menulis itu juga bukan obsesi untuk menjadi penulis profesional. Buat saya, menulis itu bisa dibilang kebutuhan sekunder. Lewat tulisan, rasanya saya bisa bercerita banyak tentang segala hal yang saya pikirkan. Menulis juga merupakan sebuah wadah bagi saya untuk mencurahkan hayalan, harapan, dan bahkan ketakutan saya. Setelah menulis, rasanya lega sekali seperti ada beban yang dikeluarkan dari dalam diri ini. Jadi, menulis itu ya seperti terapi dan media refreshing untuk saya. Makannya, saya lebih suka menghabiskan waktu senggang untuk berdiam diri di kamar sambil menulis daripada pergi jalan-jalan menonton konser. Bisa dibilang, telinga saya tak cukup kuat mendengar hentakan alunan musik yang terlalu keras menggelegar. Hehe. Ya, Tuhan! Saya benar-benar sudah terlalu rindu setengah mati untuk menulis. Jadi, kapan direalisasikan, shin? Kapan menulis (lagi)?

Monday, 11 February 2013

Au Revoir

Kemunculanmu menambahkan lipatan kebencianku. Jangan pernah berharap aku menanyakan tentangmu dan masa depanmu. Kau kira aku sudi? Aku bahkan sudah tak peduli. Aku tidak seperti yang dulu. Yang selalu mengharap kedatanganmu lalu menyapaku dan mengajakku tertawa sambil menyisiri trotoar jalanan kota ini. Pergilah menjauh dan jangan pernah menyapaku walau hanya melalui mimpi. Anggap saja kita tak pernah kenal. Kumohon jangan lagi pernah muncul di hadapanku. Pergilah dan selamat tinggal untuk selamanya....

Friday, 1 February 2013

Kau Pergi

Kau tahu, rindu ini ternyata menggebu-gebu untukmu
Betapa rindunya untuk sekedar bercengkrama bersenda gurau denganmu
Mungkin kini kau telah lupa bahwa kita pernah merajut hari-hari bersama dulu
Kau tahu, betapa aku ingin bercerita banyak hal padamu
Namun tampaknya kau telah bosan mendengarkanku bercerita tentang cinta lalu yang menyakitiku

Kini kau pergi meninggalkanku menemukan sobat baru
Inikah sebuah pertemanan
silih berganti
datang dan pergi
Aku tidak mengharapkan pamrihmu
Aku hanya ingin kau tak melupakanku
itu saja rasanya telah tercukupi

Entahlah... Aku hanya bisa menunggumu di sini
berharap kita masih dapat berbagi cerita dalam episode hidup yang terlalui
berharap kita masih dapat bercerita tentang mimpi-mimpi kita di masa yang akan kita lalui

Harapanku sirna
kau pergi entah kemana



Friday, 11 January 2013

Busy January

Tahun baru, kesibukan baru. Kembali seperti semula. Aku mengisi hari-hariku lagi dengan berbagai kesibukan. Walau aku pecinta kamar dan nggak suka jalan-jalan, tapi aku nggak betah juga kalau nggak mengerjakan apapun. Dan Januari 2013 ini, aku mulai lagi. Alhamdulillah, nggak nganggur-nganggur amat setelah tamat. Sekarang aku menyibukkan diri mengurus lapak sweet corn bersama anak-anak Parapluie. Dan ini adalah pekerjaan yang paling berat menurutku. Waktuku banyak tersita di sini. Kadang, aku harus mengalah dan mengesampingkan egoku plus harus bersabar. Tapi, itulah jalan menuju kesuksesan. Penuh halangan dan rintangan, tapi selalu berakhir dengan manis. Aku percaya Tuhan selalu memperhatikan hamba-Nya yang berusaha keras. 

Selain mengurus lapak, aku juga mengajar privat. Itung-itung ngumpulin duit buat bayar kosan tahun depan biar pengeluaran orang tua lumayan berkurang. Kali ini, aku ngajar seorang anak keturunan Tiong Hoa. Namanya Kalvin. Anaknya rajin dan juga pintar. Jadi, nggak terlalu susah untuk mengajarinya walau dia juga sedikit usil. Yah... namanya juga anak-anak. Hehehehehe. Aku juga senang karena Kalvin dan keluarganya tidak keberatan jika aku memulai mengajar privat setelah shalat magrib. Senangnya mereka bisa pengertian seperti itu. Tidak seperti cerita-cerita yang pernah kudengar.

Saat ini pun les bahasa Inggris pun aku jejali. Jadilah aku sibuk setiap hari. Rasa-rasanya tiap hari aku lari marathon. Pagi sampai sore jaga lapak, terus les bahasa Inggris, terus ngajar privat. Tapi ada sedihnya juga sih karena waktu menulis jadi tersita. Baru mau mulai nulis, eh udah keburu ngantuk. Padahal menulis itu adalah obat mujarab penghilang stresku. Semoga weekend---yang sengaja kubuat menjadi hari libur nasionalku--- bisa aku pergunakan untuk menulis. Semangatku harus terus berkobar, menyala-nyala, menari-nari, berwarna-warni, dan meletup-letup bak kembang api di malam tahun baru lalu.


 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang