Showing posts with label hayal. Show all posts
Showing posts with label hayal. Show all posts

Friday, 24 January 2014

Abang

Abang ganteng banget deh, tapi cuma di film Jab We Met. Cool, cuek, tapi diam-diam perhatian. Hihihi
Andai saja... hohoho


*Sorry hanya iseng he...

Sunday, 5 May 2013

Potongan: Cinta Monyet Arya


Malam itu rembulan di langit tidak lagi sendirian. Banyak gemintang bertebaran dan  berkelap-kelip. Dari sebuah balkon rumah, tampak Arya memandangi rembulan dan gemintang tersebut. Ia tidak menghiraukan semarak celotehan keluarganya yang sibuk menyambut anggota keluarga baru mereka. Siapa lagi kalau bukan putri kecil Ratih. Pikiran Arya terbang melayang ke memori yang terjadi beberapa tahun silam. Arya masih ingat betul hari itu. Satu hari Senin beberapa tahun silam saat ia hendak pergi ke London untuk melanjutkan studinya. Saat itu, ia berjalan menuju pintu keberangkatan. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Seorang gadis remaja memanggil namanya dari belakang. Saat ia membalikkan badannya, ia melihat seorang gadis berseragam putih abu-abu dengan bandana putih di rambut berlari-lari mendekatinya. Gadis itu tak lain adalah Mara. Mara terus berlari ke arahnya tanpa menghiraukan berat tas ransel yang digendongnya. Saat Mara berdiri sejajar di hadapannya, Arya bisa melihat jelas wajah gadis itu dan tentu saja potongan rambutnya yang macam mangkuk mie ayam. Mara lalu mengulurkan sebuah bingkisan kecil kepadanya. Arya mengambil bingkisan itu dan menyimpannya di dalam saku celana lalu ia mengucapkan terima kasih kepada Mara.

“Aku… aku mencintai Mas Arya,”
Arya kaget saat mendengarkan pernyataan Mara yang blak-blakan. Selama ini, ia memang menyayangi Mara dan ingin selalu melindunginya. Namun, ia masih belum yakin apakah rasa itu cinta kepada seorang gadis atau cinta kepada seorang yang telah ia anggap sebagai seorang adik seperti halnya Ratih. Tiba-tiba panggilan untuk keberangkatan penerbangannya menggaung ke seantaro bandara. Ia tak dapat menjelaskan apa yang ia rasakan pada Mara. Ia hanya mengelus puncak kepala Mara sembari berkata,
            “Aku pergi dulu ya, Ra,”
            Setelah itu, Arya berlalu dari hadapannya dan masuk ke dalam pintu keberangkatan. Dari balik kaca hitam ruangan tersebut, Arya menatap punggung Mara yang makin lama makin menjauh kemudian hilang di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Selama penerbangan pun, ia memikirkan perkataan Mara. Mara itu memang lucu dan ramai. Selain itu, ia sangat dekat dengan Mara. Mara  pun sering kali  merepotkannya dengan tingkah laku yang dibuat-buat untuk menarik perhatian dirinya. Bukannya jengkel dan kesal, Arya malah menuruti saja kemauan gadis itu. Ia sadar jika ia memang menyayangi Mara. Namun, ia belum bisa menamai perasaan yang ada di dalam hatinya. Hingga suatu saat, saat ia terpisah beribu-ribu mil dari gadis itu, Arya tersadar bahwa ia mencintai Mara. Sering kali Arya merindukan canda tawa gadis itu. Arya selalu menunggu masa-masa liburan agar dapat pulang ke Indonesia dan bertemu dengan Mara. Namun, beberapa kali Arya pulang, tak sekalipun ia bertemu dengan Mara. Ia pun malu menanyakan kabar Mara kepada Ratih.
Dan akhirnya, setelah sekian lama, ia bertemu dengan gadis itu kembali. Banyak sekali yang berubah dari Mara. Gadis itu tampak lebih dewasa dalam perkataan maupun tindakannya. Tak ada lagi Mara yang cerewet dan sering bermanja-manja minta diperhatikan olehnya. Betapa ingin ia memeluk, mengacak-acak rambut gadis itu, dan mengatakan padanya bahwa ia mempunyai rasa yang sama pada gadis itu. Tapi, itu tak mungkin terjadi. Tampaknya, Mara telah lupa dengan pernyataannya saat itu. Mungkin saja dirinya hanya cinta monyet bagi Mara. Arya meneguk soft drink-nya. Di langit sana, rembulan telah tersembunyi di balik guratan awan. Malam semakin larut. Suasana yang tadi ramai pun lambat-laun menghilang dan tergantikan dengan suara jangkrik yang bersahutan. Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundaknya. Arya menoleh ke samping dan mendapati ibunya berdiri di sisinya.
“Mama senang sekali mendapat kado terindah dari Ratih. Tapi, Mama akan lebih bahagia kalau anak laki-laki Mama ini cepat-cepat juga melepas masa lajangnya. Apalagi yang kamu tunggu, Nak? Umur sudah lebih dari cukup, pekerjaan sudah ada dan mapan,” kata sang ibu sambil menatap anak sulungnya itu.
“Tenang Ma. Arya juga tidak mau jadi bujang lapuk. Memangnya mama mau menantu yang seperti apa?” Katanya sambil memeluk sang ibu dengan tangan kanannya.
“Terserah kamu saja. Yang penting satu iman. Hmm… tapi, Ar, kalau bisa yang seperti Mara ya,”
Arya terdiam seketika. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan.

Thursday, 4 October 2012

Rumah Puisi


Nanti, kau tak perlu mengajakku berbulan madu ke Bali

apalagi ke Pantai Senggigi
Cukup ajaklah aku ke Rumah Puisi
di antara kaki-kaki Gunung Singgalang dan Merapi
di antara Padang Panjang dan Bukittinggi

Lebaran kemaren, aku dan keluarga sempet pulang kampung ke Lintau Buo. Waktu berada di antara daerahPadang Panjang dan Bukittinggi, gak sengaja aku liat papan besar bertuliskan Rumah Puisi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jatuh cinta sama puisi. Hmm mungkin karena skripsiku kali ya. Hehehe. Namun sayang beribu sayang, keluargaku nggak ada yang mau singgah ke sana. Soalnya yang jatuh cinta sama puisi kayaknya cuma aku deh. Ya sudahlah, perjalanan tetap dilanjutkan ke Bukittinggi. Sebenarnya aku berharap banget bisa ke sana, tapi aku kan jarang pulang ke Padang. Hadeuh. Semoga suatu hari nanti, ada yang ngajak ke sana.

sumber poto: google ya (belum sempat jepret sendiri)




Monday, 1 October 2012

METAMORFOSIS



Udah lama ya ternyata aku gak nulis cerita-cerita ringan lagi. Hehe. Mungkin akibat kejar tayang skripsi nih. Finally hari ini, aku mencoba menulis cerita-cerita ringan lagi. Dibuat sendiri dan untuk konsumsi pribadi (gak pede publish sih tepatnya hehe). Susah juga ya kalo udah lama nggak nulis cerita ringan dan sekarang tiba-tiba nulis yang beginian lagi. Biasanya berkutat dengan skripsi yang memakai bahasa resmi dan EYD yang forrmal dan bukan hasil ngayal. Cekidot dikit ah di blog hehe.

***********

Kulihat langit masih mendung dan titiktitik hujan membasahi jendela kaca itu.Tampaknya hari ini aku tak ingin membaca novel misteri yang barusan kuambil dari rak baca. Aku malah menatap titik-titik hujan yang menempel di jendela. Pikiranku melayang jauh ke rumahku di kampung. Tiba-tiba aku teringat dengan wajah Bapak dan Ibu yang sangat menginginkanku untuk segera menikah.

“Nduk, kapan kamu mau ngenalin calon suami kamu ke Ibu dan Bapak?” Kata ibu sambil mengelus rambutku sayang.
“Saya belum kepikiran ke sana, Bu. Saya masih fokus menuntut ilmu” Kataku lirih.

Ibu hanya menghela nafas prihatin mendengar jawabanku. Sebenarnya aku juga ingin mengabulkan keinginan bapak dan ibu untuk segera menikah. Namun, masa lalu membuatku beranggapan bahwa semua laki-laki di bumi ini sama saja. Mereka hanya menginginkan kecantikan.
 “Hei! Ngelamun aja, Rei”
Suara itu menyadarkanku dari lamunan panjangku. Lul berdiri di hadapanku sambil tersenyum lebar. Dia segera meletakkan dua cangkir coklat hangat di atas meja dan duduk di hadapanku sambil mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas ransel.
“Rei. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Lul. Sungguh”
“Tidak mungkin Rei. Kau tak kan pernah bisa membohongiku,”
“Lul. Adakah cinta yang benar-benar tulus di muka bumi ini?Aku tak pernah melihatnya”
“Pasti ada. Kau saja yang belum menemukannya”
“Namun, mengapa para lelaki hanya mencari kecantikan saja? Percayalah... ketika kecantikan itu hilang, mereka pasti akan menghilang juga,”
“Siapa bilang?”
“Aku yang bilang. Dulu saat aku masih seperti seekor anak itik buruk rupa, mereka menghina dan menjauhiku. Namun kini ketika aku bermetamorfosis menjadi seperti angsa yang cantik, mereka semua datang menghampiriku dan menginginkanku,”

Lul hanya tersenyum mendegar opiniku yang sarkas tentang kaumnya. Beberapa saat kemudian, dia melirik jam tangannya lalu menepuk jidatnya. Tampaknya dia melupakan sesuatu atau melupakan janji bertemu dengan seseorang. Buru-buru Lul mengambil buku-bukunya dan memasukkannya kedalam ransel.
“Maaf Rei. Aku harus pergi. Namun yakinlah! Cinta tulus itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengannya. Sampai jumpa besok,”

Bayangan Lul telah hilang ditelan rak-rak buku perpustakaan yang menjulang tinggi. Aku terpekur memikirkan kembali ucapan Lul. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan bayang-bayang masa lalu. Mungkin saatnya untuk berpikir positif. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah buku agenda kusam. Kuambil buku itu dan kubuka satu per satu halaman demi halamannya. Di salah satu halaman buku tersebut, aku menemukan selembar fotoku bersama Lul. Aku tersenyum melihat foto itu. Itu fotoku sebelum aku bermetamorfosis. Perlahan-lahan kubaca rangkaian kata-kata di bawah foto tersebut;

Namanya Rei. Reina.
Mungkin dia tak secantik teman-teman perempuan yang lain. Namun entah mengapa aku terkagum-kagum olehnya. Mungkin karena dia cerdas, ceria, dan selalu optimis. Dan senyumannya sangat manis. Tampaknya, kini aku menyayangi dia bukan sebatas sahabat saja. Aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan ini, namun aku tak ingin merusak jalinan persahabat kami. Biarlah waktu yang akan memberitahunya tentang perasaan ini.

Ailul

Monday, 16 July 2012

Aku Dan Kamu



Aku dan kamu adalah pribadi yang hampir serupa. Keinginanmu dan keinginanku sama. Tujuan yang kita dambakan pun tak ada bedanya. Hanya jalannya saja yang berbeda. Tak apalah! Tak usah risaukan bagaimana atau dari mana aku dan kamu berjalan masing-masing tanpa saling berpegangan tangan. Percayalah hati ini yang akan saling menguatkan. Semoga aku dan kamu bertemu di tempat tujuan sembari tersenyum satu dengan yang lain. Dan di sanalah kau dan aku akan saling berpegangan tangan tuk menguatkan satu sama lain. Untuk mengisi hari-hari melanjutkan sisa perjalanan ini.

Thursday, 12 April 2012

Bunda Snack Impian

Tanggal 3 Mei 2011. Tanggal dimana aku menjatuhkan pilihan menjadi seorang entrepreuner bersama dengan lima orang temanku.Nggak kerasa sebentar lagi setahun jalan ini sudah kutempuh. Banyak halangan, rintangan, tapi tidak sedikit juga suka-suka dan kegembiraannya. Semoga inilah jalan yang benar, jalan yang diridhai Tuhan. Amin.

Oh ya... selain merintis usaha bersama teman-teman, aku ingin sekali memajukan catering kecil-kecilan mamaku. Alhamdulillah, teman-teman Parapluie kasih support yang sangat besar. Setidaknya pengalaman penerbitan yang hampir setahun ini bisa dimanfaatkan untuk catering mama. Amin. Ngomongin soal catering. Sebenarnya catering yang dirintis mama itu adalah ketering iseng-iseng untuk nambah-nambahin pemasukan rumah tangga. Biasanya nerima nasi kotak, snack, hantaran untuk pernikahan, kue pengantin, kue ulang tahun dan lain sebagainya. Tapi yang paling rutin adalah pesanan kue kering dan basah pada saat Lebaran. Bisnis kecil-kecilan ini sebenarnya sudah dirintis mama sejak aku masih duduk di kelas 5 SD. Lumayan sudah lama bukan? Dan iseng-iseng, mama memberi nama cartering tersebut "Bunda Snack".

Dulu mama sering ngeluh soalnya anak-anak beliau nggak ada yang mau terjun ke dunia tata boga. Mama sempat panik kalo barang-barang seperti oven, loyang, dsb itu akan sia-sia jika mama sudah nggak mampu menjalankan catering itu lagi. Sedih juga sih dulu. Soalnya seorang karyawan mama pernah bilang bahwa dia ingin sekali bisa punya catering kayak mama, tapi dia nggak bisa karena keterbatasan ekonomi. Sempet terpikir sih untuk berbuat seuatu, tapi bingung dan nggak berani mengambil langkah karena belum punya pikiran untuk keluar dari zona nyaman, terjun ke dunia wirausaha.

Namun setelah hampir setahun perjalanan bersama tim Parapluie, finally aku putuskan untuk mencoba terjun lebih dalam lagi di usaha catering mama.Kalo dulu aku cuma beli bahan kue, packing, ato sekedr bantuin menghias kue, sekarang aku mau coba yang baru, menjadi owner dan seksi sibuk sana-sini. Kemaren udah bilang ke mama tentang rencanaku ini. Mama empet terkejut dannyeletuk nanyain apa aku  yang seorang mahasiswa nggak malu jualan kue. Aku jawab aja kalau zaman sekarang pertanyaan tersebut udah nggak relevan lagi untuk ditanyakan. (Pengen dijabarin, tapi kayaknya kepanjangan deh)

Langkah pertama, aku harus membuat 'aturan main' catering tersebut. Aku harus punya kaki tangan yang bisa kupercayai. Than, aku butuh:

1. Kasir. Tugasnya otomatis mencatat semua pesanan yang masuk. Jadi,semua orang hanya bisa melakukan pemesanan lewat kasir termasuk juga orang yang re-seller kue kering. Setelah itu, kasir bertugas menempelkan pesanan yang sudah masuk ke steroform dan mengurutkannya dari yang pertama pesan sampai yang baru. Kasir juga menerima uang dari pembeli dan mencatatnya lalu melaporkan kepada bendahara.

2. Bendahara. Ini berfungsi untuk mencatat keluar masuknya uang dan melaorkan kepadaku.

3. Driver. Driver juga sangat dibutuhkan untuk mengantar pesanan daan juga membantuku membeli bahan-bahan kue yang stoknya habis.

4. Kitchen's chief. Tugasnya meng-handle karyawlan yang membuat kue dan melaporkan bahan-bahan yang telah habis kepada saya. Aku ingin mama yang di sini soalnya beliaulah yang lebih mengerti tentang dunia perkuehan nasional. Hehehe.

5.Bagian Packing. Setelah kue matang dan siap dikemas, pasukan inilah yang beraksi.Pasukan ini juga harus beraksi bersama kasir untuk packing sesuai pesanan para customer.

Semoga tulisan ini bisa terwujud segera. Sekarang... harus semangat ngerjain skripsi dulu dan selesai secepatnya. Ya Allah... Sahhilnii


Friday, 18 November 2011

Menurut Saya



Menurut saya:

Kuliah itu bukan untuk cari kerja, tapi kuliah itu untuk cari ilmu. memang sih, munagkin dulu masih relevan pertanyaan 'kalo aku kamu masuk jurusan ini, nanti aku jadi apa yaat?', tapi jaman sekarang sih udah gak relevan aja. Buktinya bisa dilihat di sekitar kita loh! Banyak lulusan dari jurusan bergengsi atau bahkan universitas bergengsi yang masih luntang-lantung.

Menurut saya:

Semua pekerjaan di dunia ini mulia dan bermanfaat.Yang penting pekerjaan itu halal dan bisa membagi manfaat untuk orang lain. Pekerjaan yang hebat di muka bumi ini bukan hanya menjadi dokter atau pegawai bank aja kok

Menurut saya:

Sebuah kebahagian tidak bisa diukur dari segi materi saja.

Menurut saya:

Terkadang kepuasaan menjalani suatu pekerjaan bukan karena gaji yang didapatkan, tapi manfaat apa yang dapat dibagikan. Jika kamu jadi guru, maka bagikanlah ilmu yang kamu punya. Jika kamu jadi pengusaha, berilah lapangan kerja kepada orang sekitarmu. Atau jika kamu jadi seorang pegawai negeri, berikanlah pelayananmu terhadap masyarakat dengan baik.

Sunday, 6 November 2011

Seandainya Berandai-andai

Ehm. Yup. Aku ngaku deh, kalo salah satu hobiku adalah menghayal dan kalo lagi mood banget, aku sempat menuangkan hayalanku itu di ms wordnya si Buto Ijo. So tadi siang iseng-iseng aku buka lagi deh file-file lama tempat aku menuangkan hayalanku. Sumpah! Ngakak abis deh. Beuh. tulisan-tulisan itu penuh dengan kegalauan. Hahahahaha. 

Trus... trus... ngeliat tulisan itu. Tulisan berupa cerpen yang berjudul Cinta di Lapangan Merah. Sumpah ngakak abis deh baca cerpen itu. Dan sialnya cerpen picisan nan norak plus kampungan itu adalah cerpen buat tugas mata kuliah Menulis Kreatif yang dibukukan dan diperbanyak. Huwaaa! Sumpah deh! Tambah memalukan! Malu! Malu berat! Hehe *cengengesan.

Ya sudah terlanjur basah. Aku buka deh file itu dan kubaca satu-satu. Well. Isinya malu-maluin bangettt. Hahahaha. Serem dan buat aku sakit perut melebihi sakit perut akibat makan cabe rawit 30 biji di warung Mas Kobis*Lebay. Dan nggak tau kenapa. Entahlah. Tiba-tiba inget ama someone yang dulu sekali pernah muncul bak jin botol dalam kehidupanku. Dan celakanya. Hobi terhebohku, yaitu menghayal, tiba-tiba hadir dalam benakku. Menari-nari mengelilingi kepalaku. Dan aku mulai menghayal lagi sambil senyam-senyum sendiri kayak orang sakit gigi. Hmmm.... Seandainya... andai... andai... jika nanti begitu dll *sambil ngeces air liur setangki.

Ah... Sudahlah... aku gak pernah berharap lagi. Well. Aku memang suka menghayal, tapi terkadang gak sudi juga sih cerita hidupku seperti cerita-cerita hayalanku itu. Hahahaha. Well. Well. Selanjutnya cukup I hide inside my deep mind aja hihihihihhi

Ditulis di MK Cafe dengan dalil awal pengen ngerjain makalah seminar proposal skripsi

Thursday, 27 October 2011

Gak, gak, gak jelas...

Niat awal sebenernya pengen ngeblog dan nyampah tentang sesuatu (tanpa banget kayak Syahrini), tapi buntut-buntutnya malah search model-model baju pengantin Minangkabau. Wuahahahahahahahahaha. Heran sendiri bagaimana ini bisa terjadi. Ah. Tadi tuh sepertinya gara-gara liat kumpulan poto temen-temen ma'had dulu deh.Trus tiba-tiba ngeliat potonya salah seorang teman yang pake baju pengantin Minangkabau warna perak berkolaborasi dengan warna ungu. Buat geces aja deh. Mupeng abissss.


Warnanya itu loh. Rancak bana! perak dipadankan dengan ungu. Humm,,, cantiknya!!!! *masih tetep ngeces. Wew, besok kalo tiba giliranku, aku mau make baju pengantin Minangkabau yang warna ungu ditaburi manik-manik perak dan so pasti ditambah dengan suntiang bunga serunai tujuh tingkat yang berwarna perak juga.


Well... belakangan ini suka ngayal, hmm mungkin karena pengaruh pembuatan proposal skripsi yang kudu serius dan gak bisa dipercandain deh. Makannya, belakangan ini gak pernah menulis tulisan yang rada serius dikit di SATE PADANG ini. Weleh...proposal skripsi dijadikan kambing hitam. Hihi.


Udah malem ternyata. Ya sudah segini dulu deh. Mungkin besok aku bisa menulis tulisan yang rodo berbobot sitik. Good night yo!



Wednesday, 26 October 2011

Gamang





Sore yang...? Ah entahlah, susah sekali untuk mendeskripsikannya. Yang jelas sore ini, aku duduk dan berkutat dengan dunia maya di sebuah warnet yang tidak jauh dari kost. Sengaja aku bertandang ke warnet ini untuk sekedar refresh otak yang sedang semrawut gara-gara dipake buat ngerjain proposal skripsi dan membuat tulisan tentang matrilineal di Minangkabau.

Iseng-iseng aku melihat dan mengubek-ubek FB temen-temen pondokku yang udah pada berstatus menikah dan udah punya anak. Wuihhh... salut banget deh akikah. Coba aja aku yang di posisi mereka, mungkin aku gak sanggup. Bayangin aja... saat ini adalah waktunya untuk bersenang-senang menikmati hidup setelah kurang lebih tujuh tahun tinggal di pondok pesantren. Saat ini waktunya mencari kesibukan diri seperti kuliah, kerja, main dengan teman-teman dan semua kegiatan untuk menyenangkan diri tanpa di bebani sesuatu pun. Pokoknya sih, for me, it's the time to enjoy my self without thinking of someone like a husband or child. So... kalo aku ngeliat temen-temen yang menikah dan udah pada punya anak, aku acungin dua jempol deh. Two thumb up!

Sebenarnya sering terpikir, bahwa pasti suatu saat aku akan berada pada fase yang sama. Memikirkannya saja bisa membuatku ngeri dan gamang setengah hidup. Kira-kira apa yang terjadi ya? Can I do all my resposibilty? Bisakah aku mengurus suami? Rukunkah aku dengan suami? Or can I take care of my children? Can I make my family happy? Arrgghhttt! Berjuta-juta pertanyaan masih terngiang-ngiang di otak ini. Mau gak mau ya kudu dpikirkan karena suatu saat pasti aku akan mencapai fase itu. So... aku teringat sebuah kalimat mutiara "Untuk melampaui sesuatu, kita harus melewatinya". Trus pada akhirnya... dijalani saja kehidupan ini sampai waktunya tiba.

Oh Lord! Help me please! 

(Lagi galau tingkat dewa)

Saturday, 22 October 2011

Viva La Vida

Hmm. Ternyata waktu cepat sekali berjalan. Here I'am. Di pertengahan bulan Oktober tahun 2011. Aku masih di sini menikmati hari. Menikmati kericuhan suasana menjelang seminar proposal skripsi. Menikmati? Well. Aku memang menikmati. Yeah. Menikmati kericuhan, kebingungan, kepusingan seputar seminar dan tetek bengeknya. Well. Semuanya harus aku nikmati agar aku merasa enjoy dan tidak terbebani dengan ini semua. Sulit memang, tapi apa salahnya mencoba. Di sela-sela kericuhan menjelang seminar, masih ada hiburan-hiburan kecil yang menghiburku. Well. I tell you that is not the real entertaiment. Sekali lagi, aku masih menganggap kericuhan lain yang terjadi dalam hari-hariku ini adalah hiburan. Yeah. Bergaul dengan anak-anak INCULS yang beda bahasa, beda budaya, bahkan beda watak. Kadang gondok, tapi kadang menyenangkan. Sekali lagi kukatakan... Dinikmati saja semuanya. 

Yeah. Terkadang bersyukur sekali diri ini mendapat kericuhan yang mengisi hari-hari. Kenapa? Karena aku bisa melupakan semuanya melupakan dia, dia, dan mereka. Yeah. I'am fine wthout them. Aku baik-baik saja tanpa mereka. Mereka? Yup. Mereka yang telah mengisi hari-hariku dan meninggalkanku begitu saja. Tapi biarlah. Toh... saat ini, sedikit demi sedikit aku mulai menghapus mereka dari pikiran dan juga hati. Yah... Tidak ada lagi waktu untuk mengagumi, tidak ada lagi waktu untuk menduga, dan tidak ada lagi waktu untuk termenung memikirkan mereka dan mengharapkan mereka.

Saat ini waktu untuk menikmati hidup. saati ini waktu untuk menyongsong masa depan. Saat ini hanya utuk "Viva La Vida". Yeah. Sudah cukup aku begini. Yeah. Cukup dua kali saja seperti ini. Yup, aku harus tetap semangat dan keraskan hati ini. Viva La Vida!




Saturday, 15 October 2011

Suntiang



Dulu aku mengagumi warna perak. Apalagi jika warna perak menari dan berkolaborasi dengan warna biru tua. Kata orang kolaborasi perak dan biru itu jelek. Norak. Suram. Gak bagus. Tapi entahlah. Aku suka. Karena suka sekali dengan kolaborasi warna tersebut, aku berhayal jika suat saat, jika sampai pada masanya, aku akan memakai baju pengatin tradisional Minangkabau berwarna perak dan biru tua lengkap dengan suntiangya. 

Ya. Suntiang besar setengah lingkaran berwarna perak mentereng. Suntiang besar  seperti kipas lipat yang dibentangkan. Suntiang perak yang mengkilap dan dihiasi oleh kelopak bunga tujuh tingkat, gambar dua burung kecil yang saling berhadapan, serta untaian perak di sebelah kanan dan kirinya. Ingin suatu saat nanti aku memakai suntiang perak itu dengan baju pengantin Minangkabau yang berwarna biru tua ditaburi payet dan bordiran kain perak. Hmm. seperti langit subuh yang bertabur cahaya bintang. Cantik. Segar. menyejukkan hati.

Kemarin saat pergi ke sebuah acara baralek, aku melihat anak daro-nya memakai suntiang perak. Tapi warna perak itu tidak berkolaborasi indah dengan warna biru tua seperti hayalku. Suntiang perak tinggi itu berkolaborasi dengan warna ungu. Indah. Menawan. Elegan. Hmm. Indah sekali kupandang dua kolaborasi itu.

Tapi apapun warnanya, suatu saat aku sangat ingin memakai suntiang perak tujuh tingkat bertabur bunga Serunai itu. Walaupun aku bukan gadis asli Minangkabau, suatu saat aku ingin suntiang perak itu bertengger manis di atas kepalaku. So I'll close my eyes. And when I open my eyes, I'll find someone who stand beside me holding my hand. Yah. (Menghayal dikit)  

Tuesday, 14 June 2011

Arabic Boys Band

Sudah dua hari ini aku begadang menyelesaikan terjamahan cerpen yang notabene menjadi tugas akhir mata kuliah Terjemah II dan menyelesaikan dua proposal skripsi untuk tugas akhir mata kuliahKajian Sastra Arab plus buat calon skripsi kelak. Dan dengan adanya tugas-tugas itu, pastilah aku mengerjakannyalah (anak raji hehe). Untuk tugas proposal skripsi sih sebenarnya gak terlalu ada masalah sih. Yah... walaupun sering kena omel sama dosen pengampu mata kuliah tersebut karena aku gak bisa ngutip padahal cara mengutip udah diajarin dan diulang-ulang hmmm... mungkin otakku ini bebal kali ya... jadi gak enak sendiri sama dosennya nih.

Tapi yang bikin aku uring-uringan, jungkir-balik, dan stres berat yang mengakibatkan aku melampiaskannya pada makanan-makanan pedas seperti penyetaan Mas Kobis, sambel gang buntu, ato mie ayam yang sambelnya bejibun, tentunya, tanpa kecap, serta ngegadoin sambel lotis adalah tugas terjemah. Hmmm... kenapa? karena tugas ini baru aku kerjakan hari Jum'at malam dan harus dikumpulkan hari Senin pagi. Ya Allah... memang namanya penyesalan itu belakangan yak hmm... tapi itulah manusia, termasuk aku, sukanya tobat sambel.

Well... selama hari Jum'at malam sampe hari Senin pagi, aku masih terus-menerus mengerjakan tugas itu. Cari kosa kata, nyocokin pola, tenses, sampe nyocokin kosa kata yang kadang artinya gak dimengerti kalo udah diterjemahin ke Bahasa Indonesia Raya Merdeka-Merdeka (loh?). Bete?? Bangetlah... dan satu-satunya yang bisa dilakukan pada saat genting yang seperti itu adalah dengerin musik. Akhirnya aku buka folder mp3 dan Yup!!! ketemu lagu-lagu Arab. Aku setelah lagu-lagu itu. Yang kupikir hanya satu bahwa aku akan tambah semangat mengerjakan terjemah karena ndengerin lagu-lagu Arab Dan... sugestinya tepat sasaran!!! hehehehehe

Aku setel dan kuulang-ulang lagu-lagu itu terus menerus sampe-sampe aku sedikit hapal liriknya dan nyoba nulis lirik itu. Dan akhirnya ngerjain terjemah sambil mendendangkan lagu-lagu Arab itu dengan suara yang ancur lebur, amburadul. Tak apalah... yang penting enjoy!!! hohoho. Saat itu yang aku setel adalah lagu-lagunya Amr Diab, Kazem el-Saher, dan Yuri Mrakadi. Tiba-tiba... hayalanku terbang, pikiranku melayang... (ah lebay) kalo seandainya mereka bertiga atau ditambah dengan penyanyi Arab pria yang lain bikin group dan bergabung dalam sebuah boys band. Arabic Boys Band. Widih!!! Pati keren banget deh. Suju lewat, westlife juga liwat, smash juga lewat, boys band laen sampe blue band ato green band semuanya pasti lewat deh (hah lho? gak nyambung). Tergambar dibenakku Amr Diab, Kazim, dan Yuri menyanyikan lagu Arobiyyun ana atau Kullu am wa antum habibati, ato neih ol eh bertiga dan pake acara nari-nari kayak boy band yang ada. Keren banget deh kayaknya (sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada dan mata bersinar-sinar kayak di komik). Tapi tampaknya... itu semua mustahil terwujud deh... hehehe... Ya sudahlah... tak apa... menghayal tentang Arabic Boys Band aja...., bagiku, udah sangat menyenangkan dan menambah semangat mengerjakan tugas akhir ini hehehe.... Well selamat tinggal semester VI sebentar lagi kita berpisah.

Aku berharap semster ini
mendapat nilai terbaik
agar aku dapat membahagiakan kedua orang tuaku
walaupun hanya dengan nilai yang bagus

 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang