Friday, 24 April 2015

Hiburan

Keluarga dan teman-teman saya sering sekali geleng-geleng kepala melihat saya menenteng, setidaknya, satu eksemplar buku setiap pergi hang out. Saya sih cuma senyam-senyum aja. Bukannya sok rajin, tapi memang sudah jadi kebiasaan yang tertanam sejak masuk pesantren. Khairu jalisin fi zamani kitabun. Sebaik-baiknya teman duduk adalah buku. Jadi, sempatkanlah untuk membaca walaupun sedikit. Biar terbiasa membaca ya salah satu caranya adalah bawa buku. Walau sekarang gak terlalu berlaku sih karena udah ada gadget yang bisa dimanfaatkan untuk baca e-book. Hehehe. Kalau saya pribadi sih lebih suka tetap bawa buku yang berupa fisik. Lebih afdol aja kayaknya. Hahaha

Sekarang-sekarang ini, saya lagi gandrung baca novel Arab. Kemana-mana nenteng novel tebal berbahasa Arab. Sampai-sampai seorang teman ngeledekin kalau saya kerjaannya belajar melulu. Padahal saya gak pernah menganggap baca novel Arab adalah sebuah keharusan sebagai akademisi (ceile) yang berkecimpung di Kajian Timur Tengah. Saya menganggap baca novel Arab itu seperti hiburan. Sama halnya saat saya membaca novel Indonesia dan novel-novelnya Om Dan Brown. Syukur-syukur juga sih kalau-kalau ada 'sesuatu' yang ditemukan saat proses membaca itu. Hehehe. Semacam pepatah 'Sambil menyelam minum air'.

Di Indonesia sendiri memang banyak sekali novel Arab yang sudah diterjemahkan. Tapi, tetap saja sensasinya beda. Taste 'Arab'nya udah menguap entah kemana. Ditambah lagi bahasa terjemahannya yang kacau balau nggak beraturan. Bikin yang baca nggak bisa berimajinasi. Padahal salah satu kenikmatan membaca ya kenikmatan saat  berimajinasi itu. Tul kan??


Saturday, 18 April 2015

Gila Novel Arab

Ini sudah bulan April 2015!! Ya ampun! Udah lama sekali saya tidak 'nyampah' di blog ini. Soalnya terakhir nulis ya di bulan Februari. Itu pun bisa dibilang jarang banget. Akhir-akhir ini, saya lagi keranjingan baca novel Arab asli bahasa Arab. Maksudnya, ya novel Arab yang belum ada terjemahan Indonesianya. Pusing sih karena kemampuan bahasa Arab saya yang masih di bawah standar banget. Untungnya sih ada tab yang saya lengkapi dengan aplikasi kamus bahasa Arab. Jadi ya bisa baca novel sambil jalan atau tidur-tiduran tanpa harus buka-buka kamus Arab yang tebal banget itu. Tips lainnya, ya sebelum baca, kita harus lihat review novel tersebut. Biar ada sedikit bayangan dan biar bikin gak cengok. Bab pertama adalah bab yang bikin nyesek banget sampai pengen nangis arena rasanya susah banget. Saya anggap baca bab 1 itu adalah adaptasi. Setelah bab 1 bisa dilampaui, jadi asyik sendiri bacanya walau makan waktu agak lama dari baca novel Indonesia. Maklum bahasa Arab kan bukan bahasa ibu kita. Hehehe

Walau susah banget, tapi rasanya lebih seru daripada baca novel Arab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dulu, saat saya belum mencoba untuk 'memaksakan' diri baca novel yang versi Arab, saya gak dapat 'feel' dari novel terjemahan yang saya baca. Hayalan saya gak bisa jalan apalagi kalau bahasa terjemahannnya acak kadut. Beda dengan terjemahan novel-novel Om Dan Brown yang emang yahud. Sekarang, mulai gandrung deh baca novel Arab walau tersendat-sendat. Saking gandrungnya, saya sering searching seputar novel-novel Arab. Lihat gambar-gambar barisan novel yang berjejer di rak toko buku dan tumpukan buku di Book Fair negara-negara Timur Tengah macam Mesir. Gambar-gambar itu sering bikin saya envy dan berangan-angan datang ke sana untuk menjelajahi seluruh toko buku, borong novel dan antologi puisi.


Sekarang cukup ngiler-ngiler lihat gambar di Paman Google. Untungnya sih banyak link free download yang memudahkan kita untuk memiliki koleksi novel ataupun antologi puisi Arab. Tapi, ya rasanya tetap ada kepuasaan tersendiri kalau bisa punya yang asli. Ah. Semoga suatu hari saya benar-benar bisa mengunjungi Timur Tengah walau kawasan tersebut kerjaannya perang mulu. Hehe... Sekarang saya lagi membaca novel Granada. Novel ini adalah seri pertama dari novel Trilogi Granada. Awal mula baca, hmm ya ampun!!! gemes! karena gak ngerti. Tapi setelah melewati bab 1 dan mengisi repertoar dengan review buku dan sejarah runtuhnya Andalusia, jadi sedikit-sedikit mengerti deh dan gak mau lepas dari novel itu. Pengennya bacaaa terus. Tapi harus ditahan, mengingat banyak kerjaan lain yang harus ditunaikan.


Granada ini seru banget soalnya ngomongin tentang Andalusia yang terkenal keeksotisannya. Bahasa yang digunakan dalam novel ini juga bagus hingga kita bisa menikmati hayalan kita terbang ke Andalusia dengan keindahan alamnya, dengan Sungai Genil, Istana Alhambra, tata letak pedesaannya, dan arsitektur bangunan di sana yang khas. Selain menikmati keindahan tersebut, kita akan disuguhkan cerita seputar jatuhnya Andalusia ke tangan Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella. Rasa-rasanya saya terhanyut dalam kesedihan, ketakutan, kekhawatiran penduduk Granada. Ah! Jadi pengen lanjut baca lagi. Penasaran banget. Tapi apa daya masih ada beberapa tugas yang harus dirampungkan.

Thursday, 12 February 2015

My Baby Part Two

Apakah ini normal?
Tadi malam tiba-tiba saja saya bermimpi tentang penelitian yang akan saya angkat untuk calon My Baby alias Thesis saya. Rasa-rasanya tadi malam saya bak Robert Langdon yang sedang menyambungkan satu demi satu persatu peristiwa untuk mendapatkan benang merahnya. Mungkin ini akibat baru dapat pencerahan dari seorang dosen yang sering dan tentunya asyik untuk diajak berdiskusi tentang penelitian sastra (nama dosen disamarkan hehe). 

Yap. Kemaren beliau memberikan masukan buat saya. Tulisan saya nanti, tidak hanya sekedar memaparkan sejarah tentang pergerakan mahasiswa di dalam novel, tetapi lebih pada apa yang menyebabkan pergerakan mahasiswa atau revolusi itu terjadi. Saya akan mencoba menguraikan vision du monde (celiee pakai bahasa aneh-aneh) alias pandangan dunia si pengarang, yang berkedudukan sebagai anggota dalam sebuah masyarakat, tentang pergerakan mahasiswa pada masanya. Singkat kata, ini dinamakan Teori Srukturalisme Genetik-nya Lucian Golmann. Tapi, saya tidak menggunakan fakta sejarah, saya akan masuk melalui ilmu politik. Jika hanya memaparkan kesamaan antara fakta sejrah dan fakta di dalam novel sudah biasa (kata beliau). Makannya, saya diminta untuk melihat sisi lain dari pergerakan mahasiswa tersebut dan salah satunya ya adalah masalah pemicu pergerakan tersebut (ok! Saya anggap ini challenge lagi). Hayyah... menerangkan ini saja sudah belibet. Mungkin karena memang belum masuk kelas Metode Penelitian Sastra deh ya.  

Kadang saya mikir kalau saya ini orangnya terlalu serius mikirin pendidikan sampe-sampe kebawa mimpi. Padahal kan ini masih awal (bahkan belum masuk kelas) semester dua. Belum waktunya nyusun Thesis ataupun ngambil mata kuliah Seminar Proposal. Masih awal-awal semester dan masih waktu untuk hura-hura. Hadeuh. Tapi biarlah... I don't care what they say. Hahaha. Yang terpenting, saya menikmati dan enjoy banget dengan proses ini. Apalagi duduk sebelah orang-orang yang lagi sibuk ngerjain thesis. Hehehehe.


Thursday, 5 February 2015

My Baby

Entah kenapa saya sangat menyukai pribahasa "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Mungkin karena saya percaya bahwa setelah kita berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh, maka insyaallah kita akan mendapatkan hasil yang baik. Saya yakin itu.

Dalam jangka pendek ini, saya ingin sekali mulai menyusun calon baby saya, yaitu Thesis. Jadi, ya saya harus bekerja lebih keras dan keras lagi. Harus bersungguh-sungguh dan membaca banyak literatur. Walau kata orang menamatkan Magister itu mustahil untuk ditempuh dalam dua tahun pas, namun saya harus yakin kalau saya pasti bisa. Bukannya saya buru-buru dan tidak ingin berlama-lama menuntut ilmu, tapi saya rasanya tidak tega dibiayain melulu sama orang tua. Lagian, saat kita mengerjakan proposal Thesis dan terus menulis, rasanya itu sama dengan belajar terus menerus tanpa kita sadari. Ya. belajar tidak hanya melulu di ruang kelas kan.

Demi mewujudkan itu semua, pastinya harus "bersakit-sakit dahulu" ya. Hehe. Di saat yang lain pulang untuk menghabiskan liburan, saya harus tetap ngendon di perpustakaan sambil mantengin huruf demi huruf dalam bermacam-macam literatur, yang alhamdulillah kebanyakan tidak menggunakan bahasa Indonesia. Hahaha. Tapi apapun itu, ya harus saya jabanin dan jangan sampai mengeluh. Mungkin saja, saat kita membaca literatur dalam bahasa asing, maka tanpa disadari kemampuan bahasa kita akan bertambah. Lagian, toh saya masih bisa bersenang-senang dengan teman-teman yang mukim di Jogja. Makan di Prasojo, Makan es krim di Mirota sambil belanja bulanan, nonton film, bahkan tidur di perpustakaan adalah hiburan yang rasanya cukuplah untuk refreshing jiwa raga.

By the way, untuk calon Baby kali ini, saya jauhhh banget move on-nya. Kalau dulu saya meneliti puisi, sekarang saya men-challange diri saya untuk meneliti prosa Arab, berupa novel, dengan teori yang tentu saja berbeda dengan teori skripsi. Dua penelitian ini mungkin memiliki pesona tersendiri. Saat skripsi dulu, saya baru menentukan objek penelitian pada semester 6. Artinya, saya harus ngebut untuk membaca objek penelitian saya. Untungnya objek penelitian saya berupa puisi yang lebih ringkas untuk dibaca dan diartikan walau akhirnya pusing-pusing ria memaknai bahasa puisi. Maklumlah, dalam segi bahasa puisi kan memang jawaranya.

Kali ini, kayaknya gak bisa deh menentukan objek penelitian di semster 3 atau semester 4 awal apalagi kalau mau meneliti prosa terutama novel. Walau bahasanya tidak seindah puisi, namun butuh waktu lama untuk membacanya. Apalagi jika penulis novel tidak terlalu dikenal di Indonesia macam Nawal Sa'dawi, Najib Kilani, Najib Mahfudz, ataupun Taufiq al-Hakim. Ditambah lagi, tidak ada versi terjemahan berbahasa Indonesia yang lumayan memudahkan kita untuk mengetahui isi novel tersebut. Jadi, mau gak mau harus berusaha keras mulai saat ini.  Mumpung libur sebulan, bolehlah ya dimanfaatkan untuk mulai membaca.

Dan... insyaallah calon Baby kali ini adalah novel Arab berjudul Faraj yang ditulis oleh seorang penulis perempuan bernama Radhwa Ashour. Sayangnya, beliau baru saja meninggal dunia pada akhir tahun 2014 lalu (segitu saja perkenalannya. Kita sudah tidak di zaman romantik lagi soalnya hehe). Faraj ini menceritakan tentang seorang anak perempuan blesteran Mesir-Prancis bernama Nada Abdul Qadir. Ia banyak mengalami masa-masa pahit dalam hidupnya, mulai dari penahanan ayahnya yang seorang anggota Ikhwanul Muslimin, perceraian kedua orang tuanya, lika-likunya sebagai aktivis kampus, dan lain sebagainya. Novel ini berlatar Mesir pasca revolusi dan Prancis pada masa kerusuhan Mei 1968. Insyaallah, novel ini akan dibedah dengan Strukturalisme Genetik atau Sosiologi Sastra. Ini challange lagi bagi diri saya. Jujur, saya masih agak awang-awang dan rasanya tidak menguasai teori tersebut. Tapi saya akan terus mencoba dan mencoba. wish me luck!

 

Wednesday, 4 February 2015

Menulis (Lagi)

Tiba-tiba teringat nasihat Bu Zulfa dua tahun lalu tentang pentingnya menulis jika melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister dan jika ingin menjadi seorang dosen. Dan sampai detik ini, belum ada satu pun mahakarya yang saya tulis kecuali makalah abal-abal pas ngisi simposium Festival Kebudayaan Arab dan makalah hasil tugas-tugas kuliah. Astagfirullah!! Saya tersadar kembali karena lalai menjalankan nasihat Bu Zulfa itu. Parah!

Tampaknya saya harus sedikit "memaksa" diri saya untuk kembali menulis khususnya menulis karya, yang sedikit ilmiah. Hahaha. Untuk pemanasan, saya akan mencorat-coret lagi halaman blog ini deh kayaknya setelah vakum dalam waktu yang sangat panjang. Apalagi seorang teman menawarkan saya untuk memuat tulisan saya di sebuah website yang dikelolanya. Mungkin saja, dengan itu tulisan saya akan lebih berkembang dan berkembang lagi. Ayoo semangat menulis lagi!!!

Selamat menulis!

Tuesday, 3 February 2015

Bangga Berdarah Minang

Hai hai Rihai...

Ini adalah posting pertama di tahun 2015, I guess. Cukup lama sekali banget nian saya tidak posting secuil tulisanpun. Benar-benar parah. Mumpung liburan, jadi bolehlah digunakan untuk posting di blog ini lagi dengan, tentu saja, memanfaatkan Wifi gratis perpustakaan pusat Kampus Biru. Oh ya, ngomongin tentang perpustakaan, perpustakaan itu adalah tempat yang paling saya sukai apalagi perpustakaan pusat Kampus Biru. Fasilitasnya lengkap banget. Mulai dari kebutuhan buku bahkan sampai kebutuhan listrik buat nge-charge laptop dan juga kebutuhan perut yang kadang keroncongan karena kelamaan mikir. Kadang-kadang tempat ini bisa jadi "kos ekslusif", alias tempat tidur siang yang dilengkapi fasilitas pendingin udara, toilet bersih, Wifi, dan sofa empuk yang gak kalah empuk dari kasur busa. Hehehe. Parah. Jadi, hampir setiap hari, pasti saya berkunjung ke perpustakaan. Yah kecuali hari Ahad dan hari besar sih ya.

Suatu kali, penjaga perpustakaan pernah negur saya dan bertanya menagapa saya sering sekali terlihat di perpustakaan. Saat ditanya begitu saya cuma senyum mesam-mesem. Dalam hati sih, saya mau bilang kalau saya sesungguhnya adalah hantu penunggu perpustakaan ini. Haha. Gak ding! Itu bukan alasan sesungguhnya. Selain saya memang suka lihat gundukan buku yang berjajar dalam rak-rak, saya juga sengaja memanfaatkanseluruh fasilitas yang disediakan dari mulai hal remeh seperti fasilitas "ngadem" dari sengatan mentari sampai fasilitas komputer penelusuran yang kecepatannya bagai kecepatan motor Valentino Rossi. 

Sebenarnya sih, saya berusaha memanfaatkan semua fasilitas ini karena saya berpikir saya akan merugi kalau tidak memanfaatkan semua fasilitas yang diberikan itu. Yaiyalah... secara uang SPP saya mencapai angka 8 Juta. Bayangin aja! Kalau dibelikan kacang goreng, udah dapat berapa truk. Hehehe. Jadi, biar tidak merasa dirugikan, ya saya harus menggunakan fasilitas yang dihidangkan. Di perkuliahan, saya harus ikut perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Saya harus memanfaatkan waktu untuk bertemu dosen dan konsultasi tentang hal-hal yang tidak saya pahami, khususnya tentang calon Tesis saya kelak. Saya juga harus bersungguh-sungguh mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen (yah... walau kemaren sebenarnya saya agak merugi karena satu tugas yang tidak saya kerjakan dengan sungguh-sungguh sih). Di samping itu, seperti yang sudah saya katakan, saya harus memanfaatkan fasilitas kampus yang diberikan. Ya fasilitas yang saya rasakan yaitu perpustakan pusat dan seisinya. Jadi harus saya manfaatkan sesering mungkin biar saya gak rugi bayar 8 juta. Hahahahahaha.

Teman: Segitu amat mikirnya lu Nta. Emang bener-bener orang Minang. Ogi! Ogah rugi
Saya cukup mesam-mesem saja.

Yap gak mau RUGI. Kata orang itu salah satu sifat yang sangat melekat dalam darah orang Minang selain stereotipe negatif lainnya seperti bossy, keras, cerdik, dan ehmm mata duitan sampai-sampai dikasih julukan Padang Bengkok (walau saya sendiri tidak mengerti artinya sampai saat ini). Tapi, saya bangga dalam diri saya ada darah Minang yang membuat saya punya sifat tidak mau rugi ini. Hahahaha... setidaknya dengan sifat ini, saya merasa bertanggungjawab atas amanah orang tua yang memberikan saya kesempatan untuk menuntut ilmu lagi di jenjang master. Yap... saya rasa, saya harus harus wajib memanfaatkannya sebaik-baik mungkin. hingga saya lulus, bekerja, dan membahagiakan kedua orang tua walau saya yakin jasa mereka tidak pernah akan cukup jika dibalas dengan materi semata. I love you, Mama Papa full!


Sunday, 21 December 2014

Holiday Planning

Akhirnya, besok tanggal 22 Desember 2014 tiba. Hmm... hari tersebut adalah hari yang menegangkan. Yap. Hari ujian mata kuliah Teori Sastra. Ini salah satu mata kuliah paling penting. Ya tentu saja, namanya juga Teori Sastra. Sangat penting untuk meneliti tekk-teks sastra. Hmm... rasanya puyeng dan nano-nano deh. Tapi tetap aja di sela-sela "keributan" ini, saya menyelipkan list untuk mengisi liburan nanti. Hehe

Pertama, saya ingin buat artikel untuk jurnal jurusan saya waktu S1. Idenya masih sama seperti saat ngisi simposium dulu sih. Ide bikin jurnal ini sebenernya terinspirasi dari seorang dosen yang menasehati agar mulai menulis. Kedua, saya mau memulai menerjemahkan novel atau puisi buat proposal tesis. Kalau bisa sih, saya inginnya coba-coba buat proposal tesis juga dan minta dibenerin sama dosen. Ketiga, hmm ini yang saya tunggu-tunggu... belajar Bahasa Spanyol lagi. Dan terakhir, berenang sering-sering sebelum masuk kuliah lagi.

Oke. Gitu aja. Mak Eva udah datang dan siap meluncur ke Bu Rum bareng Nono dan Bebeb Kumin juga... Selamat makan 

Friday, 19 December 2014

UAS Tlah Tiba

2014 rasanya adalah tahun dimana menulis blog ini mengalami penurunan. Maklum, rasanya no time for ecek-ecek bahkan untuk menulis di blog ini. Sekali-sekali punya niatan untuk posting makalah dari tugas-tugas di kampus, tapi kayaknya bisa 'menyesatkan' jika ada yanga gak sengaja baca. Maklum pemula hehehe

Strata dua ini memang, ehmm, lumayan berat. Bukan mengeluh sih, cuma berbagi. Tapi, ya jalani saja demi cita-cita di masa depan (semoga terkabul). Uhuyy. Oh ya... bulan ini kami telah memasuki minggu tenang. Tepatnya minggu tenang yang tak tenang. Memang sudah gak masuk kelas, tapi tetap saja harus mengerjakan semua tugas akhir yang rata-rata makalah semua jauh-jauh hari sebelum deadline.

Yang buat saya sangat tertarik sebenarnya adalah tugas mata kuliah Agama-agama di Dunia. Emang agak berat sih makalah 5000 kata, tapi ya karena saa suka "kepo" dengan keunikan macam-macam agama di dunia. Setelah berbincang-bincang dengan seorang teman, akhirnya muncul juga idenya nih. Antara pengen nulis tentang perbedaan agama Buddha yang telah dibawa keluar dari India atau bisa juga komparatif antara Sikh, Hindu, dan Islam. 

Tapiii, sebelum membuat makalah ini, saya harus menyelesaikan UAS makalah, tepatnya terjemahan, Sosiologi Sastra Arab dan juga UAS mata kuliah Teori Sastra. Wokehh. Semangat Ta.

Tuesday, 4 November 2014

Culture Shocked

Selagi sinyal hot spot lancar mari kita berselancar dan posting lagi di blog. Hitung-hitung pemanasan sebelum mengerjakan tugas. Kali ini cerita yang ringan-ringan saja. Kayaknya cerita tentang kelas baru saja.

Walau sekarang saya menimba ilmu di universitas yang sama dengan saat saya strata 1, tetap saja teman-temannya berbeda dan beraneka ragam. Jadi walau di lingkungan sendiri, ya tetap saja kena sindrom "culture shocked" karena teman-teman yang datang dari berbagai universitas lain, pasti membawa budaya-budaya mereka.



Contoh sederhananya saja adalah panggilan kepada dosen. Biasanya kami yang di sini sejak strata 1, pasti akan memanggil dosen dengan "Bapak" atau "Ibu" walaupun dosen-dosen tersebut sudah menyandang gelar Prof. Tapi tidak dengan teman-teman baru saya. Mereka memanggil para dosen (yang telah bergelar Prof) dengan panggilan "Prof". Ini suatu yang janggal bagi saya yang dari dulu terbiasa memanggil "bapak" dan "ibu" kepada para dosen. Saya pribadi beranggapan bahwa panggilan "bapak" dan "ibu" adalah panggilan yang tepat. Rasanya panggilan tersebut membuat kita lebih dekat dengan dosen tetapi tetap ada batas-batas penghargaan kepada mereka. Jika memanggil dengan sebutan "Prof" rasanya kayak berada pada tataran bumi dan langit. Dan rasanya jadi sangat sungkan bahkan sungkan untuk bertanya banyak tentang bidang keilmuan.

Tapi, ya sudahlah. Itu sudah pilihan masing-masing individu. Apapun panggilan untuk para dosen, yang penting ilmu mereka bisa ngucur ke kita-kita ini. Well, sampai di sini saja. Mari mengerjakan tugas lagi...

Monday, 3 November 2014

Holaaaaa

Finally... saya bisa corat-coret blog lagi. Sudah lama sekali rasanya tidak menjamah blog ini. Terakhir nulis postingan tanggal 15 Agustus 2014. Dan sekarang sudah tanggal 3 November 2014. Hmm. Lama nian rupanya. Kesibukan ini benar-benar menyita. Tapi lebih baik sibuk sih daripada bengong kayak sapi ompong. 

Sekarang saya "sekolah" lagi. Yup. Yup. Saya ingin menjadi seorang dosen seperti guru-guru saya. Sepertinya menyenangkan mendapat ilmu baru dan membagikannya ke orang lain walau cuma sedikit. Tul kan...

Di strata dua ini banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan padahal baru kira-kira dua bulan saya menjalaninya. Rasanya nano-nano. Kalau ditanya soal tugas hmm bisa panjang ceritanya. Kalau dulu saat strata 1, saya bisa jalan-jalan, jadi panitia, jualan, dan mengerjakan berbagai kegiatan lainnya. Sekarang, hampir setiap hari saya berkutat di perpustakaan, membacam buku, dan "candle light dinner" dengan si Buto Ijo tercinta. Hehehe. Tapi saya sadar kalau saya tidak boleh mengeluh karena inilah konsekuensi strata dua. Ya jalani saja. Toh kadang juga tersedia jeda waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan lain walau tidak seleluasa saat strata 1. Tapi lumayanlah untuk refreshing biar otak nggak pengap. Hehe

Dari segi ilmu, buanyakk sekali ilmu baru yang saya dapatkan di sini. Ilmu teori sastra yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Cerita-cerita periodisasi sastra Arab yang tidak diceritakan sebelumnya. Dan tentu saja mata kuliah dari Cross Religion Cross Culture tentang agama.

Yang terakhir ini adalah ilmu baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Sangat menarik karena agama dikaji secara akademis. Maksudnya agama di sini bukan agama resmi yang ada di Indonesia atau negara lainnya. Yang menarik di sini adalah masalah rekonstruksi negara terhadap agama dan juga rekosntruksi Inggris terhadap Hinduisme di India. Inilah dua topik yang saya sukai saat ini.

Dari sini, saya kenal Tylor, Frazer, Durkheim, Max Weber, Elliade, bahkan saya kini, tampaknya, menghargai Karl Marx yang terkenal anti agama itu. Setiap mendapat ilmu baru saya hanya bisa takjub dan hanya bisa berkata, ooo... ternyata gitu ya, atau oooo... ternyata begini ya. Rasanya senang sekali dapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan walau banyak juga yang 'menentang' dan mengatakan bahwa saya akan susah dapat jodoh karena pendidikan saya yang tinggi. But... just let it flow.... dan nikmati saja. Karena kalau jodoh tidak akan lari kemana kok. Hehehehe.

Pengalaman teranyar yang saya dapatkan adalah pengalaman menjadi pembicara di Simposium Mahasiswa Nasional dalam acara Festival Kebudayaan Arab. Rasanya sungguh campur aduk. Rasa-rasanya ilmu saya masih cetek sekali dan saya belum pantas. Tetapi beberapa dosen dan sahabat-sahabat saya mendukung saya. Dan... finally... spirilli saya pun maju menjadi pembicara tentang pengaruh teknologi terhadap sastra. Sebenarnya ide awalnya tetap dari dosen (makasih Bu Ocha) sih kemudian saya kembangkan dan saya beri contoh dari sebuah puisi Nizar Qabbani (Thanks Uncle Qabb). Nanti kapan-kapan saya posting tulisan saya tentang itu yaa (kalau sempat)

Okay. Kayaknya kicau-kicaunya cukup sampai di sini dulu. Lanjut lagi bikin respon untuk mata kuliah Agama-agama di Dunia. Hari ini mempersiapkan tentang agama Buddha. Happy Working!!!!


Oh ya... ini foto saat kami pergi ke Imogiri bareng dosen kami, Pak Anchu. Beliau mengajar mata kuliah Teori Agama dan Masyarakat. Ayooo yang mana coba dosennya...

 

Friday, 15 August 2014

Lebaran Istimewa

Alhamdulillah. Syukur pada-Mu kupanjatkan beratus-ratus kali lipat untuk karunia yang kau berikan pada lebaran tahun ini. Mungkin ini adalah Lebaran paling istimewa yang pernah saya rasakan. Biasanya di lebaran yang lalu-lalu kami tak dapat merayakan Lebaran sewajarnya seperti yang dirayakan kebanyakan orang. Di saat orang-orang membeli pakaian baru dan kue lebaran, kami berkutat dengan adonan kue kering. Saat orang-orang berkeliling kota menikmati malam takbiran, beberes rumah bahkan masak rendang dan opor ayam, kami berjibaku dengan waktu melayani pelanggan yang mengambil pesanan kue lebaran mereka. Di saat hari lebaran tiba, kami tergesa-gesa beberes dan pergi ke mesjid untuk sholat, silaturahmi dan tidur sepanjang hari. Balas dendam karena kurang tidur beberapa hari sebelum Lebaran.

Kali ini, lebaran begitu istimewa buat kami. Kami bisa berkumpul sekeluarga tanpa ada gangguan dari pelanggan yang tiba-tiba muncul dan memohon-mohon untuk dibuatkan ke basah. Yap! entah dapat ide dari mana, Mama tiba-tiba mengajak kami pergi libur ke ibu kota negara. Para pelanggan diminta menjemput pesanan empat hari sebelum hari sebelum Lebaran.

Petualangan dimulai di sebuah mobil Xenia warna telur asin. Berangkat dari padang menuju ibu kota negara. Beberapa kali kami berhenti di pasar tumpah yang menjual takjil bahkan tak jarang singgah ke Mesjid-mesjid dan SPBU untuk mandi atau sekedar tidur. Kami juga sempat singgah di Linggau untuk silaturahmi ke saudara kami, Om Pendi. Om Pendi ini dulu adalah anak kos yang tinggal di rumah kami saat Mbah Kakung masih ada. Sudah berpuluh tahun mungkin ya tetapi silaturahmi tetap terjalin. Setelah sahur, kami melanjutkan perjalanan. Dan perjalanan kali ini serasa cepat sekali. Maklum, yang nyetir mobil adalah sopir lintas Sumatera berpengalaman yang tak lain dan tak bukan adalah adik mama *Piss Om.

Akhirnya sampailah ke ibu kota negara yang tumben-tumbennya sunyi senyap dan gak macet. Kami memutuskan menginap di salah satu rumah adik papa yang sedang mudik ke Magelang. Nyaman sekali rasanya menikmati waktu dan kesempatan tanpa suara mixer, tanpa deru Boss, tanpa aroma kue yang meliuk-liuk di hidung, tanpa alunan suara pelanggan yang tak sabaran, bahkan tanpa mentega yang belepotan di tangan.

Lebaran istimewa. itulah saya menamainya. Lebaran yang normal dan proposional. Malam takbiran, kami bisa beberes, buat es buah, dan masak masakan khas Lebaran. Keesokan hari, kami shalat di lapangan dalam komplek tanpa haru buru-buru beberesan. Setelah itu, tak ada lagi acara tidur balas dendam seperti tahun-tahun yang lalu. alhamdulillah. Segala puji bagi-Mu Ya Allah.

*setelah berhari-hari tak mengisi blog

Monday, 2 June 2014

My Little Sister

Saya punya seorang adik perempuan saja. Anaknya manja, agak pencemburu, dan malas membersihkan kamar tidur. Selama kurang lebih 10 tahun saya merantau, ketika satu bulan saya habiskan untuk liburan di rumah, setiap itulah saya harus berteriak-teriak mengingatkannya untuk meletakkan pakaian kotornya dalam keranjang khusus kain kotor. Begitu juga dengan membersihkan kamar. Jika saya pulang liburan, adik saya bisa dua kali lipat tidak membersihkan tempat tidur. Lagi-lagi saya misuh-misuh sendiri sambil tetap merapikan kamar tidur yang kelak akan berantakan lagi saat dia kembali. Selain itu, sering kali ia menjadi amat pencemburu ketika kedua orang tua saya membelikan saya barang atau uang hingga, untuk menjaga perasaannya, sering kali saya menyembunyikan barang-barang tersebut atau menolak saat orang tua ingin membelikan saya.

Jujur, saya amat bahkan teramat jengkel dengan ulah dan sikapnya. Saat di rantau, saya harus kuliah dan bekerja untuk menambah uang jajan saya. Saat saya di rumah, saya juga tidak bisa refrshing. Tetap dengan tugas rutin saya. Dan parahnya tidak ada liburan. Padahal, setiap saya di rantau, adik dan keluarga sering kali pergi ke luar kota untuk bertamasya. Kadang kesal sendiri, tapi biarlah saya jalani saja. Toh, saya percaya bahwa bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Walau terkadang tak saya pungkiri, saya merasa jengkel dan iri.


Namun, setelah mendengar cerita teman saya yang adiknya mengancam bunuh diri karena tidak dibelikan BB, saya merasa lebih beruntung memiliki saudari seperti adik perempuan saya. Dia memang manja dan malas, namun dia bukan cabe-cabean, bahasa gaul yang akhir-akhir ini lagi ngehits. Dia tidak pernah ngumpul-ngumpul di cafe dengan mengenakan pakaian minim, dandan menor, serta nenteng-nenteng gadget paling update. Walau dia pencemburu kelas kakap, dia juga tidak pernah meminta gadget terupdate pada orang tua kami apalagi mengancam akan bunuh diri kalau tidak dibelikan. Walau dia malas membersihkan tempat tidur, namun ia tetap rajin belajar dan pintar. Untuk hal otak, saya akui adik saya jauh lebih unggul dari saya. Mungkin itulah kakak beradik. Berbeda seperti bunga dalam taman yang sama. Kakak tidak seutuhnya sempurna begitu pula si adik.

Oh Pepok! I miss you already!!

Friday, 30 May 2014

Mamah! Curhat Dong!

Entahlah saya pun tidak tahu pasti mengapa akhir-akhir ini banyak sekali yang menyangka saya akan segera melepas masa lajang alias menikah. Saya hanya bisa tersenyum dikulum sambil mengamini saja kata mereka. Yah, setidaknya sebuah kata adalah untaian doa. Saya sendiri heran mengapa mereka berspekulasi begitu. Setahu saya, saya tidak pernah update status yang mengarah ke soal "Akan Segera Menikah" dan tak ada gambar calon pengantin pria yang saya tebar di sana. Ya tidak akan saya bagi karena memang belum saya temui. Kalau sudah saya temui belum tentu juga sih saya bagi. Apa mungkin akhir-akhir ini wajah saya lebih berseri-seri bak bidadari? Entahlah.

Pun kalau beliau (beliau!!! ceile) telah datang kelak, mudah-mudahan saya bukan tipe manusia yang latah dunia maya alias apa-apa diupdate. Lagi bahagia-bahagianya menjalin cinta diupdate bahkan lagi berantem juga tatap update status. Ya cukup sekenanya saja dibagi mungkin saat ada berita resepsi. Hehehe. Karena, menurut saya, menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis adalah sesuatu yang sakral. Gak boleh asal-asal umbar sana-sini karena kita tidak tahu apa yang kelak terjadi. Daripada umbar sana-sini mending perbanyak doa. Nah jika waktunya tiba, ya bolehlah membagi kabar bahagia. Saya percaya kalau menikah itu bukan soal siapa yang sudah punya pacar dan siapa yang belum. Yang sudah punya pacar belum tentu nikah duluan daripada yang masih menjomblo. Begitu pula sebaliknya. Menikah hanya soal masa. Ya... jika masanya telah tiba, pasti akan menikah juga. Jadi, santai kayak di pantai sajalah.


Pagi ini seorang teman lama menanyakan saya kapan menikah. Doakan saja. Itu jawaban saya. Jawaban yang menjadi jurus andalan tingkat pertama. Belum sempat saya mengeluarkan jawaban pamungkas saya, teman saya tersebut sudah galau. Dia bilang, "Kamu sudah akan menikah. Si Uli sebentar lagi. Aku doang yang belum". Saya hanya bisa tersenyum membaca pesannya. Dia kira saya akan segera menikah, padahal saya tidak memberi kabar bahwa saya akan segera menikah. Hadeuh! Saya kan hanya bilang doakan saja.

Mungkin saya juga merasakan kegalauan teman saya tersebut. Terkadang kegalauan dan kegelisahan itu datang bukan dari faktor internal, namun juga bisa dari faktor eksternal. Faktor kegalauan saya bukan karena teman yang update kemesraan bersama pasangan mereka di jejaring sosial, melainkan orang tua. Sebagai soerang anak, pasti ingin melakukan apapun untuk membahagiakan atau memenuhi keinginan mereka. Begitu juga saya. Akhir-akhir ini kedua orang tua saya ribut soal "Kapan menikah". Betapa saya ingin mewujudkan keinginan mereka. Tapi sekali lagi menikah adalah masalah masa. Ya. Saya akan segera menikah saat masanya tiba.... Mumgkin hanya itu jawaban saya pada mereka. Fiuuuh. I'am so sorry Mom, Dad. Saya pasti menikah jika waktunya memang telah tiba.... Doakan saja.... 






Thursday, 22 May 2014

Epik

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin membaca epik Ramayana dan Mahabharata. Walau epik ini brasal dari negeri Gangga, tapi bisa dibilang masyhur di Indonesia. Nah, saat ini, epik Mahabharata diangkat menjadi sebuah serial televisi. Bahkan serial Mahabharata juga ditayangakan kembali di Indonesia dengan pemain baru dan tentu saja dengan efek kamera yang lebih bagus daripada serial tahun 90-an (zaman kanak-kanak dulu). Ya. otomatis saya lebih memilih menonton serial ini ketimbang nonton sinetron yang makin hari makin tidak jelas juntrungannya. Ini bukan masalah menjatuhkan karya anak negeri, tapi saya pikir sinetron sekarang ini makin gak jelas dan makin tidak mendidik apalagi yang berisi conten bullying di antara anak-anak sekolahan.

Saya kira lebih baik nonton serial ini walau tidak selalu mengikuti. Saya bisa sedikit bernostalgia dengan cerita Mahabharata dan mengingat kembali nama-nama tokohnya yang seabrek banyaknya. Hehe. Saat saya kecil, almarhum Mbah Kakung saya sering mendongeng tentang epik Mahabharata ataupun Ramayana. Sepertinya beliau sangat menyukai dua epik tersebut. Bahkan nama saya diambil dari salah satu tokoh dalam cerita Ramayana. Seperti yang kita tahu, kisah Mahabharata dan Ramayana ini telah menginspirasi kesusastraan Jawa kita. Ceritanya disadur bahkan kita juga mengilhami pertunjukan sendra tari dan perwayangannya. Rasanya betapa kampungannya jika belum mebaca dua epik ini. Hadeuh. Jadi... secepatnya saya harus membaca epiknya mumpung 'hasrat' membaca masih membara. He.


Tuesday, 20 May 2014

Menjauhlah

Kau duduk di hadapanku sambil sesekali menggerakkan telunjukmu mengitari bibir cangkir berisi kopi hitam. Aku memang duduk di hadapanmu. Benar-benar tepat di hadapanmu. Namun, pandanganku bukan tertuju padamu, melain tertuju pada embun yang menempel di permukaan kaca. Aku merapatkan syal di leherku. Dingin semakin menjalar. Sunyi semakin menebar.

Tidak ingatkah kau di hari itu? Di hari saat jemarimu menekan "send" di alamat emailmu. Hari itu sangat memilukan, Sayang. Oh bukan sayang! Kata itu tak pantas lagi kugunakan. Dari jarak beribu-ribu mil, kau kirimkan kabar bahwa kau menemukan cinta. Bukan cintaku dan bukan cinta kita. Namun cinta baru yang tengah merekah. Jika cinta telah berkata, sungguh aku tak bisa melakukan apa-apa. Kau juga tahu kan bahwa cinta absolut bahkan arbiter? Datang dan pergi begitu saja. Sesukanya. 

Kau tahu? Perlahan-lahan aku menajuh darimu. Meninggalkan jauh di belakang dengan cinta barumu yang masih merekah segar. Buat apa aku mencintamu, jika kau tidak mencintaku? Jadi kuputuskan saja untuk pergi dari lingkaran. Membiarkanmu bergenggaman dengan cinta barumu itu.

Bumi tetap berputar pada porosnya. Waktu pun terus berlalu. Kau tahu? Aku menemukan kehidupan baruku. Kehidupan tanpamu. Kehidupan yang membuatku selalu tersenyum syahdu. Kutemukan cintaku. Cinta yang mengobati luka yang kau toreh pada hatiku. Kau tahu? Kali ini hanya bahagia yang kurasa hingga akhirnya kau tiba (lagi) dengan kata-kata cinta.

Senja itu kau menyapaku lewat dunia maya. Bertanya tentang keadaan dan kabarku. Klise! Aku tak menggubris untaian kalimatmu. Untuk apa? Karena tak ada lagi sesuatu yang terjalin di antara kita. Kau harus ingat itu! Namun, kau tidak berhenti rupanya. Kau kirimkan untaian kata-kata yang terdengar klise itu padaku. Kau tahu? Aku muak! Untuk apa kau tiba lagi? Untuk apa kau hadir lagi dalam hidupku lagi? Apakah cintamu yang dulu merekah kini telah layu? Dan kau ingin kembali padaku di saat penyatuan cintaku akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.

"Aku mohon menjauhlah dariku, Pay," Kataku sambil tetap menatap embun yang mulai meleleh. Dia tidak bergeming sedikit pun. Sunyi. Hanya suara jam dinding saja yang terdengar berdetak. "Aku mencintaimu" katamu spontan. Jemarimu tak lagi melingkari bibir cangkir berisi kopi. Aku tersenyum.
"Maaf aku tak bisa walau cintamu tumbuh sangat rindang. Cinta yang lain sedang menantiku. Cinta yang telah mengobati luka yang kau toreh. Cinta yang selalu ada saat kau tak lagi menoleh. Aku lebih memilih dia," Kusambar saja mantel musim dinginku dan berlalu dari hadapannya tanpa sepatah kata.

Monday, 19 May 2014

Terima Kasih Untuk Kalian

Saat saya kanak-kanak, ulang tahun adalah sesuatu yang sangat istimewa. Di satu hari dalam setahun itu, saya akan mendapatkan banyak kado berupa baju, boneka, atau bahkan mobil-mobilan. Mama biasanya membuatkan saya sebuah kue tart dengan krem warna-warni dan hiasan patung badut atau puteri. Teman-teman dan sanak saudara, bahkan yang dari luar kota, datang ke acara ulang tahun saya. Bahkan Angku dan Andung, tetangga sebelah rumah, juga datang sambil meneteng boneka panda yang besar.


Saat dewasa, ulang tahun tak lagi terasa istimewa. Terkadang malah saya lupa. Lagian untuk apa berhura-hura merayakannya? Saya pikir lebih baik merenung intropeksi diri dan berdoa semoga umur yang bertambah akan lebih barokah. Itu saja cukup bagi saya. Namun, saya sangat menghargai orang-rang sekitar saya yang mengingat hari istimewa saya. Saya katakan hari istimewa karena hari itu saya diberi kesempatan untuk lahir ke dunia walau konon katanya seorang bayi sebetulnya menyesal telah dilahirkan. Namun, ini sudah jadi takdir Illahi. Setidaknya di dunia ini saya tidak sendiri. Saya bertemu dengan orang-orang yang mencintai dan menyayangi saya dari keluarga hingga sahabat-sahabat saya.

Tahun ini. Umur saya tak lagi remaja. Dua puluh enam tahun. Dan saya belum bisa menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, sahabat, apalagi bagi nusa, bangsa, dan agama. Labih nahasnya lagi kontrak hidup saya juga berkurang setahun. Ini membuat saya risau  dan sedih. Di umur segini dengan kontrak hidup makin berkurang, saya belum bisa menjadi orang yang berguna. Namun risau saya lenyap dengan doa-doa dari keluarga dan juga sahabat-sahabat saya. Ya. Terima kasih untuk kalian yang mendoakan saya agar kedepannya saya mendapatkan apa yang saya cita-citakan dan dambakan. Saya sangat bersyukur pada Tuhan karena memiliki kalian. Sekali lagi terima kasih untuk doa dan beberapa bingkisan.


Terima kasih untuk keluarga dan krucil-krucil usil, Ulfa Adib, Chaca, dan Calysta yang menyanyikan lagu "Happy Birthday To You" saat saya duduk sendirian dalam Bus Trans Jogja tanpa cahaya yang berjalan lamban karena macet malam mingguan Terima kasih untuk teman kecil saya, Monika, dan teman-temannya yang menjadi teman saya juga, Rizal dan Mbak Kirz. Terima kasih juga buat Aishi, Eva dan Mbak Yayun. Terima kasih untuk kalian yang tak mungkin satu persatu saya sebutkan. Dan tentu saja, terima kasih untuk PARAM yang selalu gagal merencanakan pesta kejutan. Tapi tak apa, saya sangat menghargai "pengorbanan" kalian. Terima kasih tetap mengingatkan hari istimewa saya di sela kesibukan. Semoga kelak saya menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa bangsa, dan yang terutama agama. Amiin.

Monday, 12 May 2014

Beruntung atau Bersungguh-sungguh?

Hi there!
Ternyata sudah masuk tengah bulan Mei dan blog ini pun semakin jarang disentuh. Entah kenapa, rasanya tak ada waktu lagi untuk menuliskan hayalan atau sekedar mencorat-coret page blog ini. Mungkin akhir-akhir ini, saya lagi senang nonton film dan menerjemahkan puisi ditambah mengurus surat-surat aplikasi S2. Akhirnya hari ini saya sempatkan mencoba menulis lagi.

Teman saya bilang, saya bukanlah orang yang beruntung. Tahun lalu, dengan segenap jiwa saya mengurus perlengkapan aplikasi beasiswa S2 yang diadakan DIKTI, namun saya tidak lulus. Hal ini berbanding terbalik dengan salah satu teman saya yang menyiapkan aplikasi seadanya dan ternyata lulus S2 dan mendapat beasiswa. Kata teman saya, saya bukanlah orang yang beruntung. Namun, saya tidak pernah menyesali dan mengutuk Tuhan karena menciptakan saya sebagai orang yang tidak beruntung. Saya yakin semua ada hikmahnya. 

Hikmah yang saya rasakan adalah kebersamaan dengan keluarga terutama papa. Bayangkan kalau tahun lalu saya lulus S2! Tampaknya saya tidak akan pernah menghabiskan waktu agak lama bersama keluarga karena selama ini, sejak menamatkan sekolah dasar hingga kini, saya selalu berkelana meninggalkan rumah. Setidaknya saya bisa berbakti pada kedua orang tua dan bertengkar dengan adik perempuan saya satu-satunya atau bermain dengan sepupu-sepupu kecil saya. Hikmah lainnya adalah saya diberi keberanian lebih untuk bermimpi melanjutkan pendidikan ke belahan bumi lainnya. Dulu, saya tidak berani untuk mencoba apply beasiswa ke luar negeri. Entah kenapa sejak mengunjungi negeri tetangga (lagi-lagi ini hikmah karena tidak lulus S2 tahun lalu), saya ingin melangkahkan kaki lebih dan lebih jauh. Salah seorang teman saya terheran-heran dan berkomentar, "Ngapain apply ke luar banyak-banyak, Nta? Palingan gak lulus," Saya hanya bisa tersenyum. Yang penting saya mencoba. Setidaknya langkah pertama telah terlewati saat kita telah mencoba.

Kembali ke topik semula. Saya lebih memilih untuk menjadi orang yang bersungguh-sungguh daripada orang yang beruntung karena manusia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sebelum mereka merasakan kesedihan. Begitu juga dengan keberuntungan. Orang yang selalu beruntung tidak pernah merasakan nikmat hidup karena mereka tidak pernah bersungguh-sungguh mendapatkan apa yang mereka dambakan. Semua yang mereka inginkan, mereka dapatkan dengan cuma-cuma hingga pada akhirnya mereka pasti kebosanan. Jadi, saya lebih memilih untuk menjadi orang yang bersungguh-sungguh daripada beruntung. Tak masalah jika dibilang bukan orang beruntung. Saya hanya tersenyum simpul saja.

Wednesday, 30 April 2014

The War is Over

The War is Over sebenarnya adalah judul lagu, yang kalau tidak salah, rilis pada tahun 2009. Lagu ini dinyanyikan oleh sepasang penyanyi kondang. Sarah Brightman dan Kazem el-Saher. Sarah Brightman dikenal dengan suaranya yang tinggi kayak penyanyi seriosa. Saya suka sekali duetnya dengan Andrea Bocelli di lagu berbahasa Itali dan sedikit Inggris, Time To Say Good Bye, sedang Kazem el-Saher, hmm, ini idola saya banget. Kazem berasal dari Irak. Bisa dibilang superstarnya Timur Tengah. Kenapa saya suka Kazem? Karena beberapa lagunya based on puisi-puisinya penyair favorit saya, Nizar Qabbaniy. Dan tentu saja dia nyanyi dengan bahasa Arab fusha bukan amiyah. Jadi saya lebih mengerti isi lagunya dan mudah menghapalkan liriknya sekalian uji listening saya. Nah kali mereka berduet membawakan lagu The War Is Over yang bertajuk kedamaian dunia. Suara sarah tetap merdu dan apik, sedangkan suara Kazem tetap meliuk-liuk indah dan syahdu khas Timur Tengah.



my statures are falling
Like feathers of snow
Their voices are calling
In whispering word waiting for the morning light

Heaven is calling
From rainy shores

Counting wounded lights falling
Into their dreams still searching for an open door

In morning dew,
a glorious scene came through,
like war is over now
I feel I'm coming home again

The moments unfold
In the meaning of love
This war is over now

I feel I'm coming home again

An arrow of freedom
Is piercing my heart
Breaking chains of emotion
Given a moment to pray
Lost innocence to find its way

Feelings of sensation
A cry in the dark
Hope is on the horizon
With a reason to stay
And living for a brand new day

In morning dew,
a glorious scene came through,
like war is over now
I feel I'm coming home again

The moments unfold
In the meaning of love
This war is over now
I feel I'm coming home again

In morning dew,
a glorious scene came through,
like war is over now
I feel I'm coming home again

The moments unfold
In the meaning of love
This war is over now
I feel I'm coming home again

Friday, 25 April 2014

Kegemaran Lama

Apa kabar?
Penghujung April telah datang. Entah kenapa April membuat saya malas menulis sesuatu di blog. Mungkin karena saya sedang tersihir oleh kegemaran saya saat SD dulu. Saat kecil dulu, saya sangat suka dengan bahasa asing. Nah, berhubung dulu saya cuma mendengar lagu-lagu Backstreet Boys, Westlife, Aaron Carter, Phill Collin, The Moffats dan beberapa lagu berbahasa Inggris, maka saya tertarik dengan bahasa ini. Diam-diam, sebelum tidur saya senang membaca buku percakapan sehari-hari bahasa Inggris punya orang tua saya. Lama kelamaan, saya suka penasaran sama arti bahasa tersebut, apalagi arti lirik lagu-lagu yang saya dengar. Akhirnya, saya sering pinjam sampul kaset punya teman dan mencatat lirik beberapa lagu. Iseng-iseng, saya mengambil kamus Inggris-Indonesianya John Echols dan Hassan Shadily lalu mulailah menerjemahkan tanpa teori terjemahan yang baik dan tepat tentunya. Yang penting saya mengerti lirik-lirik lagu tersebut. Itu yang saya pikirkan.

Kini, kegemaran itu kembali meracuni saya lagi rupanya. Hanya saja bukan lirik lagu berbahasa Inggris, melainkan puisi-puisi Nizar Qabbaniy yang tentu saja berbahasa Arab. Hampir tiap hari saya 'menyepi' membolak-balikkan lembaran kamus dan Diwan Nizar Qabbaniy yang tebalnya sangat aduhai. Walau berat harus meneteng tiap hari, tapi saya merasa senang jika menemukan satu kata yang jarang saya dengar. Semakin menerjemahkan beberapa karya Qabbaniy, semakin saya mengenalinya. Rasa-rasanya, saya terbawa kesedihannya saat saya membaca ar-Rasmu bil Kaalimaat saat ia menceritakan sisa-sisa kejayaan Arab di Spanyol macam tarian Flamenco yang lebih dikenal berasal dari Spanyol ketimbang dari Arab. Dalam antologi puisinya yang lain, saya menemukan sebuah puisi berjudul Lolita. Puisi ini, entah kenapa, saya rasa berhubungan dengan karya maha karya Vladimir Nobokov dengan judul yang sama, yaitu Lolita. Jadi, kali ini saya tampaknya sedang PDKT (lagi) dengan Qabbaniy melalui karya-karyanya. Semoga saya masih diberi kesempatan menulis tesis yang mengangkat karyanya lagi. (amiin)
Salam...


Monday, 14 April 2014

Cerita Random

Beberapa hari yang lalu iseng-iseng ikut seorang teman untuk beauty class. Di dalam ruangan, telah berkumpul ibu-ibu yang sibuk membicarakan make up, tas, pakaian, shopping, hingga travelling ke luar negeri. Oh tidak! Sejujurnya ini bukan dunia saya! Tapi tak apalah. Hitung-hitung menambah ilmu. Ternyata itu bukan beauty class biasa, namun beauty class untuk rekruitmen sebuah MLM kosmetik. Tentu saja tidak langsung ke acara rias-merias, melainkan pengenalan profil perusahaan yang dipandu seorang ibu paruh baya penuh gaya dan tampak lebih muda dari usia sebenarnya. Standar, beliau mulai menerangkan profil perusahan macam pendiri lalu keuntungan yang didapatkan dari join perusahaan tersebut. Hingga salah satu slide memperlihatkan impian apa saja yang telah ia capai melalui perusahaan tersebut seperti menyekolahkan dua anaknya ke universitas termahal (termahal ya bukan terbaik) di kotanya, umrah, dan jalan-jalan keliling dunia sambil shopping mewah.

Saya hanya manggut-manggut dan mencoba bermimik takjub atas keberhasilan beliau walau dalam hati saya terus berteriak: Oh Tuhan! Sekali lagi, ini bukan dunia saya! Dan pada intinya, beliau mengatakan jika punya mimpi, maka join perusahaan tersebut. Well! sekali lagi saya hanya manggut-manggut sambil senyum. Duh... kalau Anda tahu, mimpi saya gak muluk-muluk. Saya hanya ingin menjadi orang berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar serta negeri ini. That's it! Itu saja. Yah... walau terkadang miris sendiri lihat negeri ini. Korupsi dimana-mana, urusan birokrasi yang susah banget, para monirotas yang tak terjangkau, orang-orang cerdas yang "dicampakkan", hingga sikap sinis masyarakat kita terhadap penemuan hebat anak bangsa macam N250 Pak Habibie.

Sekali lagi... jangan pernah bertanya apa yang telah negara berikan pada kita, namun bertanyalah apa yang telah kita berikan pada negeri. Berikanlah apa yang bisa kita berikan untuk bangsa walau hanya seorang biasa dan tak terkenal dimana-mana. Yup... that's my dream, mam! Gak muluk-muluk. Saat ini saya hanya ingin melanjutkan pendidikan agar kedepannya saya dapat seperti mereka yang telah lebih dulu memberikan manfaat kepada keluarga, masyarakat sekitar, dan bangsa.
 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang