Friday, 17 May 2013

Terima Kasih

Terima kasih Tuhan. Di hari istimewa ini, satu harapan yang telah lama kupendam akhirnya terwujudkan. Semua telah kembali seperti sedia kala, saat kami saling berdekapan membagi kesedihan. Saat kami berpelukan saling menularkan kebahagiaan. Aku benar-benar merindukan kebersamaan masa lalu itu, Tuhan. Walau sebenarnya, aku yakin, bahwa bekas luka masih menganga di hati masing-masing, sisa-sisa  memori tidak menyenangkan masih memenuhi ruang-ruang benak kami. Bagaimanapun masa lalu tak kan pernah bisa terhapuskan. Simpan sajalah sebagai kenangan. Cukuplah yang kutahu sekarang kita bergenggaman lagi walau dalam sisa-sisa kebersamaan yang tak lama. Semoga ini cukup untuk menggantikan semua luka dan kepedihan.

Ini bukanlah trio kwek-kwek, tiga kucing, atau bahkan tiga macan. Ini bukanlah genk gadis-gadis perempuan yang sadis, manis, dan laris atau macam genk money and beauty. Ini hanya persahabatan tiga perempuan berbeda karakter dan kepribadian. Persahabatan ini pernah rekat di masa lalu, namun pernah retak di tengahnya hingga akhirnya kini persahabatan ini tak memiliki status resmi. Persahabatankah atau hanya pertemanan untuk menyambung tali silaturrahim yang sempat terputus lama? Apapun statusnya, aku tak peduli. Yang terpenting, kita bersama kembali menghabiskan sisa waktu yang tak seberapa lama. Pada akhirnya, kita mencari teman bukan karena mereka memiliki kesamaan dan kecocokan, namun bagaimana kita bisa menerima perbedaan itu.

#Tulisan ini teruntuk kalian,dua sobat gila yang punya mimpi berbeda


Thursday, 16 May 2013

Kalau Jodoh, Tak Kemana

Meja kerja Razsya tampak masih berantakan. Kertas berserakan dan laptop belum dimatikan. Razsya berdiri beberapa centi dari meja kerja itu. Ia tampak termenung sambil melihat-lihat keramaian kota dari kaca jendela besar di ruangannya. Tiba-tiba pandangan Razsya terpaku pada sebuah gedung serbaguna di pojokan jalan. Di depan gedung itu berjejer beberapa banner dan spanduk yang melambai-lambai ditiup angin. Razsya kembali ke meja kerjanya untuk mengambil kacamata yang tertinggal di atas keyboard laptop yang terbuka lebar. Di sana. Di gedung serba guna itu, sedang diadakan acara book fair setiap tiga bulan sekali. Razsya tersenyum senang. Ia melirik jam tangan di balik kemejanya. Jam dua belas. Waktu yang tepat sekali. Buru-buru ia keluar dari ruangannya dan melesat masuk ke dalam elevator. Ia tak sempat menyapa kembali sekretarisnya yang tadi sempat tersenyum dan menyapanya.

Di bawah teriknya mentari, Razsya berjalan kaki menuju gedung serbaguna yang dipenuhi kerumunan manusia. Ia mempercepat langkahnya tak sabaran sambil menyiulkan lagu Accidentally in Love yang menjadi soundtrack salah satu sekuel film Shrek. Ia berharap gadis berkepang dua penjual jagung manis itu masih ada di jejeran food court acara book fair tersebut. Pertama kali, Razsya melihat gadis itu dua tahun yang lalu pada saat acara book fair seperti kali ini.

Hari itu, tanpa disengaja, pada jam istirahat kantor, Razsya pergi ke gedung itu untuk membeli beberapa buku cerita anak-anak untuk keponakannya yang akan berulang tahun. Setelah puas berbelanja, ia masuk ke  arena food court dan menemukan sebuah booth makanan yang tampak berbeda daripada booth yang lain. Ukuran booth itu tampak lebih mungil dan terselip di antara booth lain yang berukuran lebih besar Razsya mendekati booth itu. Seorang gadis manis berkepang dua menyambutnya dan menawarkan beberapa pilihan rasa. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memesan satu cup besar jagung manis kukus rasa keju.

Dengan cekatan, gadis itu membuka tutup panci dan menyendokkan bulir-bulir jagung yang telah tanak. Secepat kilat jagung itu telah berpindah tempat ke dalam wadah plastik kecil seukuran air mineral gelas. Gadis itu memasukkan sesendok kecil margarin dan keju parut lalu menuangkan kremer. Ia mengulangi hal yang sama untuk kedua kali. Setelah itu, ia menyerahkan cup tersebut sambil mengucapkan terima kasih dan berharap agar Razsya datang kembali untuk membeli dagangannya. Dan kata-kata itu tampanya bukan hanya harapan si gadis berkepang dua. Setiap hari, selama event berlansung, Razsya selalu kembali membeli jagung manis kukus si gadis berkepang. Jika event itu belum berlangsung, ia hanya dapat menatap gedung serbaguna dari balik kaca jendela kantornya berharap event tiga bulanan itu segera diadakan kembali. Entah kenapa... mungkin Razsya jatuh hati pada gadis berkepang dua itu. Terutama senyumannya yang manis.

Setelah sampai di gedung serbaguna itu, Razsya langsung menuju arena food court. Ia lega karena booth kecil itu masih ada dan tetap terselip di antara booth yang lain. Segera ia menghampiri booth itu. Ternyata, kali ini, si penjual jagung manis bukan lagi gadis berkepang dua. Ia ingin segera membalikkan badan menyimpan rasa kecewa, tapi ia urungakan niatnya karena melihat si penjual terlanjur menyapa dan menawarkan menu padanya. Raszya memesan satu cup besar jagung manis dengan rasa keju. Ia tak berselera memperhatikan gerak-gerik tangan si penjual tersebut. Setelah menerima pesanannya, Raszya menyerahkan selembar uang lima ribu dan langsung berlalu masuk ke dalam ruang exhibition dan masuk ke dalam salah satu ruang yang dipenuhi kerumunan orang yang datang untuk hadir dalam bedah buku. Razsya membaca judul buku itu. Kalau Jodoh Tak Lari Kemana. Razsya tersenyum sinis membaca judul buku itu. Namun, ia tetap masuk ke dalam, membeli satu eksemplar buku 'Jodoh Tak Lari Kemana', dan duduk di kursi paling depan. Saat itu pula, ia melihat gadis berkepang dua duduk di podium sambil sesekali menjawab pertanyaan dari moderator. Razsya heran dan bertanya pada seorang gadis ABG yang duduk di sebelahnya. "Mas ini bagaimana sih? Itu kan mbak Nuansa Salsabila. Penulis buku yang Mas pegang itu," Jawaban gadis ABG itu menohok dirinya. Razsya hanya diam dan memandangi gadi itu dari tempat duduknya.

Sang moderator bertanya pada si gadis berkepang dua tentang inspirasi tulisan tersebut. Dengan malu-malu, gadis berkepang dua berkata,
"Saya terisnpirasi dengan seorang lelaki muda berkacamata yang selalu datang ke booth jagung manis saya setiap event book fair ini berlangsung,"
Tiba-tiba Razsya speechless....

#menulis kilat dan hasilnya ngawur plus seadanya. Selamat makan!!!!!

Tuesday, 14 May 2013

Tergoda Keinginan

Ini bulan Mei 2013. Dan banyak sekali  hal-hal yang menggoda dan benar-benar saya inginkan. Baiklah. Entah kenapa, saya ingin sekali membeli sebuah blus warna biru muda. Ini sebenarnya adalah keinginan yang sudah sangat lama terpendam. Tapi, pas lihat isi dompet, jadi nggak tega untuk membelinya. Kemaren, saat browsing, saya dapat kabar kalau tanggal 17 Mei 2013 ini film Star Trek tayang di seluruh bioskop. Nah lho! Tergoda lagi. Lalu, tadi sore saat baca-baca status di home facebook, saya dapat kabar lagi kalau tanggal 27 Mei 2013 buku terakhir trilogi Negeri 5 Menara akan beredar. Waduhhh!!! Tergoda lagi!!! Ini gawat!

Namun, ketika dipirkan lagi. Hitung-hitung pemasukan lagi. Tampaknya saya lebih memilih membeli barang-barang yang saya butuhkan ketimbang barang-barang yang saya inginkan. Baiklah, untuk saat ini, saya tidak menginjakkan kaki di Pands atau Toko buku. Saya harus menginjakkan kaki ke supermarket dan membeli barang-barang yang memang saya butuhkan. Jadi, utamakanlah kebutuhan daripada keinginan. Kalau dituruti, keinginan itu nggak akal deh ada habisnya. 

Saturday, 11 May 2013

Brownies Kukus

Bahan-bahan:

3 butir telur ayam
150 gram gula pasir
150 gram minyak goreng
210 gram tempung terigu
60 gram coklat bubuk
50 gram coklat batang
garam dan vanile secukupnya
Topping dan isian bisa kacang mete goreng cincang, almond, kismis, keju (sesuai selera ^^)

Cara membuat:

Kocok telur garam ,dan vanile sampai mengembang. Kemudian masukkan tepung terigu, minyak goreng, dan coklat batang. Adonan bisa diisi dengan kacang mete, almond, kismis atau sesuai selera Lalu masukkan adonan ke dalam loyang. Terus taburkan topping sesuai selera, bisa mete, almond, kismis, dan lain-lain. Kukuslah 30 menit. Selamat Mencoba...


Sunday, 5 May 2013

Potongan: Cinta Monyet Arya


Malam itu rembulan di langit tidak lagi sendirian. Banyak gemintang bertebaran dan  berkelap-kelip. Dari sebuah balkon rumah, tampak Arya memandangi rembulan dan gemintang tersebut. Ia tidak menghiraukan semarak celotehan keluarganya yang sibuk menyambut anggota keluarga baru mereka. Siapa lagi kalau bukan putri kecil Ratih. Pikiran Arya terbang melayang ke memori yang terjadi beberapa tahun silam. Arya masih ingat betul hari itu. Satu hari Senin beberapa tahun silam saat ia hendak pergi ke London untuk melanjutkan studinya. Saat itu, ia berjalan menuju pintu keberangkatan. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Seorang gadis remaja memanggil namanya dari belakang. Saat ia membalikkan badannya, ia melihat seorang gadis berseragam putih abu-abu dengan bandana putih di rambut berlari-lari mendekatinya. Gadis itu tak lain adalah Mara. Mara terus berlari ke arahnya tanpa menghiraukan berat tas ransel yang digendongnya. Saat Mara berdiri sejajar di hadapannya, Arya bisa melihat jelas wajah gadis itu dan tentu saja potongan rambutnya yang macam mangkuk mie ayam. Mara lalu mengulurkan sebuah bingkisan kecil kepadanya. Arya mengambil bingkisan itu dan menyimpannya di dalam saku celana lalu ia mengucapkan terima kasih kepada Mara.

“Aku… aku mencintai Mas Arya,”
Arya kaget saat mendengarkan pernyataan Mara yang blak-blakan. Selama ini, ia memang menyayangi Mara dan ingin selalu melindunginya. Namun, ia masih belum yakin apakah rasa itu cinta kepada seorang gadis atau cinta kepada seorang yang telah ia anggap sebagai seorang adik seperti halnya Ratih. Tiba-tiba panggilan untuk keberangkatan penerbangannya menggaung ke seantaro bandara. Ia tak dapat menjelaskan apa yang ia rasakan pada Mara. Ia hanya mengelus puncak kepala Mara sembari berkata,
            “Aku pergi dulu ya, Ra,”
            Setelah itu, Arya berlalu dari hadapannya dan masuk ke dalam pintu keberangkatan. Dari balik kaca hitam ruangan tersebut, Arya menatap punggung Mara yang makin lama makin menjauh kemudian hilang di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Selama penerbangan pun, ia memikirkan perkataan Mara. Mara itu memang lucu dan ramai. Selain itu, ia sangat dekat dengan Mara. Mara  pun sering kali  merepotkannya dengan tingkah laku yang dibuat-buat untuk menarik perhatian dirinya. Bukannya jengkel dan kesal, Arya malah menuruti saja kemauan gadis itu. Ia sadar jika ia memang menyayangi Mara. Namun, ia belum bisa menamai perasaan yang ada di dalam hatinya. Hingga suatu saat, saat ia terpisah beribu-ribu mil dari gadis itu, Arya tersadar bahwa ia mencintai Mara. Sering kali Arya merindukan canda tawa gadis itu. Arya selalu menunggu masa-masa liburan agar dapat pulang ke Indonesia dan bertemu dengan Mara. Namun, beberapa kali Arya pulang, tak sekalipun ia bertemu dengan Mara. Ia pun malu menanyakan kabar Mara kepada Ratih.
Dan akhirnya, setelah sekian lama, ia bertemu dengan gadis itu kembali. Banyak sekali yang berubah dari Mara. Gadis itu tampak lebih dewasa dalam perkataan maupun tindakannya. Tak ada lagi Mara yang cerewet dan sering bermanja-manja minta diperhatikan olehnya. Betapa ingin ia memeluk, mengacak-acak rambut gadis itu, dan mengatakan padanya bahwa ia mempunyai rasa yang sama pada gadis itu. Tapi, itu tak mungkin terjadi. Tampaknya, Mara telah lupa dengan pernyataannya saat itu. Mungkin saja dirinya hanya cinta monyet bagi Mara. Arya meneguk soft drink-nya. Di langit sana, rembulan telah tersembunyi di balik guratan awan. Malam semakin larut. Suasana yang tadi ramai pun lambat-laun menghilang dan tergantikan dengan suara jangkrik yang bersahutan. Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundaknya. Arya menoleh ke samping dan mendapati ibunya berdiri di sisinya.
“Mama senang sekali mendapat kado terindah dari Ratih. Tapi, Mama akan lebih bahagia kalau anak laki-laki Mama ini cepat-cepat juga melepas masa lajangnya. Apalagi yang kamu tunggu, Nak? Umur sudah lebih dari cukup, pekerjaan sudah ada dan mapan,” kata sang ibu sambil menatap anak sulungnya itu.
“Tenang Ma. Arya juga tidak mau jadi bujang lapuk. Memangnya mama mau menantu yang seperti apa?” Katanya sambil memeluk sang ibu dengan tangan kanannya.
“Terserah kamu saja. Yang penting satu iman. Hmm… tapi, Ar, kalau bisa yang seperti Mara ya,”
Arya terdiam seketika. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan.

Friday, 3 May 2013

Suitable

Alunan instrumen yang lembut menyeruak halus ke seantaro ruangan perpustakaan. Pagi itu, perpustakaan tampak masih sepi dan tentu saja hening. Di salah satu pojok perpustakaan, Zya duduk sambil menatap jendela transparan dan layar laptopnya bergantian sambil menunggu kedatangan Rye. Cangkir vanila latte di sebelahnya tampak telah setengah kosong, namun Rye belum memperlihatkan batang hidungnya. Zya menghela napasnya panjang menahan emosi.

Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan, seorang gadis berambut hitam ikal sebahu menuju ke arahnya. Itu Rye. Zya sudah bisa menebaknya. Tentu saja, ia hapal dengan dandanan Rye yang semarak dengan pakaian girly, make up tipis, dan tentu saja high heelsnya berbeda seratus 360 derajat dari dirinya. Rye mendekati Zya dan meminta maaf atas keterlambatannya. Zya maklum, ini sudah keseribu kalinya Rye terlambat. Padahal Ryelah yang meminta dirinya datang. Ia juga sudah tahu, pasti kali ini Rye punya masalah. Yah. Zya juga hapal dengan tabiat sahabatnya ini. Beberapa detik lagi, pasti Rye akan memuntahkan segala permasalahannya. Sebagai seorang sahabat, Zya adalah seorang pendengar yang baik walau kadang ia tidak bisa memberi solusi apapun.

"Zya! Aku ingin putus saja dari Zyco. Tampaknya tak ada kecocokan lagi di antara kami, bla bla bla bla," Dan mengalirlah muntahan lahar kalimat dari mulut Rye. Kali ini, seperti biasa lagi, Zya hanya mendengarkan Rye sambil sesekali menggeleng dan menganggukkan kepala. Kali ini, masalahnya adalah ketidakcocokan. Hmmm. Bukannya, memang sejatinya manusia itu diciptakan berbeda-beda dan tak akan pernah sama? Bisa dipastikan sedekat apapun atau se-klop apapun, pasti ada ketidakcocokan dalam hubungan apapun itu. Baik dari hubungan cinta, hubungan pertemanan, bahkan hubungan kekerabatan. Intinya bukanlah mencari seseorang yang cocok dan selalu sama dengan kita. Seratus persen, kita tidak akan pernah menemuinya walau dicari ke ujung dunia sekalipun. Jadi, janganlah mencari persamaan, namun satukanlah dan hormatilah perbedaan. Itu solusinya!

Monday, 29 April 2013

Status

"Semoga saja kita masih bisa bertemu di lain waktu"
Kubaca rangkaian kata-kata itu satu persatu. Kemudian memasukkan handphoneku ke dalam tas berlalu begitu saja. Dan akhirnya aku pun terlupa.

"Aku ingin bertemu denganmu lagi. Apakah kau keberatan?"
"Tentu saja tidak,"
Kau memesan secangkir coklat hangat dan aku memesan segelas orange juice. Kita bercakap-cakap seru sambil sesekali menyesap minuman masing-masing. Itu pertemuan kedua kita setelah pertemuan "tak sengaja" sebelumnya.

"Kau beda rupanya. Kau berbeda dari semua teman-teman perempuan yang kukenal. Aku menyukaimu,"
Aku hanya terdiam sambil menyembunyikan pipiku yang rasanya tiba-tiba memerah. Dan... saat itulah debaran hangat mulai menyusup ke dalam hatiku. Mungkinkah aku mulai jatuh cinta?

"Kau tahu, Aku pernah berharap bertemu dengan seseorang yang kuanggap istimewa dengan cara yang tak biasa. Seperti pertemuan kita,"
Lagi-lagi, aku hanya diam menahan debaran-debaran yang semakin hari semakin kencang. Aku tak tahu harus berkata apa.

"Astaga. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu! Jangan pernah berkeliling kota sendirian macam ini lagi,"
"Aku sudah terbiasa seperti ini," Kataku membela diri. Saat itu, aku ingin bertanya padanya mengapa ia terlalu khawatir dan nyaris marah karena aku berkeliling kota sendirian. Namun, sayangnya pertanyaan itu tak pernah terucapkan.

"Sudah sampai mana? Jaga dirimu baik-baik ya. Di sini sedang mati lampu,"
Beberapa kali handphone-ku berdering memuntahkan beberapa pesan singkat darimu. Mengapa kau sekhawatir ini padaku. Padahal kita hanya teman biasa. Apakah kau menyimpan suatu rasa untukku? Lagi-lagi pertanyaan itu tak pernah kutanyakan padamu. Namun, semakin hari, aku semakin berharap.

"Kau harus mampir di kotaku. Aku menunggumu di alun-alun kota,"
Aku tak bisa menolak ajakanmu. Pagi itu, aku singgah di kotamu. Entah kau bawa aku kemana. Yang jelas kita makan makanan khas kota kelahiranmu. Kita bercengkrama hingga waktu memisahkan kita. Dan aku tampaknya benar-benar "menyukai"mu. Namun sayang, kau tetap membisu begitu juga diriku.


 "Aku tidak diperbolehkan menikahi perempuan beda suku,"
Kubaca tulisanmu dalam chatting box di salah satu jejaring sosialku. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku hanya menuliskan satu kata balasan, yaitu "Sabar ya" dengan menambahkan emoticon senyuman. Setelah itu, kau menghilang. Benar-benar menghilang tanpa kabar berita. Ya. Kau tinggalkan aku tanpa kepastian. Dan akhirnya, kau... kau... ah! Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. 

Mungkin memang aku saja yang terlalu perasa dan berprasangka hingga aku berharap kau menyimpan rasa, yang dinamakan cinta itu, utnukku. Rupanya aku salah. Nasi telah menjadi bubur. Kenangan itu tak pernah bisa dihapus. Baikah, kutertawakan saja masa lalu itu. Mungkin cinta memang butuh status agar valid dan tidak mengecewakan pihak-pihak tertentu :D :D

Wednesday, 24 April 2013

Obrolan Tentang Wanita

Dan hari ini, saya tersadar bahwa sudah hampir sebulan tidak menjamah blog dan tidak juga menuangkan hayalan saya di depan layar Si Ijo. Memang agak sibuk mungkin ya. Walau sudah kuliah dan tidak bekerja formal (maksudnya masuk kantor), tapi masih banyak yang harus dikerjakan. Dari jaga lapak sweet corn, membantu teman-teman menerjemahkan naskah, ngurus penerbitan yang sedang ketar-ketir, dan juga ngurus S2. Ya. Rencananya saya mau lanjut sekolah. Mumpung masih muda dan mumpung otak masih kuat untuk dijejali ilmu-ilmu baru. Semoga saja, saya bisa lanjut kuliah. Saya ingin sekali menjadi dosen agar bisa berbagi ilmu. Semoga saja, kali ini saya bisa mendapatkan beasiswa itu. Amiin.

Diam-diam saya sudah memikirkan apa yang akan saya bahas dalam tesis saya. Saya ingin membahas pemikiran seorang penyair Arab tentang kedudukan wanita dalam pandangannya. Saya kagum dengan penyair tersebut. Apalagi dengan pemikirannya tentang perempuan. Dia memang out of the box dari stereotipe masyarakat yang berpendapat bahwa kewajiban wanita adalah mengurus anak dan rumah tangga. Padahal dia sendiri adalah seorang pria. Jarang-jarang para pria berpikir seperti itu. Ada sih tapi tidak banyak jumlahnya.

Menurut saya, mengurus rumah tangga dan merawat (mendidik dan membesarkan) anak bukanlah kewajiban pihak wanita saja. Tidak diwajibkan pun, wanita pasti punya naluri keibuan dalam dirinya. Hanya saja, sebaiknya ada kerjasama di antara dua belah pihak. Agar pihak perempuan tidak berprasangka bahwa dirinya adalah makhluk kelas dua yang notabene hanya sebagai pelengkap. Dan mungkin inilah yang menjadikan isu kesetaraan gender bangkit dan merambah ke dalam masyarakat kita.Kalau menurut saya, wanita itu harus cerdas, kuat, namun tetap penuh dengan kasih sayang. Wanita boleh saja lho sekolah tinggi-tinggi, agar nantinya ia cerdas dan mampu mendidik anak-anaknya. Bayangkan saja, kalau wanita masa kini tidak sekolah tinggi, bagaimana ia akan mendidik anak-anaknya di masa depan nanti. Tahu sendirilah! Zaman makin maju dan berkembang, begitu pun manusia pada saat itu, termasuk anak-anak kita kelak. Jadi, apapun pilihanmu, kau harus tanamkan pada dirimu bahwa wanita itu adalah makhluk mulia. Wanita itu sejatinya lebih kuat, hanya saja tertutupi dengan kelembutannya. Bangga menjadi seorang wanita!

Thursday, 4 April 2013

Don't Give Up


Banyak kata yang mestinya dirangkai. Namun kali ini, cukuplah sebuah gambar dan beberapa barisan kata saja untuk menambah kekuatan hati ini. Saya pasti bisa meneruskan pendidikan saya lagi. Amiin. Jangan menyerah, Shin!

Saturday, 23 March 2013

Mengapa?

Mengapa bundaku tak seperti bunda temanku yang tidak pernah marah?
Karena bundamu menginginkanmu memiliki mental yang kuat agar kau tak cepat tumbang saat badai kehidupan menghantammu satu saat nanti.

Mengapa bundaku tak seperti bunda temanku yang selalu memberi uang jajan lebih banyak?
Karena bundamu ingin kau tumbuh menjadi manusia kreatif yang dapat berpikir bagaimana menjalani lika-liku kehidupan ini yang terkadang penuh suka, namun juga sarat akan duka.

Mengapa bundaku tidak seperti bunda temanku yang selalu memanjakan anak-anaknya?
Karena bundamu ingin kau menjadi seseorang yang mandiri dan dapat tegar dalam menjalani kehidupan ini. Karena bunda sadar bahwa kau tak mungkin akan selalu hidup bersamanya. Satu saat, cepat atau lambat, masa itu akan datang. Masa dimana kau tidak lagi bersama dengan kedua orangtuamu. Masa dimana kau akan menghadapi kehidupan nyatamu.

Mengapa ayah tidak seperti ayah temanku yang penuh canda dan tawa?
Karena dalam diamnya ia terus menerus berdoa untukmu tanpa henti. Dalam diamnya, ia tak putus-putusnya memikirkanmu. Dalam diamnya, ia menyembunyikan rasa sedih karena suatu saat kau akan pergi meninggalkannya. Kau bisa bayangkan bukan betapa sedihnya ayah saat bibir tuanya mengucapkan kalimat ijab kabul dan tangan keriputnya memegang erat tangan calon imammu yang akan menggantikan posisi dirinya?

Jangan pernah membandingkan mereka dengan yang lain. Merekalah yang terbaik. Merekalah dua malaikat yang dikirim Tuhan untuk merawatmu, mengajarimu, dan tentu saja melindungimu sampai kau benar-benar mampu menapakkan kaki di jalan kehidupan yang seseungguhnya. Mereka punya cara masing-masing untuk mengajarimu mata pelajaran Dasar-Dasar Ilmu Kehidupan. Jika terbersit untuk membandingkan mereka dengan yang lain, ingatlah bahwa begitulah cara mereka mengajarimu dan mendidikmu untuk menjadi manusia yang tangguh, kreatif, mandiri, selalu bersyukur, dan berbakti kepada mereka.

Friday, 22 March 2013

Ibu Versus Ibu

Masih ingatkah tentang seorang anak yang melaporkan ibunya ke polisi atas tuduhan pencurian pohon Bayur? Tentu saja masih. Berita ini memang masih hangat dan fresh. Tidak hanya berita di televisi, di sini, di sekitar lingkungan tempat saya tinggal, kejadian serupa tapi tak sama pun terjadi. Si anak dengan seenaknya membentak sang ibu dengan kata-kata kasar yang tidak sepantasnya digunakan pada seseorang yang lebih tua apalagi untuk ibu. Ah! Dalam benak saya, saat itu, langsung dipenuhi oleh banyak pertanyaan. 

Apakah sang anak tidak ingat saat ia masih menjadi bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa? Apakah ia telah lupa belaian lembut sang ibu, kehangatan pelukan ibu, dan tentu saja kasih sang ibu yang luar biasa itu? Apa sih yang ada di pikirannya? Sembilan bulan sepuluh hari ibu mengandung lalu mempertaruhkan nyawa, merawat buah hati terkasihnya hingga tumbuh dewasa dan mengerti tentang dunia. Apa salah jika, sang ibu hanya menginginkan sebatang pohon Bayur untuk menyanggah rumahnya yang reyot? Pantaskah berbuat seperti itu? Hanya pohon Bayur seharga dua ratus ribu. Saya kira, itu tidak sebanding dengan harga nyawa ibu ketika mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan seorang bayi mungil tanpa dosa. Selama tinggal di rahimnya pun, ibu tidak pernah meminta uang sewa bukan? Ia hanya menginginkan anaknya lahir dan diberi kesehatan. Ia hanya mengharapkan anaknya menjadi anak saleh dan salehah agar dapat mendoakannya ketika ia menghadap pada sang Illahi satu saat nanti.

Parahnya lagi, si anak tersebut juga merupakan seorang ibu yang tentu saja telah merasakan hal yang sama.  Bagaimanapun, mereka telah merasakan bagaimana sakitnya mempertaruhkan nyawa saat melahirkan atau bagaimana repotnya mengurus anak-anak. Bagaimana mungkin mereka tega berbuat seperti itu pada ibu? Apakah mereka tidak pernah berpikir betapa sakitnya jika anak-anak mereka berbuat seperti itu pada mereka kelak? Itu masih menjadi pertanyaan besar di benak ini. Mungkin saja mereka sedang khilaf.  Yah... namanya juga manusia. Tempatnya salah dan lupa. Semoga suatu saat mereka sadar dan semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat tersebut. Amiin

Sunday, 10 March 2013

Jarak



Wahai jarak
Wahai jarak
Wahai jarak di antara dua jalan setapak
Wahai jarak di antara dua bola mata
Wahai jarak di antara dua orang teman
Semoga semua jarak lenyap dari pandangan

Ah... mengapa seseorang terkadang terasa sangat dekat?
Namun mengapa terkadang seseorang terasa sangat jauh?
Tak seorangpun yang tahu
Dan aku? Apakah aku dekat atau malah terpisah jauh?

Aku tak tahu dimana aku berada
Ada kalanya aku merasakan kehadiranmu di sisiku di ruas-ruas jalan yang lengang
Terkadang, seperti saat ini,memori itu terulang lagi
Memori saat dimana aku melihat dirimu di setiap insan yang kutemui
Jarak ini sungguh membuatku terasa lebih dekat denganmu

Dalam jarak ada penderitaan
Namun, ada jua kerinduan
Semoga semua jarak lenyap dari pandangan
Apakah aku belum mengatakan padamu?
Tanpamu, rasanya aku tak ingin hidup
Walau tak ingin tahu apapun, aku sungguh tidak menginginkan jarak membatasi kau dan aku

Jarak masih menetap di antara kita
Katakanlah dan teriakkanlah bahwa cinta kita bermekaran dan jarak di antara kita menghilang
Dan jarak di antara kita pun menghilanh

Jarak itu terasa aneh
Jarak itu seharusnya pergi
Semoga semu jarak di antara kita lenyap dari pandangan untuk selamanya

*terjemahan lagu "Ye Dooriyan"

Sunday, 3 March 2013

Hujan Kala Itu

Penghujung tahun ini intensitas curah hujan makin meningkat. Sore ini saja, awan tebal telah menutupi indahnya kilau sang mentari. Titik demi titik hujan mulai membasahi setiap permukaan tanah. Hujan kali ini, tidak hanya sekedar hujan, namun juga hujan berangin. Dan kau tahu kan? Aku benar-benar membenci angin. Kukembangkan payung hijau toscaku lalu berjalan menelusuri tepian jalan. Tanpa sengaja, kutatap jalanan yang mulai tergenang oleh rintikan hujan yang mulai beranjak lebat. Tiba-tiba, percikan air comberan menciprati pakaian para pejalan kaki. Beberapa orang dari mereka tampak mengomel dan mengutuk-ngutuk mobil penyebab insiden cipratan air comberan tersebut. mobil itu tak berhenti, namun malah melaju kencang tanpa peduli. Entah apa isi benak orang itu? mengapa ia harus memacu mobilnya begitu kencang? Bukankah tubuhnya tak akan tekena air hujan berangin itu? Atau mungkin ia buru-buru mengejar waktu?

Aku menatap ekor mobil itu yang makin lama makin mengecil dan hilang ditelan jalanan yang menurun tajam. Tiba-tiba aku tersadar bahwa sekujur tubuhku telah basah. selain akibat percikan air comberan, tampaknya payung hijau toscaku tak mampu menahan terpaan angin kencang lagi. Aku menatap lurus ke depan. Dua blok lagi, aku akan sampai ke tempat tujuanku. Aku mempercepat langkahku hingga akhirnya aku sampai pada tempat tujuanku. Sekilas kubaca papan nama yang tergantung di bangunan itu. Aku melangkah masuk. Seorang wanita rambut panjang hitam sebahu melambaikan tangan kepadaku. Aku tersenyum dan mendekatinya. Lalu kami berpelukan saling melepas rindu. Seorang pelayan mendatangi kami dan memberikan selembar daftar menu. Aku memesan semangkuk es krim mocca. Entah kenapa. Walau di luar sana hujan turun lebat, aku ingin sekali menikmati semangkuk besar es krim mocca. Ah!Aku benar-benar tak peduli pada cuaca. Aku hanya ingin es krim mocca. Titik.

"Sudah lama tidak bertemu ya, Ci," Wanita itu memulai percakapan sambil mengelus-elus perutnya yang makin membesar.
"Iya ya, Ra. Omong-omong selamat ya atas kehamilanmu. Sebentar lagi aku akan mempunyai keponkan baru. Tak terasa waktu cepat berlalu," Kataku sambil mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang datang mengantarkan semangkuk es krim mocca.
"Bagaimana kabarmu? Kau masih sendiri?" Wanita itu bertanya lagi.
"Tidak. Aku tidak pernah sendiri. Ada dua malaikat yang berdiri di sebelah kanan dan kiriku," jawabku sambil menyendokkan setangkup es krim mocca bertabur coklat chip ke mulutku.
"Aku serius, Ci. Jangan bergurau!"

"Ampun!" Kataku sambil menangkupkan kedua tanganku di dahi. Aku mencoba melucu untuk membelokkan arah percakapan ini. Sejujurnya, aku sudah bosan setengah mati dengan tema pembicaraan tentang 'kesendirian'. Aku tak ingin orang-orang menatapku iba. Aku bahagia dengan ini semua. Tak ada lagi yang mengganggu hidupku, merusak hari-hari, dan memenuhi pikiranku. Setidaknya aku tak pernah melakukan hal-hal bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Buatku, masa lalu itu adalah kaca perbandingan untuk masa depan. Jadi, cukuplah kebodohan itu terjadi di masa lalu saja.

"Jangan mencoba melucu, Ci! Aku serius. Kau tidak melihat ketulusan cinta Adit padamu? Kau terlalu selektif, Ci. Pantas jika sampai kini kau masih sendiri!" Kata wanita itu penuh dengan keseriusan dan sedikit berapi-api. Mungkin, jika ia tidak dalam keadaan hamil, ia akan membentakku dengan suaranya yang melengking itu. aku tahu sifat wanita itu. Kami telah berteman baik selama sepuluh tahun lebih dan aku tahu semua gerak gerik dan tingkah polahnya.

Aku menghembuskan napasku sambil tersenyum kecut. Bukan aku selektif, tapi aku tak mau mengulang kebodohan di masa lalu. Jangan pernah jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya karena orang-orang yang jatuh ke dalam lubang yang sama adalah orang-orang bodoh. Aku menjauhkan mangkuk es krim mocca yang mulai mencair. Nafsu makankmu menguap tiba-tiba. Aku tak ingin es krim mocca lagi.

"Apa buktinya bahwa Adit benar-benar mencintaiku?" kataku sinis.
"Rasakan perhatiannya, Ci! Apakah hatimu tidak memiliki kesensitifan untuk merasakan itu?
"Apa katamu? Perhatian? Buatku sebuah perhatian bukanlah bagian dari cinta, Ra! Perhatian ya hanya sebatas perhatian belaka tanpa arti dan juga makna,"
"Kenapa kau simpulkan seperti itu?"
"Ara. Dengar! Dulu aku pernah terbuai dengan sebongkah besar perhatian yang begitu dalam. Pada akhirnya, aku menyimpulkan perhatian itu adalah bentuk cinta dia padaku. Namun, apa yang terjadi? Dia pergi tanpa kabar berita sampai akhirnya aku mendapati sepucuk undangan pernikahan. Undangan pernikahan berwarna biru muda bergambar rangkaian bunga lili putih serta bertuliskan namanya dan namamu. Kau tahu itu kan? Semenjak itu, aku tak pernah terbuai oleh segala macam bentuk perhatian apapun dari seorang lelaki. Jadi jika hal ini terjadi lagi padaku, apakah kau masih berpikir bahwa aku terlalu selektif?"

Wanita yang kupanggil Ara itu terdiam. Begitu juga aku. Setelah lelah adu mulut, kami semua terdiam. Aku menatap mengkuk es krim mocca yang kuletakkan di pinggiran meja. Es krim mocca itu tampak benar-benar telah mencair. coklat chipnya pun telah hilang dalam cairan berwarna coklat pekat itu. Aku melirik jam tanganku. Rupanya sudah jam enam sore. Aku menatap Ara yang masih termenung di depanku.
"Ra. Sudah jam enam sore. Aku harus kembali," kataku hati-hati. Aku tahu kata-kataku tadi pasti telah menyakitinya dan membuka luka lama di dalam hati kami masing-masing.
"Maafkan aku, Ci. Aku tidak pernah bermaksud merebut dia dari dirimu," Ara terlihat merasa bersalah.
"Kau tak salah Ra. Tak ada yang salah. Cinta itu absolut, tidak bisa disalahkan. Cinta itu datang tiba-tiba. Cinta itu hinggap di hati siapa saja yang dikehendakinya tanpa menghiraukan situasi dan kondisi yang tengah terjadi". Aku berdiri dan memeluk Ara. Aku berkata padanya bahwa aku tak sabar ingin melihat kelahiran bayi mungilnya. Bayi mungil buah cinta Ara dengan dia. lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Di tengah jalan pun pikiranku masih kacau. Mangkuk es krim mocca, wajah Ara, dan percakapan kami masih memenuhi benakku. Tuhan! tak bisakah aku normal kembali saat pikiran ini jauh dari kata 'laki-laki'? Dia memang telah kucampakkan dari pikiranku jauh-jauh, tapi kali ini Adit masuk dalam rekaman memori otakku. Ah andai saja memori otakku hanya 128 gb dan Adit 2 kb. Aku yakin otakku tak kan mampu menyimpan memori tentangnya. Dan aku bersyukur untuk itu. Namun kenyataannya tidak. Sayang sekali.
"Ici!" Seseorang memanggil namaku dari belakang. Aku membalikkan badanku dan melihat Adit berdiri tegap di ujung trotoar. aku mendekatinya dan dengan memberanikan diri aku berkata padanya,
"Aku tidak butuh perhatianmu. Jika kau memang tulus mencintaiku, katakan sejujurnya!"
Air mataku mulai meluruh satu persatu. Aku tinggalkan Adit yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

Hujan masih luruh dari awan senja kala itu. Mendung pun masih tampak kelabu. Hatiku memang masih beku. Namun di bagian terdalamnya, aku masih menunggu yang terbaik untukku.

Monday, 25 February 2013

Wajah Lain Malioboro



Biasanya, ruas jalan Malioboro dipadati berbagai macam kendaraan. Dari kendaraan tradisional, seperti andong dan becak, sampai dengan bus kota yang lumayan besar dan ngabisin jalan. Tapi, malam 23 Februari 2013, saya melihat wajah Malioboro yang lebih indah tanpa satu pun kendaraan yang berkeliaran. Sungguh menyenangkan berjalan bebas di tengah jalan Malioboro.

Saturday, 23 February 2013

Kapan Menulis (Lagi)?

Ah. Sudah lama tidak duduk mematung di depan layar laptop sambil menarikan jemari di atas keyboardnya. Rasanya waktu untuk duduk berhayal di depan layar sudah sangat mengecil frekuensinya. Kesibukan yang mulai memadat ini tampak menjadi pemicunya sehingga waktu luang digunakan untuk memanjakan mata alias tidur, menonton film, dan memelototi acara televisi.

Buat saya, menulis itu bukan suatu hal yang harus di-publish sebagai kebanggaan diri. Menulis itu juga bukan obsesi untuk menjadi penulis profesional. Buat saya, menulis itu bisa dibilang kebutuhan sekunder. Lewat tulisan, rasanya saya bisa bercerita banyak tentang segala hal yang saya pikirkan. Menulis juga merupakan sebuah wadah bagi saya untuk mencurahkan hayalan, harapan, dan bahkan ketakutan saya. Setelah menulis, rasanya lega sekali seperti ada beban yang dikeluarkan dari dalam diri ini. Jadi, menulis itu ya seperti terapi dan media refreshing untuk saya. Makannya, saya lebih suka menghabiskan waktu senggang untuk berdiam diri di kamar sambil menulis daripada pergi jalan-jalan menonton konser. Bisa dibilang, telinga saya tak cukup kuat mendengar hentakan alunan musik yang terlalu keras menggelegar. Hehe. Ya, Tuhan! Saya benar-benar sudah terlalu rindu setengah mati untuk menulis. Jadi, kapan direalisasikan, shin? Kapan menulis (lagi)?

Monday, 18 February 2013

La Lluvia


Y las aceras están mojadas 
Todas las huellas están borradas 
La lluvia guarda nuestro secreto 


LLueve 
Y en mi ventana te echo de menos 
Los días pasan y son ajenos 
El frío me abraza y me parte en dos 

La lluvia cae sobre los tejados 
Dónde fuimos más que amigos 
Recuerdo que dormimos al abrigo 
Del amanecer 

Los bares han cerrado ya no hay copas 
La lluvia hoy mojará mi ropa 
Si no estás aquí 
Si tú no estás me duelen mas los años 
Las heridas me hacen daño 
Si no vuelvo a oír tu voz 

LLueve 
Y las palabras se quedan mudas 
Todas las noches las mismas dudas 
¿Qué fue de todos aquellos besos? 

LLueve 
Y se enmudece la primavera 
Cuento las veces que el sol espera 
Para secar de lluvia la acera 
Para secar de lluvia el tejado 
Dónde fuimos más que amigos 
Recuerdo que dormimos al abrigo 
Del amanecer 

Los bares han cerrado ya no hay copas 
La lluvia hoy mojará mi ropa 
Si no estás aquí 
Si tú no estás me duelen mas los años 
Las heridas me hacen daño 
Si no vuelvo a oír tu voz 

En los tejados dónde fuimos más que amigos 
Recuerdo que dormimos al abrigo 
Del amanecer 

Los bares han cerrado ya no hay copas 
La lluvia hoy mojará mi ropa 
Si no estás aquí 
Si tú no estás me duelen mas los años 
Las heridas me hacen daño 
Si no vuelvo a oír tu voz 


*Sungguh saya benar-benar rindu belajar bahasa Spanyol lagi

Monday, 11 February 2013

Au Revoir

Kemunculanmu menambahkan lipatan kebencianku. Jangan pernah berharap aku menanyakan tentangmu dan masa depanmu. Kau kira aku sudi? Aku bahkan sudah tak peduli. Aku tidak seperti yang dulu. Yang selalu mengharap kedatanganmu lalu menyapaku dan mengajakku tertawa sambil menyisiri trotoar jalanan kota ini. Pergilah menjauh dan jangan pernah menyapaku walau hanya melalui mimpi. Anggap saja kita tak pernah kenal. Kumohon jangan lagi pernah muncul di hadapanku. Pergilah dan selamat tinggal untuk selamanya....

Sunday, 3 February 2013

Selayang Pandang

Jika mendengar kata-kata 'film India' atau yang lebih kita kenal dengan kata Bollywood, kebanyakan masyarakat kita pasti akan mengecap film India itu kampungan dan tidak menarik. Ada juga yang mengaggap bahwa film India itu norak dan isinya menangis, menyanyi sambil muterin pohon, atau hujan-hujanan sambil ngembangin selendang. Jujur, dulu saya tidak tertarik dengan film India karena alasan di atas. Namun, seiring perjalanannya waktu, konsep film India akhir-akhir ini berubah. Film India tidak lagi tentang kisah cinta yang romantis dan terkesan cengeng. Terlepas dari itu semua, mari kita mengintip selayang pandang tentang film India. 

Dalam penggunaan bahasa, film India terbagi menjadi tiga, yaitu film berbahasa Hindi, Telugu, dan Tamil. Sebenarnya bukan semua film India itu bisa disebut Bollywood. Bollywood itu sebenarnya adalah sebutan untuk industri perfilman yang terletak di Mumbai khusus film yang menggunakan bahasa Hindi. Tapi, film India non-Bollywood tidak kalah dengan film-film Bollywood. Salah satu contohnya adalah film "Oh My Friend". Film ini adalah film India berbahasa Telugu. Tema yang diangkat segar dan tidak biasa. Film ini tentang persahabatan antara seorang lelaki dan perempuan. Yang tidak biasa adalah, si kedua tokoh tidak saling jatuh cinta seperti jalan cerita film-film yang ada saat ini. Masyarakat (termasuk kekasih-kekasih mereka) di sekitar mereka berpikir bahwa tidak akan ada persahabatan yang murni tanpa embel-embel cinta, namun dua tokoh ini jatuh bangun membuktikan bahwa persahabatan mereka murni persahabatan tanpa rasa cinta sebagai sepasang kekasih. Intinya best friend forever.

Jika dulu film India temanya hanya kisah percintaan dan terkesan cengeng, sekarang tema film India lebih beragam dan tidak mebosankan. Kisah cinta memang masih ada dalam setiap film, tapi dikemas dengan sedemikian rupa. Salah satunya film "Ghajini". Ini film favorit saya. Film ini sangat berkesan bagi saya. Mungkin, melalui film ini si sutradara ingin menyampaikan tentang definisi romantisme. Romantis itu tidak hanya ditunjukkan dengan rayuan atau sentuhan. Romantis itu ya seperti Sanjay Singhania dan Kalpana (dua tokoh dalam film Ghajini). Selain tema cinta, film India banyak mengusung tema-tema sosial. Misalkan film "My Name is Khan", "New York", dan "Kurbaan". Tiga film ini mengangkat tema tentang respon masyarakat Islam dan non-Islam atas peristiwa 11 September 2004. Selain itu, ada juga film yang mengangkat tentang pendidikan, anak-anak, dan difabel. Contohnya saja "3 Idiots", "Udhan", "Barfi!" dan "Taare Zamaan Par". Ada juga film yang mengangkat kritik sosial dan politik, contohnya film "Rangde Basanti", "English Vinglish", "Slumdog Milionaire", "Ek Tha Tiger", dan "Swades". Film tentang drama keluarganya juga bagus-bagus. Sebut saja "We are Family, "Yuvraaj", dan "Paa".

Saya pribadi tertarik menonton film India karena film-film India ini karena tema yang diangkat sangat menarik, tidak pasaran, dan tidak membosankan. Dan yang pasti, film India itu menarik untuk diteliti dengan berbagai teori kritik sastra *Coba ada lembaga yang menampung penelitian tentang sastra. Dan melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa jangan underestimate dulu saat mendengar kata 'film India'.

Friday, 1 February 2013

Kau Pergi

Kau tahu, rindu ini ternyata menggebu-gebu untukmu
Betapa rindunya untuk sekedar bercengkrama bersenda gurau denganmu
Mungkin kini kau telah lupa bahwa kita pernah merajut hari-hari bersama dulu
Kau tahu, betapa aku ingin bercerita banyak hal padamu
Namun tampaknya kau telah bosan mendengarkanku bercerita tentang cinta lalu yang menyakitiku

Kini kau pergi meninggalkanku menemukan sobat baru
Inikah sebuah pertemanan
silih berganti
datang dan pergi
Aku tidak mengharapkan pamrihmu
Aku hanya ingin kau tak melupakanku
itu saja rasanya telah tercukupi

Entahlah... Aku hanya bisa menunggumu di sini
berharap kita masih dapat berbagi cerita dalam episode hidup yang terlalui
berharap kita masih dapat bercerita tentang mimpi-mimpi kita di masa yang akan kita lalui

Harapanku sirna
kau pergi entah kemana



Tuesday, 29 January 2013

Perjalanan Singkat

Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan diri menjadi warga ibukota dan sekitarnya untuk sementara. Hal ini berhubung karena ada acara keluarga salah seorang kakak papa. Saya kesana dengan menggunakan bus yang bisa dibilang ngaret. Pasalnya, saya mendapat jadwal jika bus akan berangkat jam 15:30,. Tapi, kenyataannya, bus baru berangkat jam 17:15. Jadilah saya menunggu sampai kering di terminal itu. Untung saja tadi saya tidak lupa membawa sebuah novel untuk mengantisipasi hal seperti yang sudah lazim seperti ini. Dan akhirnya baru sampai Simpang Depok pada pukul 09:00. Bener-bener kain dari perjalanan-perjalanan saya sebelumnya karena biasanya sampai Simpang Depok pas subuh. Turun bus, saya langsung menyebrangi jalan dan naik angkot 06 sampai lampu merah Citayam. Kemudian dilanjutkan naik angkoy 05 sampai stasiun Citayam. Nyebrang stasiun dan naik ojek menuju rumah adik papa.

Sampai di rumah itu, saya langsung mandi, sarapan, dan pergi lagi menemani mama ke Sudirman dengan menggunakan angkutan umum sejuta umatnya warga ibukota yaitu kereta api. Saya berangkat jam 10:00 dari stasiun Citayam. Saat itu kereta sepi karena bukan jam pergi kerja atau jam pergi sekolah. Kereta itu nyaman sekali apalagi dilengkapi AC dan tempat duduk yang masih banyak kosong plus ada gerbong khusus wanita. Saya lalu duduk di sebuah pojokan dan mulai menghayal *halah. Saya berkata dalam hati semoga saya bisa naik berbagai macam kereta di berbagai negara. Mungkin saya nanti bisa naik Skytrain atau juga Metro dan yang lain-lain itu. Hehehe. Sampai di ibukota, saya makin stres melihat pemandangan yang ada. Biasanya di Jogja saya jarang melihat kemacetan yang super parah, di ibukota ini sebaliknya. Dimana-mana macet *Please jangan salahkan Si Komo. Kalau boleh bilang, saya salut sama orang-orang yang hidup di ibukota ini. Mereka bisa melalui ini semua dengan tabah. Two thumb up!

Setelah urusan selesai, saya dan mama pulang ke Citayam lagi-lagi dengan kereta api *saya sampai hapal nama stasiun-stasiunnya. Pulang sore dengan kereta berarti harus siap dengan resiko yang ada. Apalagi kalo bukan berdesak-desakkan di dalam Commuter line alias kereta itu. Dan sialnya, saya tidak masuk gerbong khusus wanita. Dan jadilah saya seperti ikan sarden yang di-press penumpang lain yang terus menerus masuk ke dalam setiap kereta berhenti di stasiun. Di sini saya salut lagi dengan warga ibukota yang selalu sabar dan kuat menghadapi situasi seperti ini setiap hari. Beda dengan saya yang tidak pernah bermimpi untuk kerja dan tinggal di ibukota. Gara-gara setiap hari naik kereta, saya seperti berasa berada dalam film Bangkok Traffic Love Story. Hadeuh jadi ngayal seandainya saya bertemu jodoh di commuter line atau di salah stasiunnya *halah.

Setelah dua hari di sana, akhirnya saya pulang ke Jogja. Kali ini saya pulang dengan pesawat. Tapi untuk menuju ke bandara Soekarno Hatta tetap saja saya harus naik kereta lagi. Kali ini turun di stasiun Juanda dan mutar balik ke stasiun Gambir. Dari stasiun Juanda ke Gambir, saya naik bajai. Di tengah-tengah perjalanan, saya melihat tulisan 'made in India' di stang si bajai. Seketika itu saya menghayal lagi; hari ini saya naik bajai di ibukota. Kelak saya akan naik bajai di India. Haha. Setelah sampai di Gambir, Saya dan mama masuk ke salah satu bus Damri yang terparkir. Di dalam bus itu, Saya ketiduran dengan sukses. Bangun-bangun sudah sampai di depan terminal 1B. Setelah mengurus tiket, akhirnya saya berpisah dengan mama. Mama pulang ke Padang dan saya kembali ke Jogja. Tidak berapa lama setelah check in, pengumuman boarding untuk penerbangan saya tiba-tiba menggema. Saya langsung ikut mengantre sambil mendengarkan lagu one day more dari mp3 handphone saya. Sampai jumpa lagi, Ibukota!!!! *nyengir senang karena meninggalkan ibukota.

Penerbangan kali ini seperti penerbangan 6 tahun lalu. Cuaca di atas sana tidak bersahabat awan terlihat gelap. Beberapa kali pesawat berguncang hebat. Mbak-mbak di seberang tempat duduk saya langsung terbangun dari tidur lelapnya sambil memegang sandaran kursi di depannya. Saya juga takut. Tapi, tiba-tiba ingat kata tokoh Pak Habibie di film Habibie dan Ainun. Katanya, kalau ada guncangan berarti pesawat itu bagus. Saya berusaha cool dan lanjut membaca novel. Akhirnya sampai di Yogyakarta tercinta. Welcome! welcome! Saya kembali ke kos saya dengan menggunakan motor matic si Jago Merah tercinta. Ngomong-ngomong, perjalanan kali ini, saya tidak menceritakan tempat yang saya singgahi ya? Mungkin karena saya lebih tertarik dengan berbagai macam transportasi yang saya tumpangi itu. Ada sensasi tersendiri rupanya. Apalagi saat naik si Commuter Line itu. Hehehe
 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang