Friday, 28 September 2012

Hymne: Nakal Versi Kita

Aku mendengarkan lagi lantunan hymne itu. Alunan musiknya lembut mendayu-dayu di telingaku. Tiba-tiba, satu fase kehidupan itu berputar-putar di kepalaku. Memori itu berkelebat kuat. Celebes, Lamomea, Guest house: kamarku tercinta, bahkan aku ingat Mita, teman senasib, senakal, seperjuangan.

Saat itu, aku telah lulus dari pesantren dan dikirim ke Lamomea untuk mengabdikan diri. Pertama aku ngerasa heran. Heran karena kenapa aku bisa terpilih untuk mengabdi di sana. Padahal tak pernah terpikir olehku akan mengabdi di sana. Well. Semua harus dijalani dan berangkatlah aku ke sana.

Pertama tiba disana, ternyata oh ternyata, namaku tak tercantum. Dan akhirnya, aku ditampung di kamar LAC (Language Advisory Council). Kamar itu terletak di gedung paling pojok dekat hutan dan padang rumput. Dengan badan letih dan mata mengantuk, kami mendorong koper kami menuju gedung itu. Di tengah jalan, tiba-tiba segerombolan babi hutan lewat dengan cueknya. Kami yang baru melihat pemandangan itu shock bukan main.Tapi beberapa hari kemudian, kami tidak shock lagi. Mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Bahkan waktu berjalan kaki pun, kami (aku dan babi hutan) jalan beriringan dengan damai.

Selang beberapa bulan, aku dipindahkan ke bagian penerimaan tamu. Di kamar baru itu, aku nggak sendiri. Ada seorang lagi yang menjadi partnerku mengurus tempat penerimaan tamu. Sebut saja namanya Mita. Dia teman seangkatanku, namun kami nggak terlalu kenal dekat. Aku pikir, dia anaknya sombong dan hanya mau bergaul dengan mereka-mereka yang levelnya menengah ke atas (baca: kalo nggak cantik, ya modislah, ato duitnya banyak). Ternyata anaknya asyik dan menyenangkan. Berteman dengannya sangat menyenangkan dan seru banget. Oh ya. Kamar kami terletak di sebelah rumah yang sering disebut "Pilus". Tenang! Ini bukan jenis kacang kok. Pilus itu singkatan dari Pila (Vila maksudnya) Ustad. Di sana tinggallah Trio Macan... eh salah. Trio Ustad yang masih lajang-lajang saat itu (sekarang udah pada nikah semua). Kadang kalau ada acara besar, rumah itu penuh dengan ustad-ustad lajang yang datang dari pesantren putranya (Lumayan buat cuci mata aku dan Mita hehe).

Sebagaimana kehidupan di pesantren, banyak sekali peraturan yang harus dijalani. Saat itu, mungkin, aku dan Mita sedang memasuki masa-masa ingin bebas. Dulu, saat kami masih jadi santri, kami harus menjalani peraturan yang sangat ketat. Ketika kami tamat, ternyata kami masih harus berhadapan dengan peraturan lagi, walau peraturan kali ini tidak seketat dulu. Dan jadilah kami dua orang pengajar yang "nakal". Menurut kami, nakal itu ngga masalah sih, asal tidak melewati batas kewajaran dan norma yang berlaku.

Nakal kami sih sepintas pake MP3 saat mengajar atau saat rapat guru. Trus apalagi ya? Oh ya! Dulu kami juga sering kabur ke kota dengan Rambo (mobil pondok yang paling keren). Tentu saja, ini kongkalikong sama penghuni Pilus. Mungkin kami punya banyak kesamaan dan chemistry (ahaii) sebagai anak tiri yang diterlantarkan (maaf cerita tentang ini tidak dapat disampaikan di blog hehe). Jadilah kami sering kongkalikong dengan beliau-beliau itu. Hehe. Pergi ke kota pun, kami nggak ngelakuin apa-apa kok. Paling hanya belanja keperluan bulanan atau cuma makan bakso di bilangan Wua Wua. Paling jauh sih ke Ke-Bi (Kendari Beach) untuk liat-liat pemandangan dan makan sea food.

Kenakalan kami yang palin terbesar kayaknya adalah masalah handphone deh. Di sana, kami ngga boleh punya handphone kecuali pengajar-pengajar yang senior dan tentu saja penghuni Pilus. Suatu hari, Mita punya ide untuk beli handphone dan menyembunyikannya di kamar (untung sekamar cuma berdua. Nggak ada ember bocor soalnya hehe). Singkat cerita, kami berdua punya satu handphone. Handphone 2 in  1 karena sering gonta-ganti kartu. Kadang kartuku, kadang kartu Mita. Handphone itu tidak kami gunakan untuk macam-macam juga sih. Karena handphone itu digunakan untuk menelpon orangtua dan kerabat kami masing-masing. Suatu hari kami singgah ke kamar teman-teman yang lain, ternyata di kamar itu juga penuh dengan handphone berbagai merek. Aku dan Mita hanya senyam-senyum sendiri melihat itu semua.

Suatu malam di hari Kamis perasaanku rasanya ngga enak. Saat itu, nomorku yang sedang aktif. Entah kenapa tanganku mematikan handphone itu dan tidur dengan sukses. Keesokan harinya, setelah mandi plus plus (plus nyuci maksudnya), aku bertandang ke kamar teman-temanku dan di sana ternyata sedang terjadi keributan. Ternyata oh ternyata, handphone mereka disita Bu Nyai saat mereka tidur. Kata mereka Bu Nyai sudah curiga, dan akhirnya tadi malam, beliau nge-misscall satu-satu nomor kami. Dan ternyata nomor-nomor itu aktif semua, kecuali nomorku dan Mita. Aku dan Mita hanya senyam-senyum menyaksikan kehebohan di hadapan kami. Terima kasih, Ya Allah!

Itu nakal versi aku dan Mita di pesantren dulu. Menurutku, nggak masalah kok jadi anak nakal, asal nakalnya masih wajar. Nggak enak juga sih, hidup di pondok itu datar-datar aja. Hidup di sana itu mesti seru dan menantang. Hehe. Life is never flat! Suatu saat, akan kuceritakan kisah ini kepada anakku. Kisah tentang cerita hidup mommy-nya yang menantang. Hehe. To be continued.

Wednesday, 26 September 2012

Hymne: Mengingatkanku Tentang Sesuatu

Setelah ngutak-ngatik youtube beberapa menit, aku gak sengaja nemu video yang menampilkan profil  sebuah pesantren dengan backsound hymne "Oh Pondokku". Itu hymne pondok tempat aku nyantri dulu. Biasanya dinyanyiin pas ada apel tahunan ato acara-acara penting di sana. Setelah video habis, aku replay lagi dan dengerin hymne itu sambil merem (gak pake melek) dan ikutan bersenandung juga. Ternyata aku masih hapal sama hymne itu. Padahal hymne kampus aja aku gak hapal sampe aku mau wisuda gini (menyedihkan). Hadeuh jadi terharu banget dan inget sama masa-masa itu, sebuah masa kehidupanku yang seru, lucu, bahagia, meyedihkan, miris. Pokoknya manis, asem, asinlah kayak permen Nano-Nano.

Aku jadi inget hari pertamaku masuk pesantren. Saat itu, aku kasihan liat Mama nganterin dan ngurusin tetek bengek administrasi. Mama pasti capek banget. Bayangin aja! Perjalanan Padang-Jogja ditempuh dalam waktu 4 hari 3 malam dengan menggunakan Bis (dulu belon jaman naek pesawat). Belum lagi perjalanan Jogja ke Ngawi yang pake acara nyasar dulu sampai Ponorogo. Finally dengan gaya sok cool dan berhati besar, aku minta Mama buat pulang aja ke Padang dan bilang kalo aku berani dan mampu di sini sendirian. Akhirnya, dengan berat hati, Mama pulang. Setelah Mama hilang dari padangan, aku langsung ke kamar, ambil handuk dan alat mandi. Lalu masuk kamar mandi dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya sampai puas.

Setelah puas dan lega, aku keluar kamar mandi dan masuk kamar. Di sana, aku melihat seorang anak perempuan sebayaku. Namanya Hilda. Asalnya dari Magelang. Dan jadilah Hilda teman pertamaku di pesantren. Saat lulus, kami pun masih bersama untuk mengabdi di Gontor Putri 4 Sulawesi Tenggara.Selesai mengabdi pun, kami sama-sama kuliah di Jogja. Aku di UGM, sedangkan Hilda di MSD. Dan saat ini kabar membahagiakan datang darinya. Hilda hamil. Alhamdulillah... senangnya mendengar kabar itu. Semoga Hilda kelak menjadi ibu yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh dan salehah. Amiin.


Tuesday, 25 September 2012

Naluri

Aku hanya tersenyum mengingat diriku yang dulu. Ya. Diriku yang punya sejuta cita dan asa. Cita-cita ingin menghabiskan hidup nomaden alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Di sana, rasanya aku ingin melihat berbagai keanekaragaman manusia, aku ingin melihat kesenian dari setiap negara, atau ingin mengenal berbagai macam bahasa mereka. Namun, ketika waktu terus bergulir, angan-angan itu hilang begitu saja. Blass. Tak ada lagi yang tersisa. Diplomat, keliling dunia... semuanya lenyap. Ibarat nafsu makan, aku tak punya selera lagi. Aku tak berambisi lagi. Kelak aku ingin berwirausaha agar aku bisa me-manage waktuku sendiri. Ya. Rasanya kelak aku ingin memperhatikan rumah tanggaku. Aku ingin selalu ada dalam setiap fase perkembangan anak-anakku. Aku ingin merawat, menjaga, dan membesarkan mereka dengan tanganku ini.Tuh kan! Semua berubah. Dan mungkin ini adalah naluri setiap perempuan di muka bumi.

Monday, 10 September 2012

Bebas

Bebas. Menurut saya bebas bukan berarti melakukan segala sesuatu sesuka kita tanpa batas, tanpa aturan. Bebas tetap ada batasnya dan tetap ada aturannya. Batas dan aturan ini terkadang menjadi kambing hitam bahwa kebebasan itu tak pernah ada. Katanya aturan dan batasan merengut semua kebebasan. Namun, renungkanlah bahwa aturan dan batasan dalam kebebasan merupakan sesuatu yang sangat berarti. Aturan dan batasan ini kelak akan melindungi kita dari marabahaya.Boleh bebas, asal masih dalam batas.


Saturday, 1 September 2012

Langkah Pertama

A journey of a thousand miles must begin with a single step
(Lau Tzu)

Langkah pertama adalah langkah yang menjadi penentu langkah selanjutnya. Namun tak jarang langkah pertama itu terasa sangat berat dan sulit. Walau demikian,tetaplah berusaha dan percaya diri agar langkah pertama menjadi nyata. Jangan pernah menyerah!Jangan pernah berkeluh kesah! Langkah pertama adalah langkah penentu.


Petikan semangat kali ini
"Sampai Nanti, Sampai Mati" by Letto

Kalau kau ingin berhenti ingat tuk mulai lagi
Tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti, sampai mati
Tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti, sampai mati...

Gubah Lagu

Kata orang, lagu yang kita dengar bisa mempengaruhi kejiwaan kita. Jika lagunya bertema sedih, maka hati kita juga akan ikut sedih. Jika lagunya bikin semangat, maka semangat kita akan terpacu juga. Dan satu lagu yang aku suka adalah lagu Rumor yang berjudul "Butiran Debu". Aku suka musiknya dan suara penyanyinya, namun liriknya bercerita tentang keputusasaan. Agar aku nggak ikut-ikutan putus asa, jadi iseng-iseng aku gubah beberapa petik lirik lagu ini. Biar buat aku optimis.

Aku terjatuh dan tak  namun bisa bangkit lagi
Aku (memang) tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak pasti akan tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu putiran debu BAIK-BAIK SAJA

Dulu memang pernah terjatuh dan tenggelam dalam sakitnya rasa luka. Aku tidak boleh diam dan merasakan rasa sakit itu terlalu lama. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus mengobati lukaku. Aku harus bangkit. Dan sekarang, inilah aku. Aku tanpamu baik-baik saja.


Monday, 13 August 2012

Lubang

Sebuah pepatah mengatakan bahwa janganlah jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tampaknya pepatah itu harus aku junjung setinggi-tingginya, kalo perlu setinggi bintang di angkasa. Kisah ini sebenarnya sudah kadaluarsa dan nggak zaman lagi untuk dibahas. Namun, kisah inilah yang kembali terulang kini. Tidak.... Aku tidak akan terperosok jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku harus tegar dan tidak terpengaruh dengan semua tipu muslihatnya. Aku tidak akan pernah tergoda, tidak akan pernah lagi merasa tersanjung, apalagi jatuh hati. Cukuplah yang lalu berakhir pilu. Cukuplah yang lalu berlalu dan menjauh meninggalkanku. Aku bahagia sekarang. Tolong jangan hapuskan lagi kebahagiaan ini, wahai perasaan!


Tuesday, 31 July 2012

Maha Adil

Adil itu bukan seperti rumus empat bagi dua sama dengan dua. Adil itu bukan memberikan satu hal yang sama kepada beberapa orang. Adil itu bukan seperti pembagian porsi makan yang sama banyak atau sama besar. Namun, adil itu tentang memberikan sesuatu sesuai porsinya dan keperluannya. Agak abstrak memang, tapi itulah adil. Dan Sang Maha Adil hanyalah Tuhan semesta alam ini. Bukan berarti Dia tidak adil ketika Dia memberi kita musibah dan tidak memberi musibah kepada orang lain. Bukan berarti Dia tidak adil ketika memberikan Si Kaya rizki yang berlimpah daripada Si Miskin. Dia hanya inginkan kita selalu berpikir positif, sabar, dan mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Dia hanya inginkan kita menjadi makhluk ciptaannya yang sempurna.


Tuesday, 17 July 2012

Tidak Hanya

Hidup tidak hanya tentang seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi anak-anak, masuk TK, SD, SMP, SMA, kuliah, lalu kerja. Hidup tidak hanya tentang menikah, punya keturunan, kemudian menjadi kakek atau nenek hingga ajal menjemput.

Hidup tentang raga dan jiwa yang dapat berguna dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup tentang perjuangan yang sarat darah dan air mata, namun bahagia pada akhirnya. Hidup tentang bagaimana mengumpulkan kebaikan dan pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Menikah tidak hanya tentang pesta mewah dan bulan madu keliling dunia. Menikah tidak hanya soal menjadi raja dan ratu sehari yang dibalut dengan busana indah memesona. Menikah tidak hanya soal poto prewedding  atau after wedding yang diatur semesra dan seromantis mungkin.

Menikah adalah tentang dua sejoli yang dipersatukan Tuhan dan cinta. Menikah adalah tentang saling menguatkan antara satu dengan yang lain saat suka maupun duka. Menikah adalah tentang saling menerima kekurangan. Menikah adalah tentang tanggung jawab pada masing-masing pribadi, bahkan pada Tuhan, Sang Maha Pencipta cinta di muka bumi.

Wisuda tidak hanya tentang bahagia menyelesaikan skripsi dan masa studi. Wisuda tidak hanya tentang poto-poto berkebaya dan tersenyum bahagia sambil melempar toga kemudian diunggah ke akun jejaring sosial. Wisuda tidak hanya tentang hari bahagia bersama orang-orang yang dicintai.

Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya....



Monday, 16 July 2012

Aku Dan Kamu



Aku dan kamu adalah pribadi yang hampir serupa. Keinginanmu dan keinginanku sama. Tujuan yang kita dambakan pun tak ada bedanya. Hanya jalannya saja yang berbeda. Tak apalah! Tak usah risaukan bagaimana atau dari mana aku dan kamu berjalan masing-masing tanpa saling berpegangan tangan. Percayalah hati ini yang akan saling menguatkan. Semoga aku dan kamu bertemu di tempat tujuan sembari tersenyum satu dengan yang lain. Dan di sanalah kau dan aku akan saling berpegangan tangan tuk menguatkan satu sama lain. Untuk mengisi hari-hari melanjutkan sisa perjalanan ini.

Saturday, 14 July 2012

Melawan Takut

Done! Akhirnya 3 bundel skripsi dan semua persyaratan pengajuan ujian pendadaran telah kuberikan kepada staf jurusan. Tinggal menunggu waktu eksekusi alias sidang skripsi. Fiuh. Rasa takut sukses bikin jantung dag dig dug. Padahal jadwal ujiannya aja belum keluar. Rasa takut ini benar-benar sukses menyerangku. 

Sebenarnya pasal takut yang kualami adalah takut "dibantai" sama para penguji. Namanya juga manusia yang diciptakan berbeda. Dosen yang satu pasti punya pendapat tersendiri tentang cara menulis skripsi. Kalo aku baca skripsi beberapa teman, aku merasa takut dan ciut. Pasalnya, dosen mereka menuntut agar teori harus dipertajam dari asal mulanya. Sedangkan kata teman-teman, skripsiku adalah skripsi paling simple, baik dari penulisan teori sampai penulisan hasil penelitiannya. Sebenarnya, aku senang sekali dengan sesuatu yang simple dan langsung ke pokok pembicaraan seide dengan pembimbing skripsiku, namun tidak semua dosen mempunyai pikiran dan pendapat seperti dosen pembimbingku. Di situlah ketakutanku bermula. Bayangkan saja! Jika dosen yang mengujiku adalah dosen yang berpendapat bahwa teori harus ditulis dari sejarah awal mulanya atau hasil penelitian harus sangat detil. Pastilah aku bakal "dibantai" habis-habisan. Sangat menyeramkan mungkin.

Namun, aku tersadar. Jika aku selalu merasa takut dan tidak bisa, kapan aku akan maju? Jika aku terus ketakutan, aku tidak akan pernah mencoba sesuatu yang baru. Dan otomatis, aku tidak akan pernah berani, aku tidak akan pernah belajar, bahkan aku tidak akan pernah sukses. Takut? Wajar dan biasa! Tapi menghilangkan ketakutan adalah luar biasa. Aku nggak boleh takut. Aku harus tetap berusaha dan berani menghadapi semua yang terjadi. Aku yakin bahwa Tuhan selalu bersamaku, melindungiku dan mendengar semua doa-doaku. AKU HARUS BERANI!


Thursday, 12 July 2012

Bukan Akhir

Ini bukan akhir dari semua yang telah terjadi. namun, ini adalah permulaan dari semua yang akan terjadi. Bahkan setelah akhir kehidupan kita di dunia ini, kita akan bertemu dengan permulaan kehidupan baru di akhirat. Akhir itu tak kan pernah ada. Tak kan pernah.... Tetaplah semangat, bekerja keras, dan berdoa.





Saturday, 7 July 2012

Betapa Merindunya

Beberapa hari yang lalu, air mata saya sempat menetes saat mengetik nama alm. mbak Kakung di halam persembahan skripsi. Saya rindu setengah mati dengan kehadirannya beliau. Sempat berandai-andai sedikit bahwa pasti mbah akan tersenyum bahagia saat saya wisuda dan menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mbah kakung adalah sosok yang sangat berjasa bagi saya. Walau rada galak dan disiplin, mbah sangat menyayangi saya. Dari saya bayi, saya dirawat oleh mbah kakung dan mbah putri. Namun, kedekatan saya lebih berintensitas tinggi dengan mbah kakung. Mungkin karena mbah kakung yang sering menemani saya tidur, jalan-jalan sore, beli mainan, dan mengabulkan semua permintaan saya.

Dulu, saat saya kecil, acap kali saya masuk ke dalam pangkuannya dan menjadikan sarung, yang sedang dipakainya, sebuah ayunan. Kemudian perlahan-lahan mbah akan bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kakinya sehingga tubuh saya terbuai lembut. Setiap hari, mbah kakung menemani saya tidur siang sambil bercerita tentang perjuangannya di zaman Jepang dan tentu saja cerita Si Kancil. Walau cerita itu sering diulang-ulang, tapi saya tidak pernah bosan dan selalu menganggapnya menarik. Saat sore tiba, biasanya kami akan jalan-jalan keliling kompleks tempat kami tinggal sambil jajan sate padang, coklat, permen dan semua makanan yang aku sukai. Kalo hari Ahad datang, biasanya kami akan main sepeda ke Siteba, By pass, atau Pantai Padang.

Setelah saya duduk di bangku SD, mbah membeli sebuah motor, dan setelah itu, kami makin sering jalan-jalan dan makin jauh arah tujuan kami. Saat supermarket pertama di Padang buka, kami langsung jalan-jalan ke sana melihat barang-barang yang dipajang di etalase. Saat itu, saya sangat menyukai film "Pokemon" dan tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah jam tangan bergambar tokoh utama "Pokemon", yaitu Pikhacu. Tiba-tiba mbah langsung membeli jam itu dan memberikannya kepada saya. Saya hanya terbengong dan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Setelah melihat jam, kami mengunjungi bagian furniture, saat itu saya melihat tempat tidur bertingkat yang sedang ngetrend saat itu. Tanpa sadar, saya berucap bahwa tempat tidur itu bagus karena saya bisa sekamar berdua dengan adik saya saat dia sudah TK kelak. kata mbah, tempat tidur yang kami lihat itu berkualitas buruk. Setelah itu, tanpa bicara panjang lebar lagi, kami meninngalkan plaza itu. Seminggu kemudian, saat saya pulang sekolah, saya dapati kamar saya telah berubah. Tempat tidur biasanya telah berganti dengan tempat tidur bertingkat. Namun, tempat tidur yang ini kokoh dan lebih bagus daripada tempat tidur yang kami lihat di plaza. Betapa senangnya saya saat itu.

Suatu hari, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sebuah pondok pesantran di Jawa Timur. Papa dan Mama sebenarnya agak keberatan karena masalah ekonomi. Namun mbah kakung langsung berinisiatif mebayar semua biaya itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan sekolahku ke pondok pesantren. Suatu hari, mbah kakung datang ke pondok untuk menjengukku. Sebenarnya mbah kakung datang dari jam 7 pagi, namun aku baru bisa bertemu dengan beliau jam 7 malam [bayangkan!]. Saat itu mbah kakung bilang jika akan pergi berangkat haji. Dan sebelum berangakat, mbah ingin ketemu saya dulu. Saat mbah mau pulang, mbah memberi saya meja belajar lipat dan uang 500.000 [jumlah yang sangat fantastis untuk anak sekecil saya saat itu]. Beberapa bulan kemudian, saya dikirimi paket yang berisi sebuah jam tangan hitam sejenis G-shock. Kata orantua jam itu adalah pemberian mbah sebagai oleh-oleh naik haji untuk saya. Ketika saya menelpon ke rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada mbah, orang-orang di rumah bilang bahwa mbah sedang tidur. Hal ini mereka lakukan berulang kali sehingga saya merasa ada yang disembunyikan dari saya tentang mbah. 

Suatu hari, orangtua saya datang ke pondok dan mengajak saya ke Yogya karena ada yang akan dibicarakan. Saat sampai di Yogya, saya diberitahu bahwa mbah telah tiada. Mbah meninggal sesampainya di Padang setelah menunaikan ibadah haji. Hanya hanya diam sedikit kesal karena tak ada seorang pun yang pun yang memberitahu saya berita ini. Namun, sebelum berita itu saya dengar, saya sudah punya rasa bahwa mbah telah meninggal.

Mbah... begitu cepat rasanya mbah pergi
Terima kasih untuk semuanya mbah
Terima kasih untuk cinta
sayang
mainan
dipan bertingkat
biaya sekolah dan semuanya yang tidak saya sebutkan satu persatu karena terlalu banyak kasih sayang yang mbah berikan
Maafkan saya juga mbah
karena saya tidak bisa menjaga jam tangan terakhir pemberian mbah
Model jam tangan itu dilarang di pondok dulu
saya sudah berusaha menyembunyikannya, tapi akhirnya ketahuan bagian keamanan pondok. 

Mbah...
sebentar lagi saya pendadaran dan wisuda
Andai mbah masih ada, pasti saya akan melihat senyum bangga mbah karena cucu mbah yang nakal ini menjadi seorang sarjana
Namun, walau mbah telah pergi dari sisi saya, saya bercaya mbah pasti sedang tersenyum bangga di surga sana

Mbah...
saya juga mengikuti jejak profesi mbah. Tapi tentu saja bukan jadi tentara. Saya memilih jadi pengusaha. Bedanya, saya bukan pengusaha burung puyuh seperti mbah. Rasanya ingin bercerita banyak pada mbah. Mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali di tempat yang disebut surga... [amiin]


Wednesday, 4 July 2012

Izinkan Aku Tersenyum



Aku terduduk di kursi yang terletak di sudut ruangan kantor INCULS (Indonesian Language and Culuture Learning Service). Tujuan mengunjungi kantor itu bukanlah untuk bertemu dengan teman mahasiswa asing, mengisi absen tutorial, apalagi mengambil jatah honor. Namun, maksud kedatanganku adalah untuk bimibingan skripsi. Pagi itu hawa ruang kantor semakin dingin saja kurasakan. Sofa empuk yang kududuki tak tahan lagi menghangatkanku. Brrr dingin, sedingin wajah pembimibing skripsiku yang diam seribu bahasa sambil menatap tajam ke lembaran-lembaran tulisanku. Tak ada kata. Tak ada suara. Yang ada hanya desiran suara mesin pendingin ruangan yang disebut AC.

Beberapa detik kemudian, pembimbingku bergeming dan menatapku tajam sambil berkata,
"Shinta, penulisan skripsimu salah besar. Masih perlu perombakan besar-besaran. Tulis ulang dari Bab I dan serahkan secepatnya"
"DEG!" Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kaki saya lemas. Mata saya berkunang-kunang. Oh Tuhan.... Sudah banyak rencana yang akan kulakukan usai menulis skripsi. Namun semua akan tertunda akibat harus mengulang semuanya. Sedih. Sedih sekali. Teramat sedih. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dunia serasa berputar dan gelap. 

Entah berapa lama aku tertidur. Akhirnya aku terbagun dan mendapati bahwa hari ini adalah hari Rabu tanggal 4 Juli 2012. Itu berarti hari bimbingan skripsi. Olalala... ternyata itu hanya MIMPI! Aku segera berdoa semoga mimpi ini tidak jadi kenyataan. Amin. Baru kali ini aku tak ingin mewujudkan impianku menjadi nyata. Hehe.

Teng! Jam sembilan. Akhirnya aku benar-benar bimbingan skripsi. Masih sedikit trauma karena mimpi tadi malam terbayang-bayang di benakku. Fiuh. Namun syukur berjuta syukur karena apa yang kutakutkan tidak terjadi sama sekali. Pagi tadi, alhamdulillah semua berjalan lancar walau masih ada coretan sana-sini. Yah setidaknya selesailah semua revisi skripsi itu. Tinggal ringaksan bahasa Arab yang bab 2, 3, dan 4. Halaman Motto, persembahan, kata pengatar hingga abstrak pun sudah kuselesaikan semuanya. Walau belum diperiksa. Namun setidaknya sudah kukumpulkan semua. Semoga besok lebih lancar. Amin. Sekarang! Izinkan aku tersenyum sebagai pengganti mimpi buruk tadi malam. Ayo kejar tayang lagi!

GR dikit:
Aku punya bakat nulis ama bahasa Inggris? Amin. Semoga itu benar adanya.
#sambil nyengir plus pipi bersemu merah plus kedua tangan di bawah dagu persis kayak cherybelle

Friday, 22 June 2012

Gak Percaya

Sampai saat ini saya nggak percaya sama sekolah bagus, tempat bimbingan belajar bagus, guru-guru bagus, universitas bagus, dosen-dosen bagus, dan lain-lain yang serba 'bagus' dalam hal pendidikan. Menurut saya, sekolah, bimbingan belajar, universitas, atau para pengajarnya hanyalah fasilitator sebagai sarana kita menerima ilmu yang kita dapatkan. Toh kalau fasilitas pendidikan kita bagus, tapi kemauan kita nggak bagus ya sama saja. Semuanya kembali ke kita juga. Kalo kita sungguh-sungguh, otomatis kita akan berhasil dan juga sebaliknya. Namun kalau kemauan belajar kita bagus dan ditunjang dengan fasilitas bagus, itu sangat luar biasa dan banyak nilai plusnya.
#changing the mindset

Thursday, 21 June 2012

Peul And Me



Adekku satu-satunya. Nyebelin sih, tapi tetepa aja ngangenin. Kalo lagi jauhan kayak gini, bawaannya kangen dan pengen ketemu, tapi kalo udah pulang ke rumah dan ketemu, pasti bawaannya berantem terus. Hmm. Hidup memang warna warni, dan manusia tak pernah puas akan warna-warni itu.

Saturday, 16 June 2012

How Lucky I'am!


Kata orang-orang, aku adalah seorang anak yang tidak seberuntung anak-anak lain. Kata mereka, aku adalah anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua karena aku sudah merasakan perpisahan sejak aku masih balita. Saat itu mama sedang mengajar di Lampung, sedangkan papa masih sekolah di BPN Yogyakarta. Karena beliau berdua terpisah oleh selat Sunda, maka diputuskanlah menitipkanku di Bekasi, tepat di tengah-tengah keberadaan beliau berdua. Setelah semuanya stabil (papa dan mama sudah bekerja di Padang), akhirnya kami bertiga berkumpul kembali. Namun, setelah tamat sekolah dasar, aku memutuskan untuk belajar di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Bayangkan! Seorang anak tamatan SD pergi merantau dan mencoba hidup mandiri di seberang pulau tempatnya tinggal.

Setelah masuk pondok pesantren pun, orang-orang masih mengatakan bahwa aku tidak beruntung karena selama enam tahun kuhabiskan hidupku di pondok pesantren, orangtuaku hanya mengunjungiku tiga kali saja. Bahkan ketika aku yudisium (semacam acara kelulusan), kedua orangtuaku tidak bisa hadir. Aku pribadi sih maklum saja. Karena rumah kami yang jauh di pulau Sumatra yang membutuhkan uang dan waktu yang lebih banyak untuk mencapai pondok pesantren. Setelah lulus dari pondok pesantren, aku langsung terbang ke sebuah desa yang bernama Lamomea di SULTRA untuk mengabdikan diri mengajar para santri. 

Setelah selesai mengabdi, akhirnya aku pulang ke rumah dan mempersiapkan perjalanan hidupku selanjutnya, yaitu kuliah. Karena terbiasa mengerjakan segala sesuatu sendiri, aku mencari informasi tentang ujian masuk PTN tanpa bantuan dari orangtua. Karena aku rasa, aku cukup dewasa untuk menetukankan tempat kuliahku kelak. Aku membuat banyak planning. Mungkin dari A sampai Z. Akhirnya disinilah sampan kecilku berlabuh, UGM. Setelah lulus, aku berangkat berdua dengan temanku ke Yogyakarta untuk mengurus daftar ulang dan segala sesuatunya. Lagi-lagi kulakukan sendiri tanpa bantuan orangtua, kecuali bantuan dana hehe. 

Setelah kuliah, masih banyak orang yang bilang bahwa aku anak yang tidak beruntung karena uang jajanku yang di bawah rata-rata teman-teman atau saudara-saudaraku yang lain. Aku sendiri tidak pernah ambil pusing soal ini. Berapapun yang diberikan orangtua sebisa mungkin selalu aku syukuri. Setidaknya orantuaku masih mampu membiayaiku. Itu saja, aku sudah bersyukur. Pernah satu hari ada yang menanyakanku tentang uang bulananku. "Emang segitu cukup, Mbak?" Katanya kaget. Aku hanya bisa senyam-senyum dan berkata, "Ya... dicukup-cukupkanlah". Mungkin dalam hatinya, dia juga berpendapat sama dengan yang lain bahwa aku adalah seorang anak yang tidak beruntung.

Namun kurasa pendapat mereka salah. malah aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia ini. Atau mungkin sama beruntungnya dengan anak-anak lain di muka bumi. Yang berbeda hanya caranya saja. Jika mereka beruntung karena dilimpahi kasih sayang berupa perhatian dan materi di atas rata-rata, sedangkan kasih sayang orangtuaku berupa pelajaran hidup yang langsung aku praktekkan dalam perjalanan hidupku. Mungkin agar aku tidak kaget dan shock jika kelak aku harus menjalani kehidupanku sendiri. Setidaknya aku belajar mandiri dalam mengerjakan semua tugas, belajar bersyukur bahwa aku masih jauh beruntung dari mereka yang tidur di bawah jembatan layang, aku belajar untuk tidak mengeluh, dan belajar untuk merasakan bagaimana susahnya mencari uang agar aku lebih menghargai apa yang kudapatkan. Apapu kata orang, aku tak kan percayai  itu. Yang aku tahu, betapa aku sangat beruntung!

Friday, 8 June 2012

Sedikit Serpihan



Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang mampu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita
dan di pusarnya besemayam pusat tata surya
kecuali engkau

Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang di atas lingkaran pinggangnya masa-masa berkumpul
dan ribuan planet berkeliling
kecuali engkau
 [Serpihan yang terkumpul dari puisi Nizar Qabbany]

Saturday, 2 June 2012

Sore Tadi

Sore ini kita bersenda gurau kembali. Bercerita dan saling menggoda satu sama lain. Tertawa, teriak, dan ribut. Ah. Rasanya sudah lama tidak berkumpul, menggoda, tertawa, dan teriak. Mungkin karena kita sekarang lebih sibuk berkutat pada tumpukan-tumpukan buku, pada teori-teori penelitian, pada monitor komputer, bahkan pada kertas yang berisi coretan pembimbing masing-masing.Semua telah berubah ya ternyata? Tapi tak masalah. Yang aku tahu, kau adalah kau. Kau adalah temanku sampai kapanpun.


Wednesday, 30 May 2012

Ibu Pintar Wanna Be

Kata orang kalau jadi seorang entrepreuner nggak usah sekolah tinggi-tinggi, tapi saya nggak sependapat dengan pendapat itu. Pendidikan adalah suatu yang sangat penting bagi saya. Pendidikan merupakan investasi nutuk masa depan apapun profesi yang kita geluti kelak. Perempuan pun berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Untuk yang satu ini, saya sangat bersyukur karena berada di tengah-tengah keluarga yang selalu mendukung untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya. Alhamdulillah.

 Pasalnya, beberapa tahun lalu, saya sempat maen ke pondok pesantren tempat dulu saya bersekolah. Saat itu saya hanya menemani teman seangkatan saya yang mau maen ke pondok. Suatu malam, saat kami jalan-jalan di lingkungan pondok, tanpa sengaja kami bertemu seorang usatad senior. Ustad ini adalah sosok ustad yang cerdas, baik, dan suka menasehati kami. Dan satu lagi, ustad ini adalah tempat anak-anak minta dicarikan jodoh atau tempat konsultasi jodoh. Teman saya langsung curhat tentang jodoh dan pernikahan, sedangkan saya hanya diam dan mendengarkan wejengan sang ustad dan curhatan teman saya. Krik-krik juga sih karena saya belum kepikiran untuk menuju ke arah sana walaupun saya sadar bahwa suatu saat saya akan memasuki fase kehidupan pernikahan juga.

Di tengah-tengah percakapan, ustad itu melihat ke arah saya dan tiba-tiba bilang kalau saya jangan terlalu memikirkan untuk belajar setinggi-tingginya karena jihad perempuan yang sesungguhnya adalah ketika dia menikah dan menjadi seorang istri serta seorang ibu. Saya hanya mendengarkan perkataan beliau Tapi, semua orang punya pendapat masing-masing. Saya sadar bahwa zaman telah berubah. Teknologi semakin canggih dan semuanya serba instan. Saat saya memutuskan untuk menikah dan menjadi seorang ibu, saat itu saya pasti dituntut agar menjadi seroang ibu pintar karena zaman yang makin berkembang dapat mempengaruhi perkembangan anak juga. Bayangkan saja! Dulu saya baru bisa mengoprasikan internet dan handphone saat saya tamat dari pesantren. Sekarang, anak SD aja udah bisa pake internet dan handphone yang canggih. Hmm.  Apalagi saat saya punya anak nanti ya. Pasti perkembangan anak lebih cepat dari sekarang.

Dari fenomena yang ada, mau nggak mau kita dituntut untuk lebih cerdas menghadapi kemajuan zaman seperti ini termasuk dalam mendidik anak-anak kelak. Jadi, saya rasa, saya dituntut untuk lebih pintar agar saya menjadi seorang ibu pintar yang mampu membesarkan, merawat, dan mendidik anak-anak saya.  Dan caranya adalah dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Semoga saya bisa menjadi seorang ibu pintar kelak. Amin.

Friday, 25 May 2012

Anak dan Perkembangan Zaman

Barusan nonton program "Laptop Si Unyil". Episode kali ini kebetulan ngambil setting di kab. Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Seperti biasa, tempat tersebut masih sangat alami. Gunungnya masih hijau, air kalinya masih bersih bening, dan sawah-sawah pun masih terhampar luas, nggak ketinggalan juga rumah gadang berdiri di antara pepohonan, sawah,  atau parak pisang membentuk suatu perkampungan. Seru banget ya.

Waktu nonton program itu, tiba-tiba jadi kepikiran sesuatu. Hmm. Ada katakutan tersendiri hidup pada zaman yang terus berubah dan kemajuan teknologi yang terus menerus berkembang seperti saat ini.  Semua berubah dan semua makin berkembang termasuk dunia anak-anak. Dulu, saat aku masih kecil, aku nggak kenal sama yang namanya komputer, telepon, handphone, laptop, dan lain-lain itu.Namun sekarang faktanya, anak TK aja sudah pada mahir menggunakan alat-alat tersebut. Sepupuku yang masih SD aja, sudah bisa pakai internet, bahkan punya akun jejaring sosial dan juga blog. Hmm. Ckkk. Kalah deh aku soalnya aku ngerti tentang dunia maya ya waktu tamat dari pondok pesantren. Hehehe.

Di satu sisi, ada positifnya sih kalo anak-anak sudah mengerti cara memakai barang-barang elektronik. Bisa dibilanglah anak-anak tersebut nggak gaptek dan cerdas karena ngerti tetek bengek berbau teknologi tersebut. Namun, sepertinya sisi negatif lebih dominan dalam masalah ini. Contohnya saja masalah pornografi yang beredar di dunia maya. Kalo seusia kita yang lihat atau nggak sengaja lihat sih, nggak masalah karena kita bisa ngebedain mana yang baik, mana yang buruk ato mana yang boleh dan yang nggak boleh. Belum lagi masalah penculikan anak yang rentan karena si anak yang dibekali handphone yang bagus oleh orangtuanya. Ato masalah yang lain adalah pengarh pada kepribadian si anak. Bayangkan jika si anak sibuk dengan dunia mayanya, maka ini akan sangat berpengaruh dengan cara bersosialisasinya.

Memang gaswat ya tantangan menjadi orangtua di masa mendatang itu. Hmm. Kalo suatu saat aku jadi seorang ibu dan punya anak-anak. Aku pengen banget anak-anakku tetap kenal pada agama dan budaya bangsanya. Contoh terkecilnya, ya permainan tadisional kita. Aku pengen anak-anakku tau permainan yang dulu dimainkan ibu dan ayahnya. Sebut saja cak bur, cik mancik, en, atau lompat tali. Aku pengen anak-anakku nggak hanga duduk di depan layar komputer berselancar di dunia maya. Aku pengen anak-anakku tau bahwa negerinya ini kaya dan indah. Aku pengen mereka merasakan petualangan-petualangan seperti yang ibu ayahnya rasakan. Main di kali, mancing ikan di tabek, atau sekedar duduk-duduk di sungai belakang rumah (tentu saja ini dilakukan tidak luput dari perhatianku). Satu lagi, aku pengen mereka tetap mengenal dan menyayikan lagu anak-anak dan lagu daerah. Buat yang satu ini, aku mulai download lagu anak-anak zaman aku masih kecil soalnya takut nanti lagu anak-anak semakin punah. Hehehe.


Wednesday, 23 May 2012

Hay Que Visitar India

Tengo un illusion. Yo quero visitar India. Hmm. Algun dia voy a ir a India. Insyaallah. Amin. Voy a visitar el palacio de Taj Mahal. Voy a tomar los fotos en unos monumentos en India. Voy a aprender la danza de India. Voy a eschucar las musicas de India. Hmm. Lo mas importante voy a encontrarse con los actores de Bollywood. Ellos son Aamir Khan, Sah Ruh Khan, Aksay Kumar, Riteish Desmukh y otros. Voy a comprar los recuerdos por mi familia y mis amigos. Oh ya! Voy a vestirse sari, un vestuario tradicional de India. (Desearia que mi illusion se hace realidad)


Saturday, 19 May 2012

Heyy Babyy

Libur panjang telah tiba. Berarti bisa nonton satu atau dua film. Kali ini aku pengen nonton film yang ringan dan lucu aja. Karena mengingat otakku yang setiap hari diperas untuk berpikir nulis skripsi, jadi harus ada obat penyegarnya. Pikir-pikir, kayaknya asyik deh nonton pilem Bollywood tapi yang ber-genre komedi biar nggak terlalu mikir kayak dulu pas nonton film "Khabi Alvida Nah Kehna". Akhirnya dapet satu film jdulnya "Heyy Babyy". Pertama nonton sih, ada perasaan underestimate sama film ini, tapi ternyata bagus dan lumayan sarat akan pesan terutama untuk para cowok yang suka mempermainkan cewek. Hehe. Ceritanya ringan, lucu, tapi tetap ada pesan yang ingin disampaikan. Film ini adalah film yang disadur dari sebuah film Prancis tahun 1985 yang berjudul "Trois Hommes et Un Couffin" (Three Mans and The Baby).



Film "Hey Babyy" ini bercerita tentang tiga orang cowok bernama Arush (Aksay Kumar), Tanmay (Ritesh Desmukh), dan Ali Haider (Fardeen Khan) yang playboy abis. Setiap hari mereka bersenang-senang dengan para cewek yang berbeda-beda sampai pada akhirnya suatu pagi mereka menemukan seorang bayi perempuan di pintu apartemen mereka. Mereka merasa kerepotan dan merasa kehidupan mereka diganggu oleh kehadiran bayi perempuan tersebut. Puncaknya adalah ketiga mereka kehilangan pekerjaan mereka dan kalah berjudi. Mereka merasa bayi itu adalah pembawa sial. Kemudian mereka memutuskan untuk membuang bayi itu di depan sebuah gereja pada malam natal dan langsung menuju club malam untuk bersenang-senang. Namun mereka tidak merasa bahagia, mereka malah memikirkan nasib bayi tersebut. Tiba-tiba hujan pun turun dan mereka cemas jika ternyata tidak ada yang membukakan pintu gereja itu. Akhirnya mereka kembali ke gereja dan menemukan bayi itu pingsan terendam air hujan di dalam box-nya.

Ternyata bayi tersebut dalam keadaan kritis dan nyawanya terancam. Mereka bertiga merasa sangat bersalah dan menangis sejadi-jadinya. Ketika Arush dan Tanmay akan keluar menuju ruang tunggu rumah sakit, mereka melihat Ali aka Al sedang shalat berdoa memohon kesembuhan si bayi. Arush dan Tanmay sangat kaget karena selama ini Al bukanlah seorang muslim yang taat. Kejaiban doa ternyata terkabul. Bayi tersebut dapat diselamtkan dan mulai saat itu mereka berjanji akan merawat bayi tersebut sepanjang hidup mereka.

Semenjak kehadiran bayi itu, hidup mereka berubah. Mereka tidak minum minuman keras lagi, tidak berjudi lagi, tidak kencan dengan wanita lagi, dan Al telah menjalankan kewajibannya mengerjakan shalat sampai suatu sore ibu si bayi datang dan mengambil bayi perempuan tersebut. Akhirnya terkuaklah ayah dari anak tersebut dan dimulailah konflik untuk merebut hati wanita tersebut agar mereka kembali bersama. Seru, lucu, sedikit ada harunya. Pokoknya baguslah.

Bukan film Bollywood juga kalau nggak ada nyanyi-nyanyinya. Dalam film ini ada satu lagu yang aku suka banget. Judulnya adalah "Meri Duniya Tu Hi Re" dan dinyanyikan oleh Sonu Nigam, Shan Santanu, dan Shankar Mahadevan. Mereka ini juga para penyanyi yang telah banyak menyanyikan lagu-lagu untuk soundtrack film Bollywood. Lagu ini menceritakan tentang kehidupan mereka yang berbuah menjadi baik setelah kedatangan bayi perempuan tersebut. Ini dia video klipnya. Cekidot!




Friday, 11 May 2012

Kangen

Barusan pergi ke toko alat-alat tulis, tanpa sengaja, saya menemukan buku-buku diary yang unik dan lucu-lucu. Ah jadi inget dulu waktu menulis di buku diary sambil senyam-senyum sendiri atau terkadang nangis atau terkadang tanpa ekspresi. Itu masa-masa di pondok sampe semester tiga sepertinya. sebenernya tahun 2008, saya sudah punya blog sih, tapi lebih enak nulis diary, sekalian melatih tulisan tangan. Jadi kangen nulis pake tangan lagi. Hehehe. Kapan ya? Semoga ajaada yang mau kasih buku diary lucu di ulang tahun saya #ngarep.

Thursday, 10 May 2012

First Anniversary

Ini memang first anniversary saya, namun bukan dengan seorang lelaki.
Melainkan dengan PARAPLUIE
Parapluie? Itu nama penerbitan yang saya rintis dengan lima oramg teman saya. Ada Ana, Eva, Iman, Irul, Yayun, dan saya.
Semoga langgeng selalu untuk selamanya. Amin

Tuesday, 8 May 2012

Hidupku Bukan Hidupnya


Selamat pagi menjelang siang!!!! Sudah tanggal 8 Mei 2012. Sebelum kembali berkutat dengan skripsi, saya ingin menulis sedikit paragraf tentang sesuatu yang akhir-akhir ini berterbangan di pikiran saya. Beberapa hari ini, tanpa sengaja, saya bertemu dengan orang-orang galau bin bimbang. Pasalnya sih macam-macam. Mulai yang ribut belum dapet pacar sampe umur 24 tahun atau yang diminta sang pacar untuk ngelanjutin kuliah bareng-bareng. katanya sih biar selalu bersama untuk selamanya. *Lebai yang belakang.

Sebenernya hal yang begini gak perlu dibuat galau bin bimbang. Saya sering banget diketawain karena menjomblo hampir 24 tahun (curcol bo!). Hehe. Kaget? Biasa aja tuh. Really! menurut saya sih, dalam hal jodoh gak ada yang namanya sistem 'siapa cepat, itu yang dapat'. Maksudnya, belum tentu orang-orang yang udah berpacaran lama atau dapet pacar sebelum saya akan menemukan jodohnya lebih dulu daripada saya kelak. Pacar kan sekedar pacar. Semacam perkenalan lebih dalem aja tentang diri masing-masing. Kalau cocok ya lanjut, kalo nggak cocok ya... loh guweh end! 

Jadi, jangan sampai kita terlalu sayang dengan pacar sehingga sampai memberi yang sebenernya belum patut kita beri karena kita gak tahu apa yang akan terjadi nanti. Nggak hanya soal,virgin aja sih. Soal lain juga banyak dan ini fakta. Contohnya si cewek tiap hari Ahad operasi semut di kos cowoknya; bersihin kamarnyalah, ngepel, sampe nyuci bajunya. Bayangkan! Kita bukan apa-apanya mereka. Kalo saya, mending bersihin kos saya atau ngerjain tugas kuliah yang numpuk deh, lebih kerasa manfaatnya buat saya. Hehe.

Nah, karena terlalu sayang inilah yang membuat kita lalai untuk merencanakan masa depan kita sendiri. Menurut saya, hidupku bukan hidupnya (pacar). Bayangin aja, misalnya kita pengen jadi dosen. Setelah lulus ada tawaran untuk jadi dosen plus dikuliahin lagi GRATIS TIS TIS! Tapi, sang pacar menginginkan kita melanjutkan kuliah di kota tempat dia kuliah. sayangnya, jika mengikuti keinginan sang pacar, kita kuliah pake duit sendiri dan nggak dapat kesempatan untuk menjadi apa yang kita inginkan. Hayoo mau pilih yang mana? Kalo saya sih pasti pilih yang pertama. Karena saya harus merencanakan dan menjalani masa depan sendiri, kecuali jika sudah menikah. Itu lain lagi urusannya hehe. Tapi, kalo sekedar pacaran... ya sayang banget untuk menghabiskan hidup kita dengan selalu patuh dengan pacar. Iya kalau si dia itu adalah orang yang nemenin kita di pelaminan, kalau putus di tengah jalan? Piye?

Kedua orangtua saya sebenernya bukanlah tipe yang melarang anak-anaknya pacaran. Saya pun begitu. Saya bukan orang yang mengharamkan pacaran. Tapi, setidaknya ada prinsip-prinsip yang harus kita pegang. Saat kita memutuskan untuk berpacaran, seharusnya kita perpikir bahwa pacaran bukanlah suatu ikatan resmi antara perempuan dan laki-laki sehingga kita tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Sekali lagi, ini tidak hanya kasus virginitas semata. Sekarang sudah ada loh KDHP alias Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran. Ini sangat penting. Saat menjalani hubungan pacaran, seharusnya kedua pasangan harus saling menghormati jalan hidup masa depan masing-masing sampai masa depan kita dan pasangan kita bersatu kelak. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa memohon yang terbaik dari-Nya.Tapi, kalo kita gak mau terjerumus, lebih baik kita gak usah pacaran. Ingat! Mencegah lebih baik daripada mengobati loh!

Sunday, 6 May 2012

Skripsi Shinta

Bulan Mei telah tiba. Yang terpikir oleh saya adalah kapan skripsi saya akan selesai. Fiuh. Banyak sekali yang terjadi dalam fase kehidupan akademik saya kali ini. Setiap hari sibuk membaca, buka kamus, ngelamun, atau malah main game. Terkandang saya begitu semangat untuk mengerjakannya, terkadang saya males banget melirik skripsi saya itu. Terkadang, ide brilian untuk penulisan skripsi baru mampir pas mepet waktu bimbingan. Ckckckckckck. Parah banget ya saya? Tapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa tentang hal ini. This is all my fault! Yang dengan mudah terbujuk dengan hal-hal yang nggak bermanfaat untuk penyelesaian skripsi saya.

Saya harus semangat! Saya harus segera menyelesaikan skripsi ini agar saya bisa mengerjakan semua planning yang sudah saya susun dengan rapi. Namun untuk mengerjakan planning-palnning tersebut, saya harus melewati skripsi. Bagaimana untuk melewatinya? Ya otomatis dengan mengerjakannya. Karena satu-satunya jalan untuk menghadapi sesuatu, ya mesti dengan menjalaninya. Semangat Shinta!!!!!!


Monday, 30 April 2012

Untuk Mei 2012

Kata orang, menulis adalah sebuah media terapi yang lumayan ampuh. Saat kita merasa tidak mampu untuk mengungkapkan sesuatu kepada orang lain, tulislah apa yang ingin kita ungkapkan agar beban menjadi sedikit berkurang. Ngomong-ngomong, mungkin saat inilah saat yang paling tepat untuk sedikit menulis sebuah kesalahan yang selalu kepikiran selama ini. Kesalahan saya yang berakibat negatif pada mindset saya   sendiri. Semoga besok dengan datangnya bulan baru, bulan dimana usia saya akan bertambah, saya dapat melupakan kesalahan itu dan menjadi berani untuk mencintai.

Kesalahan ini bermula di sebuah restoran di bilangan Yogyakarta. Saat itu niat saya hanya menemani seorang kakak kelas saya menghadiri acara buka bareng. Saya yang memang masih semester satu dan belum terlalu paham dengan kota Yogyakarta, dengan senang hati menerima ajakan itu. Kiranya teman-teman kakak kelas saya bisa dibilang lumayan baik dan cepat akrab dengan orang baru seperti saya sehingga saya tidak merasa asing berada di antara mereka.

Dari banyak teman-temannya, ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah saya mengajak saya mengobrol. Mula-mula, saya hanya menjawab dengan ogah-ogahan karena belum terlalu kenal. Namun, ternyata dia menyenangkan, jadi kami mengobrol dengan sangat asyik dan seru. Singkat cerita, setelah pertemuan itu, kami lumayan sering ketemu dan jalan atau hanya sekedar ngobrol. Dia juga suka mampir ke fakultas tempat saya kuliah. Mungkin karena kami masih satu universitas dan hanya beda fakultas. Singkat cerita lagi, pertemuan kami yang berintensitas lumayan tinggi itu, menumbuhkan sebuah rasa dalam dada. 

Entah kenapa, saya pun tak mengerti. Rasa tertarik, suka, atau apalah itu... tiba-tiba muncul dalam diri saya. Bisa dibilang rasa itu adalah rasa pertama yang saya rasakan terhadap lawan jenis. First love. Mungkin saya suka dengan perhatiannya, obrolan-obrolan kami, dan juga dari pendapat teman-teman yang melihat keakraban kami. Inilah kesalahannya! Saya mungkin terlalu gede rasa atas perhatiannya dan omongan teman-teman yang berpendapat bahwa dia punya rasa yang sama dengan saya. Saya hanya memendam rasa itu tanpa diketahuinya dan berharap dia juga punya rasa yang sama dengan yang saya rasakan. Saya pikir biarlah waktu yang akan mengungkap apa yang tersembunyi. Namun, kenyataan berkata lain, dia tiba-tiba menghilang dari hari-hari saya begitu saja. Sekitar enam bulan kemudian, saya menerima kabar kalau dia sudah menikah. Saya terpuruk, namun berusaha tegar karena saya pikir masa depan saya masih panjang dan tidak ada guna menangisi hal seperti itu.Toh, kami hanya berteman biasa. Notihing to loose....

Di tengah keterpurukan saya, datanglah seorang dari masa lalu saya. Masa dimana kami masih sekumpulan bocah ingusan berseragam putih merah. Pertemuan kami hanya singkat saja karena dia sedang berlibur di Yogyakarta dan mendaulat saya menjadi guide-nya. Dia juga seorang yang sangat perhatian, bisa dibilang over malah. Setelah kepulangannya, dia masih sering menghubungi saya menanyakan kabar saya dengan perhatian-perhatiannya itu. Saya hampir melakukan kesalahan kedua karena hampir saja luluh oleh perhatiannya. Namun, saya bisa bangkit. Ketika dia menghilang begitu saja, saya tidak terlalu merasakan kehilangan dan keterpurukan lagi.

Hmmm. Saat itu aku membuat sebuah perumpamaan bahwa semua laki-laki di muka bumi ini sama dengan angin. Angin yang memberi kesejukan sehingga kita terlena dan terkantuk-kantuk Namun, tiba-tiba pergi begitu saja ke arah yang disukainya. Mungkin kembali, namun mungkin pergi tanpa jejak. Mulai saa itu,  saya betekad tidak akan terlena lagi dengan kesejukan angin. Saya tidak akan jatuh dalam perhatian-perhatian murahan itu. Tidak akan! Dan aku tidak akan mencintai lagi. Titik.

Suatu hari, tanpa sengaja saya membaca tabloid khusus wanita dan menemukan artikel tentang tanda-tanda seorang laki-laki menyukai wanita. Tahu tidak? salah satu tandanya adalah si lelaki memeberi perhatian kepada si wanita. Ah! Perhatian? NON SENSE! Tidak bisa dipercaya.Perlu ada riset lagi sepertinya. Sudahlah. Saat itusaya tidak ingin berurusan dengan yang namanya cinta untuk lawan jenis. Saya harus fokus dengan masa depan dan cita-cita saya. Saya tidak mau masa depan saya berantakan cuma gara-gara masalah cinta untuk lawan jenis itu.Capek.

Dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman kerja saya kumpul, tiba-tiba muncullah curhat-curhatan mereka yang mengarah pada masalah, pacar, kekasih jodoh, dan apalah itu. Semua orang di sana ribut membicarakan itu. Namun, saya hanya diam dan hanya mendengar isi hati mereka. Saya malas untuk memikirkan itu. Let's it flow aja. Belum saatnya. Tampaknya luka hati saya belum mengering. Namun, saya yakin saya bisa menghadapi semua ini.Suatu saat nanti saya bisa menerima kehadiran cinta lagi. Berhharap di bulan Mei 2012, semua akan kembali seperti semula. Tidak ada luka. Tidak ada dendam. Tidak ada penyesalan. Tidak ada kesalahan.



Saturday, 28 April 2012

Mix Arab-HIndi



Nary, narien.
I'm on fire
Nary, narien. Nary men gamaloo.
I'm on fire, from her beauty.
Nary, narien. Alby eih garaloo?
I'm on fire, What's happened to my heart? 

Men nazra, khadny fe lahza, dobna ehna sawa. (Habibi dah)
From one look, she took me in a second. We both fell for each other. (This is my darling)
Agmal kalam fe eyono, alo enei el hawa. (Habibi dah)
The most beautiful words in her eyes, Her eyes spoke to me of love.

Habeyto, ameil eih? (Habibi dah) Nary men eil ana fee. (Habibi dah)
I love her. What can I do? I'm on fire from all this.

Ah men khedoodo, soto, odo we dehketo. (Habibi dah)
I can't stand her cheeks, voice, face and smile.
Arabt meno, ashekt naro we reketo. (Habibi dah)
I got close to her, I longed for her fire and style.

Jab se hoo wei moo laat kaat. Jadusa hoo gaaie sari raat
From the moment I met you the nights became like beautiful magic

Salemto alby hata abl makalimo. (Habibi dah)
I submitted my heart, even before I spoke to her.
Maho kan fe baly, we fe khayaly barsemo. (Habibi dah)
Since in my mind, and my imagination, I had been drawing her out.

Teri nazar ke mei gulam Dilmere atra kakan
I am a slave by the looks of you And my heart skips a beat

Palbar me kargaya mujpar kya jadu bas me tu kar kud parse kabu
in a instant you made magic on me, enough will you control yourself

(www.justolyric.com)


ini nih lagu yang buat saya sureprise. Akhirnya setelah sekian tahun tamat dari pesantren, saya mendapatkan viedo klip lagu ini. Ini lagu yang menemani saya makan siang, belanja di koperasi, atau gotong royong di hari Jum'at. Kangen pesantren jadinya. 

Oh ya. Yang mengejutkan adalah video klipnya yang India banget. Hmmm. Lagunya Arab, video klipnya pake setting India dan menampilkan kesenian India. Salah satunya pastilah tari India yang ramai dan seru banget. Ditambah lagi dengan kostum baju India yang warna-warni itu. Ahhh... pengen pergi ke Indiaaaaaaa (harus terlaksana nih suatu saat! Semoga)

Tuesday, 24 April 2012

SUKA




Kalo orang-orang pengen ke Korea dan tergila-gila ama boy band dan film Korea, kalo saya sih hanya tergila-gila dengan Arab, Spanyol, dan India. Kenapa? Hmm... saya sendiri nggak tahu. Pokoknya suka aja. Mungkin saya tertarik sama bahasa dan ragam keseniannya. Kalau Arab, saya suka dengan musiknya dan syair-syairnya. Kalo Spanyol, saya suka pakaian ala gipsinya yang waran-warni dan mengembang. Bagus banget. Musiknya juga nggak kalah menarik. Me encanta espanol!!! Bahasanya juga asik untuk dipelajari. Dan yang terpenting, Spanyol adalah saksi bisu kejayaan Islam masa lalu. Kalo India, saya juga suka musiknya, tariannya, dan filmnya. Sebenarnya dulu nggak suka sih sama filmnya, tapi semakin kesini, film India semakin bagus. Jadi saya suka. Saya bertekad suatu hari, saya harus kesana. Tunggu saya ya!!!

Saturday, 21 April 2012

Payung Kita Yang Berwarna

Hari ini mungkin bisa disebut hari galau nasional tim Parapluie Publishing. Dimulai dari meeting sambil makan sarapan+makan siang di Pondok Cabe. Di sini, meeting diadakan lumayan serius ngomongin penerbitan, sponsorship buat seminar, dan lain sebagainya. Di Pondok Cabe ini, keadaan masih normal dan aman terkendali sampia para pelayan mengusir kami secara halus dengan mengangkat piring-piring sisa makanan kami.

Daripada nggak enak hati, kami cabut dari sana dan segera menuju Raminten untuk meneruskan acara meeting yang sempat tertunda. Yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya tentu tau Raminten kan? Itu loh tempat nogkrong yang cozy abis dan interiornya persis kayak interior rumah Jawa ditambah lagi dengan bau menyan, dupa, dan aroma terapi. Jawa buangetlah pokoknya. Konon katanya, para pelayan di sana, semuanya kaum gay. Kupikir-pkir... hebat juga ya Pak Hamzah (pemilik Raminten) mempunyai ide untuk mempekerjakan mereka di sana. Setidaknya mereka juga punya kesempatan yang sama dengan manusia normal lainnya. Yah. Ini semua tentu saja jika melihat fenomena tersebut terlepas dari kacamata agama.

Kembali ke pembicaraan semula. Di sana kami meeting lagi membicarakan acara ulang tahun. Tapi tampaknya, meeting kali ini nggak seserius meeting di Pondok Cabe. Mungkin karena udah pada ngantuk kekenyangan makan enak. Hehe.
"DUKKK!!!" Tiba-tiba si Irul mukul meja.
"Aku mau cewekkkkkk!!!" Teriak Irul mantap
Kami kaget dan ketawa ngakak. Usut punya usut ternyata Irul kena penyakit galau stadium awal pengen punya pacar kayak teman-temannya. Ckckckckck. Nggak nyangka Irul juga berhasrat ingin punya pacar. Hahahaha. Setealh cerita itu, mengalirlah kegalauan-kegalauan dari teman-teman yang lain, termasuk saya. Haha. Penyebab galaunya macam-macam. Dari yang pusing skripsi karena ditinggal pembimbing, kesepian karena udah jarang ke kampus, sampai hasrat terpendam untuk memiliki someone special. Hmmm... Sore itu dihabiskan deh untuk heart to heart. Walau nggak ada solusi, setidaknya lega deh karena udah diceritain ke orang. Okey... untuk saat ini diperbolehkan be-galau dulu deh.... semoga nggak lama-lama amat ya galaunya. Amin




Monday, 16 April 2012

Over The Rainbow


Somewhere over the rainbow
Way up high,
There's a land that I heard of
Once in a lullaby.

Somewhere over the rainbow
Skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

Someday I'll wish upon a star
And wake up where the clouds are far
Behind me.
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That's where you'll find me.

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly.
Birds fly over the rainbow.
Why then, oh why can't I?

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can't I?


Thursday, 12 April 2012

HGN (Hari Galau Nasional)


Kulihat sosok itu berdiri di ambang pintu tua. Dia tersenyum manis walau hanya senyuman sebaris. Tuhan. Mengapa kau takdirkan pertemuan ini? Ah. Seharusnya bukan pertemuan ini yang kusesalkan. Seharusnya diri ini yang kusalahkan karena cepat terbuai oleh hembusan buliran-buliran angin yang terlalu menyejukkan. Seharusnya lebih kujaga lagi hati ini agar tak terjatuh lagi dan tepecah menjadi kepingan-kepingan. Berserakan. Menyakitkan sungguh! Betapa tak ingin terulang lagi kisah dua tahun dan kisah dua minggu itu. Rasanya sungguh menyakitkan.

Cinta? Menikah? Makanan Apa Itu?


Aku tak mengerti apa itu cinta, menjalin kasih (pacaran), apalagi menikah ato apa yang akan terjadi setelah pernikahan nanti. Ah! Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding kayak nonton pilem Juon. *Lebay. Gak berani. Gamang. Mungkin aku beda dari teman-teman cewekku yang lagi menggebu-gebu kebelet nikahlah, kebelet punya babylah. Malah teman-teman pondokku udah banyak yang punya anak. Aku? Aku masih stay the same cuek-cuek bebek sama masalah yang satu ini. Untuk masalah sekrusial ini lebih baik let's it flow aja deh. Biarkan mengalir dan berlabuh di pelabuhan cinta yang indah pada saatnya nanti. Yakin aja Tuhan sedang membimbingku. Hehehe

Buatku perjalanan menuju pernikahan itu bagai perjalanan kita meraih cita-cita yang kita rencanakan. Dulu ketika kita kecil, kita memiliki sebuah cita-cita. Kemudian di SMA kita belajar berusaha mati-matian mengejar jurusan-juusan di perguruan tinggi sebagai langkah awal meraih cita-cita yang didambakan. Kadang beruntung, kadang buntung. Yang beruntung, ya monggo dilanjutkan usaha untuk meraih cita-citanya. Yang buntung, ya silahkan ganti cita-cita kayak saya. Hehe. Namun ketika lulus, lapangan kerja sedikit dan otomatis persaingan untuk mencapai cita-cita  yang kita dambakan itu lebih ketat *kecuali manusia yang berkecimpung dalam dunia entrepreuner. Alhamdulillah saya berada di dunia tersebut. Bahagia. Oke balik ke topik semula. Di fase ini, biasanya akan terjadi lagi buntung dan beruntung. Bagi mereka yang lolos, sok silahkan dinikmati cita-cita itu, bagi yang buntung, banting stir aja deh! Hehe.

Sama seperti perjalan menuju pelaminan. Sebelum pernikahan itu terjadi, kita berusaha mncari sesosok yang dianggap cocok menemani kita kelak di pelaminan. Namun pada perjalanannya, terkadang hubungan kita bisa langgeng, kandas, atau putus nyambung. Bagi yang beruntung, yuk mari unuk merencanakan tahap selanjutnya. Bagi yang buntung, ya silahkan cari lagi. Dan ketika pernikahan itu sampai pada waktunya, bisa jadi akan terjadi  bukan dengan sosok orang yang menjalin kasih dengan kita dulu.

Bunda Snack Impian

Tanggal 3 Mei 2011. Tanggal dimana aku menjatuhkan pilihan menjadi seorang entrepreuner bersama dengan lima orang temanku.Nggak kerasa sebentar lagi setahun jalan ini sudah kutempuh. Banyak halangan, rintangan, tapi tidak sedikit juga suka-suka dan kegembiraannya. Semoga inilah jalan yang benar, jalan yang diridhai Tuhan. Amin.

Oh ya... selain merintis usaha bersama teman-teman, aku ingin sekali memajukan catering kecil-kecilan mamaku. Alhamdulillah, teman-teman Parapluie kasih support yang sangat besar. Setidaknya pengalaman penerbitan yang hampir setahun ini bisa dimanfaatkan untuk catering mama. Amin. Ngomongin soal catering. Sebenarnya catering yang dirintis mama itu adalah ketering iseng-iseng untuk nambah-nambahin pemasukan rumah tangga. Biasanya nerima nasi kotak, snack, hantaran untuk pernikahan, kue pengantin, kue ulang tahun dan lain sebagainya. Tapi yang paling rutin adalah pesanan kue kering dan basah pada saat Lebaran. Bisnis kecil-kecilan ini sebenarnya sudah dirintis mama sejak aku masih duduk di kelas 5 SD. Lumayan sudah lama bukan? Dan iseng-iseng, mama memberi nama cartering tersebut "Bunda Snack".

Dulu mama sering ngeluh soalnya anak-anak beliau nggak ada yang mau terjun ke dunia tata boga. Mama sempat panik kalo barang-barang seperti oven, loyang, dsb itu akan sia-sia jika mama sudah nggak mampu menjalankan catering itu lagi. Sedih juga sih dulu. Soalnya seorang karyawan mama pernah bilang bahwa dia ingin sekali bisa punya catering kayak mama, tapi dia nggak bisa karena keterbatasan ekonomi. Sempet terpikir sih untuk berbuat seuatu, tapi bingung dan nggak berani mengambil langkah karena belum punya pikiran untuk keluar dari zona nyaman, terjun ke dunia wirausaha.

Namun setelah hampir setahun perjalanan bersama tim Parapluie, finally aku putuskan untuk mencoba terjun lebih dalam lagi di usaha catering mama.Kalo dulu aku cuma beli bahan kue, packing, ato sekedr bantuin menghias kue, sekarang aku mau coba yang baru, menjadi owner dan seksi sibuk sana-sini. Kemaren udah bilang ke mama tentang rencanaku ini. Mama empet terkejut dannyeletuk nanyain apa aku  yang seorang mahasiswa nggak malu jualan kue. Aku jawab aja kalau zaman sekarang pertanyaan tersebut udah nggak relevan lagi untuk ditanyakan. (Pengen dijabarin, tapi kayaknya kepanjangan deh)

Langkah pertama, aku harus membuat 'aturan main' catering tersebut. Aku harus punya kaki tangan yang bisa kupercayai. Than, aku butuh:

1. Kasir. Tugasnya otomatis mencatat semua pesanan yang masuk. Jadi,semua orang hanya bisa melakukan pemesanan lewat kasir termasuk juga orang yang re-seller kue kering. Setelah itu, kasir bertugas menempelkan pesanan yang sudah masuk ke steroform dan mengurutkannya dari yang pertama pesan sampai yang baru. Kasir juga menerima uang dari pembeli dan mencatatnya lalu melaporkan kepada bendahara.

2. Bendahara. Ini berfungsi untuk mencatat keluar masuknya uang dan melaorkan kepadaku.

3. Driver. Driver juga sangat dibutuhkan untuk mengantar pesanan daan juga membantuku membeli bahan-bahan kue yang stoknya habis.

4. Kitchen's chief. Tugasnya meng-handle karyawlan yang membuat kue dan melaporkan bahan-bahan yang telah habis kepada saya. Aku ingin mama yang di sini soalnya beliaulah yang lebih mengerti tentang dunia perkuehan nasional. Hehehe.

5.Bagian Packing. Setelah kue matang dan siap dikemas, pasukan inilah yang beraksi.Pasukan ini juga harus beraksi bersama kasir untuk packing sesuai pesanan para customer.

Semoga tulisan ini bisa terwujud segera. Sekarang... harus semangat ngerjain skripsi dulu dan selesai secepatnya. Ya Allah... Sahhilnii


Tuesday, 10 April 2012

Bukan Aksi, Melainkan Adaptasi

Beberapa hari yang lalu, tampaknya seluruh masyarakat Indonesia dihebohkan oleh isu naiknya harga BBM. Hal ini sangat berimbas besar bagi negara dan juga masyarakatnya. Bagi kalangan menengah ke atas, mungkin tidak terlalu kerasa, namun bagi masyarakat menengah ke bawah (termasuk mahasiswa), hal ini sangat dirasakan efeknya. Bayangkan saja! Tidak hanya tarif kendaraan umum yang naik, semua bahan pokok juga naik. Padahal BBMnya saja belum naik loh harganya! Akibat isu kenaikan BBM ini, menjamurlah unjuk rasa menolak kenaikan BBM dari semua kalangan masyarakat kita. Dari buruh, ormas, pelajar, bahkan mahasiswa pun tak ketinggalan.

Namun saya pribadi punya pemikiran lain tentang masalah ini. Saya lebih memilih diam dan tidak ikut aksi turun ke jalan ikut-ikutan menolak kenaikan harga BBM. Terlepas dari masalah kebijakan atau dan yang diselewengkan oleh para penguasa negara, menurut saya yang harus kita lakukan saat ini bukan aksi, melainkan adaptasi. Kenapa?

Karena kita adalah manusia yanh hidup dalam kehidupan nyata yang penuh tantangan sampai akhir hayat kelak. Dengan adanya masalah seperti ini, setidaknya, jadilah problem solver, bukan turun ke jalan unjuk rasa. Tapi dengan menjadi problem solver dan beradaptasi dengan suasana yang baru ini (kenaikan BBM), setidaknya kita didik agar lebih cerdik dan berpikir lebih kreatif untuk menciptakan ide baru yang segar untuk kehidupan kita selanjutnya. Sayangkan kalau otak tidak digunakan untuk berpikir? Padahal otak diciptakan untuk alat berpikir manusia. So... Beradaptasilah dengan keadaan yang baru, bukan beraksi.

INDONESIA PASTI BISA BERUBAH!!!!!!! SAYA YAKIN ITU!

Wednesday, 4 April 2012

Skripsiku Dan Novel Karya Dan Brown

Ngomong-ngomong tentang skripsiku yang berjibaku dengan simbol yang terdapat dalam bahasa puisi, jadi keinget ama novel karya Dan Brown. Novel Dan Brown kan juga penuh dengan simbol, bedanya simbol di novel-novelnya gak hanya menyangkut bahasa, tapi juga lambang dan gambar. Hehehe. BTW... Kapan ya Dan Brown ngeluarin karyanya lagi? Udah kangen hehe.
(Gak Jelas)

Tuesday, 3 April 2012

Sebuah Refleksi

Refleksi ini diambil saat saya ikut Festival UKM Nasional 2012. Saat itu, walaupun dalam keadaan ngantuk berat, saya masih bisa mendengar Om Bob Sadino berkata,"'Ngapain sekolah? Sekolah itu buat bodoh karena sekolah mengajarkan seseorang untuk berharap 'mau jadi apa' nanti ketika sudah dewasa".

Menurut saya, kalimat di atas tidak salah dan tidak benar. Belajar dan menuntut ilmu adalah sebuah investasi yang sangat berharga untuk kehidupan kita. Namun, ada benarnya apa yang dikatakan Om Bob bahwa sekolah mengajarkan berharap "mau jadi apa nanti". Kalimat ini sederhana, sesederhana kita menuliskannya. Namun kalimat tersebut sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat kita sampai saat ini, termasuk juga saya sebelum merefleksikan kata-kata Om Bob.

Dari kecil, kita sudah ditanamkan mau jadi apa kita saat dewasa. Hal ini membuat kita terlalu terpaku sehingga saat kita dewasa pola pikir kita akan terbentuk seperti ini: "Kalau gue masuk fakultas ekonomi, nanti pasti gue jadi jadi akuntan, ato kalo gue masuk fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, nanti gue jadi diplomat, dsb. Terkadang juga pola pikir yang terbentuk: tujuan gue sekolah adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Dan lebih parahnya, ada yang berpikir: ngapain sekolah dan menuntut ilmu tinggi-tinggi, toh nanti kerjaan saya hanya ngangon kambing.

Sebagai generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa dan melahirkan generasi penerus, ayo sedikit demi sedkit kita rubah pola pikir dan niat kita. Niatkanlah sekolah untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya karena ilmu adalah cahaya Illahi dan investasi terbesar untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Hilangkanlah pola pikir yang menyatakan bahwa tujuan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan.

Intinya... jika kita kelak ingin menjadi petani, jadilah petani yang pintar. Jika kelak kita menjadi, nelayan, jadilah nelayan yang cerdas. Jika kita menjadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Jadi apapun kita kelak, jadilah seseorang yang mempunyai ilmu luas.


 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang