Senja di Yogyakarta memang selalu memesona. Selalu mampu membuatku berada dalam dilema. Berat rasanya pergi meninggalkan kota ini. Namun, aku harus pulang untuk mengabdikan diri kepada keluarga tersayang. Kapan lagi aku akan hidup bersama mereka? Selama ini, aku selalu pergi menjauh dari rumah. Bukan karena kesengajaan, namun karena nasib yang menerbangkan. Ada kecemasan akan meninggalkan kota ini. Namun ada juga ketakutan bahwa aku tak kan pernah punya waktu untuk mengabdi kepada mereka, keluargaku tersayang. Aku harus pulang. Setidak untuk beberapa saat karena kurasa, aku tak mampu jua meninggalkan kota ini.
Sunday, 25 November 2012
Ragu
Apa betul aku punya bakat menulis? Kata dosen pembimbing skripsiku, aku berbakat untuk menulis dan beliau memintaku untuk terus berlatih menulis dan menulis kemudian memintaku menulis sebuah karya ilmiah di blog. Kata-kata beliau masih terngiang-ngiang dalam benak. Tapi, aku masih saja meragu. Permintaan beliau untuk menulis lagi pun belum kulakukan sama sekali. Dalam lubuk hati, aku memang ingin menulis, tapi ya tulisanku hanya seperti ini. Sederhana dan tampaknya kurang berbobot. Hehehe... Aku pribadi sih senang-senang aja nulis. Karena dengan menulis, aku bisa menciptakan dunia yang kuinginkan sesuka hati. Aku adalah penguasa dalam dunia imajinasi sendiri. Tapi... ya tulisan-tulisan itu hanya kukonsumsi sendiri tanpa pernah kubagi atau kupublikasi. Tapi, suatu hari ingin juga sih karya tulisanku dikenal khalayak ramai. Bisakah aku? Masih meragu....
Label:
curcol
Friday, 23 November 2012
Dicintai
Kota ini tampaknya masih berteman dengan hujan. Lihat saja di luar sana hujan masih menyisakan tetesan demi tetesan menciptakan genangan air di permukaan jalan. Senyumku tiba-tiba mengembang. Kilas balik masa lampau berputar-putar mengambang. Aku ingat jika dulu aku pernah melakukan suatu kebodohan besar. Kebodohanku adalah pernah memendam rasa cinta untuknya. Tiap hari tak henti-hentinya aku memikirkannya. Aku berharap dia punya rasa yang sama denganku. Namun aku salah. Dia hanya angin yang datang sesaat. Dia memberikan aku rasa sejuk dan nyaman. Lalu dia tinggalkan aku sendirian tanpa kepastian. Di benakku, cinta tak lagi indah. Cinta tak lagi membahagiakan. Cinta hanya penderitaan dan kesia-siaan, Entah sudah berapa lama aku tak bersahabat dengan cinta lagi. Aku tak berpikir untuk mencintai sekali lagi. Aku hanya ingin dicintai agar hati ini tidak tersakiti.
Berharap suatu saat semua kembali normal; aku tak takut lagi untuk mencintai
Label:
curcol
Thursday, 22 November 2012
The End of The Beginning
Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya. (Sate Padang, 17 Juli 2012)
Label:
berbagi
Friday, 16 November 2012
Sisa Memori Tentangmu
Aku terduduk dalam kamarku yang hening bebas dari bising. Dari jendela kamar kulihat titik-titik hujan masih berjatuhan menerpa jalanan. Hujan dan hening. Kedua hal itu sukses mengingatkanku kembali pada dirimu yang pernah mengisi hari-hari dengan kecerian, yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan, yang menorehkan luka hati yang dalam, yang membuat hati ini tertutup rapat untuk cinta lain yang ditawarkan.
Aku masih ingat bagaimana awal kita jumpa kemudian melalui hari-hari bersama. Aku masih merasakan kecerian itu. Tawa kita. Canda kita. Dan juga amarah kita. Awalnya biasa saja. Aku tak pernah merasakan apa-apa. Kau hanya teman atau setidaknya kuanggap kau kakak laki-laki semata. Namun, rasa itu menelusup begitu saja dalam kalbu. Tiba-tiba... aku menginginkanmu lebih dari sekedar teman. Namun apalah daya? Aku hanya seorang wanita yang terlahir dalam budaya timur yang para wanitanya diharuskan malu-malu mengungkapkan rasa cinta duluan. Aku hanya memendam rasa itu jauh di lubuk hatiku. Tak ada yang tahu kecuali aku dan Dia. Kau tahu? Tiap malam aku selalu menitikkan air mataku mengadu pada-Nya bahwa aku tak sanggup menanggung beban ini. Aku menunggu dan terus menunggu. Namun, pada akhirnya kau sirna tanpa kabar berita.
Aku salah dan terlalu banyak berharap. Kau tak punya rasa yang sama dengan yang kurasakan. Namun... salahkah aku memaknai kebersamaan? Salahkah aku menafsirkan semua perhatian? Memang mungkin aku terlalu percaya diri dan yakin bahwa kau juga punya rasa itu padaku. Ah bodohnya aku yang pernah mencintaimu! Aku hanya bisa tertawa miris mengingatmu dan kenangan-kenangan yang kau bawa dalam hidupku.
Kau tahu? Aku telah mempersiapkan diri jika kau tinggalkan aku pergi. Aku sadar semua yang kulakukan pasti punya konsekuensi. Kau tahu? Aku sangat tegar saat kau hilang. Aku sangat tegar saat mendengar kau bersanding dengan seseorang. Aku turut bahagia dan mendoakanmu menjadi keluarga bahagia bersama dia. Kau memang bukan untukku. Bukan karena kau tidak baik. Namun, karena Tuhan Maha Tahu siapa yang terbaik untukku dan untukmu. Tuhan akhirnya telah menjawab semua doa-doa yang kupanjatkan di sepertiga malamku. Namun Dia belum memberitahuku siapa yang terbaik untukku. Mungkin Dia ingin memberi kejutan indah padaku suatu saat nanti.
Aku relakan dirimu. Namun apakah kau tahu? Kisah ini menorehkan satu hal dalam diriku. Aku belum mampu untuk jatuh hati lagi. Untuk apa jatuh hati lagi jika akhirnya akan tersakiti? Aku tertawa lagi. Miris kuadrat. Apakah mungkin cinta itu seperti undian dalam fish bowl? Tinggal kita aduk isi fish bowl itu dan ambil satu gulungan kertas di dalamnya. Lalu membuka nama yang tertera dan jegjengjengg.... orangnya langsung tersedia di samping kita tanpa perlu mencintainya terlebih dahulu. Lupakan! Itu hanya imajinasi liarku saja. Sekedar untuk menghibur diriku yang terdiam dalam keheningan malam. Sudahlah... ceracauku sudah semakin kacau tak menentu. Selama tinggal...
sepertinya aku harus mengembalikan selera membacaku ke genre novel misteri dan petualangan deh biar nggak galau kayak begini.
Label:
lega
Thursday, 15 November 2012
Jago Merah Malang
Selesai sesi pemotretan pre wedding eh... maksudnya pre graduation, aku memutuskan untuk langsung belanja kebutuhan sehari-hari. Berhubung udah sore dan motor mau dipinjem, aku memutuskan belanja kilat dan langsung ke kasir. Ketika giliranku bayar, tiba-tiba pengeras dari bagian informasi supermarket tersebut membahana. Begini bunyinya kira-kira:
"Selamat sore. Panggilan kepada pemilik motor Vario Merah....
aku: "Vario merahh? punyaku dong?!
"....... dengan nomor polisi BA 6959 AG ditunggu kedatangannya di area parkir supermarket. Terima kasih. Selamat sore,"
Aku langsung kaget setelah mendengar pengumuman lengkap itu. Aduh! Ada apalagi ini? Aku deg-degan berat. Perasaan motorku itu udah aku parkir di tempat yang benar. Dengan terburu-buru. Aku mengambil barang-barang belanjaanku dan segera kabur ke area parkir. Di dekat motorku, berdiri dua orang pemuda yang memberitahu bahwa motor mereka menabrak knalpot motorku hingga tutup knalpotnya lepas dengan sukses. Aku bingung, takut, sebel, marah, kesel. Argghhht!!!! Kenapa sih si Jago Merah kesayanganku itu selalu menjadi korban kebrutalan pengendara motor.
Dulu sebelum aku ujian pendadaran, si Jago Merah ditabrak dari samping sampe aku jatuh dan Jago Merah terluka. Pijakan kaki si jago Merah hancur dan bolong-bolong nggak karuan. Sekarang, kejadian lagi deh. Beberapa hari sebelum wisuda, si Jago Merah ditabrak lagi. Haduhhhh.... Kesel banget deh! Untungnya dua orang itu mau ganti. Berhubung udah sore dan bengkel udah pada tutup lapak. Akhirnya aku minta aja ketemuan langsung di bengkel sama kedua orang itu. Semoga mereka beneran mau ganti. Amin.
Label:
curcol
Tuesday, 13 November 2012
Tak Pernah Bersedih?
"Kamu kok sepertinya nggak pernah bersedih? Ceria melulu. Gak pernah punya masalah ya?"
Aku hanya tersenyum menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka bilang aku selalu ceria dan tak pernah punya masalah. Siapa bilang aku tak punya masalah? Kalau aku tak punya masalah, kenapa aku harus hidup? Hidup itu kan tak pernah luput dari masalah yang kadang bikin kita sakit hati, menangis, pengen marah, dan sedih. Aku sama dengan mereka. Aku juga punya sejuta masalah dan sejuta keluh kesah. Yang beda hanya keceriaan yang selalu terpancar walau aku ada dalam masalah.
Entah kenapa setiap ada masalah atau ingin berkeluh kesah, aku selalu teringat bahwa masih banyak orang-orang yang lebih menderita dan ditimpa masalah lebih banyak dbandingkan aku. Jadi kenapa aku harus bersedih? Toh masalah dan keluh kesah tak kan habis dengan hanya bersedih dan menagis. Tapi, aku juga bukan orang kuat, kadang aku juga menangis. Karena menangis terkadang dapat melegakan perasaan kita, tapi jangan terlalu ditangisi juga sih. Sekedarnya saja. Detik ini pun, aku sedang menangis menahan rasa sakit. Mungkin setelah puas menitikkan air mata, aku akan pulang ke kos, mandi, dan tidur berharap esok pagi rasa sakit ini pergi.
Label:
curcol
Friday, 9 November 2012
Mencintai Atau Dicintai?
Mencintai atau dicintai? Mana yang kau pilih? Kalau aku lebih memilih untuk dicintai ketimbang mencintai. Pilihan ini memang berdasarkan pengalaman masa silam. Mencintai itu adalah suatu hal yang menyakitkan apalagi untuk seorang perempuan yang tak bisa mengungkapkan rasa cinta yang dipendam. Bahkan emansipasi wanita yang saat ini sedang gencar sekalipun tak akan berlaku dalam hal ini. Untuk apa mencintai jika akhirnya menyakiti hati?
Label:
curcol
Friday, 2 November 2012
Friendshit
Bagiku, di dunia ini nggak ada yang namanya friendship, close friend, best firend, sahabat dekat, atau apalah itu istilahnya. Bagiku, teman ya teman saja. Sekedar berteman sajalah karena toh manusia nggak bakal bisa hidup sendirian di muka bumi. Temen itu emang selalu ada dalam suka dan duka, dalam sedih dan tawa. Tapi dengan satu catatan: kalo kita dan mereka masih berstatus jomblo. Kalo mereka udah bertemu dengan cinta mereka... ya siap-siap ikhlasin kepergian mereka dan siap-siap juga nerima mereka kembali ketika mereka sedang punya masalah dengan pasangan mereka. Saat masalah mereka selesai, ya ikhlasin lagi mereka kembali ke pasangan mereka dan begitu seterusnya. Toh itu adalah kehidupan baru mereka. Kita pun akan menemui kehidupan baru kita dan bertemu dengan teman-teman baru lagi. Intinya sih adalah ikhlas dan cari teman baru sebanyak-banyaknya. Nggak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanya individu yang berusaha menjadikan persahabatannya sempurna. Persahabatan itu bak pergantian musim yang sama-sama datang silih berganti.
Label:
curcol
Monday, 29 October 2012
Kata Kajol
If you are a women, then you are a mom type because every girl has this mom formula hidden in her as soon as she born. Career women, like you, forget this. But when the time comes, you will remember everything (We Are Family).
Itu kalimat yangaku kutip dari salah satu scene film We Are Family. Kalimat yang bagus dan ngena banget. Bener juga ya kalo naluri keibuan itu telah ada dalam diri seorang wanita semenjak ia lahir. Mungkin terkadang, ia lupa karena terlalu sibuk dengan dunia yang digelutinya. Namun, jika saatnya tiba,dia akan ingat semuanya. Indahnya menjadi seorang wanita. Aku bersyukur untuk itu.
Label:
berbagi
Sunday, 28 October 2012
Hymne: Peraturan
Hari ini masih saja irama hymne "Oh Ponndokku" mengalus dari MP3 handphone. Beribcara tentang pondok, otomatis tak kan bisa lepas dari yang namanya peraturan. Aku jadi teringat dengan keponakan ibu kos yang membatalkan niatnya masuk pondok karena ada peraturan bahwa di pondok para santriwati tidak diperkenankan memakai handphone.
Itu hanya sebagian peraturan, kawan. Peraturan memang sekilas tampaknya memberatkan, menyulitkan, dan mempersempit kebebasan kita. Namun, apa yang terjadi jika tak ada peraturan di muka bumi? Semua pasti akan menjadi kacau balau dan manusia tak kan ada yang menghormati, menghargai, dan tenggang rasa satu dengan yang lainnya. Peraturan itu untukkebaikan kita sendiri kok.
Aku pribadi menghargai peraturan pondok yang berlaku. Kadang menyebalkan sih, namun aku berusaha memandang peraturan dari sudut pandang berbeda. Aku mencoba berpikir positif pada setiap peraturan. Contohnya adalah peraturan penggunaan bahasa Arab dan Inggris. Bayangkan saja jika peraturan itu tidak ada! Pasti para santri tak akan pernah mempraktekkan bahasa yang dipeajari sehingga mereka tidak akan pernah berani berinteraksi dengan bahasa tersebut.
Peraturan lain misalnya adalah diarang menggunakan handphone. Zaman sekarang yang namanya handphone sudah merajalela di masyarakat kita. Tua muda, kaya miskin semuanya punya handphone. Bahkan anak TK nol kecil saja sudah dibelikan handphone canggih. Handphone itu bagai obat candu. Sekali melirik layarnya, maka kita akan lupa dengan dunia nyata di sekitar kita. Kita pasti akan berkutat dengan benda itu. Dan akhirnya kita malas melakukan hal-hal nyata karena hanya berkutat dengan handphone di tangan. Bayangkan saja jika seluruh santri di paondok membawa handphone! Pasti mereka tidak akan pernah berinteraksi satu dengan yang lain. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka dan handphone mereka. Mereka mungkin lebih memilih bermain dengan benda itu ketimbang mengikuti kegiatan-kegiatan mengasyikkan yang disediakan seperti pramuka, pidato, olah raga, musik, dan organisasi lainnya. Kegiatan itu memang tampaknya sepele, namun sebenarnya sangat berarti di kemudian hari.
Aku sangat menghargai peraturan pondok walau terkadang tak jarang aku langgar. Namun, ada satu peraturan yang masih sulit aku terima, yaitu para santri tidak boleh membaca dan menulis karya sastra. Itu peraturan saat aku masih mondok dulu. Aku suka membaca novel ataupun kumpulan cerpen. saat kelas1 sampai kelas 3, kami masihdiperbolehkan membaca novel ataupun kumpulan cerpen asalkan bertema islami, seperti karya Asma Nadia, Ari Nur, Izzatul Jannah, dan Pipit Senja. Tak masalah, peraturan ini masih bisa ditolerir. Setelah naik ke kelas 4 (sederajat dengan 1 SMA), ada peraturan baru, yaitu tidak boleh membaca karya sastra walau bertema islami. Sedih sekali rasanya. Untungnya masih ada cerita bersambung yang berjudul "Ayat-Ayat Cinta" di koran Republika saat itu. Jadilah cerbung itu sesuatu yang selalu kami nantikan kehadirannya sebagai pelipur lara akibat tak bisa membaca karya sastra.
Lain halnya dengan peraturan dilarang menulis. Saat itu, aku baru seorang calon santriwati. Seorang teman sekamarku gemar sekali menulis cerpen. Cerpen itu ditulis di sebuah buku tulis isi 40. Tiap hari, ketika waktu senggang, dia terus menulis. Tulisannya berkisar pada cerita cinta dan persahabatan anak ABG. sesuailah dengan umur kamisaat itu. Suatu sore, aku duduk di sebelahnya menemaninya menulis. Tiba-tiba, seorang ustadzah lewat dan merebut buku tulis itu. Temanku diam saja, termasuk juga aku. Aku hanya diam.Takut dan heran.
Ah andaikan aku punya kekuatan... ingin rasanya aku menghilangkan dua peraturan itu. Tak masalah jika para santri gemar membaca karya sastra atau menulis. Mungkin saja, kelak mereka jadi penulis handal yang melahirkan tulisan-tulisan bagus dari pondok. Semoga saja, peraturan itu kini tak lagi ada. Semoga saja, novel karya A. Fuadi menginspirasi para santri dan para pengurusnya untuk menghapus peraturan itu. Amiin.
Aku merindukan pondokku....
Label:
buah pikiran
Wednesday, 24 October 2012
Romantisme
Ini mungkin kali keseribunya aku menonton film Bollywood yang berjudul "Ghajini". Film ini rupanya memberi kesan tersendiri bagiku. Kesan tersebut kudapatkan dari dua karakter dalam film ini, yaitu Sanjay Singhania (Aamir Khan) dan Kalpana Shetty (Asin Thottumkal). Kesan itu berupa arti romantisme. Romantisme itu tidak hanya ditunjukkan dengan perhatian berlebihan dan kontak fisik saja. Romantisme itu ya bisa ditunjukkan dengan saling menyemangati satu sama lain, saling menguatkan, saling menghormati, saling menghargai, dan saling memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Itulah romantisme, kawan.
Tuesday, 16 October 2012
Hymne: Tong Seng
Instrumen hymne "Oh Pondokku" masih mengalun syahdu mengingatkan aku dengan sesuatu. Aku teringat tong seng. Namun, tong seng ini bukan tong seng gulai khas Jawa itu. Tong seng ini nama suatu tempat di area tempatku mondok dulu. Tong seng ini adalah deretan kamar mandi panjang berdinding seng dan baknya dari tong. Maka, jadilah kami menyebutnya tong seng.
Walau sederhana dan bukan merupakan tempat terkenal, tong seng ini punya tempat khusus di hati. Bagaimana tidak? Tong Seng ini bisa dibilang saksi bisu yang menyaksikanku menangis untuk pertama kalinya karena pisah dari orangtua untuk mondok selama 6 tahun lamanya.
Aku ingat benar hari itu. Saat banyangan mama sirna dari pandangan, aku langsung sedih ingin menangis. Aku langsung masuk kamar dan mengambil baju ganti, handuk, dan alat mandiku. Setelah itu, aku menuju tong seng, masuk ke dalamnya dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya. Selesai mandi di tong seng, hilang sudah rasa sedih itu. Kenapa harus sedih ya? Toh semua orang di sekitarku senasib denganku semua; sama-sama jauh dari orangtua.
Label:
coretan tangan
Saturday, 13 October 2012
Baca Novel (Lagi)
Asyikkkk! Dua hari ini memang asoy geboy. Kembali ke rutinitas awal sebelum sibuk-sibuknya ngerjain skripsi, yaitu baca novel. Hehehe. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Seharian di dalam kamar meringkuk membaca banyak novel dan mengimajinasikan wajah tokoh dan latarnya dalam pikiran. Apalagi kalo hari hujan, semakin nikmatlah acara baca novelku itu. Hidupin kipas, selimutan, dan meringkuk membaca novel. Tampaknya aku memang merindukan kegiatan ini. Mungkin karena kegiatan ini pernah lama terhenti karena aku harus banyak baca buku teori penelitian sastra dan buku-buku acuan yang serius dan nggak bisa dibuat menghayal.
Dulu, aku seneng banget baca novel bertema cinta gitu. Kayaknya seru dan bikin haru. Tapi, semenjak kejadian 'cinta bertepuk sebelah tangan' itu, aku lebih memillih novel-novel misteri, petualangan, dan detektif, seperti The Lost Symbol, Sherlock Holmes, The Last Supper, dan The Grail Conspiracy. Rasanya seru aja mengimajinasikan petualangan-petualangan seru tersebut. Menjelajahi Gedung Capitol, White House, Baker Street, atau bahkan memikirkan keindahan kota Milan. Novel-novel bertema ini cocok banget untuk ngilangin galau akibat kasih tak sampai deh.
Akhir-akhir ini, aku malah tertarik baca novel yang bertema rumah tangga. Hehehehe. Mungkin emang saatnya aku ganti selera ya? Ya anggap aja untuk pelajaran di masa depanku kelak.Hehe. Salah satu, eh salah dua yang kusuka adalah Quarter Life Dilemma, C'est La Vie, Test Pack, dan Alpha Wife. Yang terbaru ya yang terakhir. Aku suka sama tema ceritanya yang mengusung tentang alphawife. Sekarang kan jaman tuh masalah alpha wife dalam rumah tangga. Aku kira, aku perlu sedikit tahu tentang masalah ini.
Label:
berbagi
Friday, 12 October 2012
Asal Mula
Jika ditanya seberapa sukakah aku sama pilem Bollywood. Mungkin aku akan menjawab bahwa aku suka pilem Bollywood kayak mereka yang lagi kena deman Korean Wave gitu. Tapi bedanya, aku nggak bakal tereak-tereak kalo ketemu ama aktor atau artis favoritku (sadar umur).
Awalnya, dulu aku nggak suka pilem India. Pertamanya sih karena dilarang sama emak nonton pilem India soalnya adegannya "ngeri". Ya sudah, saya nggak pernah suka sama pilem India. Waktu masuk pesantren, ternyata lagu India adalah sesuatu yang wajib dalam acara-acara penting pesantren, sebut saja acara Apel Tahunan, Drama Arena, dan Panggung Gembira, semacam pentas seni gitulah kalo di SMP ato SMA. Apalagi teman-teman sekamar sering "mencekoki" aku dengan cerita-cerita pilem India. Mulai dari Kuch Kuch Hotahai, Mohabbatain, Khusi, Mann, dll deh. Namun, saat itu aku masih belum tertarik, aku cuma suka dengerin lagunya aja. Itupun karena sering diputar waktu latihan nari.
Waktu semester 1, akhirnya aku nonton Kuch Kuch Hotahai. Itu pilem India pertama yang aku tonton (Halo??!! Kemana aja guweh? Baru nonton Kuch Kuch Hotahai waktu semester 1). Tapi, aku belon tertarik sama pilem India. Kok ceritanya gitu-gitu aja dan ada nyanyi-nyanyinya yang panjang plus bikin ngantuk. Akhirnya, aku memutuskan kalo aku nggak suka pilem India sampai bermunculanlah pilem India tahun 2000-an, kayak Slumdog Millionaire, My Name is Khan, dan 3 Idiots. Awalnya sih sempat underestimate sama pilem-pilem tersebut. Eh ternyata pilem-pilemnya bagus-bagus banget. Setelah nonton 3 pilem tersebut, akhirnya aku keranjingan cari info seputar pilem India tahun 2000-an. Ternyata bagus-bagus dan penuh dengan pesan. Oh ya. Pertama sih kurang suka sama adegan nyanyi dan narinya, tapi lama kelamaan, aku nikmati juga. Malah aku bela-belain download lagu-lagunya hehe. Pilem India tanpa adegan nyanyi dan nari kayakny sama dengan sayur tanpa garam ya.
So... bener juga kata orang, Don't Judge the book by it's cover.Hehe. Enjoy dan nikmati pilem India. Nggak bakal nyesel kok.
Label:
buah pikiran
Thursday, 11 October 2012
Sekseehh
Akhirnya aku terbujuk dengan rayuan pulau kelapa, eh salah, maksudnya rayuan maut temenku untuk nonton pilem di bioskop. Pertamanya sih, aku nggak pengen ikut, berhubung isi kantong menipis dan capek karena seharian nguruusin naskah skripsi. Tapi, dipikir-pikir, bolehlah sekali-sekali menghibur diri pergi nonton ke bioskop. Kali ini pilemnya dipilihin sama teman. Judulnya "Looper" (Bukan loper koran ya!).
Ceritanya tentang pembunuh bayaran yang membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu dari masa depan. Pilemnya lumayan menegangkanlah walau agak harus mikir untuk mencerna ceritanya. Yang penting, kali ini aku nggak menyia-nyiakan dua puluh llima ribu untuk beli tiket. Pasalnya, dulu aku pernah trauma nonton pilem di bioskop. Udah bayar mahal-mahal, eh akunya malah tidur pulas. Ckckckckckck. Kalo mo tidur, ngapain di bioskop ya?Tapi yang paling berkesan ya itu, si Joseph Gordon Levitt yang menjadi peran utama. Dia seksi banget dengan potongan rambut kayak gitu. Dan satu lagi, bibirnya juga seksehhhh. Beuhhh. Ckckckcckckck.Semoga ada lanjutannya nih pilem. Rodo ngegantung sih. Tapi like this lah.
Wednesday, 10 October 2012
Pasti Ada Hikmah
"Abis lulus mau kemana, Shin?" Tanya Bu Mahmudah, dosenku, saat menemani beliau beli snack.
"Saya pengen lanjut S2, Bu" Kataku bersemangat. Aku memang pengen lanjut S2. Aku memang masih punya keinginan besar untuk mendalami sastra Arab. Aku masih ingin lagi meneliti karya sastra Arab dengan teori-teori kritik sastra yang lebih tajam ketimbang yang aku dapatkan di S1. Rasanya nama Nizar Qabbaniy masih mengelilingi otakku. Tanganku juga gatal untuk mencari-cari dan memborong karya-karyanya yang lain dan membacanya. Nanti aku ingin mengulas tentang Nizar Qabbaniy lagi dalam tesisku, mungkin dengan semiotik lagi atau teori kritik sastra yang lain, seperti kritik sastra feminis. Namun, aku sadar bahwa biaya S2 itu nggak murah. Sebentar lagi adekku juga masuk kuliah. Mama juga sedang S2. Papa? Aku sudah bertekad tidak akan memberatkan beliau.
"Bagus kalau kamu mau melanjutkan kuliah. Coba cari beasiswa. Tanya-tanya sama temanmu. Kemaren kan ada anak Sastra Arab yang dapat beasiswa unggulan," Suara Bu Mahmudah memecah lamunan.
"Iya, Bu" Kataku sambil mengangguk setengah hati teringat bahwa temenku yang dapat beasiswa itu agak terkenal pelit ilmu dan informasi, apalagi info beasiswa.
Beasiswa ya? Siapa yang gak pengen dapet beasiswa? Aku juga pengen dapet beasiswa seperti mereka. Aku juga nggak pengen kale ngeberatin beban orangtuaku yang harus ngeluarin banyak biaya. Tapi aku kepalang antipati sama yang namanya beasiswa. Beasiswa itu nggak jelas. Dulu ada penawaran beasiswa BOP intinya beasiswa itu ditujukan untuk mahasiswa yang IP-nya bisa dibilang gedelah. Dengan semangat 2012, aku ikut apply beasiswa itu dan sangat berharap banget karena saat itu, IP-ku lagi hot-hotnya, Lumayanlah ngalahin teman seangkatanku yang langganan IP tinggi. Namun, ternyata oh ternyata, aku nggak dapat beasiswa itu. Malah teman-temanku yang IP-nya di bawahku yang pada dapet. Haduhh. Makjleb rasanya hati ini!
Terus waktu biaya kuliah membengkak karena harus bayar uang KKN, aku juga ikut apply beasiswa lagi. Kalo dapet ya lumayanlah, beban orang tua bisa terkurangi. Ternyata sama saja. Hasilnya mengecewakan. Ini lebih parah! yang dapat malah kakak-kakak angkatan yang notabene cuma tinggal nyusun skripsi doank. Harusnya lebih baik beasiswa itu dialirkan kepada mahasiswa yang masih banyak menanggung beban SKS, dan saat itu plus beban biaya KKN.
Belon lagi beasiswa yang ditujukan untuk mahasiswa kurang mampu. Kayaknya beaasiswa itu perlu diperhatikan dan ditinjau ulang lagi deh. Harus jelas kategori "MISKIN" itu yang bagaimana. Apakah orang yang tiap hari pulang pergi pakai motor, bawa laptop, dan bisa liburan ke Malaisya dan Singapura itu bisa dikategorikan miskin?? Hal yang seperti ini banyak sekali terjadi. Harusnya calon penerima beasiswa ini menjalani penghitungan kekayaan orangtua kayak calon presiden gitu biar jelas dan nggak ada yang terdzolimi. Kasihan kan sama yang benar-benar membutuhkan beasiswa itu, malah nggak dapat.
Sempat ada kekhawatiran kalo seandainya nanti aku apply beasiswa lagi lalu ternyata hasilnya mengecewakan lagi. Mungkin aja kategori calon penerima beasiswa S2 itu nggak jelas lagi kayak beasiswa yang sudah-sudah itu."Astagfirullah. Ampuni Aku Tuhan. Tersadar, aku berburuk sangka lagi kepada-Mu."
Semoga ada hikmah di balik semua susah. Aku yakin Tuhan menyiapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih menyenangkan daripada beasiswa yang dulu-dulu itu, asal aku selalu usaha dan selalu mengiringi usaha tersebut dengan doa. Where there is a will, there is a way. Aku harus tetap semangatdan yakin bahwa aku bisa lanjut kuliah. Semangat! Semangat! (sambil ngepalin tinju kanan ke udara)
Label:
curcol
Sunday, 7 October 2012
Beda
Mengapa perbedaan selalu menjadi perselisihan?
Mengapa perbedaan menciptakan kebencian?
Apakah ada yang salah dengan perbedaan?
Mengapa kau dan aku tak bisa bersatu
hanya karena kita berbeda suku?
Omong kosong apa itu?
Tak ada suku yang lebih baik
Semua sama rata, sama baik
Harusnya perbedaan itu untuk saling melengkapi
Bukan untuk saling memusuhi
apalagi mencaci maki.
Label:
buah pikiran
Thursday, 4 October 2012
Rumah Puisi
Nanti, kau tak perlu mengajakku berbulan madu ke Bali
apalagi ke Pantai Senggigi
Cukup ajaklah aku ke Rumah Puisi
di antara kaki-kaki Gunung Singgalang dan Merapi
di antara Padang Panjang dan Bukittinggi
Lebaran kemaren, aku dan keluarga sempet pulang kampung ke Lintau Buo. Waktu berada di antara daerahPadang Panjang dan Bukittinggi, gak sengaja aku liat papan besar bertuliskan Rumah Puisi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jatuh cinta sama puisi. Hmm mungkin karena skripsiku kali ya. Hehehe. Namun sayang beribu sayang, keluargaku nggak ada yang mau singgah ke sana. Soalnya yang jatuh cinta sama puisi kayaknya cuma aku deh. Ya sudahlah, perjalanan tetap dilanjutkan ke
Bukittinggi. Sebenarnya aku berharap banget bisa ke sana, tapi aku kan
jarang pulang ke Padang. Hadeuh. Semoga suatu hari nanti, ada yang ngajak ke
sana.
sumber poto: google ya (belum sempat jepret
sendiri)
Label:
hayal
Monday, 1 October 2012
METAMORFOSIS
Udah lama ya ternyata aku gak nulis cerita-cerita ringan lagi. Hehe. Mungkin akibat kejar tayang skripsi nih. Finally hari ini, aku mencoba menulis cerita-cerita ringan lagi. Dibuat sendiri dan untuk konsumsi pribadi (gak pede publish sih tepatnya hehe). Susah juga ya kalo udah lama nggak nulis cerita ringan dan sekarang tiba-tiba nulis yang beginian lagi. Biasanya berkutat dengan skripsi yang memakai bahasa resmi dan EYD yang forrmal dan bukan hasil ngayal. Cekidot dikit ah di blog hehe.
***********
Kulihat langit masih mendung dan titiktitik hujan membasahi jendela kaca itu.Tampaknya hari ini aku tak ingin membaca
novel misteri yang barusan kuambil dari rak baca. Aku malah menatap titik-titik hujan
yang menempel di jendela. Pikiranku melayang jauh ke rumahku di kampung. Tiba-tiba aku teringat dengan wajah Bapak dan Ibu
yang sangat menginginkanku untuk segera menikah.
“Nduk,
kapan kamu mau ngenalin calon suami kamu ke Ibu dan Bapak?” Kata
ibu sambil mengelus rambutku sayang.
“Saya belum kepikiran ke sana,
Bu. Saya masih fokus menuntut ilmu”
Kataku lirih.
Ibu hanya menghela nafas prihatin mendengar jawabanku. Sebenarnya aku juga ingin mengabulkan keinginan bapak dan ibu untuk segera menikah. Namun,
masa lalu membuatku beranggapan bahwa semua laki-laki di bumi ini sama saja.
Mereka hanya menginginkan kecantikan.
“Hei! Ngelamun aja,
Rei”
Suara itu menyadarkanku dari lamunan panjangku. Lul berdiri
di hadapanku sambil tersenyum lebar. Dia segera meletakkan dua cangkir coklat hangat di
atas meja dan duduk di hadapanku sambil mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas ransel.
“Rei. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa,
Lul. Sungguh”
“Tidak mungkin Rei. Kau tak kan pernah bisa membohongiku,”
“Lul. Adakah cinta
yang benar-benar tulus di muka bumi ini?Aku tak pernah melihatnya”
“Pasti ada. Kau saja
yang belum menemukannya”
“Namun, mengapa para lelaki hanya mencari kecantikan saja? Percayalah... ketika kecantikan itu hilang, mereka pasti akan menghilang juga,”
“Siapa bilang?”
“Aku yang
bilang. Dulu saat aku masih seperti seekor anak itik buruk rupa,
mereka menghina dan menjauhiku. Namun kini ketika aku bermetamorfosis menjadi seperti angsa
yang cantik, mereka semua datang menghampiriku dan menginginkanku,”
Lul hanya tersenyum mendegar opiniku
yang sarkas tentang kaumnya. Beberapa saat kemudian, dia melirik jam
tangannya lalu menepuk jidatnya. Tampaknya dia melupakan sesuatu atau melupakan janji bertemu dengan seseorang. Buru-buru Lul mengambil buku-bukunya dan memasukkannya kedalam ransel.
“Maaf Rei.
Aku harus pergi. Namun yakinlah!
Cinta tulus itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengannya. Sampai jumpa besok,”
Bayangan Lul telah hilang ditelan rak-rak buku perpustakaan
yang
menjulang tinggi. Aku terpekur memikirkan kembali ucapan Lul. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan bayang-bayang masa lalu. Mungkin saatnya untuk berpikir positif. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah buku
agenda kusam. Kuambil buku itu dan kubuka satu per satu halaman demi halamannya. Di
salah satu halaman buku tersebut, aku menemukan selembar fotoku bersama Lul. Aku tersenyum melihat foto itu. Itu fotoku sebelum aku bermetamorfosis. Perlahan-lahan kubaca rangkaian
kata-kata di bawah foto tersebut;
Namanya Rei.
Reina.
Mungkin dia tak secantik teman-teman perempuan
yang lain. Namun entah mengapa aku terkagum-kagum olehnya. Mungkin karena dia cerdas,
ceria, dan selalu optimis. Dan senyumannya sangat manis. Tampaknya,
kini aku menyayangi dia bukan sebatas sahabat saja. Aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan ini,
namun aku tak ingin merusak jalinan persahabat kami. Biarlah waktu
yang akan memberitahunya tentang perasaan ini.
Ailul
Label:
hayal
Subscribe to:
Posts (Atom)





