Sunday, 30 September 2012

Horor

"Nonton pilem horor yuk"
Akhirnya hari Sabtu kemaren kami putuskan untuk menyewa kaset di rental depan kos. Nonton pilem horor mungkin adalah salah satu penghilang stres yang murah meriah selain nyetrika dan nyuci (lho?). Murah? Yaiyalah dengan biaya lima ribu rupiah dibagi 6 kepala. Bayangkan aja betapa murahnya. Yup yup. Yang namanya hiburan gak mesti mahal kan. Hehehehe.

"Nonton yang ini aja! Ini serem banget lho kata mbak yang jaga rentalnya"
Karena wajah si pembicara yang meyakinkan, akhirnya kami percaya seratus persen dan segera nonton pilem horor Thailand itu. Namun beberapa menit berlalu, adegan yang menegangkan ternyata tidak terjadi sama sekali. Subtittlenya gak jelas dan ceritanya entah kemana. Yang paling ngaco itu ya tokoh setannya yang kocak. Biasanya dalam pilem horor, tokoh setan suka membunuh tanpa ampun. Tapi, setan di pilem ini, abis bunuh orang malah nyesel dan nangis sejadi-jadinya. Kalo di pilem horor, biasanya kalo setan muncul dan yang liat pada langsung lari terbirit. Kalo di pilem ini, si setan muncul, eh yang liat malah pada ngobrol sama si serannya. Ckckckckckckck. Tapi yang paling lucu adalah adegan setan yang sempet-sempetnya ngulek sambel dan masak makanan untuk suaminya yang notabene masih manusia. Hadeuhhhh... bener-bener deh pilem horor yang satu ini. Bener-bener horor sampe buat yang nonton ngakak-ngakak.

Friday, 28 September 2012

Hymne: Nakal Versi Kita

Aku mendengarkan lagi lantunan hymne itu. Alunan musiknya lembut mendayu-dayu di telingaku. Tiba-tiba, satu fase kehidupan itu berputar-putar di kepalaku. Memori itu berkelebat kuat. Celebes, Lamomea, Guest house: kamarku tercinta, bahkan aku ingat Mita, teman senasib, senakal, seperjuangan.

Saat itu, aku telah lulus dari pesantren dan dikirim ke Lamomea untuk mengabdikan diri. Pertama aku ngerasa heran. Heran karena kenapa aku bisa terpilih untuk mengabdi di sana. Padahal tak pernah terpikir olehku akan mengabdi di sana. Well. Semua harus dijalani dan berangkatlah aku ke sana.

Pertama tiba disana, ternyata oh ternyata, namaku tak tercantum. Dan akhirnya, aku ditampung di kamar LAC (Language Advisory Council). Kamar itu terletak di gedung paling pojok dekat hutan dan padang rumput. Dengan badan letih dan mata mengantuk, kami mendorong koper kami menuju gedung itu. Di tengah jalan, tiba-tiba segerombolan babi hutan lewat dengan cueknya. Kami yang baru melihat pemandangan itu shock bukan main.Tapi beberapa hari kemudian, kami tidak shock lagi. Mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Bahkan waktu berjalan kaki pun, kami (aku dan babi hutan) jalan beriringan dengan damai.

Selang beberapa bulan, aku dipindahkan ke bagian penerimaan tamu. Di kamar baru itu, aku nggak sendiri. Ada seorang lagi yang menjadi partnerku mengurus tempat penerimaan tamu. Sebut saja namanya Mita. Dia teman seangkatanku, namun kami nggak terlalu kenal dekat. Aku pikir, dia anaknya sombong dan hanya mau bergaul dengan mereka-mereka yang levelnya menengah ke atas (baca: kalo nggak cantik, ya modislah, ato duitnya banyak). Ternyata anaknya asyik dan menyenangkan. Berteman dengannya sangat menyenangkan dan seru banget. Oh ya. Kamar kami terletak di sebelah rumah yang sering disebut "Pilus". Tenang! Ini bukan jenis kacang kok. Pilus itu singkatan dari Pila (Vila maksudnya) Ustad. Di sana tinggallah Trio Macan... eh salah. Trio Ustad yang masih lajang-lajang saat itu (sekarang udah pada nikah semua). Kadang kalau ada acara besar, rumah itu penuh dengan ustad-ustad lajang yang datang dari pesantren putranya (Lumayan buat cuci mata aku dan Mita hehe).

Sebagaimana kehidupan di pesantren, banyak sekali peraturan yang harus dijalani. Saat itu, mungkin, aku dan Mita sedang memasuki masa-masa ingin bebas. Dulu, saat kami masih jadi santri, kami harus menjalani peraturan yang sangat ketat. Ketika kami tamat, ternyata kami masih harus berhadapan dengan peraturan lagi, walau peraturan kali ini tidak seketat dulu. Dan jadilah kami dua orang pengajar yang "nakal". Menurut kami, nakal itu ngga masalah sih, asal tidak melewati batas kewajaran dan norma yang berlaku.

Nakal kami sih sepintas pake MP3 saat mengajar atau saat rapat guru. Trus apalagi ya? Oh ya! Dulu kami juga sering kabur ke kota dengan Rambo (mobil pondok yang paling keren). Tentu saja, ini kongkalikong sama penghuni Pilus. Mungkin kami punya banyak kesamaan dan chemistry (ahaii) sebagai anak tiri yang diterlantarkan (maaf cerita tentang ini tidak dapat disampaikan di blog hehe). Jadilah kami sering kongkalikong dengan beliau-beliau itu. Hehe. Pergi ke kota pun, kami nggak ngelakuin apa-apa kok. Paling hanya belanja keperluan bulanan atau cuma makan bakso di bilangan Wua Wua. Paling jauh sih ke Ke-Bi (Kendari Beach) untuk liat-liat pemandangan dan makan sea food.

Kenakalan kami yang palin terbesar kayaknya adalah masalah handphone deh. Di sana, kami ngga boleh punya handphone kecuali pengajar-pengajar yang senior dan tentu saja penghuni Pilus. Suatu hari, Mita punya ide untuk beli handphone dan menyembunyikannya di kamar (untung sekamar cuma berdua. Nggak ada ember bocor soalnya hehe). Singkat cerita, kami berdua punya satu handphone. Handphone 2 in  1 karena sering gonta-ganti kartu. Kadang kartuku, kadang kartu Mita. Handphone itu tidak kami gunakan untuk macam-macam juga sih. Karena handphone itu digunakan untuk menelpon orangtua dan kerabat kami masing-masing. Suatu hari kami singgah ke kamar teman-teman yang lain, ternyata di kamar itu juga penuh dengan handphone berbagai merek. Aku dan Mita hanya senyam-senyum sendiri melihat itu semua.

Suatu malam di hari Kamis perasaanku rasanya ngga enak. Saat itu, nomorku yang sedang aktif. Entah kenapa tanganku mematikan handphone itu dan tidur dengan sukses. Keesokan harinya, setelah mandi plus plus (plus nyuci maksudnya), aku bertandang ke kamar teman-temanku dan di sana ternyata sedang terjadi keributan. Ternyata oh ternyata, handphone mereka disita Bu Nyai saat mereka tidur. Kata mereka Bu Nyai sudah curiga, dan akhirnya tadi malam, beliau nge-misscall satu-satu nomor kami. Dan ternyata nomor-nomor itu aktif semua, kecuali nomorku dan Mita. Aku dan Mita hanya senyam-senyum menyaksikan kehebohan di hadapan kami. Terima kasih, Ya Allah!

Itu nakal versi aku dan Mita di pesantren dulu. Menurutku, nggak masalah kok jadi anak nakal, asal nakalnya masih wajar. Nggak enak juga sih, hidup di pondok itu datar-datar aja. Hidup di sana itu mesti seru dan menantang. Hehe. Life is never flat! Suatu saat, akan kuceritakan kisah ini kepada anakku. Kisah tentang cerita hidup mommy-nya yang menantang. Hehe. To be continued.

Wednesday, 26 September 2012

Hymne: Mengingatkanku Tentang Sesuatu

Setelah ngutak-ngatik youtube beberapa menit, aku gak sengaja nemu video yang menampilkan profil  sebuah pesantren dengan backsound hymne "Oh Pondokku". Itu hymne pondok tempat aku nyantri dulu. Biasanya dinyanyiin pas ada apel tahunan ato acara-acara penting di sana. Setelah video habis, aku replay lagi dan dengerin hymne itu sambil merem (gak pake melek) dan ikutan bersenandung juga. Ternyata aku masih hapal sama hymne itu. Padahal hymne kampus aja aku gak hapal sampe aku mau wisuda gini (menyedihkan). Hadeuh jadi terharu banget dan inget sama masa-masa itu, sebuah masa kehidupanku yang seru, lucu, bahagia, meyedihkan, miris. Pokoknya manis, asem, asinlah kayak permen Nano-Nano.

Aku jadi inget hari pertamaku masuk pesantren. Saat itu, aku kasihan liat Mama nganterin dan ngurusin tetek bengek administrasi. Mama pasti capek banget. Bayangin aja! Perjalanan Padang-Jogja ditempuh dalam waktu 4 hari 3 malam dengan menggunakan Bis (dulu belon jaman naek pesawat). Belum lagi perjalanan Jogja ke Ngawi yang pake acara nyasar dulu sampai Ponorogo. Finally dengan gaya sok cool dan berhati besar, aku minta Mama buat pulang aja ke Padang dan bilang kalo aku berani dan mampu di sini sendirian. Akhirnya, dengan berat hati, Mama pulang. Setelah Mama hilang dari padangan, aku langsung ke kamar, ambil handuk dan alat mandi. Lalu masuk kamar mandi dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya sampai puas.

Setelah puas dan lega, aku keluar kamar mandi dan masuk kamar. Di sana, aku melihat seorang anak perempuan sebayaku. Namanya Hilda. Asalnya dari Magelang. Dan jadilah Hilda teman pertamaku di pesantren. Saat lulus, kami pun masih bersama untuk mengabdi di Gontor Putri 4 Sulawesi Tenggara.Selesai mengabdi pun, kami sama-sama kuliah di Jogja. Aku di UGM, sedangkan Hilda di MSD. Dan saat ini kabar membahagiakan datang darinya. Hilda hamil. Alhamdulillah... senangnya mendengar kabar itu. Semoga Hilda kelak menjadi ibu yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh dan salehah. Amiin.


Tuesday, 25 September 2012

Naluri

Aku hanya tersenyum mengingat diriku yang dulu. Ya. Diriku yang punya sejuta cita dan asa. Cita-cita ingin menghabiskan hidup nomaden alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Di sana, rasanya aku ingin melihat berbagai keanekaragaman manusia, aku ingin melihat kesenian dari setiap negara, atau ingin mengenal berbagai macam bahasa mereka. Namun, ketika waktu terus bergulir, angan-angan itu hilang begitu saja. Blass. Tak ada lagi yang tersisa. Diplomat, keliling dunia... semuanya lenyap. Ibarat nafsu makan, aku tak punya selera lagi. Aku tak berambisi lagi. Kelak aku ingin berwirausaha agar aku bisa me-manage waktuku sendiri. Ya. Rasanya kelak aku ingin memperhatikan rumah tanggaku. Aku ingin selalu ada dalam setiap fase perkembangan anak-anakku. Aku ingin merawat, menjaga, dan membesarkan mereka dengan tanganku ini.Tuh kan! Semua berubah. Dan mungkin ini adalah naluri setiap perempuan di muka bumi.

Monday, 10 September 2012

Bebas

Bebas. Menurut saya bebas bukan berarti melakukan segala sesuatu sesuka kita tanpa batas, tanpa aturan. Bebas tetap ada batasnya dan tetap ada aturannya. Batas dan aturan ini terkadang menjadi kambing hitam bahwa kebebasan itu tak pernah ada. Katanya aturan dan batasan merengut semua kebebasan. Namun, renungkanlah bahwa aturan dan batasan dalam kebebasan merupakan sesuatu yang sangat berarti. Aturan dan batasan ini kelak akan melindungi kita dari marabahaya.Boleh bebas, asal masih dalam batas.


Saturday, 1 September 2012

Langkah Pertama

A journey of a thousand miles must begin with a single step
(Lau Tzu)

Langkah pertama adalah langkah yang menjadi penentu langkah selanjutnya. Namun tak jarang langkah pertama itu terasa sangat berat dan sulit. Walau demikian,tetaplah berusaha dan percaya diri agar langkah pertama menjadi nyata. Jangan pernah menyerah!Jangan pernah berkeluh kesah! Langkah pertama adalah langkah penentu.


Petikan semangat kali ini
"Sampai Nanti, Sampai Mati" by Letto

Kalau kau ingin berhenti ingat tuk mulai lagi
Tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti, sampai mati
Tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti, sampai mati...

Gubah Lagu

Kata orang, lagu yang kita dengar bisa mempengaruhi kejiwaan kita. Jika lagunya bertema sedih, maka hati kita juga akan ikut sedih. Jika lagunya bikin semangat, maka semangat kita akan terpacu juga. Dan satu lagu yang aku suka adalah lagu Rumor yang berjudul "Butiran Debu". Aku suka musiknya dan suara penyanyinya, namun liriknya bercerita tentang keputusasaan. Agar aku nggak ikut-ikutan putus asa, jadi iseng-iseng aku gubah beberapa petik lirik lagu ini. Biar buat aku optimis.

Aku terjatuh dan tak  namun bisa bangkit lagi
Aku (memang) tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak pasti akan tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu putiran debu BAIK-BAIK SAJA

Dulu memang pernah terjatuh dan tenggelam dalam sakitnya rasa luka. Aku tidak boleh diam dan merasakan rasa sakit itu terlalu lama. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus mengobati lukaku. Aku harus bangkit. Dan sekarang, inilah aku. Aku tanpamu baik-baik saja.


Monday, 13 August 2012

Lubang

Sebuah pepatah mengatakan bahwa janganlah jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tampaknya pepatah itu harus aku junjung setinggi-tingginya, kalo perlu setinggi bintang di angkasa. Kisah ini sebenarnya sudah kadaluarsa dan nggak zaman lagi untuk dibahas. Namun, kisah inilah yang kembali terulang kini. Tidak.... Aku tidak akan terperosok jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku harus tegar dan tidak terpengaruh dengan semua tipu muslihatnya. Aku tidak akan pernah tergoda, tidak akan pernah lagi merasa tersanjung, apalagi jatuh hati. Cukuplah yang lalu berakhir pilu. Cukuplah yang lalu berlalu dan menjauh meninggalkanku. Aku bahagia sekarang. Tolong jangan hapuskan lagi kebahagiaan ini, wahai perasaan!


Tuesday, 31 July 2012

Maha Adil

Adil itu bukan seperti rumus empat bagi dua sama dengan dua. Adil itu bukan memberikan satu hal yang sama kepada beberapa orang. Adil itu bukan seperti pembagian porsi makan yang sama banyak atau sama besar. Namun, adil itu tentang memberikan sesuatu sesuai porsinya dan keperluannya. Agak abstrak memang, tapi itulah adil. Dan Sang Maha Adil hanyalah Tuhan semesta alam ini. Bukan berarti Dia tidak adil ketika Dia memberi kita musibah dan tidak memberi musibah kepada orang lain. Bukan berarti Dia tidak adil ketika memberikan Si Kaya rizki yang berlimpah daripada Si Miskin. Dia hanya inginkan kita selalu berpikir positif, sabar, dan mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Dia hanya inginkan kita menjadi makhluk ciptaannya yang sempurna.


Tuesday, 17 July 2012

Tidak Hanya

Hidup tidak hanya tentang seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi anak-anak, masuk TK, SD, SMP, SMA, kuliah, lalu kerja. Hidup tidak hanya tentang menikah, punya keturunan, kemudian menjadi kakek atau nenek hingga ajal menjemput.

Hidup tentang raga dan jiwa yang dapat berguna dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup tentang perjuangan yang sarat darah dan air mata, namun bahagia pada akhirnya. Hidup tentang bagaimana mengumpulkan kebaikan dan pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Menikah tidak hanya tentang pesta mewah dan bulan madu keliling dunia. Menikah tidak hanya soal menjadi raja dan ratu sehari yang dibalut dengan busana indah memesona. Menikah tidak hanya soal poto prewedding  atau after wedding yang diatur semesra dan seromantis mungkin.

Menikah adalah tentang dua sejoli yang dipersatukan Tuhan dan cinta. Menikah adalah tentang saling menguatkan antara satu dengan yang lain saat suka maupun duka. Menikah adalah tentang saling menerima kekurangan. Menikah adalah tentang tanggung jawab pada masing-masing pribadi, bahkan pada Tuhan, Sang Maha Pencipta cinta di muka bumi.

Wisuda tidak hanya tentang bahagia menyelesaikan skripsi dan masa studi. Wisuda tidak hanya tentang poto-poto berkebaya dan tersenyum bahagia sambil melempar toga kemudian diunggah ke akun jejaring sosial. Wisuda tidak hanya tentang hari bahagia bersama orang-orang yang dicintai.

Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya....



Monday, 16 July 2012

Aku Dan Kamu



Aku dan kamu adalah pribadi yang hampir serupa. Keinginanmu dan keinginanku sama. Tujuan yang kita dambakan pun tak ada bedanya. Hanya jalannya saja yang berbeda. Tak apalah! Tak usah risaukan bagaimana atau dari mana aku dan kamu berjalan masing-masing tanpa saling berpegangan tangan. Percayalah hati ini yang akan saling menguatkan. Semoga aku dan kamu bertemu di tempat tujuan sembari tersenyum satu dengan yang lain. Dan di sanalah kau dan aku akan saling berpegangan tangan tuk menguatkan satu sama lain. Untuk mengisi hari-hari melanjutkan sisa perjalanan ini.

Saturday, 14 July 2012

Melawan Takut

Done! Akhirnya 3 bundel skripsi dan semua persyaratan pengajuan ujian pendadaran telah kuberikan kepada staf jurusan. Tinggal menunggu waktu eksekusi alias sidang skripsi. Fiuh. Rasa takut sukses bikin jantung dag dig dug. Padahal jadwal ujiannya aja belum keluar. Rasa takut ini benar-benar sukses menyerangku. 

Sebenarnya pasal takut yang kualami adalah takut "dibantai" sama para penguji. Namanya juga manusia yang diciptakan berbeda. Dosen yang satu pasti punya pendapat tersendiri tentang cara menulis skripsi. Kalo aku baca skripsi beberapa teman, aku merasa takut dan ciut. Pasalnya, dosen mereka menuntut agar teori harus dipertajam dari asal mulanya. Sedangkan kata teman-teman, skripsiku adalah skripsi paling simple, baik dari penulisan teori sampai penulisan hasil penelitiannya. Sebenarnya, aku senang sekali dengan sesuatu yang simple dan langsung ke pokok pembicaraan seide dengan pembimbing skripsiku, namun tidak semua dosen mempunyai pikiran dan pendapat seperti dosen pembimbingku. Di situlah ketakutanku bermula. Bayangkan saja! Jika dosen yang mengujiku adalah dosen yang berpendapat bahwa teori harus ditulis dari sejarah awal mulanya atau hasil penelitian harus sangat detil. Pastilah aku bakal "dibantai" habis-habisan. Sangat menyeramkan mungkin.

Namun, aku tersadar. Jika aku selalu merasa takut dan tidak bisa, kapan aku akan maju? Jika aku terus ketakutan, aku tidak akan pernah mencoba sesuatu yang baru. Dan otomatis, aku tidak akan pernah berani, aku tidak akan pernah belajar, bahkan aku tidak akan pernah sukses. Takut? Wajar dan biasa! Tapi menghilangkan ketakutan adalah luar biasa. Aku nggak boleh takut. Aku harus tetap berusaha dan berani menghadapi semua yang terjadi. Aku yakin bahwa Tuhan selalu bersamaku, melindungiku dan mendengar semua doa-doaku. AKU HARUS BERANI!


Thursday, 12 July 2012

Bukan Akhir

Ini bukan akhir dari semua yang telah terjadi. namun, ini adalah permulaan dari semua yang akan terjadi. Bahkan setelah akhir kehidupan kita di dunia ini, kita akan bertemu dengan permulaan kehidupan baru di akhirat. Akhir itu tak kan pernah ada. Tak kan pernah.... Tetaplah semangat, bekerja keras, dan berdoa.





Saturday, 7 July 2012

Betapa Merindunya

Beberapa hari yang lalu, air mata saya sempat menetes saat mengetik nama alm. mbak Kakung di halam persembahan skripsi. Saya rindu setengah mati dengan kehadirannya beliau. Sempat berandai-andai sedikit bahwa pasti mbah akan tersenyum bahagia saat saya wisuda dan menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mbah kakung adalah sosok yang sangat berjasa bagi saya. Walau rada galak dan disiplin, mbah sangat menyayangi saya. Dari saya bayi, saya dirawat oleh mbah kakung dan mbah putri. Namun, kedekatan saya lebih berintensitas tinggi dengan mbah kakung. Mungkin karena mbah kakung yang sering menemani saya tidur, jalan-jalan sore, beli mainan, dan mengabulkan semua permintaan saya.

Dulu, saat saya kecil, acap kali saya masuk ke dalam pangkuannya dan menjadikan sarung, yang sedang dipakainya, sebuah ayunan. Kemudian perlahan-lahan mbah akan bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kakinya sehingga tubuh saya terbuai lembut. Setiap hari, mbah kakung menemani saya tidur siang sambil bercerita tentang perjuangannya di zaman Jepang dan tentu saja cerita Si Kancil. Walau cerita itu sering diulang-ulang, tapi saya tidak pernah bosan dan selalu menganggapnya menarik. Saat sore tiba, biasanya kami akan jalan-jalan keliling kompleks tempat kami tinggal sambil jajan sate padang, coklat, permen dan semua makanan yang aku sukai. Kalo hari Ahad datang, biasanya kami akan main sepeda ke Siteba, By pass, atau Pantai Padang.

Setelah saya duduk di bangku SD, mbah membeli sebuah motor, dan setelah itu, kami makin sering jalan-jalan dan makin jauh arah tujuan kami. Saat supermarket pertama di Padang buka, kami langsung jalan-jalan ke sana melihat barang-barang yang dipajang di etalase. Saat itu, saya sangat menyukai film "Pokemon" dan tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah jam tangan bergambar tokoh utama "Pokemon", yaitu Pikhacu. Tiba-tiba mbah langsung membeli jam itu dan memberikannya kepada saya. Saya hanya terbengong dan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Setelah melihat jam, kami mengunjungi bagian furniture, saat itu saya melihat tempat tidur bertingkat yang sedang ngetrend saat itu. Tanpa sadar, saya berucap bahwa tempat tidur itu bagus karena saya bisa sekamar berdua dengan adik saya saat dia sudah TK kelak. kata mbah, tempat tidur yang kami lihat itu berkualitas buruk. Setelah itu, tanpa bicara panjang lebar lagi, kami meninngalkan plaza itu. Seminggu kemudian, saat saya pulang sekolah, saya dapati kamar saya telah berubah. Tempat tidur biasanya telah berganti dengan tempat tidur bertingkat. Namun, tempat tidur yang ini kokoh dan lebih bagus daripada tempat tidur yang kami lihat di plaza. Betapa senangnya saya saat itu.

Suatu hari, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sebuah pondok pesantran di Jawa Timur. Papa dan Mama sebenarnya agak keberatan karena masalah ekonomi. Namun mbah kakung langsung berinisiatif mebayar semua biaya itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan sekolahku ke pondok pesantren. Suatu hari, mbah kakung datang ke pondok untuk menjengukku. Sebenarnya mbah kakung datang dari jam 7 pagi, namun aku baru bisa bertemu dengan beliau jam 7 malam [bayangkan!]. Saat itu mbah kakung bilang jika akan pergi berangkat haji. Dan sebelum berangakat, mbah ingin ketemu saya dulu. Saat mbah mau pulang, mbah memberi saya meja belajar lipat dan uang 500.000 [jumlah yang sangat fantastis untuk anak sekecil saya saat itu]. Beberapa bulan kemudian, saya dikirimi paket yang berisi sebuah jam tangan hitam sejenis G-shock. Kata orantua jam itu adalah pemberian mbah sebagai oleh-oleh naik haji untuk saya. Ketika saya menelpon ke rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada mbah, orang-orang di rumah bilang bahwa mbah sedang tidur. Hal ini mereka lakukan berulang kali sehingga saya merasa ada yang disembunyikan dari saya tentang mbah. 

Suatu hari, orangtua saya datang ke pondok dan mengajak saya ke Yogya karena ada yang akan dibicarakan. Saat sampai di Yogya, saya diberitahu bahwa mbah telah tiada. Mbah meninggal sesampainya di Padang setelah menunaikan ibadah haji. Hanya hanya diam sedikit kesal karena tak ada seorang pun yang pun yang memberitahu saya berita ini. Namun, sebelum berita itu saya dengar, saya sudah punya rasa bahwa mbah telah meninggal.

Mbah... begitu cepat rasanya mbah pergi
Terima kasih untuk semuanya mbah
Terima kasih untuk cinta
sayang
mainan
dipan bertingkat
biaya sekolah dan semuanya yang tidak saya sebutkan satu persatu karena terlalu banyak kasih sayang yang mbah berikan
Maafkan saya juga mbah
karena saya tidak bisa menjaga jam tangan terakhir pemberian mbah
Model jam tangan itu dilarang di pondok dulu
saya sudah berusaha menyembunyikannya, tapi akhirnya ketahuan bagian keamanan pondok. 

Mbah...
sebentar lagi saya pendadaran dan wisuda
Andai mbah masih ada, pasti saya akan melihat senyum bangga mbah karena cucu mbah yang nakal ini menjadi seorang sarjana
Namun, walau mbah telah pergi dari sisi saya, saya bercaya mbah pasti sedang tersenyum bangga di surga sana

Mbah...
saya juga mengikuti jejak profesi mbah. Tapi tentu saja bukan jadi tentara. Saya memilih jadi pengusaha. Bedanya, saya bukan pengusaha burung puyuh seperti mbah. Rasanya ingin bercerita banyak pada mbah. Mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali di tempat yang disebut surga... [amiin]


Wednesday, 4 July 2012

Izinkan Aku Tersenyum



Aku terduduk di kursi yang terletak di sudut ruangan kantor INCULS (Indonesian Language and Culuture Learning Service). Tujuan mengunjungi kantor itu bukanlah untuk bertemu dengan teman mahasiswa asing, mengisi absen tutorial, apalagi mengambil jatah honor. Namun, maksud kedatanganku adalah untuk bimibingan skripsi. Pagi itu hawa ruang kantor semakin dingin saja kurasakan. Sofa empuk yang kududuki tak tahan lagi menghangatkanku. Brrr dingin, sedingin wajah pembimibing skripsiku yang diam seribu bahasa sambil menatap tajam ke lembaran-lembaran tulisanku. Tak ada kata. Tak ada suara. Yang ada hanya desiran suara mesin pendingin ruangan yang disebut AC.

Beberapa detik kemudian, pembimbingku bergeming dan menatapku tajam sambil berkata,
"Shinta, penulisan skripsimu salah besar. Masih perlu perombakan besar-besaran. Tulis ulang dari Bab I dan serahkan secepatnya"
"DEG!" Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kaki saya lemas. Mata saya berkunang-kunang. Oh Tuhan.... Sudah banyak rencana yang akan kulakukan usai menulis skripsi. Namun semua akan tertunda akibat harus mengulang semuanya. Sedih. Sedih sekali. Teramat sedih. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dunia serasa berputar dan gelap. 

Entah berapa lama aku tertidur. Akhirnya aku terbagun dan mendapati bahwa hari ini adalah hari Rabu tanggal 4 Juli 2012. Itu berarti hari bimbingan skripsi. Olalala... ternyata itu hanya MIMPI! Aku segera berdoa semoga mimpi ini tidak jadi kenyataan. Amin. Baru kali ini aku tak ingin mewujudkan impianku menjadi nyata. Hehe.

Teng! Jam sembilan. Akhirnya aku benar-benar bimbingan skripsi. Masih sedikit trauma karena mimpi tadi malam terbayang-bayang di benakku. Fiuh. Namun syukur berjuta syukur karena apa yang kutakutkan tidak terjadi sama sekali. Pagi tadi, alhamdulillah semua berjalan lancar walau masih ada coretan sana-sini. Yah setidaknya selesailah semua revisi skripsi itu. Tinggal ringaksan bahasa Arab yang bab 2, 3, dan 4. Halaman Motto, persembahan, kata pengatar hingga abstrak pun sudah kuselesaikan semuanya. Walau belum diperiksa. Namun setidaknya sudah kukumpulkan semua. Semoga besok lebih lancar. Amin. Sekarang! Izinkan aku tersenyum sebagai pengganti mimpi buruk tadi malam. Ayo kejar tayang lagi!

GR dikit:
Aku punya bakat nulis ama bahasa Inggris? Amin. Semoga itu benar adanya.
#sambil nyengir plus pipi bersemu merah plus kedua tangan di bawah dagu persis kayak cherybelle

Friday, 22 June 2012

Gak Percaya

Sampai saat ini saya nggak percaya sama sekolah bagus, tempat bimbingan belajar bagus, guru-guru bagus, universitas bagus, dosen-dosen bagus, dan lain-lain yang serba 'bagus' dalam hal pendidikan. Menurut saya, sekolah, bimbingan belajar, universitas, atau para pengajarnya hanyalah fasilitator sebagai sarana kita menerima ilmu yang kita dapatkan. Toh kalau fasilitas pendidikan kita bagus, tapi kemauan kita nggak bagus ya sama saja. Semuanya kembali ke kita juga. Kalo kita sungguh-sungguh, otomatis kita akan berhasil dan juga sebaliknya. Namun kalau kemauan belajar kita bagus dan ditunjang dengan fasilitas bagus, itu sangat luar biasa dan banyak nilai plusnya.
#changing the mindset

Thursday, 21 June 2012

Peul And Me



Adekku satu-satunya. Nyebelin sih, tapi tetepa aja ngangenin. Kalo lagi jauhan kayak gini, bawaannya kangen dan pengen ketemu, tapi kalo udah pulang ke rumah dan ketemu, pasti bawaannya berantem terus. Hmm. Hidup memang warna warni, dan manusia tak pernah puas akan warna-warni itu.

Saturday, 16 June 2012

How Lucky I'am!


Kata orang-orang, aku adalah seorang anak yang tidak seberuntung anak-anak lain. Kata mereka, aku adalah anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua karena aku sudah merasakan perpisahan sejak aku masih balita. Saat itu mama sedang mengajar di Lampung, sedangkan papa masih sekolah di BPN Yogyakarta. Karena beliau berdua terpisah oleh selat Sunda, maka diputuskanlah menitipkanku di Bekasi, tepat di tengah-tengah keberadaan beliau berdua. Setelah semuanya stabil (papa dan mama sudah bekerja di Padang), akhirnya kami bertiga berkumpul kembali. Namun, setelah tamat sekolah dasar, aku memutuskan untuk belajar di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Bayangkan! Seorang anak tamatan SD pergi merantau dan mencoba hidup mandiri di seberang pulau tempatnya tinggal.

Setelah masuk pondok pesantren pun, orang-orang masih mengatakan bahwa aku tidak beruntung karena selama enam tahun kuhabiskan hidupku di pondok pesantren, orangtuaku hanya mengunjungiku tiga kali saja. Bahkan ketika aku yudisium (semacam acara kelulusan), kedua orangtuaku tidak bisa hadir. Aku pribadi sih maklum saja. Karena rumah kami yang jauh di pulau Sumatra yang membutuhkan uang dan waktu yang lebih banyak untuk mencapai pondok pesantren. Setelah lulus dari pondok pesantren, aku langsung terbang ke sebuah desa yang bernama Lamomea di SULTRA untuk mengabdikan diri mengajar para santri. 

Setelah selesai mengabdi, akhirnya aku pulang ke rumah dan mempersiapkan perjalanan hidupku selanjutnya, yaitu kuliah. Karena terbiasa mengerjakan segala sesuatu sendiri, aku mencari informasi tentang ujian masuk PTN tanpa bantuan dari orangtua. Karena aku rasa, aku cukup dewasa untuk menetukankan tempat kuliahku kelak. Aku membuat banyak planning. Mungkin dari A sampai Z. Akhirnya disinilah sampan kecilku berlabuh, UGM. Setelah lulus, aku berangkat berdua dengan temanku ke Yogyakarta untuk mengurus daftar ulang dan segala sesuatunya. Lagi-lagi kulakukan sendiri tanpa bantuan orangtua, kecuali bantuan dana hehe. 

Setelah kuliah, masih banyak orang yang bilang bahwa aku anak yang tidak beruntung karena uang jajanku yang di bawah rata-rata teman-teman atau saudara-saudaraku yang lain. Aku sendiri tidak pernah ambil pusing soal ini. Berapapun yang diberikan orangtua sebisa mungkin selalu aku syukuri. Setidaknya orantuaku masih mampu membiayaiku. Itu saja, aku sudah bersyukur. Pernah satu hari ada yang menanyakanku tentang uang bulananku. "Emang segitu cukup, Mbak?" Katanya kaget. Aku hanya bisa senyam-senyum dan berkata, "Ya... dicukup-cukupkanlah". Mungkin dalam hatinya, dia juga berpendapat sama dengan yang lain bahwa aku adalah seorang anak yang tidak beruntung.

Namun kurasa pendapat mereka salah. malah aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia ini. Atau mungkin sama beruntungnya dengan anak-anak lain di muka bumi. Yang berbeda hanya caranya saja. Jika mereka beruntung karena dilimpahi kasih sayang berupa perhatian dan materi di atas rata-rata, sedangkan kasih sayang orangtuaku berupa pelajaran hidup yang langsung aku praktekkan dalam perjalanan hidupku. Mungkin agar aku tidak kaget dan shock jika kelak aku harus menjalani kehidupanku sendiri. Setidaknya aku belajar mandiri dalam mengerjakan semua tugas, belajar bersyukur bahwa aku masih jauh beruntung dari mereka yang tidur di bawah jembatan layang, aku belajar untuk tidak mengeluh, dan belajar untuk merasakan bagaimana susahnya mencari uang agar aku lebih menghargai apa yang kudapatkan. Apapu kata orang, aku tak kan percayai  itu. Yang aku tahu, betapa aku sangat beruntung!

Friday, 8 June 2012

Sedikit Serpihan



Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang mampu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita
dan di pusarnya besemayam pusat tata surya
kecuali engkau

Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang di atas lingkaran pinggangnya masa-masa berkumpul
dan ribuan planet berkeliling
kecuali engkau
 [Serpihan yang terkumpul dari puisi Nizar Qabbany]

Saturday, 2 June 2012

Sore Tadi

Sore ini kita bersenda gurau kembali. Bercerita dan saling menggoda satu sama lain. Tertawa, teriak, dan ribut. Ah. Rasanya sudah lama tidak berkumpul, menggoda, tertawa, dan teriak. Mungkin karena kita sekarang lebih sibuk berkutat pada tumpukan-tumpukan buku, pada teori-teori penelitian, pada monitor komputer, bahkan pada kertas yang berisi coretan pembimbing masing-masing.Semua telah berubah ya ternyata? Tapi tak masalah. Yang aku tahu, kau adalah kau. Kau adalah temanku sampai kapanpun.


 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang