Tuesday, 31 July 2012

Maha Adil

Adil itu bukan seperti rumus empat bagi dua sama dengan dua. Adil itu bukan memberikan satu hal yang sama kepada beberapa orang. Adil itu bukan seperti pembagian porsi makan yang sama banyak atau sama besar. Namun, adil itu tentang memberikan sesuatu sesuai porsinya dan keperluannya. Agak abstrak memang, tapi itulah adil. Dan Sang Maha Adil hanyalah Tuhan semesta alam ini. Bukan berarti Dia tidak adil ketika Dia memberi kita musibah dan tidak memberi musibah kepada orang lain. Bukan berarti Dia tidak adil ketika memberikan Si Kaya rizki yang berlimpah daripada Si Miskin. Dia hanya inginkan kita selalu berpikir positif, sabar, dan mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Dia hanya inginkan kita menjadi makhluk ciptaannya yang sempurna.


Tuesday, 17 July 2012

Tidak Hanya

Hidup tidak hanya tentang seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi anak-anak, masuk TK, SD, SMP, SMA, kuliah, lalu kerja. Hidup tidak hanya tentang menikah, punya keturunan, kemudian menjadi kakek atau nenek hingga ajal menjemput.

Hidup tentang raga dan jiwa yang dapat berguna dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup tentang perjuangan yang sarat darah dan air mata, namun bahagia pada akhirnya. Hidup tentang bagaimana mengumpulkan kebaikan dan pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Menikah tidak hanya tentang pesta mewah dan bulan madu keliling dunia. Menikah tidak hanya soal menjadi raja dan ratu sehari yang dibalut dengan busana indah memesona. Menikah tidak hanya soal poto prewedding  atau after wedding yang diatur semesra dan seromantis mungkin.

Menikah adalah tentang dua sejoli yang dipersatukan Tuhan dan cinta. Menikah adalah tentang saling menguatkan antara satu dengan yang lain saat suka maupun duka. Menikah adalah tentang saling menerima kekurangan. Menikah adalah tentang tanggung jawab pada masing-masing pribadi, bahkan pada Tuhan, Sang Maha Pencipta cinta di muka bumi.

Wisuda tidak hanya tentang bahagia menyelesaikan skripsi dan masa studi. Wisuda tidak hanya tentang poto-poto berkebaya dan tersenyum bahagia sambil melempar toga kemudian diunggah ke akun jejaring sosial. Wisuda tidak hanya tentang hari bahagia bersama orang-orang yang dicintai.

Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya....



Monday, 16 July 2012

Aku Dan Kamu



Aku dan kamu adalah pribadi yang hampir serupa. Keinginanmu dan keinginanku sama. Tujuan yang kita dambakan pun tak ada bedanya. Hanya jalannya saja yang berbeda. Tak apalah! Tak usah risaukan bagaimana atau dari mana aku dan kamu berjalan masing-masing tanpa saling berpegangan tangan. Percayalah hati ini yang akan saling menguatkan. Semoga aku dan kamu bertemu di tempat tujuan sembari tersenyum satu dengan yang lain. Dan di sanalah kau dan aku akan saling berpegangan tangan tuk menguatkan satu sama lain. Untuk mengisi hari-hari melanjutkan sisa perjalanan ini.

Saturday, 14 July 2012

Melawan Takut

Done! Akhirnya 3 bundel skripsi dan semua persyaratan pengajuan ujian pendadaran telah kuberikan kepada staf jurusan. Tinggal menunggu waktu eksekusi alias sidang skripsi. Fiuh. Rasa takut sukses bikin jantung dag dig dug. Padahal jadwal ujiannya aja belum keluar. Rasa takut ini benar-benar sukses menyerangku. 

Sebenarnya pasal takut yang kualami adalah takut "dibantai" sama para penguji. Namanya juga manusia yang diciptakan berbeda. Dosen yang satu pasti punya pendapat tersendiri tentang cara menulis skripsi. Kalo aku baca skripsi beberapa teman, aku merasa takut dan ciut. Pasalnya, dosen mereka menuntut agar teori harus dipertajam dari asal mulanya. Sedangkan kata teman-teman, skripsiku adalah skripsi paling simple, baik dari penulisan teori sampai penulisan hasil penelitiannya. Sebenarnya, aku senang sekali dengan sesuatu yang simple dan langsung ke pokok pembicaraan seide dengan pembimbing skripsiku, namun tidak semua dosen mempunyai pikiran dan pendapat seperti dosen pembimbingku. Di situlah ketakutanku bermula. Bayangkan saja! Jika dosen yang mengujiku adalah dosen yang berpendapat bahwa teori harus ditulis dari sejarah awal mulanya atau hasil penelitian harus sangat detil. Pastilah aku bakal "dibantai" habis-habisan. Sangat menyeramkan mungkin.

Namun, aku tersadar. Jika aku selalu merasa takut dan tidak bisa, kapan aku akan maju? Jika aku terus ketakutan, aku tidak akan pernah mencoba sesuatu yang baru. Dan otomatis, aku tidak akan pernah berani, aku tidak akan pernah belajar, bahkan aku tidak akan pernah sukses. Takut? Wajar dan biasa! Tapi menghilangkan ketakutan adalah luar biasa. Aku nggak boleh takut. Aku harus tetap berusaha dan berani menghadapi semua yang terjadi. Aku yakin bahwa Tuhan selalu bersamaku, melindungiku dan mendengar semua doa-doaku. AKU HARUS BERANI!


Thursday, 12 July 2012

Bukan Akhir

Ini bukan akhir dari semua yang telah terjadi. namun, ini adalah permulaan dari semua yang akan terjadi. Bahkan setelah akhir kehidupan kita di dunia ini, kita akan bertemu dengan permulaan kehidupan baru di akhirat. Akhir itu tak kan pernah ada. Tak kan pernah.... Tetaplah semangat, bekerja keras, dan berdoa.





Saturday, 7 July 2012

Betapa Merindunya

Beberapa hari yang lalu, air mata saya sempat menetes saat mengetik nama alm. mbak Kakung di halam persembahan skripsi. Saya rindu setengah mati dengan kehadirannya beliau. Sempat berandai-andai sedikit bahwa pasti mbah akan tersenyum bahagia saat saya wisuda dan menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mbah kakung adalah sosok yang sangat berjasa bagi saya. Walau rada galak dan disiplin, mbah sangat menyayangi saya. Dari saya bayi, saya dirawat oleh mbah kakung dan mbah putri. Namun, kedekatan saya lebih berintensitas tinggi dengan mbah kakung. Mungkin karena mbah kakung yang sering menemani saya tidur, jalan-jalan sore, beli mainan, dan mengabulkan semua permintaan saya.

Dulu, saat saya kecil, acap kali saya masuk ke dalam pangkuannya dan menjadikan sarung, yang sedang dipakainya, sebuah ayunan. Kemudian perlahan-lahan mbah akan bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kakinya sehingga tubuh saya terbuai lembut. Setiap hari, mbah kakung menemani saya tidur siang sambil bercerita tentang perjuangannya di zaman Jepang dan tentu saja cerita Si Kancil. Walau cerita itu sering diulang-ulang, tapi saya tidak pernah bosan dan selalu menganggapnya menarik. Saat sore tiba, biasanya kami akan jalan-jalan keliling kompleks tempat kami tinggal sambil jajan sate padang, coklat, permen dan semua makanan yang aku sukai. Kalo hari Ahad datang, biasanya kami akan main sepeda ke Siteba, By pass, atau Pantai Padang.

Setelah saya duduk di bangku SD, mbah membeli sebuah motor, dan setelah itu, kami makin sering jalan-jalan dan makin jauh arah tujuan kami. Saat supermarket pertama di Padang buka, kami langsung jalan-jalan ke sana melihat barang-barang yang dipajang di etalase. Saat itu, saya sangat menyukai film "Pokemon" dan tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah jam tangan bergambar tokoh utama "Pokemon", yaitu Pikhacu. Tiba-tiba mbah langsung membeli jam itu dan memberikannya kepada saya. Saya hanya terbengong dan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Setelah melihat jam, kami mengunjungi bagian furniture, saat itu saya melihat tempat tidur bertingkat yang sedang ngetrend saat itu. Tanpa sadar, saya berucap bahwa tempat tidur itu bagus karena saya bisa sekamar berdua dengan adik saya saat dia sudah TK kelak. kata mbah, tempat tidur yang kami lihat itu berkualitas buruk. Setelah itu, tanpa bicara panjang lebar lagi, kami meninngalkan plaza itu. Seminggu kemudian, saat saya pulang sekolah, saya dapati kamar saya telah berubah. Tempat tidur biasanya telah berganti dengan tempat tidur bertingkat. Namun, tempat tidur yang ini kokoh dan lebih bagus daripada tempat tidur yang kami lihat di plaza. Betapa senangnya saya saat itu.

Suatu hari, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sebuah pondok pesantran di Jawa Timur. Papa dan Mama sebenarnya agak keberatan karena masalah ekonomi. Namun mbah kakung langsung berinisiatif mebayar semua biaya itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan sekolahku ke pondok pesantren. Suatu hari, mbah kakung datang ke pondok untuk menjengukku. Sebenarnya mbah kakung datang dari jam 7 pagi, namun aku baru bisa bertemu dengan beliau jam 7 malam [bayangkan!]. Saat itu mbah kakung bilang jika akan pergi berangkat haji. Dan sebelum berangakat, mbah ingin ketemu saya dulu. Saat mbah mau pulang, mbah memberi saya meja belajar lipat dan uang 500.000 [jumlah yang sangat fantastis untuk anak sekecil saya saat itu]. Beberapa bulan kemudian, saya dikirimi paket yang berisi sebuah jam tangan hitam sejenis G-shock. Kata orantua jam itu adalah pemberian mbah sebagai oleh-oleh naik haji untuk saya. Ketika saya menelpon ke rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada mbah, orang-orang di rumah bilang bahwa mbah sedang tidur. Hal ini mereka lakukan berulang kali sehingga saya merasa ada yang disembunyikan dari saya tentang mbah. 

Suatu hari, orangtua saya datang ke pondok dan mengajak saya ke Yogya karena ada yang akan dibicarakan. Saat sampai di Yogya, saya diberitahu bahwa mbah telah tiada. Mbah meninggal sesampainya di Padang setelah menunaikan ibadah haji. Hanya hanya diam sedikit kesal karena tak ada seorang pun yang pun yang memberitahu saya berita ini. Namun, sebelum berita itu saya dengar, saya sudah punya rasa bahwa mbah telah meninggal.

Mbah... begitu cepat rasanya mbah pergi
Terima kasih untuk semuanya mbah
Terima kasih untuk cinta
sayang
mainan
dipan bertingkat
biaya sekolah dan semuanya yang tidak saya sebutkan satu persatu karena terlalu banyak kasih sayang yang mbah berikan
Maafkan saya juga mbah
karena saya tidak bisa menjaga jam tangan terakhir pemberian mbah
Model jam tangan itu dilarang di pondok dulu
saya sudah berusaha menyembunyikannya, tapi akhirnya ketahuan bagian keamanan pondok. 

Mbah...
sebentar lagi saya pendadaran dan wisuda
Andai mbah masih ada, pasti saya akan melihat senyum bangga mbah karena cucu mbah yang nakal ini menjadi seorang sarjana
Namun, walau mbah telah pergi dari sisi saya, saya bercaya mbah pasti sedang tersenyum bangga di surga sana

Mbah...
saya juga mengikuti jejak profesi mbah. Tapi tentu saja bukan jadi tentara. Saya memilih jadi pengusaha. Bedanya, saya bukan pengusaha burung puyuh seperti mbah. Rasanya ingin bercerita banyak pada mbah. Mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali di tempat yang disebut surga... [amiin]


Wednesday, 4 July 2012

Izinkan Aku Tersenyum



Aku terduduk di kursi yang terletak di sudut ruangan kantor INCULS (Indonesian Language and Culuture Learning Service). Tujuan mengunjungi kantor itu bukanlah untuk bertemu dengan teman mahasiswa asing, mengisi absen tutorial, apalagi mengambil jatah honor. Namun, maksud kedatanganku adalah untuk bimibingan skripsi. Pagi itu hawa ruang kantor semakin dingin saja kurasakan. Sofa empuk yang kududuki tak tahan lagi menghangatkanku. Brrr dingin, sedingin wajah pembimibing skripsiku yang diam seribu bahasa sambil menatap tajam ke lembaran-lembaran tulisanku. Tak ada kata. Tak ada suara. Yang ada hanya desiran suara mesin pendingin ruangan yang disebut AC.

Beberapa detik kemudian, pembimbingku bergeming dan menatapku tajam sambil berkata,
"Shinta, penulisan skripsimu salah besar. Masih perlu perombakan besar-besaran. Tulis ulang dari Bab I dan serahkan secepatnya"
"DEG!" Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kaki saya lemas. Mata saya berkunang-kunang. Oh Tuhan.... Sudah banyak rencana yang akan kulakukan usai menulis skripsi. Namun semua akan tertunda akibat harus mengulang semuanya. Sedih. Sedih sekali. Teramat sedih. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dunia serasa berputar dan gelap. 

Entah berapa lama aku tertidur. Akhirnya aku terbagun dan mendapati bahwa hari ini adalah hari Rabu tanggal 4 Juli 2012. Itu berarti hari bimbingan skripsi. Olalala... ternyata itu hanya MIMPI! Aku segera berdoa semoga mimpi ini tidak jadi kenyataan. Amin. Baru kali ini aku tak ingin mewujudkan impianku menjadi nyata. Hehe.

Teng! Jam sembilan. Akhirnya aku benar-benar bimbingan skripsi. Masih sedikit trauma karena mimpi tadi malam terbayang-bayang di benakku. Fiuh. Namun syukur berjuta syukur karena apa yang kutakutkan tidak terjadi sama sekali. Pagi tadi, alhamdulillah semua berjalan lancar walau masih ada coretan sana-sini. Yah setidaknya selesailah semua revisi skripsi itu. Tinggal ringaksan bahasa Arab yang bab 2, 3, dan 4. Halaman Motto, persembahan, kata pengatar hingga abstrak pun sudah kuselesaikan semuanya. Walau belum diperiksa. Namun setidaknya sudah kukumpulkan semua. Semoga besok lebih lancar. Amin. Sekarang! Izinkan aku tersenyum sebagai pengganti mimpi buruk tadi malam. Ayo kejar tayang lagi!

GR dikit:
Aku punya bakat nulis ama bahasa Inggris? Amin. Semoga itu benar adanya.
#sambil nyengir plus pipi bersemu merah plus kedua tangan di bawah dagu persis kayak cherybelle

Friday, 22 June 2012

Gak Percaya

Sampai saat ini saya nggak percaya sama sekolah bagus, tempat bimbingan belajar bagus, guru-guru bagus, universitas bagus, dosen-dosen bagus, dan lain-lain yang serba 'bagus' dalam hal pendidikan. Menurut saya, sekolah, bimbingan belajar, universitas, atau para pengajarnya hanyalah fasilitator sebagai sarana kita menerima ilmu yang kita dapatkan. Toh kalau fasilitas pendidikan kita bagus, tapi kemauan kita nggak bagus ya sama saja. Semuanya kembali ke kita juga. Kalo kita sungguh-sungguh, otomatis kita akan berhasil dan juga sebaliknya. Namun kalau kemauan belajar kita bagus dan ditunjang dengan fasilitas bagus, itu sangat luar biasa dan banyak nilai plusnya.
#changing the mindset

Thursday, 21 June 2012

Peul And Me



Adekku satu-satunya. Nyebelin sih, tapi tetepa aja ngangenin. Kalo lagi jauhan kayak gini, bawaannya kangen dan pengen ketemu, tapi kalo udah pulang ke rumah dan ketemu, pasti bawaannya berantem terus. Hmm. Hidup memang warna warni, dan manusia tak pernah puas akan warna-warni itu.

Saturday, 16 June 2012

How Lucky I'am!


Kata orang-orang, aku adalah seorang anak yang tidak seberuntung anak-anak lain. Kata mereka, aku adalah anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua karena aku sudah merasakan perpisahan sejak aku masih balita. Saat itu mama sedang mengajar di Lampung, sedangkan papa masih sekolah di BPN Yogyakarta. Karena beliau berdua terpisah oleh selat Sunda, maka diputuskanlah menitipkanku di Bekasi, tepat di tengah-tengah keberadaan beliau berdua. Setelah semuanya stabil (papa dan mama sudah bekerja di Padang), akhirnya kami bertiga berkumpul kembali. Namun, setelah tamat sekolah dasar, aku memutuskan untuk belajar di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Bayangkan! Seorang anak tamatan SD pergi merantau dan mencoba hidup mandiri di seberang pulau tempatnya tinggal.

Setelah masuk pondok pesantren pun, orang-orang masih mengatakan bahwa aku tidak beruntung karena selama enam tahun kuhabiskan hidupku di pondok pesantren, orangtuaku hanya mengunjungiku tiga kali saja. Bahkan ketika aku yudisium (semacam acara kelulusan), kedua orangtuaku tidak bisa hadir. Aku pribadi sih maklum saja. Karena rumah kami yang jauh di pulau Sumatra yang membutuhkan uang dan waktu yang lebih banyak untuk mencapai pondok pesantren. Setelah lulus dari pondok pesantren, aku langsung terbang ke sebuah desa yang bernama Lamomea di SULTRA untuk mengabdikan diri mengajar para santri. 

Setelah selesai mengabdi, akhirnya aku pulang ke rumah dan mempersiapkan perjalanan hidupku selanjutnya, yaitu kuliah. Karena terbiasa mengerjakan segala sesuatu sendiri, aku mencari informasi tentang ujian masuk PTN tanpa bantuan dari orangtua. Karena aku rasa, aku cukup dewasa untuk menetukankan tempat kuliahku kelak. Aku membuat banyak planning. Mungkin dari A sampai Z. Akhirnya disinilah sampan kecilku berlabuh, UGM. Setelah lulus, aku berangkat berdua dengan temanku ke Yogyakarta untuk mengurus daftar ulang dan segala sesuatunya. Lagi-lagi kulakukan sendiri tanpa bantuan orangtua, kecuali bantuan dana hehe. 

Setelah kuliah, masih banyak orang yang bilang bahwa aku anak yang tidak beruntung karena uang jajanku yang di bawah rata-rata teman-teman atau saudara-saudaraku yang lain. Aku sendiri tidak pernah ambil pusing soal ini. Berapapun yang diberikan orangtua sebisa mungkin selalu aku syukuri. Setidaknya orantuaku masih mampu membiayaiku. Itu saja, aku sudah bersyukur. Pernah satu hari ada yang menanyakanku tentang uang bulananku. "Emang segitu cukup, Mbak?" Katanya kaget. Aku hanya bisa senyam-senyum dan berkata, "Ya... dicukup-cukupkanlah". Mungkin dalam hatinya, dia juga berpendapat sama dengan yang lain bahwa aku adalah seorang anak yang tidak beruntung.

Namun kurasa pendapat mereka salah. malah aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia ini. Atau mungkin sama beruntungnya dengan anak-anak lain di muka bumi. Yang berbeda hanya caranya saja. Jika mereka beruntung karena dilimpahi kasih sayang berupa perhatian dan materi di atas rata-rata, sedangkan kasih sayang orangtuaku berupa pelajaran hidup yang langsung aku praktekkan dalam perjalanan hidupku. Mungkin agar aku tidak kaget dan shock jika kelak aku harus menjalani kehidupanku sendiri. Setidaknya aku belajar mandiri dalam mengerjakan semua tugas, belajar bersyukur bahwa aku masih jauh beruntung dari mereka yang tidur di bawah jembatan layang, aku belajar untuk tidak mengeluh, dan belajar untuk merasakan bagaimana susahnya mencari uang agar aku lebih menghargai apa yang kudapatkan. Apapu kata orang, aku tak kan percayai  itu. Yang aku tahu, betapa aku sangat beruntung!

Friday, 8 June 2012

Sedikit Serpihan



Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang mampu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita
dan di pusarnya besemayam pusat tata surya
kecuali engkau

Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang di atas lingkaran pinggangnya masa-masa berkumpul
dan ribuan planet berkeliling
kecuali engkau
 [Serpihan yang terkumpul dari puisi Nizar Qabbany]

Saturday, 2 June 2012

Sore Tadi

Sore ini kita bersenda gurau kembali. Bercerita dan saling menggoda satu sama lain. Tertawa, teriak, dan ribut. Ah. Rasanya sudah lama tidak berkumpul, menggoda, tertawa, dan teriak. Mungkin karena kita sekarang lebih sibuk berkutat pada tumpukan-tumpukan buku, pada teori-teori penelitian, pada monitor komputer, bahkan pada kertas yang berisi coretan pembimbing masing-masing.Semua telah berubah ya ternyata? Tapi tak masalah. Yang aku tahu, kau adalah kau. Kau adalah temanku sampai kapanpun.


Wednesday, 30 May 2012

Ibu Pintar Wanna Be

Kata orang kalau jadi seorang entrepreuner nggak usah sekolah tinggi-tinggi, tapi saya nggak sependapat dengan pendapat itu. Pendidikan adalah suatu yang sangat penting bagi saya. Pendidikan merupakan investasi nutuk masa depan apapun profesi yang kita geluti kelak. Perempuan pun berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Untuk yang satu ini, saya sangat bersyukur karena berada di tengah-tengah keluarga yang selalu mendukung untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya. Alhamdulillah.

 Pasalnya, beberapa tahun lalu, saya sempat maen ke pondok pesantren tempat dulu saya bersekolah. Saat itu saya hanya menemani teman seangkatan saya yang mau maen ke pondok. Suatu malam, saat kami jalan-jalan di lingkungan pondok, tanpa sengaja kami bertemu seorang usatad senior. Ustad ini adalah sosok ustad yang cerdas, baik, dan suka menasehati kami. Dan satu lagi, ustad ini adalah tempat anak-anak minta dicarikan jodoh atau tempat konsultasi jodoh. Teman saya langsung curhat tentang jodoh dan pernikahan, sedangkan saya hanya diam dan mendengarkan wejengan sang ustad dan curhatan teman saya. Krik-krik juga sih karena saya belum kepikiran untuk menuju ke arah sana walaupun saya sadar bahwa suatu saat saya akan memasuki fase kehidupan pernikahan juga.

Di tengah-tengah percakapan, ustad itu melihat ke arah saya dan tiba-tiba bilang kalau saya jangan terlalu memikirkan untuk belajar setinggi-tingginya karena jihad perempuan yang sesungguhnya adalah ketika dia menikah dan menjadi seorang istri serta seorang ibu. Saya hanya mendengarkan perkataan beliau Tapi, semua orang punya pendapat masing-masing. Saya sadar bahwa zaman telah berubah. Teknologi semakin canggih dan semuanya serba instan. Saat saya memutuskan untuk menikah dan menjadi seorang ibu, saat itu saya pasti dituntut agar menjadi seroang ibu pintar karena zaman yang makin berkembang dapat mempengaruhi perkembangan anak juga. Bayangkan saja! Dulu saya baru bisa mengoprasikan internet dan handphone saat saya tamat dari pesantren. Sekarang, anak SD aja udah bisa pake internet dan handphone yang canggih. Hmm.  Apalagi saat saya punya anak nanti ya. Pasti perkembangan anak lebih cepat dari sekarang.

Dari fenomena yang ada, mau nggak mau kita dituntut untuk lebih cerdas menghadapi kemajuan zaman seperti ini termasuk dalam mendidik anak-anak kelak. Jadi, saya rasa, saya dituntut untuk lebih pintar agar saya menjadi seorang ibu pintar yang mampu membesarkan, merawat, dan mendidik anak-anak saya.  Dan caranya adalah dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Semoga saya bisa menjadi seorang ibu pintar kelak. Amin.

Friday, 25 May 2012

Anak dan Perkembangan Zaman

Barusan nonton program "Laptop Si Unyil". Episode kali ini kebetulan ngambil setting di kab. Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Seperti biasa, tempat tersebut masih sangat alami. Gunungnya masih hijau, air kalinya masih bersih bening, dan sawah-sawah pun masih terhampar luas, nggak ketinggalan juga rumah gadang berdiri di antara pepohonan, sawah,  atau parak pisang membentuk suatu perkampungan. Seru banget ya.

Waktu nonton program itu, tiba-tiba jadi kepikiran sesuatu. Hmm. Ada katakutan tersendiri hidup pada zaman yang terus berubah dan kemajuan teknologi yang terus menerus berkembang seperti saat ini.  Semua berubah dan semua makin berkembang termasuk dunia anak-anak. Dulu, saat aku masih kecil, aku nggak kenal sama yang namanya komputer, telepon, handphone, laptop, dan lain-lain itu.Namun sekarang faktanya, anak TK aja sudah pada mahir menggunakan alat-alat tersebut. Sepupuku yang masih SD aja, sudah bisa pakai internet, bahkan punya akun jejaring sosial dan juga blog. Hmm. Ckkk. Kalah deh aku soalnya aku ngerti tentang dunia maya ya waktu tamat dari pondok pesantren. Hehehe.

Di satu sisi, ada positifnya sih kalo anak-anak sudah mengerti cara memakai barang-barang elektronik. Bisa dibilanglah anak-anak tersebut nggak gaptek dan cerdas karena ngerti tetek bengek berbau teknologi tersebut. Namun, sepertinya sisi negatif lebih dominan dalam masalah ini. Contohnya saja masalah pornografi yang beredar di dunia maya. Kalo seusia kita yang lihat atau nggak sengaja lihat sih, nggak masalah karena kita bisa ngebedain mana yang baik, mana yang buruk ato mana yang boleh dan yang nggak boleh. Belum lagi masalah penculikan anak yang rentan karena si anak yang dibekali handphone yang bagus oleh orangtuanya. Ato masalah yang lain adalah pengarh pada kepribadian si anak. Bayangkan jika si anak sibuk dengan dunia mayanya, maka ini akan sangat berpengaruh dengan cara bersosialisasinya.

Memang gaswat ya tantangan menjadi orangtua di masa mendatang itu. Hmm. Kalo suatu saat aku jadi seorang ibu dan punya anak-anak. Aku pengen banget anak-anakku tetap kenal pada agama dan budaya bangsanya. Contoh terkecilnya, ya permainan tadisional kita. Aku pengen anak-anakku tau permainan yang dulu dimainkan ibu dan ayahnya. Sebut saja cak bur, cik mancik, en, atau lompat tali. Aku pengen anak-anakku nggak hanga duduk di depan layar komputer berselancar di dunia maya. Aku pengen anak-anakku tau bahwa negerinya ini kaya dan indah. Aku pengen mereka merasakan petualangan-petualangan seperti yang ibu ayahnya rasakan. Main di kali, mancing ikan di tabek, atau sekedar duduk-duduk di sungai belakang rumah (tentu saja ini dilakukan tidak luput dari perhatianku). Satu lagi, aku pengen mereka tetap mengenal dan menyayikan lagu anak-anak dan lagu daerah. Buat yang satu ini, aku mulai download lagu anak-anak zaman aku masih kecil soalnya takut nanti lagu anak-anak semakin punah. Hehehe.


Wednesday, 23 May 2012

Hay Que Visitar India

Tengo un illusion. Yo quero visitar India. Hmm. Algun dia voy a ir a India. Insyaallah. Amin. Voy a visitar el palacio de Taj Mahal. Voy a tomar los fotos en unos monumentos en India. Voy a aprender la danza de India. Voy a eschucar las musicas de India. Hmm. Lo mas importante voy a encontrarse con los actores de Bollywood. Ellos son Aamir Khan, Sah Ruh Khan, Aksay Kumar, Riteish Desmukh y otros. Voy a comprar los recuerdos por mi familia y mis amigos. Oh ya! Voy a vestirse sari, un vestuario tradicional de India. (Desearia que mi illusion se hace realidad)


Saturday, 19 May 2012

Heyy Babyy

Libur panjang telah tiba. Berarti bisa nonton satu atau dua film. Kali ini aku pengen nonton film yang ringan dan lucu aja. Karena mengingat otakku yang setiap hari diperas untuk berpikir nulis skripsi, jadi harus ada obat penyegarnya. Pikir-pikir, kayaknya asyik deh nonton pilem Bollywood tapi yang ber-genre komedi biar nggak terlalu mikir kayak dulu pas nonton film "Khabi Alvida Nah Kehna". Akhirnya dapet satu film jdulnya "Heyy Babyy". Pertama nonton sih, ada perasaan underestimate sama film ini, tapi ternyata bagus dan lumayan sarat akan pesan terutama untuk para cowok yang suka mempermainkan cewek. Hehe. Ceritanya ringan, lucu, tapi tetap ada pesan yang ingin disampaikan. Film ini adalah film yang disadur dari sebuah film Prancis tahun 1985 yang berjudul "Trois Hommes et Un Couffin" (Three Mans and The Baby).



Film "Hey Babyy" ini bercerita tentang tiga orang cowok bernama Arush (Aksay Kumar), Tanmay (Ritesh Desmukh), dan Ali Haider (Fardeen Khan) yang playboy abis. Setiap hari mereka bersenang-senang dengan para cewek yang berbeda-beda sampai pada akhirnya suatu pagi mereka menemukan seorang bayi perempuan di pintu apartemen mereka. Mereka merasa kerepotan dan merasa kehidupan mereka diganggu oleh kehadiran bayi perempuan tersebut. Puncaknya adalah ketiga mereka kehilangan pekerjaan mereka dan kalah berjudi. Mereka merasa bayi itu adalah pembawa sial. Kemudian mereka memutuskan untuk membuang bayi itu di depan sebuah gereja pada malam natal dan langsung menuju club malam untuk bersenang-senang. Namun mereka tidak merasa bahagia, mereka malah memikirkan nasib bayi tersebut. Tiba-tiba hujan pun turun dan mereka cemas jika ternyata tidak ada yang membukakan pintu gereja itu. Akhirnya mereka kembali ke gereja dan menemukan bayi itu pingsan terendam air hujan di dalam box-nya.

Ternyata bayi tersebut dalam keadaan kritis dan nyawanya terancam. Mereka bertiga merasa sangat bersalah dan menangis sejadi-jadinya. Ketika Arush dan Tanmay akan keluar menuju ruang tunggu rumah sakit, mereka melihat Ali aka Al sedang shalat berdoa memohon kesembuhan si bayi. Arush dan Tanmay sangat kaget karena selama ini Al bukanlah seorang muslim yang taat. Kejaiban doa ternyata terkabul. Bayi tersebut dapat diselamtkan dan mulai saat itu mereka berjanji akan merawat bayi tersebut sepanjang hidup mereka.

Semenjak kehadiran bayi itu, hidup mereka berubah. Mereka tidak minum minuman keras lagi, tidak berjudi lagi, tidak kencan dengan wanita lagi, dan Al telah menjalankan kewajibannya mengerjakan shalat sampai suatu sore ibu si bayi datang dan mengambil bayi perempuan tersebut. Akhirnya terkuaklah ayah dari anak tersebut dan dimulailah konflik untuk merebut hati wanita tersebut agar mereka kembali bersama. Seru, lucu, sedikit ada harunya. Pokoknya baguslah.

Bukan film Bollywood juga kalau nggak ada nyanyi-nyanyinya. Dalam film ini ada satu lagu yang aku suka banget. Judulnya adalah "Meri Duniya Tu Hi Re" dan dinyanyikan oleh Sonu Nigam, Shan Santanu, dan Shankar Mahadevan. Mereka ini juga para penyanyi yang telah banyak menyanyikan lagu-lagu untuk soundtrack film Bollywood. Lagu ini menceritakan tentang kehidupan mereka yang berbuah menjadi baik setelah kedatangan bayi perempuan tersebut. Ini dia video klipnya. Cekidot!




Friday, 11 May 2012

Kangen

Barusan pergi ke toko alat-alat tulis, tanpa sengaja, saya menemukan buku-buku diary yang unik dan lucu-lucu. Ah jadi inget dulu waktu menulis di buku diary sambil senyam-senyum sendiri atau terkadang nangis atau terkadang tanpa ekspresi. Itu masa-masa di pondok sampe semester tiga sepertinya. sebenernya tahun 2008, saya sudah punya blog sih, tapi lebih enak nulis diary, sekalian melatih tulisan tangan. Jadi kangen nulis pake tangan lagi. Hehehe. Kapan ya? Semoga ajaada yang mau kasih buku diary lucu di ulang tahun saya #ngarep.

Thursday, 10 May 2012

First Anniversary

Ini memang first anniversary saya, namun bukan dengan seorang lelaki.
Melainkan dengan PARAPLUIE
Parapluie? Itu nama penerbitan yang saya rintis dengan lima oramg teman saya. Ada Ana, Eva, Iman, Irul, Yayun, dan saya.
Semoga langgeng selalu untuk selamanya. Amin

Tuesday, 8 May 2012

Hidupku Bukan Hidupnya


Selamat pagi menjelang siang!!!! Sudah tanggal 8 Mei 2012. Sebelum kembali berkutat dengan skripsi, saya ingin menulis sedikit paragraf tentang sesuatu yang akhir-akhir ini berterbangan di pikiran saya. Beberapa hari ini, tanpa sengaja, saya bertemu dengan orang-orang galau bin bimbang. Pasalnya sih macam-macam. Mulai yang ribut belum dapet pacar sampe umur 24 tahun atau yang diminta sang pacar untuk ngelanjutin kuliah bareng-bareng. katanya sih biar selalu bersama untuk selamanya. *Lebai yang belakang.

Sebenernya hal yang begini gak perlu dibuat galau bin bimbang. Saya sering banget diketawain karena menjomblo hampir 24 tahun (curcol bo!). Hehe. Kaget? Biasa aja tuh. Really! menurut saya sih, dalam hal jodoh gak ada yang namanya sistem 'siapa cepat, itu yang dapat'. Maksudnya, belum tentu orang-orang yang udah berpacaran lama atau dapet pacar sebelum saya akan menemukan jodohnya lebih dulu daripada saya kelak. Pacar kan sekedar pacar. Semacam perkenalan lebih dalem aja tentang diri masing-masing. Kalau cocok ya lanjut, kalo nggak cocok ya... loh guweh end! 

Jadi, jangan sampai kita terlalu sayang dengan pacar sehingga sampai memberi yang sebenernya belum patut kita beri karena kita gak tahu apa yang akan terjadi nanti. Nggak hanya soal,virgin aja sih. Soal lain juga banyak dan ini fakta. Contohnya si cewek tiap hari Ahad operasi semut di kos cowoknya; bersihin kamarnyalah, ngepel, sampe nyuci bajunya. Bayangkan! Kita bukan apa-apanya mereka. Kalo saya, mending bersihin kos saya atau ngerjain tugas kuliah yang numpuk deh, lebih kerasa manfaatnya buat saya. Hehe.

Nah, karena terlalu sayang inilah yang membuat kita lalai untuk merencanakan masa depan kita sendiri. Menurut saya, hidupku bukan hidupnya (pacar). Bayangin aja, misalnya kita pengen jadi dosen. Setelah lulus ada tawaran untuk jadi dosen plus dikuliahin lagi GRATIS TIS TIS! Tapi, sang pacar menginginkan kita melanjutkan kuliah di kota tempat dia kuliah. sayangnya, jika mengikuti keinginan sang pacar, kita kuliah pake duit sendiri dan nggak dapat kesempatan untuk menjadi apa yang kita inginkan. Hayoo mau pilih yang mana? Kalo saya sih pasti pilih yang pertama. Karena saya harus merencanakan dan menjalani masa depan sendiri, kecuali jika sudah menikah. Itu lain lagi urusannya hehe. Tapi, kalo sekedar pacaran... ya sayang banget untuk menghabiskan hidup kita dengan selalu patuh dengan pacar. Iya kalau si dia itu adalah orang yang nemenin kita di pelaminan, kalau putus di tengah jalan? Piye?

Kedua orangtua saya sebenernya bukanlah tipe yang melarang anak-anaknya pacaran. Saya pun begitu. Saya bukan orang yang mengharamkan pacaran. Tapi, setidaknya ada prinsip-prinsip yang harus kita pegang. Saat kita memutuskan untuk berpacaran, seharusnya kita perpikir bahwa pacaran bukanlah suatu ikatan resmi antara perempuan dan laki-laki sehingga kita tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Sekali lagi, ini tidak hanya kasus virginitas semata. Sekarang sudah ada loh KDHP alias Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran. Ini sangat penting. Saat menjalani hubungan pacaran, seharusnya kedua pasangan harus saling menghormati jalan hidup masa depan masing-masing sampai masa depan kita dan pasangan kita bersatu kelak. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa memohon yang terbaik dari-Nya.Tapi, kalo kita gak mau terjerumus, lebih baik kita gak usah pacaran. Ingat! Mencegah lebih baik daripada mengobati loh!

Sunday, 6 May 2012

Skripsi Shinta

Bulan Mei telah tiba. Yang terpikir oleh saya adalah kapan skripsi saya akan selesai. Fiuh. Banyak sekali yang terjadi dalam fase kehidupan akademik saya kali ini. Setiap hari sibuk membaca, buka kamus, ngelamun, atau malah main game. Terkandang saya begitu semangat untuk mengerjakannya, terkadang saya males banget melirik skripsi saya itu. Terkadang, ide brilian untuk penulisan skripsi baru mampir pas mepet waktu bimbingan. Ckckckckckck. Parah banget ya saya? Tapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa tentang hal ini. This is all my fault! Yang dengan mudah terbujuk dengan hal-hal yang nggak bermanfaat untuk penyelesaian skripsi saya.

Saya harus semangat! Saya harus segera menyelesaikan skripsi ini agar saya bisa mengerjakan semua planning yang sudah saya susun dengan rapi. Namun untuk mengerjakan planning-palnning tersebut, saya harus melewati skripsi. Bagaimana untuk melewatinya? Ya otomatis dengan mengerjakannya. Karena satu-satunya jalan untuk menghadapi sesuatu, ya mesti dengan menjalaninya. Semangat Shinta!!!!!!


 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang