Monday, 18 February 2013
La Lluvia
Y las aceras están mojadas
Todas las huellas están borradas
La lluvia guarda nuestro secreto
LLueve
Y en mi ventana te echo de menos
Los días pasan y son ajenos
El frío me abraza y me parte en dos
La lluvia cae sobre los tejados
Dónde fuimos más que amigos
Recuerdo que dormimos al abrigo
Del amanecer
Los bares han cerrado ya no hay copas
La lluvia hoy mojará mi ropa
Si no estás aquí
Si tú no estás me duelen mas los años
Las heridas me hacen daño
Si no vuelvo a oír tu voz
LLueve
Y las palabras se quedan mudas
Todas las noches las mismas dudas
¿Qué fue de todos aquellos besos?
LLueve
Y se enmudece la primavera
Cuento las veces que el sol espera
Para secar de lluvia la acera
Para secar de lluvia el tejado
Dónde fuimos más que amigos
Recuerdo que dormimos al abrigo
Del amanecer
Los bares han cerrado ya no hay copas
La lluvia hoy mojará mi ropa
Si no estás aquí
Si tú no estás me duelen mas los años
Las heridas me hacen daño
Si no vuelvo a oír tu voz
En los tejados dónde fuimos más que amigos
Recuerdo que dormimos al abrigo
Del amanecer
Los bares han cerrado ya no hay copas
La lluvia hoy mojará mi ropa
Si no estás aquí
Si tú no estás me duelen mas los años
Las heridas me hacen daño
Si no vuelvo a oír tu voz
*Sungguh saya benar-benar rindu belajar bahasa Spanyol lagi
Label:
nyanyi-nyanyi
Monday, 11 February 2013
Au Revoir
Kemunculanmu menambahkan lipatan kebencianku. Jangan pernah berharap aku menanyakan tentangmu dan masa depanmu. Kau kira aku sudi? Aku bahkan sudah tak peduli. Aku tidak seperti yang dulu. Yang selalu mengharap kedatanganmu lalu menyapaku dan mengajakku tertawa sambil menyisiri trotoar jalanan kota ini. Pergilah menjauh dan jangan pernah menyapaku walau hanya melalui mimpi. Anggap saja kita tak pernah kenal. Kumohon jangan lagi pernah muncul di hadapanku. Pergilah dan selamat tinggal untuk selamanya....
Label:
curcol
Sunday, 3 February 2013
Selayang Pandang
Jika mendengar kata-kata 'film India' atau yang lebih kita kenal dengan kata Bollywood, kebanyakan masyarakat kita pasti akan mengecap film India itu kampungan dan tidak menarik. Ada juga yang mengaggap bahwa film India itu norak dan isinya menangis, menyanyi sambil muterin pohon, atau hujan-hujanan sambil ngembangin selendang. Jujur, dulu saya tidak tertarik dengan film India karena alasan di atas. Namun, seiring perjalanannya waktu, konsep film India akhir-akhir ini berubah. Film India tidak lagi tentang kisah cinta yang romantis dan terkesan cengeng. Terlepas dari itu semua, mari kita mengintip selayang pandang tentang film India.
Dalam penggunaan bahasa, film India terbagi menjadi tiga, yaitu film berbahasa Hindi, Telugu, dan Tamil. Sebenarnya bukan semua film India itu bisa disebut Bollywood. Bollywood itu sebenarnya adalah sebutan untuk industri perfilman yang terletak di Mumbai khusus film yang menggunakan bahasa Hindi. Tapi, film India non-Bollywood tidak kalah dengan film-film Bollywood. Salah satu contohnya adalah film "Oh My Friend". Film ini adalah film India berbahasa Telugu. Tema yang diangkat segar dan tidak biasa. Film ini tentang persahabatan antara seorang lelaki dan perempuan. Yang tidak biasa adalah, si kedua tokoh tidak saling jatuh cinta seperti jalan cerita film-film yang ada saat ini. Masyarakat (termasuk kekasih-kekasih mereka) di sekitar mereka berpikir bahwa tidak akan ada persahabatan yang murni tanpa embel-embel cinta, namun dua tokoh ini jatuh bangun membuktikan bahwa persahabatan mereka murni persahabatan tanpa rasa cinta sebagai sepasang kekasih. Intinya best friend forever.
Jika dulu film India temanya hanya kisah percintaan dan terkesan cengeng, sekarang tema film India lebih beragam dan tidak mebosankan. Kisah cinta memang masih ada dalam setiap film, tapi dikemas dengan sedemikian rupa. Salah satunya film "Ghajini". Ini film favorit saya. Film ini sangat berkesan bagi saya. Mungkin, melalui film ini si sutradara ingin menyampaikan tentang definisi romantisme. Romantis itu tidak hanya ditunjukkan dengan rayuan atau sentuhan. Romantis itu ya seperti Sanjay Singhania dan Kalpana (dua tokoh dalam film Ghajini). Selain tema cinta, film India banyak mengusung tema-tema sosial. Misalkan film "My Name is Khan", "New York", dan "Kurbaan". Tiga film ini mengangkat tema tentang respon masyarakat Islam dan non-Islam atas peristiwa 11 September 2004. Selain itu, ada juga film yang mengangkat tentang pendidikan, anak-anak, dan difabel. Contohnya saja "3 Idiots", "Udhan", "Barfi!" dan "Taare Zamaan Par". Ada juga film yang mengangkat kritik sosial dan politik, contohnya film "Rangde Basanti", "English Vinglish", "Slumdog Milionaire", "Ek Tha Tiger", dan "Swades". Film tentang drama keluarganya juga bagus-bagus. Sebut saja "We are Family, "Yuvraaj", dan "Paa".
Saya pribadi tertarik menonton film India karena film-film India ini karena tema yang diangkat sangat menarik, tidak pasaran, dan tidak membosankan. Dan yang pasti, film India itu menarik untuk diteliti dengan berbagai teori kritik sastra *Coba ada lembaga yang menampung penelitian tentang sastra. Dan melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa jangan underestimate dulu saat mendengar kata 'film India'.
Label:
berbagi
Friday, 1 February 2013
Kau Pergi
Kau tahu, rindu ini ternyata menggebu-gebu untukmu
Betapa rindunya untuk sekedar bercengkrama bersenda gurau denganmu
Mungkin kini kau telah lupa bahwa kita pernah merajut hari-hari bersama dulu
Kau tahu, betapa aku ingin bercerita banyak hal padamu
Namun tampaknya kau telah bosan mendengarkanku bercerita tentang cinta lalu yang menyakitiku
Kini kau pergi meninggalkanku menemukan sobat baru
Inikah sebuah pertemanan
silih berganti
datang dan pergi
Aku tidak mengharapkan pamrihmu
Aku hanya ingin kau tak melupakanku
itu saja rasanya telah tercukupi
Entahlah... Aku hanya bisa menunggumu di sini
berharap kita masih dapat berbagi cerita dalam episode hidup yang terlalui
berharap kita masih dapat bercerita tentang mimpi-mimpi kita di masa yang akan kita lalui
Harapanku sirna
kau pergi entah kemana
berharap kita masih dapat bercerita tentang mimpi-mimpi kita di masa yang akan kita lalui
Harapanku sirna
kau pergi entah kemana
Label:
curcol
Tuesday, 29 January 2013
Perjalanan Singkat
Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan diri menjadi warga ibukota dan sekitarnya untuk sementara. Hal ini berhubung karena ada acara keluarga salah seorang kakak papa. Saya kesana dengan menggunakan bus yang bisa dibilang ngaret. Pasalnya, saya mendapat jadwal jika bus akan berangkat jam 15:30,. Tapi, kenyataannya, bus baru berangkat jam 17:15. Jadilah saya menunggu sampai kering di terminal itu. Untung saja tadi saya tidak lupa membawa sebuah novel untuk mengantisipasi hal seperti yang sudah lazim seperti ini. Dan akhirnya baru sampai Simpang Depok pada pukul 09:00. Bener-bener kain dari perjalanan-perjalanan saya sebelumnya karena biasanya sampai Simpang Depok pas subuh. Turun bus, saya langsung menyebrangi jalan dan naik angkot 06 sampai lampu merah Citayam. Kemudian dilanjutkan naik angkoy 05 sampai stasiun Citayam. Nyebrang stasiun dan naik ojek menuju rumah adik papa.
Sampai di rumah itu, saya langsung mandi, sarapan, dan pergi lagi menemani mama ke Sudirman dengan menggunakan angkutan umum sejuta umatnya warga ibukota yaitu kereta api. Saya berangkat jam 10:00 dari stasiun Citayam. Saat itu kereta sepi karena bukan jam pergi kerja atau jam pergi sekolah. Kereta itu nyaman sekali apalagi dilengkapi AC dan tempat duduk yang masih banyak kosong plus ada gerbong khusus wanita. Saya lalu duduk di sebuah pojokan dan mulai menghayal *halah. Saya berkata dalam hati semoga saya bisa naik berbagai macam kereta di berbagai negara. Mungkin saya nanti bisa naik Skytrain atau juga Metro dan yang lain-lain itu. Hehehe. Sampai di ibukota, saya makin stres melihat pemandangan yang ada. Biasanya di Jogja saya jarang melihat kemacetan yang super parah, di ibukota ini sebaliknya. Dimana-mana macet *Please jangan salahkan Si Komo. Kalau boleh bilang, saya salut sama orang-orang yang hidup di ibukota ini. Mereka bisa melalui ini semua dengan tabah. Two thumb up!
Setelah urusan selesai, saya dan mama pulang ke Citayam lagi-lagi dengan kereta api *saya sampai hapal nama stasiun-stasiunnya. Pulang sore dengan kereta berarti harus siap dengan resiko yang ada. Apalagi kalo bukan berdesak-desakkan di dalam Commuter line alias kereta itu. Dan sialnya, saya tidak masuk gerbong khusus wanita. Dan jadilah saya seperti ikan sarden yang di-press penumpang lain yang terus menerus masuk ke dalam setiap kereta berhenti di stasiun. Di sini saya salut lagi dengan warga ibukota yang selalu sabar dan kuat menghadapi situasi seperti ini setiap hari. Beda dengan saya yang tidak pernah bermimpi untuk kerja dan tinggal di ibukota. Gara-gara setiap hari naik kereta, saya seperti berasa berada dalam film Bangkok Traffic Love Story. Hadeuh jadi ngayal seandainya saya bertemu jodoh di commuter line atau di salah stasiunnya *halah.
Setelah dua hari di sana, akhirnya saya pulang ke Jogja. Kali ini saya pulang dengan pesawat. Tapi untuk menuju ke bandara Soekarno Hatta tetap saja saya harus naik kereta lagi. Kali ini turun di stasiun Juanda dan mutar balik ke stasiun Gambir. Dari stasiun Juanda ke Gambir, saya naik bajai. Di tengah-tengah perjalanan, saya melihat tulisan 'made in India' di stang si bajai. Seketika itu saya menghayal lagi; hari ini saya naik bajai di ibukota. Kelak saya akan naik bajai di India. Haha. Setelah sampai di Gambir, Saya dan mama masuk ke salah satu bus Damri yang terparkir. Di dalam bus itu, Saya ketiduran dengan sukses. Bangun-bangun sudah sampai di depan terminal 1B. Setelah mengurus tiket, akhirnya saya berpisah dengan mama. Mama pulang ke Padang dan saya kembali ke Jogja. Tidak berapa lama setelah check in, pengumuman boarding untuk penerbangan saya tiba-tiba menggema. Saya langsung ikut mengantre sambil mendengarkan lagu one day more dari mp3 handphone saya. Sampai jumpa lagi, Ibukota!!!! *nyengir senang karena meninggalkan ibukota.
Penerbangan kali ini seperti penerbangan 6 tahun lalu. Cuaca di atas sana tidak bersahabat awan terlihat gelap. Beberapa kali pesawat berguncang hebat. Mbak-mbak di seberang tempat duduk saya langsung terbangun dari tidur lelapnya sambil memegang sandaran kursi di depannya. Saya juga takut. Tapi, tiba-tiba ingat kata tokoh Pak Habibie di film Habibie dan Ainun. Katanya, kalau ada guncangan berarti pesawat itu bagus. Saya berusaha cool dan lanjut membaca novel. Akhirnya sampai di Yogyakarta tercinta. Welcome! welcome! Saya kembali ke kos saya dengan menggunakan motor matic si Jago Merah tercinta. Ngomong-ngomong, perjalanan kali ini, saya tidak menceritakan tempat yang saya singgahi ya? Mungkin karena saya lebih tertarik dengan berbagai macam transportasi yang saya tumpangi itu. Ada sensasi tersendiri rupanya. Apalagi saat naik si Commuter Line itu. Hehehe
Label:
berbagi
Monday, 28 January 2013
Les MIserables Movie: On My Own
Film Les Miserables ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama yang ditulis oleh Victor Hugo. Tahu nggak dia siapa? Kalau yang kuliah di Sastra, pasti tahu. Dia itu adalah seorang sastrawan Prancis. Sebenarnya novel ini sudah difilmkan di tahun 1998, tapi di tahun 2012, film ini dirilis lagi dengan gaya musikal. Saya menonton film ini tanpa sengaja gara-gara dapat poin nonton gratis. Awalnya, saya sempat ngantuk menonton film ini karena dari awal adegannya pake acara nyanyi semua. Lagi disiksa, nyanyi. Lagi nangis nyanyi, Lagi marah, nyanyi juga. *Ngalah-ngalahin film India. Agak ke tengah, penonton banyak yang meninggalkan ruangan. Namun, saya dan teman-teman membetahkan diri di sana. Hitung-hitung latihan nonton opera dadakan di studio XXI sebelum nonton opera beneran di Palais Garnier *halah. Lama-lama, saya menikmati filmnya karena film ini punya kesan tersendiri bagi saya. Dan yang suka dengan ilmu Sejarah, bisa juga nonton film ini karena latar waktunya diambil saat revolusi Prancis.
Semua lagu yang mengisi sepanjang film ini ternyatabagus-bagus. Salah satu yang paling saya sukai, selain lagu One More Day, adalah lagu yang berjudul On My Own. Kalau dengar lagu ini, aduh! Rasanya nyesek banget. Lagu ini masih tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Asli! Kisah cinta yang seperti itu bikin nyesek Hehehehe. Anyway, nikmati saja lantunan lagunya, sambil mengenang kocaknya masa lalu gara-gara cinta bertepuk sebelah tangan.
Label:
nyanyi-nyanyi
Thursday, 24 January 2013
Pilihan
Aku mungkin
berbeda dengan kebanyakan perempuan di muka bumi. Biasanya, saat mereka bosan
dan banyak pikiran, mereka akan pergi berbelanja berbagai macam pakaian dan
aksesoris. Namun, aku tidak sama. Saat banyak pikiran seperti saat ini, aku lebih
senang pergi ke toko buku. Entah itu membeli buku atau hanya sekedar membaca
sinopsis cerita dan endorsement yang tertera di cover belakang
buku. Setelah puas mengelilingi rak-rak raksasa yang berjajar rapi di dalam
toko, aku melangkahkan kaki naik ke lantai dua yang difungsikan sebagai sebuah
café. Tempat itu sangat nyaman dan tenang. Cocok sekali untuk orang-orang yang
ingin menyendiri dan tak ingin diganggu. Dan hari ini, aku benar-benar tak
ingin diganggu. Inilah tempat pelarianku.
Setelah
memesan secangkir cappuccino hangat, aku duduk di sebuah sudut café. Dari sana,
aku dapat melihat lantai bawah yang dipenuhi dengan rak-rak raksasa dan jajaran
banner yang bertuliskan daftar buku-buku new entry ataupun best
seller dari berbagai macam penerbit lokal maupun nasional. Hari ini,
pengunjung toko buku ramai sekali karena ada diskon buku besar-besaran.
Untungnya toko buku tidak seperti distro atau toko pakaian yang sedang diskon
besar-besaran juga. Walau toko buku itu sedang mengadakan diskon besar-besaran,
para pengunjung yang datang tidak “ganas” seperti pengunjung distro atau toko
pakaian diskon. Para pengunjung tampak tetap tenang dan tak satu pun dari
mereka yang berebutan barang seperti di toko pakaian. Aku tersenyum sendiri
mencoba melupakan masalah yang memenuhi benakku. Tiba-tiba, tanpa sengaja aku
melirik cincin perak bermata satu yang melingkar di jari manisku. Dan mau tak
mau, pikiranku kembali ke masalah itu. Ralat, lebih tepatnya bukan masalah,
melainkan pilihan yang memusingkan untuk seorang perempuan yang akan melepas
masa lajangnya.
Beberapa
bulan kedepan, aku akan melepas masa lajangku. Aku tidak lagi berstatus wanita single.
Aku akan menikah. Namun, pernikahan bukan hanya perkara menjadi raja dan ratu
sehari yang dimanjakan dan dielu-elukan. Pernikahan itu bukan hanya pengikat
antara diriku dan suami semata. Pernikahan itu juga bukan urusan menghalalkan nafsu
belaka. Pernikahan itu adalah ikatan yang menghubungkan dua belah pihak
keluarga. Pernikahan bukanlah akhir dari kehidupan layaknya dongeng masa kecil
yang kebanyakan kisahnya menceritakan tokoh putri dan pangeran yang pada
akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya. Banyak sekali yang kelak akan
terjadi setelah pernikahan. Memang penuh kebahagian, namun tak jarang juga banyak
cobaan, halangan, dan rintangan. Dan salah satu yang menjadi sebuah dilemma
setiap perempuan mungkin adalah pilihan yang akan mereka hadapi setelah mereka
berumah tangga. Mau terus berkarir atau hanya mengurus rumah tangga saja? Dan
inilah yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku.
Aku ---bisa
dibilang--- adalah seorang business woman yang bergerak dalam bidang
kuliner. Aku merintis usaha yang kujalani ini dari nol. Usahaku ini layaknya
anak kandung yang kulahirkan dan kurawat dengan baik sehingga ia menjadi besar
dan maju. Gerai kulinerku telah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Di saat
usahaku sedang menanjak tinggi, aku jatuh cinta pada seorang laki-laki. Tanpa
proses penjajakan yang terlalu lama, kami memutuskan untuk menikah. Dua minggu
lalu kami bertunangan dan beberapa bulan kedepan, kami akan menikah. Dan
sampailah aku pada titik dilemma. Ini karena aku adalah tipe yang selalu
memikirkan kemungkinan dan resiko yang akan terjadi. Maka jadilah aku pusing
tujuh keliling memikirkan pilihan. Mengurus rumah tangga atau berkarir?
“Ini
Cappucino hangatnya, Mbak. Silahkan dinikmati,” Suara pramusaji café
membuyarkanku dari lamunan. Setelah pramusaji itu beranjak dari mejaku, aku
memasukkan sedikit gula dan mengaduk-aduk cappuccino hangatku itu. Dan kali ini
aku termenung lagi sambil memandangi pusaran cairan cappuccino yang terbentuk
akibat adukan sendok. Aku ingin bercerita, namun tak tahu harus bercerita pada
siapa. Setiap orang punya pendapat masing-masing. Sania, teman kuliahku yang
kini menjabat sebagai seorang manager di sebuah hotel, memilih tetap berkarir
walau dirinya menikah dan punya anak.
“Zaman makin
maju, Fa. Kebutuhan keluarga juga semakin meningkat. Kebutuhan anaklah. Belum
lagi kebutuhan kita pribadi. Jujur aja, aku sih nggak bisa hidup tanpa make
up, aksesoris, dan fashion. Mana cukup kalau cuma mengandalkan
penghasilan suami. Lagian sekarang playgroup dan jasa pengasuh anak juga
sudah banyak bertebaran. Tinggal angkat telepon aja,” Ujar Sania lugas dan
tanpa basa-basi.
Saat itu,
aku hanya diam mendengarkan Sania berbicara panjang lebar tentang pilihan hidup
yang diambilnya setelah menikah dan mempunyai satu anak. Kepalaku mengangguk
setiap ia memintaku membenarkan argumennya, namun hatiku tidak. Aku ingin kelak
aku tetap berkarir tanpa harus mengabaikan suami apalagi anak. Karena sehebat
apapun perempuan di lingkungannya, ya tetap saja ia harus mengutamakan rumah
tangganya.
Aku menghela
nafas sebentar lalu menyeruput cappuccino hangatku sedikit demi sedikit. Aku
tak ingin seperti Sania, namun aku tak ingin juga seperti Sasih. Sasih itu
teman SMPku dulu di kampung. Setelah tamat SMP, ia tidak melanjutkan sekolahnya.
Katanya perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena perempuan sejatinya
akan kembali mengurus rumah tangga.
“Untuk apa
sekolah tinggi-tinggi, jika di sana tidak diajarkan bagaimana cara mengurus
rumah tangga. Itu kata bapakku, Fa,” Aku juga hanya mampu terdiam mendengar
ucapan Sasih. Ini salah! Perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki
terutama dalam hak pendidikan. Malah perempuan seharusnya mendapatkan
pendidikan yang terbaik karena perempuan akan menjadi seorang ibu bagi
anak-anaknya kelak. Tak peduli apa pilihan mereka nanti. Mereka ingin
berkarirkah atau mengurus rumah tangga? Perempuan
harus pintar apalagi di zaman yang serba canggih seperti saat ini.
Aku teguk
lagi cappuccino hangat yang kini telah dingin ditiup angin dari hujan di luar
sana. Dari cerita Sasih, kemudian pikiranku melayang ke pengalaman teman baikku
Ratih. Beberapa hari setelah acara tunanganku, aku mengunjungi Ratih yang baru
saja melahirkan. Karena kami jarang sekali bertemu, maka kami mengobrol
sepuas-puasnya. Untung saja Si Kecil tertidur pulas di dalam ranjangnya
sehingga obrolan kami semakin seru dan asyik.
“Aku
mengundurkan diri dari kantor, Fa. Aku ingin fokus mengurus suami dan anak.
Percuma kan, kalo karir melejit, tapi rumah tangga bobrok? Nanti kalau kamu
sudah menikah dengan Mas Bayu-mu itu, lepaskan saja perusahaanmu ke
adik-adikmu. Mereka kan juga sudah lama kerja denganmu, Fa. Fokus saja mengurus
rumah tangga sepertiku,”
Aku
tersenyum getir mengingat perkataan Ratih. Apakah tidak bisa menjalani
kedua-duanya? Inilah aku. Si Idealis. Saat ini yang kubutuhkan bukan pendapat
lagi. Toh terkadang kita tidak harus mengikuti pendapat orang lain kan? Cukup
dengarkan apa kata mereka dan pilihlah mana yang baik dan yang buruknya lalu
simpulkan dan pilihan akhir ada di tangan kita. Just Follow your heart! Kini,
yang kubutuhkan hanya orang yang mendukungku. Sebenarnya aku sudah memilih,
namun aku butuh seseorang yang selalu mendukung pilihanku. Dan kumau, orang itu
adalah calon suamiku, Mas Bayu...
“Mas Bayu?” Aku
terkaget melihat sosok Bayu Bahari Utara yang telah duduk manis di hadapanku. Mungkin ini
yang dinamakan belahan jiwa. Satu memanggil dan yang satu lagi datang
menghampiri. Satu lemah dan yang satu lagi datang menguatkan Ah! Entahlah.
“Kenapa?
Masih memikirkan masalah itu, Fa?”
Aku hanya mengangguk perlahan tak
bergairah. Ia menatapku dalam dan menggenggam jemariku. Kehangatan jemarinya
terasa menghangatkan jiwaku.
“Meninggalkan
karir dan fokus dalam rumah tangga adalah pilihan yang sangat tepat. Namun,
tetap berkarir dan tetap telaten mengurus rumah tangga adalah sebuah tantangan.
Apapun yang kau pilih, kau harus ingat bahwa aku selalu mendukung pilihanmu,”
“Saat
ini, aku memilih pilihan kedua, Mas,”
“I
knew it. Aku sudah menebaknya. Kau memang perempuan yang suka dengan
tantangan. That’s a reason why I fall in love with you,” Kata-katanya
membuatku tersipu malu.
“Namun,
bagaimana jika aku gagal?” Tanyaku mulai ragu. Bagaimanapun mengurus rumah
tangga itu berbeda dengan mengurus perusahaan. Perusahaan hanya kutangani dari
pagi sampai sore saja, sedangkan rumah tangga harus kutangani di setiap detak
jantung dan setiap hembusan nafasku.
“Kau
masih punya aku, Fa. Toh, seharusnya rumah tangga itu diurus oleh kedua belah
pihak kan? Hanya mindset dan ego saja yang menciptakan peraturan baru
bahwa perempuan harus mengurus rumah tangga sepenuhnya. Kau tidak sendirian,
Fa. Ada aku di sampingmu saat ini dan selamanya. Promise,”
Apapun pilihanmu,
belajarlah setinggi-tingginya. Karena kau adalah calon ibu
Label:
buah pikiran
Saturday, 19 January 2013
Dalam Diam Papa
Saat mendengar kata "Papa", yang kuingat adalah sosok lelaki pendiam tanpa banyak kata. Namun terlihat jelas bahwa di balik diamnya, ia berkata bahwa ia mencintai dan menyayangi kita sepenuh hatinya. Diam-diam, ia memperhatikan dan mengamati segala tingkah laku kita, segala sesuatu yang kita sukai, bahkan segala sesuatu yang kita benci.
Dalam diamnya, ia selalu berdoa agar setiap langkah anak gadis tercintanya selalu dilindungi Yang Maha Kuasa. Dalam diamnya, ia mengkhawatirkan putri kecilnya yang telah beranjak dewasa lalu pergi merantau untuk sekedar menuntut ilmu. Dalam diamnya, terbersit sedikit rasa cemburu saat anak gadisnya mulai masuk ke dalam sebuah ikatan cinta. Dalam diamnya, ia menangis dan berusaha rela melepaskan putrinya kepada seorang pemuda. Dalam diamnya, ia meletakkan kepercayaan pada pemuda itu untuk menjaga putri kecilnya yang telah dewasa. Dalam diamnya, sungguh tersirat beribu-ribu CINTA.
Papa, aku tak pernah melihatmu menangis sekalipun. Akankah kau menumpahkan air mata dari perasaan terpendammnu saat kau ucapkan ijab pernikahan putri tersayangmu ini? Papa, diammu adalah CINTA yang selalu kurasakan frekuensi dan intensitasnya. Papa, semoga Tuhan senantiasa memberikanmu kebahagian di dunia dan juga di akhirat kelak.
Label:
coretan tangan
Tuesday, 15 January 2013
Simply Writing
Ngomong-ngomong tentang menulis, semua orang pasti punya gaya menulis sendiri-sendiri even orang itu nggak pernah mem-publish tulisan-tulisannya menjadi sebuah buku. Sepengatahuan saya, ada sebagian orang yang menulis dengan menggunakan kata-kata yang tidak umum dan bahkan tidak diketahui artinya oleh orang-orang awam. Gaya tulisan seperti ini, biasanya banyak digunakan dalam karya ilmiah seperti skripsi, walau terkadang beberapa novel juga menggunakan gaya penulisan seperti ini. Bagi orang awam, membaca gaya penulisan ini pasti sangat membosankan. Baru baca depannya aja udah males untuk melanjutkan lagi. Namun, sebagian lagi ada sih yang tertarik dan penasaran sehingga mau bersusah payah mencari artinya. Gaya penulisan seperti ini menurut saya pribadi mungkin untuk menunjukkan bahwa penulis sangat expert di dalam pengetahuan tentang bidang yang ditulisnya itu.
Kalau gaya penulisan saya, mungkin lebih simple dan sederhana. Pendapat ini saya simpulkan dari beberapa teman yang membaca skripsi saya. Saya sih setuju saja. Endeed I love simply writing. Ini semata-mata karena saya ingin semua orang, yang awam dengan bidang yang saya tulis, dapat mengerti apa yang ingin saya sampaikan tanpa menggunakan istilah-istilah yang terlalu susah. Ya itulah saya, hanya ingin berbagi apa yang saya ketahui. Semoga jika ada kesempatan untuk menulis thesis, saya bisa berbagi lagi dengan gaya simply writing saya. I just wanna show you that I'am in love with Arabic language and it's literature. Dan saya ingin menujukkan how interesting Arabic kepada semua orang bahkan orang yang awam tentang Keusastraan Arab sekalipun. Semoga kesempatan itu terbuka lebar untuk saya dan untuk teman-teman para science's oasis seeker.
Label:
buah pikiran
Saturday, 12 January 2013
Secarik Masa Lalu
Delapan tahun tampaknya merubah seluruh tatanan kampus ini dengan signifikan, kecuali gerbang
depan kampus yang menjadi favoritku. Dari tempat itu, gunung Merapi terlihat
sejajar dengan gedung auditorium kampus. Jika beruntung, kita bisa melihat
gunung itu berwarna biru diselumuti awan yang mengelilinginya. Sore itu,
gunung Merapi terlihat megah berdiri kokoh di belakang auditorium kampus.
Guratan awan putih berbaris mengelilingi merapi membuatnya seakan sedang
mengucapkan selamat sore kepadaku.
“Udah
lama sampainya?”
Tanpa kusadari, Erland telah duduk manis di
sebelahku. Ia menyodorkan satu cup jus pisang ke hadapanku. Aku mengambilnya ragu-ragu. Delapan tahun boleh saja
telah berlalu, namun kenangan tentang segala sesuatu yang kusukai masih
diingatnya. Bukannya senang karena dia masih mengingat semua hal yang kusukai,
aku malah kesal setengah mati. Dulu di saat aku mengharapkan cintanya, ia
malah pergi menghilang tanpa kabar. Dan kini, di saat luka yang ditorehkannya
di hatiku sudah sembuh, tiba-tiba ia datang lagi mengisi kehidupanku. Dan saat
ini, aku sudah punya seorang Arun yang mencintaiku dengan tulus dan pastinya
tidak pernah memberikanku harapan palsu.
“Ada apa lagi, Land?”
“Aku hanya ingin
mengatakan bahwa aku bahagia bertemu denganmu lagi,”
“Terima kasih,”
“Dari dulu hingga
sekarang, tak ada yang berubah. Aku masih mencintaimu, Vanti…,”
“….”
Kata-kata yang
diucapkannya benar-benar membuatku marah. Jika memang ia mencintaiku, kenapa ia
meninggalkanku tanpa kepastian? Dan kini di saat aku melupakannya dan menemukan
cinta baru yang menjanjikan hal yang pasti, ia kembali datang tanpa rasa
bersalah di hati.
“Kau bilang kau
mencintaiku dari dulu hingga kini? Lantas mengapa kau tinggalkan aku pergi
tanpa sebuah kepastian, Land?” Aku memuntahkan tumpukan morfem yang sudah
teramat lama kupendam dalam pikiran.
“Karena… aku…,”
---Bersambung---
Label:
berbagi
Friday, 11 January 2013
Busy January
Tahun baru, kesibukan baru. Kembali seperti semula. Aku mengisi hari-hariku lagi dengan berbagai kesibukan. Walau aku pecinta kamar dan nggak suka jalan-jalan, tapi aku nggak betah juga kalau nggak mengerjakan apapun. Dan Januari 2013 ini, aku mulai lagi. Alhamdulillah, nggak nganggur-nganggur amat setelah tamat. Sekarang aku menyibukkan diri mengurus lapak sweet corn bersama anak-anak Parapluie. Dan ini adalah pekerjaan yang paling berat menurutku. Waktuku banyak tersita di sini. Kadang, aku harus mengalah dan mengesampingkan egoku plus harus bersabar. Tapi, itulah jalan menuju kesuksesan. Penuh halangan dan rintangan, tapi selalu berakhir dengan manis. Aku percaya Tuhan selalu memperhatikan hamba-Nya yang berusaha keras.
Selain mengurus lapak, aku juga mengajar privat. Itung-itung ngumpulin duit buat bayar kosan tahun depan biar pengeluaran orang tua lumayan berkurang. Kali ini, aku ngajar seorang anak keturunan Tiong Hoa. Namanya Kalvin. Anaknya rajin dan juga pintar. Jadi, nggak terlalu susah untuk mengajarinya walau dia juga sedikit usil. Yah... namanya juga anak-anak. Hehehehehe. Aku juga senang karena Kalvin dan keluarganya tidak keberatan jika aku memulai mengajar privat setelah shalat magrib. Senangnya mereka bisa pengertian seperti itu. Tidak seperti cerita-cerita yang pernah kudengar.
Saat ini pun les bahasa Inggris pun aku jejali. Jadilah aku sibuk setiap hari. Rasa-rasanya tiap hari aku lari marathon. Pagi sampai sore jaga lapak, terus les bahasa Inggris, terus ngajar privat. Tapi ada sedihnya juga sih karena waktu menulis jadi tersita. Baru mau mulai nulis, eh udah keburu ngantuk. Padahal menulis itu adalah obat mujarab penghilang stresku. Semoga weekend---yang sengaja kubuat menjadi hari libur nasionalku--- bisa aku pergunakan untuk menulis. Semangatku harus terus berkobar, menyala-nyala, menari-nari, berwarna-warni, dan meletup-letup bak kembang api di malam tahun baru lalu.
Label:
curcol
Monday, 7 January 2013
Jogja, Buku, Korean Wave
Saya memang jatuh cinta pada kota kecil ini. Kota ini unik dan khas. Banyak sekali alasan mengapa saya sangat menyukai kota ini. Alasan pertama dan tak dipungkiri lagi bahwa kota ini adalah kota budaya atau kota seni tempat dimana para seniman bebas berekspresi. Lihat saja di jalan Malioboro sana! Dari grup musik tradisional sampai grup tari "ngamen" di pinggiran jalan sepanjang Malioboro sampai nol kilometer kota, bahkan di alun-alunnya juga. Mereka mengekspresikan jiwa mereka tanpa jadi bahan ketawaan orang-orang yang berlalu lalang. Orang-orang yang melihat mereka kebanyakan malah antusias dan mengapresiasi mereka. Kalau di kota asal saya, mungkin para seniman itu sudah diteriaki "orang gila" kali ya. Alasan lain, mungkin di kota ini adalah kota tempat dimana pertama kali saya jatuh cinta, sakit menahan perasaan, dan sakit ditinggal tanpa kepastian. Tapi itu hanya cerita lalu yang cukup dikenang dan ditertawakan. Hadeuh jika dipikir-pikir, kok bisa ya saya suka sama orang itu?? Alasan selanjutnya, masyarakat di sini sangat menghormati mahasiswa atau mantan mahasiswa yang memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha. Hal ini bertentangan sekali dengan masyarakat di daerah asal saya. Lantas tidak salahkan kalau saya mencintai kota ini?
Satu lagi yang saya sukai dari kota ini; Kota ini adalah surganya para pecinta buku. Kalau di daerah asal saya, hanya ada satu toko buku. Itu pun bukunya mahal-mahal dan toko bukunya tidak se-cozy di sini. Kalau di kota ini, Banyak sekali tersedia toko buku murah. Kualitas bagus alias bukan buku bajakan, harganya juga terjangkau. Toko bukunya pun ditata se-cozy mungkin untuk membuat para pengunjung nyaman dan merasa seperti sedang di rumah sendiri. Tapi, ada yang sangat saya sayangkan dari produk buku akhir-akhir ini. Dunia perbukuan Indonesia tampaknya juga dilanda Korean Wave. Dimana-mana buku tentang boyband atau girlband Korea bertaburan. Okeh! Untuk yang satu ini saya masih bisa menerima. Tapi, parahnya buku-buku novel sekarang banyak banget yang Korea-korean dan terkesan "maksa". Kayaknya hampir di seluruh display toko buku banyak banget novel-novel dengan cover berbau Korea-korean plus huruf Hangeul-nya ---yang sekali lagi terkesan "maksa" itu. Korean Wave---dan wave-wave yang lain--- boleh saja melanda Indonesia, tapi jangan melanda perbukuan Indonesia juga. Kalau Korean Wave melanda musik, film, dan fashion masyarakat kita, ya sudahlah diikhlaskan saja, karena kebanyakan masyarakat memang lebih banyak menyukai musik, film, dan fashion ketimbang buku. Jadi, jika buku juga ketularan Korean Wave, lantas apa yang tersisa? Benar-benar miris melihat fenomena ini. Bukannya saya anti sama sesuatu yang berbau-bau Korea, ---yang saat ini sedang mewabah di masyarakat---. Saya juga punya buku yang berbau kesusastraan Korea dan saya juga menyukai buku Summer in Seoul-nya Ilana Tan karena isinya bagus, cover-nya nggak "maksa", dan pastinya terbit sebelum Korean Wave melanda. Menuru saya, kita boleh saja suka ---hitung-hitung mengapresiasi budaya negara tetangga---, asal jangan latah sehingga mengakibatkan semua lini kehidupan ini berganti dengan fenomena Korean Wave.
Label:
buah pikiran
Monday, 31 December 2012
Pergantian Tahun
Beberapa jam lagi tahun baru datang. Di luar jendela sana, euforia penyambutan tahun baru telah menggema. Hujan memang turun, namun tampaknya masyarakat tetap berbondong-bondong menuju titik-titik keramaian yang akan menyajikkan macam-macam kegiatan untuk mengisi euforia menjelang pergantian tahun. Aku? Aku masih seperti tahun-tahun yang lalu. Rasanya tidak ada yang spesial dalam setiap event pergantian tahun sama dengan tahun-tahun yang lalu. Tidak ada euforia, yang ada hanya untaian doa untuk mengharap masa depan yang lebih cemerlang.
Dan tahun 2013 ini adalah tahun perjuangan hidup perdanaku. Benar-benar perjuangan untuk mencoba menjalani hidup tanpa meminta pasokan lagi dari orang tua. Hanya usaha dan doa yang akan kulantunkan. Semoga Tuhan mendengar doaku dan melihat usahaku. Ini langkah baruku di tahun baru yang akan datang beberapa jam lagi. Banyak harapan di sana; semoga semua usaha yang aku dan teman-teman rintis kelak akan sukses, semoga keluarga yang kucintai selalu diberi kebahagian di dunia dan akhirat serta selalu dimudahkan rezkinya, semoga ada jalan untuk menjadi seorang pengajar, semoga tahun ini aku bisa melanjutkan studiku dan meneliti puisi-puisi Qabbany lagi. Aku harus bekerja keras dan harus selalu ingat bahwa aku memiliki-Nya, Dia yang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Finally, I'am thingking about my future man who will spend his lifetime loving me. This is my secret wish in this new year.
Wednesday, 26 December 2012
English Vinglish: Kekuatan Hati Wanita
English Vinglish adalah sebuah film India tentang seorang ibu rumah tangga bernama Shasi. Untuk mengisi waktu luangnya, ia membuat laddo dan menjualnya. Dia adalah tipe wanita konservatif yang masih mengikuti norma yang berlaku dalam masyarakat di lingkungannya sehingga dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurus suami dan kedua anak-anaknya. Namun, karena dia tidak bisa berbahasa Inggris, ia sering diejek oleh suaminya, Satish, dan anak perempuannya, Sapna. Malah anak perempuannya sampai malu memperkenalkannya kepada guru-guru di sekolah akibat keterbatasannya.
Suatu hari, keluarganya diundang oleh Manu, adik Shasi, untuk menghadiri acara pernikahan anaknya di New York. Satish memintanya untuk pergi duluan agar bisa membantu Manu. Diam-diam, Shasi mendaftar kursus kelas percakapan bahasa Inggris dalam 4 minggu. Di sana ia bertemu dengan teman-teman baru dan semuanya tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka adalah seorang supir taksi bernama Salman Khan dari Pakistan, Eva seorang nanny dari Meksiko, Yu Son seorang penata rambut dari China, Rama seorang engineer dari India, Udumke dari Afrika, dan Laurent seorang koki dari Prancis. Kelas itu sangat mengasyikkan dan Sashi menikmati hari-harinya belajar bahasa Inggris. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang baik dan supel sehingga teman-temannya menyukainya. Karena kepribadiannya itu, Laurent tertarik padanya. Laurent sangat berbeda dengan suaminya yang selalu mengolok-olok bahwa dia terlahir untuk mengurus rumah tangga dan membuat laddo. Laurent sangat menghargai apa yang dikerjakan Shashi. Suatu hari, Laurent mengungkapkan perasaannya pada Shasi. Namun, Shasi masih setia dengan suami dan keluarganya.
Suatu hari, suami dan anak-anaknya datang dan ia otomatis sibuk mengurus keluarganya dan mengurus persiapan pernikahan sehingga ia tidak bisa masuk kelas bahasa Inggris itu lagi. Dengan bantuan keponakannya, Radha, ia tetap dapat belajar via telepon selular. Karena tes bahasa Inggris bertepatan dengan hari pernikahan keponakannya, Radha mengundang guru dan teman-teman bahasa Inggris Shasi. Ia kaget dengan kehadiran teman-temannya itu. Lalu ia memperkenalkan teman-temannya kepada Satish. Satish tidak menyangka bahwa istrinya punya banyak teman di New York. Saat perayaan pernikahan itu, Shasi mencoba memberi sambutan dan pesan untuk kedua mempelai dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia menghatakan bahwa memiliki sebuah keluarga adalah hal yang terindah dalam pernikahan. Family is only one who will never laugh at your weakness. Family is only place will you always get love and respect. Kata-katanya ini, membuat anak perempuan dan suaminya sadar dengan yang mereka lakukan terhadap Shasi.
Dari film ini, kita bisa tahu bahwa itulah kekuatan hati seorang wanita. Walau ia disakiti oleh keluarganya, ia akan tetap setia mendampingi suaminya dan merawat anak-anaknya dengan segenap kasih sayang yang dimilikinya. Wanita bukan dilahirkan untuk membuat laddo atau sejenisnya. Wanita juga setara dengan pria. Wanita harus belajar setinggi-tingginya tak peduli apa pilihannya nanti. Berkarirkah atau hanya menjadi ibu rumah tangga. Wanita tetap harus pintar karena ia akan menjadi seorang ibu. And... I proud of being a woman.
Label:
berbagi
Monday, 3 December 2012
Almost 25
Kembali membuka lembaran album foto dan menemukan banyak kenangan lampau masa lalu. Mulai sejak aku masih dalam gendongan papa dan mama, bahkan paman dan bibi yang turut serta merawat dan membesarkanku. Tak lupa pula mbah kakung dan mbah putri yang dengan penuh kasih juga turut serta merawat diri ini. Betapa aku sangat disayangi oleh mereka.
Kubuka lagi lembaran selanjutnya. Kutemui potret-potret saat aku duduk di taman kanak-kanak. Akhirnya aku merasakan dengan jelas hidup bersama papa dan mama. Masa taman kanak-kanak adalah sebuah masa yang menyenangkan. Namanya juga masih anak-anak yang lagi menggemaskan dan lucu-lucunya. Saat itu, aku adalah pribadi yang ceria, aktif, dan kreatif. Memang sih, dalam soal akademik, aku agak lamban. Haha, honestly aku baru bisa baca waktu duduk di kelas satu SD. Tapi itulah aku yang (insyaallah) mampu mengejar ketinggalan. (Hal ini pun terjadi saat masuk pesantren). Kembali ke cerita semula. Saat itu, aku senang sekali ikut berbagai macam lomba, seperti lomba mewarnai, menggambar, menyanyi, dan juga lomba fashion show (teman-temanku tak ada yang percaya kalo aku suka ikut lomba fashion show waktu kecil). Nggak semua lomba aku menangi sih, tapi nggak sedikit juga yang aku menangkan (Sayang piala-pialanya hancur akibat gempa 30 September 2009). Aku juga sudah mandiri. Lihat saja! Dulu aku pernah jadi anak daro ketek (semacam little bridemaid) pernikahan rekan mama yang menikah di luar kota Padang. Walhasil, aku ikut pergi tanpa didampingi orangtua. Belum lagi tentang liburan dadakanku ke Palembang bersama Om Eri dan Tante Ema saat idul fitri ketika aku berumur 3,5 tahun. Aku pergi ke Palembang tanpa orangtua juga. Mama dan Papa sempat khawatir. Namun, aku selalu enjoy. Malah saat mama telepon, aku katakan bahwa aku sekarang bisa cebok sendiri. Aku mengatakan itu dengan sangat bangga.
Kubuka lagi lembar berikutnya. Kulirik potret-potret yang berbaris rapi. Itu potret-potret saat aku mulai duduk di bangku SD. Yippi. Akhirnya aku bisa membaca. Saking senangnya karena bisa membaca, aku selalu membaca papan iklan, papan petunjuk jalan, bahkan papan nama yayasan yang bertebaran di pinggiran jalan. Keranjingan membaca sepertinya masih terpatri hingga sekarang (melirik rak buku yang sudah sumpek karena kebanyakan buku). Masa SD juga masa menyenangkan. Aku nggak suka pelajaran Matematika, tapi aku suka bahasa Inggris. Waktu SD, aku sesekali masih ikut lomba nyanyi, paduan suara, dan menggambar. Trus, aku tertarik dengan puisi dan beberapa kali membaca puisi di depan kelas adan saat perpisahan kakak-kakak kelas 6. Nah! Di masa ini juga aku memutuskan memakai jilbab pertamaku tanpa paksaan dari mama dan papa (aku lebih dulu pake jilbab daripada mama). Dan di kelas 6, aku memutuskan untuk masuk pesantren.
Masa-masa di pesantren itulah yang sangat menyenangkan dan membekas dalam benakku. Cerita tentang pesantren dan kehidupannya, tak kan muat deh kalau ditulis semuanya dalam postingan kali ini. Intinya, hidup di pesantren selama 6 tahun itu penuh dengan suka dan duka. Memang sih, lebih banyak dukanya. Namun, marilah kita lihat duka tersebut dari segi positif. Insyaallah... kita akan menemukan sesuatu bermanfaat yang akan berguna bagi kehidupan kita di luar pesantren kelak. Pengen sih berbagi tentang ini. Mungkin suatu hari kelak ya nama saya bisa sejajar dengan Bang Fuadi. Hehehe. Amin.
Selanjutnya yang nggak kalah menarik adalah masa kuliah. Setelah keluar pesantren, rasanya gamang banget menghadapi kehidupan di luar tembok pesantren. Pasalnya aku nggak terlalu paham dengan sistem pendidikan non pesantren yang terkesan angker. Di pesantren dulu, tidak ada yang namanya penjurusan IPA, IPS, atau bahasa. Semua dipelajari keculi pelajaran ekonomi. Hehe. Saat itu, aku sempat mengatur list mau melanjutkan di universitas mana dengan menempuh ujian apa. List pertamaku adalah ikut UM UGM. Dan list itulah yang mengantarkanku ke UGM. Soal jurusan, aku nggak muluk-muluk. Aku memilih apa yang aku inginkan. Seperti biasa, mama dan papa tidak pernah memaksakan pilihan mereka. Aku bebas memilih. Aku suka mempelajari bahasa, karena itu aku pilih jurusan sastra. Dan... Aku bangga menjadi bagian dari Sastra Asia Barat UGM.
Kini, masa kuliah strata 1 telah usai. Penyusunan listku juga selesai. Namun, banyak kebimbangan dan keraguan yang menghalangi. Rasanya, aku masih ingin kembali belajar dan berkutat dengan teori-teori sastra serta berencana meneliti puisi Qabbani lagi. Namun, kendala biaya dan umur bergentayangan menakut-nakutiku bagai hantu. (Well, aku sedang berusaha untuk mengejar beasiswa). Tapi kalo soal umur... itu masalah yang belum terpecahkan. Hahahaha. Ngakak menutupi kemirisan. Cita-citaku sih nggak muluk-muluk karena aku nggak terlalu tertarik untuk kerja di perusahaan atau di kedutaan. Aku hanya pengen mnegajar dan berwirausaha. That's it!. Fiuhh. Semoga Tuhan mendengar doa-doaku dan kini sedang Dia mempersiapkan kejutan manis untukku. Yang terpenting aku harus tetap berusaha dan berdoa.
Btw. Almost 25. Dan ada rasa malu juga karena belum bisa memberikan apapun untuk keluarga tercinta. Sedih, tapi harus tetap semangat berusaha dan berdoa. Harus percaya diri dan nggak boleh putus asa.
Label:
curcol
Monday, 26 November 2012
Pulang
Senja di Yogyakarta memang selalu memesona. Selalu mampu membuatku berada dalam dilema. Berat rasanya pergi meninggalkan kota ini. Namun, aku harus pulang untuk mengabdikan diri kepada keluarga tersayang. Kapan lagi aku akan hidup bersama mereka? Selama ini, aku selalu pergi menjauh dari rumah. Bukan karena kesengajaan, namun karena nasib yang menerbangkan. Ada kecemasan akan meninggalkan kota ini. Namun ada juga ketakutan bahwa aku tak kan pernah punya waktu untuk mengabdi kepada mereka, keluargaku tersayang. Aku harus pulang. Setidak untuk beberapa saat karena kurasa, aku tak mampu jua meninggalkan kota ini.
Label:
curcol
Sunday, 25 November 2012
Ragu
Apa betul aku punya bakat menulis? Kata dosen pembimbing skripsiku, aku berbakat untuk menulis dan beliau memintaku untuk terus berlatih menulis dan menulis kemudian memintaku menulis sebuah karya ilmiah di blog. Kata-kata beliau masih terngiang-ngiang dalam benak. Tapi, aku masih saja meragu. Permintaan beliau untuk menulis lagi pun belum kulakukan sama sekali. Dalam lubuk hati, aku memang ingin menulis, tapi ya tulisanku hanya seperti ini. Sederhana dan tampaknya kurang berbobot. Hehehe... Aku pribadi sih senang-senang aja nulis. Karena dengan menulis, aku bisa menciptakan dunia yang kuinginkan sesuka hati. Aku adalah penguasa dalam dunia imajinasi sendiri. Tapi... ya tulisan-tulisan itu hanya kukonsumsi sendiri tanpa pernah kubagi atau kupublikasi. Tapi, suatu hari ingin juga sih karya tulisanku dikenal khalayak ramai. Bisakah aku? Masih meragu....
Label:
curcol
Friday, 23 November 2012
Dicintai
Kota ini tampaknya masih berteman dengan hujan. Lihat saja di luar sana hujan masih menyisakan tetesan demi tetesan menciptakan genangan air di permukaan jalan. Senyumku tiba-tiba mengembang. Kilas balik masa lampau berputar-putar mengambang. Aku ingat jika dulu aku pernah melakukan suatu kebodohan besar. Kebodohanku adalah pernah memendam rasa cinta untuknya. Tiap hari tak henti-hentinya aku memikirkannya. Aku berharap dia punya rasa yang sama denganku. Namun aku salah. Dia hanya angin yang datang sesaat. Dia memberikan aku rasa sejuk dan nyaman. Lalu dia tinggalkan aku sendirian tanpa kepastian. Di benakku, cinta tak lagi indah. Cinta tak lagi membahagiakan. Cinta hanya penderitaan dan kesia-siaan, Entah sudah berapa lama aku tak bersahabat dengan cinta lagi. Aku tak berpikir untuk mencintai sekali lagi. Aku hanya ingin dicintai agar hati ini tidak tersakiti.
Berharap suatu saat semua kembali normal; aku tak takut lagi untuk mencintai
Label:
curcol
Thursday, 22 November 2012
The End of The Beginning
Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya. (Sate Padang, 17 Juli 2012)
Label:
berbagi
Friday, 16 November 2012
Sisa Memori Tentangmu
Aku terduduk dalam kamarku yang hening bebas dari bising. Dari jendela kamar kulihat titik-titik hujan masih berjatuhan menerpa jalanan. Hujan dan hening. Kedua hal itu sukses mengingatkanku kembali pada dirimu yang pernah mengisi hari-hari dengan kecerian, yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan, yang menorehkan luka hati yang dalam, yang membuat hati ini tertutup rapat untuk cinta lain yang ditawarkan.
Aku masih ingat bagaimana awal kita jumpa kemudian melalui hari-hari bersama. Aku masih merasakan kecerian itu. Tawa kita. Canda kita. Dan juga amarah kita. Awalnya biasa saja. Aku tak pernah merasakan apa-apa. Kau hanya teman atau setidaknya kuanggap kau kakak laki-laki semata. Namun, rasa itu menelusup begitu saja dalam kalbu. Tiba-tiba... aku menginginkanmu lebih dari sekedar teman. Namun apalah daya? Aku hanya seorang wanita yang terlahir dalam budaya timur yang para wanitanya diharuskan malu-malu mengungkapkan rasa cinta duluan. Aku hanya memendam rasa itu jauh di lubuk hatiku. Tak ada yang tahu kecuali aku dan Dia. Kau tahu? Tiap malam aku selalu menitikkan air mataku mengadu pada-Nya bahwa aku tak sanggup menanggung beban ini. Aku menunggu dan terus menunggu. Namun, pada akhirnya kau sirna tanpa kabar berita.
Aku salah dan terlalu banyak berharap. Kau tak punya rasa yang sama dengan yang kurasakan. Namun... salahkah aku memaknai kebersamaan? Salahkah aku menafsirkan semua perhatian? Memang mungkin aku terlalu percaya diri dan yakin bahwa kau juga punya rasa itu padaku. Ah bodohnya aku yang pernah mencintaimu! Aku hanya bisa tertawa miris mengingatmu dan kenangan-kenangan yang kau bawa dalam hidupku.
Kau tahu? Aku telah mempersiapkan diri jika kau tinggalkan aku pergi. Aku sadar semua yang kulakukan pasti punya konsekuensi. Kau tahu? Aku sangat tegar saat kau hilang. Aku sangat tegar saat mendengar kau bersanding dengan seseorang. Aku turut bahagia dan mendoakanmu menjadi keluarga bahagia bersama dia. Kau memang bukan untukku. Bukan karena kau tidak baik. Namun, karena Tuhan Maha Tahu siapa yang terbaik untukku dan untukmu. Tuhan akhirnya telah menjawab semua doa-doa yang kupanjatkan di sepertiga malamku. Namun Dia belum memberitahuku siapa yang terbaik untukku. Mungkin Dia ingin memberi kejutan indah padaku suatu saat nanti.
Aku relakan dirimu. Namun apakah kau tahu? Kisah ini menorehkan satu hal dalam diriku. Aku belum mampu untuk jatuh hati lagi. Untuk apa jatuh hati lagi jika akhirnya akan tersakiti? Aku tertawa lagi. Miris kuadrat. Apakah mungkin cinta itu seperti undian dalam fish bowl? Tinggal kita aduk isi fish bowl itu dan ambil satu gulungan kertas di dalamnya. Lalu membuka nama yang tertera dan jegjengjengg.... orangnya langsung tersedia di samping kita tanpa perlu mencintainya terlebih dahulu. Lupakan! Itu hanya imajinasi liarku saja. Sekedar untuk menghibur diriku yang terdiam dalam keheningan malam. Sudahlah... ceracauku sudah semakin kacau tak menentu. Selama tinggal...
sepertinya aku harus mengembalikan selera membacaku ke genre novel misteri dan petualangan deh biar nggak galau kayak begini.
Label:
lega
Thursday, 15 November 2012
Jago Merah Malang
Selesai sesi pemotretan pre wedding eh... maksudnya pre graduation, aku memutuskan untuk langsung belanja kebutuhan sehari-hari. Berhubung udah sore dan motor mau dipinjem, aku memutuskan belanja kilat dan langsung ke kasir. Ketika giliranku bayar, tiba-tiba pengeras dari bagian informasi supermarket tersebut membahana. Begini bunyinya kira-kira:
"Selamat sore. Panggilan kepada pemilik motor Vario Merah....
aku: "Vario merahh? punyaku dong?!
"....... dengan nomor polisi BA 6959 AG ditunggu kedatangannya di area parkir supermarket. Terima kasih. Selamat sore,"
Aku langsung kaget setelah mendengar pengumuman lengkap itu. Aduh! Ada apalagi ini? Aku deg-degan berat. Perasaan motorku itu udah aku parkir di tempat yang benar. Dengan terburu-buru. Aku mengambil barang-barang belanjaanku dan segera kabur ke area parkir. Di dekat motorku, berdiri dua orang pemuda yang memberitahu bahwa motor mereka menabrak knalpot motorku hingga tutup knalpotnya lepas dengan sukses. Aku bingung, takut, sebel, marah, kesel. Argghhht!!!! Kenapa sih si Jago Merah kesayanganku itu selalu menjadi korban kebrutalan pengendara motor.
Dulu sebelum aku ujian pendadaran, si Jago Merah ditabrak dari samping sampe aku jatuh dan Jago Merah terluka. Pijakan kaki si jago Merah hancur dan bolong-bolong nggak karuan. Sekarang, kejadian lagi deh. Beberapa hari sebelum wisuda, si Jago Merah ditabrak lagi. Haduhhhh.... Kesel banget deh! Untungnya dua orang itu mau ganti. Berhubung udah sore dan bengkel udah pada tutup lapak. Akhirnya aku minta aja ketemuan langsung di bengkel sama kedua orang itu. Semoga mereka beneran mau ganti. Amin.
Label:
curcol
Tuesday, 13 November 2012
Tak Pernah Bersedih?
"Kamu kok sepertinya nggak pernah bersedih? Ceria melulu. Gak pernah punya masalah ya?"
Aku hanya tersenyum menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka bilang aku selalu ceria dan tak pernah punya masalah. Siapa bilang aku tak punya masalah? Kalau aku tak punya masalah, kenapa aku harus hidup? Hidup itu kan tak pernah luput dari masalah yang kadang bikin kita sakit hati, menangis, pengen marah, dan sedih. Aku sama dengan mereka. Aku juga punya sejuta masalah dan sejuta keluh kesah. Yang beda hanya keceriaan yang selalu terpancar walau aku ada dalam masalah.
Entah kenapa setiap ada masalah atau ingin berkeluh kesah, aku selalu teringat bahwa masih banyak orang-orang yang lebih menderita dan ditimpa masalah lebih banyak dbandingkan aku. Jadi kenapa aku harus bersedih? Toh masalah dan keluh kesah tak kan habis dengan hanya bersedih dan menagis. Tapi, aku juga bukan orang kuat, kadang aku juga menangis. Karena menangis terkadang dapat melegakan perasaan kita, tapi jangan terlalu ditangisi juga sih. Sekedarnya saja. Detik ini pun, aku sedang menangis menahan rasa sakit. Mungkin setelah puas menitikkan air mata, aku akan pulang ke kos, mandi, dan tidur berharap esok pagi rasa sakit ini pergi.
Label:
curcol
Friday, 9 November 2012
Mencintai Atau Dicintai?
Mencintai atau dicintai? Mana yang kau pilih? Kalau aku lebih memilih untuk dicintai ketimbang mencintai. Pilihan ini memang berdasarkan pengalaman masa silam. Mencintai itu adalah suatu hal yang menyakitkan apalagi untuk seorang perempuan yang tak bisa mengungkapkan rasa cinta yang dipendam. Bahkan emansipasi wanita yang saat ini sedang gencar sekalipun tak akan berlaku dalam hal ini. Untuk apa mencintai jika akhirnya menyakiti hati?
Label:
curcol
Friday, 2 November 2012
Friendshit
Bagiku, di dunia ini nggak ada yang namanya friendship, close friend, best firend, sahabat dekat, atau apalah itu istilahnya. Bagiku, teman ya teman saja. Sekedar berteman sajalah karena toh manusia nggak bakal bisa hidup sendirian di muka bumi. Temen itu emang selalu ada dalam suka dan duka, dalam sedih dan tawa. Tapi dengan satu catatan: kalo kita dan mereka masih berstatus jomblo. Kalo mereka udah bertemu dengan cinta mereka... ya siap-siap ikhlasin kepergian mereka dan siap-siap juga nerima mereka kembali ketika mereka sedang punya masalah dengan pasangan mereka. Saat masalah mereka selesai, ya ikhlasin lagi mereka kembali ke pasangan mereka dan begitu seterusnya. Toh itu adalah kehidupan baru mereka. Kita pun akan menemui kehidupan baru kita dan bertemu dengan teman-teman baru lagi. Intinya sih adalah ikhlas dan cari teman baru sebanyak-banyaknya. Nggak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanya individu yang berusaha menjadikan persahabatannya sempurna. Persahabatan itu bak pergantian musim yang sama-sama datang silih berganti.
Label:
curcol
Subscribe to:
Posts (Atom)












