Monday, 29 October 2012

Kata Kajol

If you are a women, then you are a mom type because every girl has this mom formula hidden in her as soon as she born. Career women, like you, forget this. But when the time comes, you will remember everything (We Are Family).

Itu kalimat yangaku kutip dari salah satu scene film We Are Family. Kalimat yang bagus dan ngena banget. Bener juga ya kalo naluri keibuan itu telah ada dalam diri seorang wanita semenjak ia lahir. Mungkin terkadang, ia lupa karena terlalu sibuk dengan dunia yang digelutinya. Namun, jika saatnya tiba,dia akan ingat semuanya. Indahnya menjadi seorang wanita. Aku bersyukur untuk itu.


Sunday, 28 October 2012

Hymne: Peraturan

Hari ini masih saja irama hymne "Oh Ponndokku" mengalus dari MP3 handphone. Beribcara tentang pondok, otomatis tak kan bisa lepas dari yang namanya peraturan. Aku jadi teringat dengan keponakan ibu kos yang membatalkan niatnya masuk pondok karena ada peraturan bahwa di pondok para santriwati tidak diperkenankan memakai handphone. 

Itu hanya sebagian peraturan, kawan. Peraturan memang sekilas tampaknya memberatkan, menyulitkan, dan mempersempit kebebasan kita. Namun, apa yang terjadi jika tak ada peraturan di muka bumi? Semua pasti akan menjadi kacau balau dan manusia tak kan ada yang menghormati, menghargai, dan tenggang rasa satu dengan yang lainnya. Peraturan itu untukkebaikan kita sendiri kok.

Aku pribadi menghargai peraturan pondok yang berlaku. Kadang menyebalkan sih, namun aku berusaha memandang peraturan dari sudut pandang berbeda. Aku mencoba berpikir positif pada setiap peraturan. Contohnya adalah peraturan penggunaan bahasa Arab dan Inggris. Bayangkan saja jika peraturan itu tidak ada! Pasti para santri tak akan pernah mempraktekkan bahasa yang dipeajari sehingga mereka tidak akan pernah berani berinteraksi dengan bahasa tersebut.

Peraturan lain misalnya adalah diarang menggunakan handphone. Zaman sekarang yang namanya handphone sudah merajalela di masyarakat kita. Tua muda, kaya miskin semuanya punya handphone. Bahkan anak TK nol kecil saja sudah dibelikan handphone canggih. Handphone itu bagai obat candu. Sekali melirik layarnya, maka kita akan lupa dengan dunia nyata di sekitar kita. Kita pasti akan berkutat dengan benda itu. Dan akhirnya kita malas melakukan hal-hal nyata karena hanya berkutat dengan handphone  di tangan. Bayangkan saja jika seluruh santri di paondok membawa handphone! Pasti mereka tidak akan pernah berinteraksi satu dengan yang lain. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka dan handphone mereka. Mereka mungkin lebih memilih bermain dengan benda itu ketimbang mengikuti kegiatan-kegiatan mengasyikkan yang disediakan seperti pramuka, pidato, olah raga, musik, dan organisasi lainnya. Kegiatan itu memang tampaknya sepele, namun sebenarnya sangat berarti di kemudian hari.

Aku sangat menghargai peraturan pondok walau terkadang tak jarang aku langgar. Namun, ada satu peraturan yang masih sulit aku terima, yaitu para santri tidak boleh membaca dan menulis karya sastra. Itu peraturan saat aku masih mondok dulu. Aku suka membaca novel ataupun kumpulan cerpen. saat kelas1 sampai kelas 3, kami masihdiperbolehkan membaca novel ataupun kumpulan cerpen asalkan bertema islami, seperti karya Asma Nadia, Ari Nur, Izzatul Jannah, dan Pipit Senja. Tak masalah, peraturan ini masih bisa ditolerir. Setelah naik ke kelas 4 (sederajat dengan 1 SMA), ada peraturan baru, yaitu tidak boleh membaca karya sastra walau bertema islami. Sedih sekali rasanya. Untungnya masih ada cerita bersambung yang berjudul "Ayat-Ayat Cinta" di koran Republika saat itu. Jadilah cerbung itu sesuatu yang selalu kami nantikan kehadirannya sebagai pelipur lara akibat tak bisa membaca karya sastra. 

Lain halnya dengan peraturan dilarang menulis. Saat itu, aku baru seorang calon santriwati. Seorang teman sekamarku gemar sekali menulis cerpen. Cerpen itu ditulis di sebuah buku tulis isi 40. Tiap hari, ketika waktu senggang, dia terus menulis. Tulisannya berkisar pada cerita cinta dan persahabatan anak ABG. sesuailah dengan umur kamisaat itu. Suatu sore, aku duduk di sebelahnya menemaninya menulis. Tiba-tiba, seorang ustadzah lewat dan merebut buku tulis itu. Temanku diam saja, termasuk juga aku. Aku hanya diam.Takut dan heran. 

Ah andaikan aku punya kekuatan... ingin rasanya aku menghilangkan dua peraturan itu. Tak masalah jika para santri gemar membaca karya sastra atau menulis. Mungkin saja, kelak mereka jadi penulis handal yang melahirkan tulisan-tulisan bagus dari pondok. Semoga saja, peraturan itu kini tak lagi ada. Semoga saja, novel karya A. Fuadi menginspirasi para santri dan para pengurusnya untuk menghapus peraturan itu. Amiin.
Aku merindukan pondokku....

Wednesday, 24 October 2012

Romantisme

Ini mungkin kali keseribunya aku menonton film Bollywood yang berjudul "Ghajini". Film ini rupanya memberi kesan tersendiri bagiku. Kesan tersebut kudapatkan dari dua karakter dalam film ini, yaitu Sanjay Singhania (Aamir Khan) dan Kalpana Shetty (Asin Thottumkal). Kesan itu berupa arti romantisme. Romantisme itu tidak hanya ditunjukkan dengan perhatian berlebihan dan kontak fisik saja. Romantisme itu  ya bisa ditunjukkan dengan saling menyemangati satu sama lain, saling menguatkan, saling menghormati, saling menghargai, dan saling memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Itulah romantisme, kawan.

Tuesday, 16 October 2012

Hymne: Tong Seng

Instrumen hymne "Oh Pondokku" masih mengalun syahdu mengingatkan aku dengan sesuatu. Aku teringat tong seng. Namun, tong seng ini bukan tong seng gulai khas Jawa itu. Tong seng ini nama suatu tempat di area tempatku mondok dulu. Tong seng ini adalah deretan kamar mandi panjang berdinding seng dan baknya dari tong. Maka, jadilah kami menyebutnya tong seng.

Walau sederhana dan bukan merupakan tempat terkenal, tong seng ini punya tempat khusus di hati. Bagaimana tidak? Tong Seng ini bisa dibilang saksi bisu yang menyaksikanku menangis untuk pertama kalinya karena pisah dari orangtua untuk mondok selama 6 tahun lamanya. 

Aku ingat benar hari itu. Saat banyangan mama sirna dari pandangan, aku langsung sedih ingin menangis. Aku langsung masuk kamar dan mengambil baju ganti, handuk, dan alat mandiku. Setelah itu, aku menuju tong seng, masuk ke dalamnya dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya. Selesai mandi di tong seng, hilang sudah rasa sedih itu. Kenapa harus sedih ya? Toh semua orang di sekitarku senasib denganku semua; sama-sama jauh dari orangtua.

Saturday, 13 October 2012

Baca Novel (Lagi)

Asyikkkk! Dua hari ini memang asoy geboy. Kembali ke rutinitas awal sebelum sibuk-sibuknya ngerjain skripsi, yaitu baca novel. Hehehe. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Seharian di dalam kamar meringkuk membaca banyak novel dan mengimajinasikan wajah tokoh dan latarnya dalam pikiran. Apalagi kalo hari hujan, semakin nikmatlah acara baca novelku itu. Hidupin kipas, selimutan, dan meringkuk membaca novel. Tampaknya aku memang merindukan kegiatan ini. Mungkin karena kegiatan ini pernah lama terhenti karena aku harus banyak baca buku teori penelitian sastra dan buku-buku acuan yang serius dan nggak bisa dibuat menghayal.

Dulu, aku seneng banget baca novel bertema cinta gitu. Kayaknya seru dan bikin haru. Tapi, semenjak kejadian 'cinta bertepuk sebelah tangan' itu, aku lebih memillih novel-novel misteri, petualangan, dan detektif, seperti The Lost Symbol, Sherlock Holmes, The Last Supper, dan The Grail Conspiracy. Rasanya seru aja mengimajinasikan petualangan-petualangan seru tersebut. Menjelajahi Gedung Capitol, White House, Baker Street, atau bahkan memikirkan keindahan kota Milan. Novel-novel bertema ini cocok banget untuk ngilangin galau akibat kasih tak sampai deh.

Akhir-akhir ini, aku malah tertarik baca novel yang bertema rumah tangga. Hehehehe. Mungkin emang saatnya aku ganti selera ya? Ya anggap aja untuk pelajaran di masa depanku kelak.Hehe. Salah satu, eh salah dua yang kusuka adalah Quarter Life Dilemma, C'est La Vie, Test Pack, dan Alpha Wife. Yang terbaru ya yang terakhir. Aku suka sama tema ceritanya yang mengusung tentang alphawife. Sekarang kan jaman tuh masalah alpha wife dalam rumah tangga. Aku kira, aku perlu sedikit tahu tentang masalah ini.

Friday, 12 October 2012

Asal Mula

Jika ditanya seberapa sukakah aku sama pilem Bollywood. Mungkin aku akan menjawab bahwa aku suka pilem Bollywood kayak mereka yang lagi kena deman Korean Wave gitu. Tapi bedanya, aku nggak bakal tereak-tereak kalo ketemu ama aktor atau artis favoritku (sadar umur).

Awalnya, dulu aku nggak suka pilem India. Pertamanya sih karena dilarang sama emak nonton pilem India soalnya adegannya "ngeri". Ya sudah, saya nggak pernah suka sama pilem India. Waktu masuk pesantren, ternyata lagu India adalah sesuatu yang wajib dalam acara-acara penting pesantren, sebut saja acara Apel Tahunan, Drama Arena, dan Panggung Gembira, semacam pentas seni gitulah kalo di SMP ato SMA. Apalagi teman-teman sekamar sering "mencekoki" aku dengan cerita-cerita pilem India. Mulai dari Kuch Kuch Hotahai, Mohabbatain, Khusi, Mann, dll deh. Namun, saat itu aku masih belum tertarik, aku cuma suka dengerin lagunya aja. Itupun karena sering diputar waktu latihan nari. 

Waktu semester 1, akhirnya aku nonton Kuch Kuch Hotahai. Itu pilem India pertama yang aku tonton (Halo??!! Kemana aja guweh? Baru nonton Kuch Kuch Hotahai waktu semester 1). Tapi, aku belon tertarik sama pilem India. Kok ceritanya gitu-gitu aja dan ada nyanyi-nyanyinya yang panjang plus bikin ngantuk. Akhirnya, aku memutuskan kalo aku nggak suka pilem India sampai bermunculanlah pilem India tahun 2000-an, kayak Slumdog Millionaire, My Name is Khan, dan 3 Idiots. Awalnya sih sempat underestimate sama pilem-pilem tersebut. Eh ternyata pilem-pilemnya bagus-bagus banget. Setelah nonton 3 pilem tersebut, akhirnya aku keranjingan cari info seputar pilem India tahun 2000-an. Ternyata bagus-bagus dan penuh dengan pesan. Oh ya. Pertama sih kurang suka sama adegan nyanyi dan narinya, tapi lama kelamaan, aku nikmati juga. Malah aku bela-belain download lagu-lagunya hehe. Pilem India tanpa adegan nyanyi dan nari kayakny sama dengan sayur tanpa garam ya.

So... bener juga kata orang, Don't Judge the book by it's cover.Hehe. Enjoy dan nikmati pilem India. Nggak bakal nyesel kok.

Thursday, 11 October 2012

Sekseehh

Akhirnya aku terbujuk dengan rayuan pulau kelapa, eh salah, maksudnya rayuan maut temenku untuk nonton     pilem di bioskop. Pertamanya sih, aku nggak pengen ikut, berhubung isi kantong menipis dan capek karena seharian nguruusin naskah skripsi. Tapi, dipikir-pikir, bolehlah sekali-sekali menghibur diri pergi nonton ke bioskop. Kali ini pilemnya dipilihin sama teman. Judulnya "Looper" (Bukan loper koran ya!). 

Ceritanya tentang pembunuh bayaran yang membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu dari masa depan. Pilemnya lumayan menegangkanlah walau agak harus mikir untuk mencerna ceritanya. Yang penting, kali ini aku nggak menyia-nyiakan dua puluh llima ribu untuk beli tiket. Pasalnya, dulu aku pernah trauma nonton pilem di bioskop. Udah bayar mahal-mahal, eh akunya malah tidur pulas. Ckckckckckck. Kalo mo tidur, ngapain di bioskop ya?Tapi yang paling berkesan ya itu, si Joseph Gordon Levitt yang menjadi peran utama. Dia seksi banget dengan potongan rambut kayak gitu. Dan satu lagi, bibirnya juga seksehhhh. Beuhhh. Ckckckcckckck.Semoga ada lanjutannya nih pilem. Rodo ngegantung sih. Tapi like this lah.


Wednesday, 10 October 2012

Pasti Ada Hikmah

"Abis lulus mau kemana, Shin?" Tanya Bu Mahmudah, dosenku, saat menemani beliau beli snack.
"Saya pengen lanjut S2, Bu" Kataku bersemangat. Aku memang pengen lanjut S2. Aku memang masih punya keinginan besar untuk mendalami sastra Arab. Aku masih ingin lagi meneliti karya sastra Arab dengan teori-teori  kritik sastra yang lebih tajam ketimbang yang aku dapatkan di S1. Rasanya  nama Nizar Qabbaniy masih mengelilingi otakku. Tanganku juga gatal untuk mencari-cari dan memborong karya-karyanya yang lain dan membacanya. Nanti aku ingin mengulas tentang Nizar Qabbaniy lagi dalam tesisku, mungkin dengan semiotik lagi atau teori kritik sastra yang lain, seperti kritik sastra feminis. Namun, aku sadar bahwa biaya S2 itu nggak murah. Sebentar lagi adekku juga masuk kuliah. Mama juga sedang S2. Papa? Aku sudah bertekad tidak akan memberatkan beliau.

"Bagus kalau kamu mau melanjutkan kuliah. Coba cari beasiswa. Tanya-tanya sama temanmu. Kemaren kan ada anak Sastra Arab yang dapat beasiswa unggulan," Suara Bu Mahmudah memecah lamunan.
"Iya, Bu" Kataku sambil mengangguk setengah hati teringat bahwa temenku yang dapat beasiswa itu agak terkenal pelit ilmu dan informasi, apalagi info beasiswa.

Beasiswa ya? Siapa yang gak pengen dapet beasiswa? Aku juga pengen dapet beasiswa seperti mereka. Aku juga nggak pengen kale ngeberatin beban orangtuaku yang harus ngeluarin banyak biaya. Tapi aku kepalang antipati sama yang namanya beasiswa. Beasiswa itu nggak jelas. Dulu ada penawaran beasiswa BOP intinya beasiswa itu ditujukan untuk mahasiswa yang IP-nya bisa dibilang gedelah. Dengan semangat 2012, aku ikut apply beasiswa itu dan sangat berharap banget karena saat itu, IP-ku lagi hot-hotnya, Lumayanlah ngalahin teman seangkatanku yang langganan IP tinggi. Namun, ternyata oh ternyata, aku nggak dapat beasiswa itu. Malah teman-temanku yang IP-nya di bawahku yang pada dapet. Haduhh. Makjleb rasanya hati ini!

Terus waktu biaya kuliah membengkak karena harus bayar uang KKN, aku juga ikut apply beasiswa lagi. Kalo dapet ya lumayanlah, beban orang tua bisa terkurangi. Ternyata sama saja. Hasilnya mengecewakan. Ini lebih parah! yang dapat malah kakak-kakak angkatan yang notabene cuma tinggal nyusun skripsi doank. Harusnya lebih baik beasiswa itu dialirkan kepada mahasiswa yang masih banyak menanggung beban SKS, dan saat itu plus beban biaya KKN.

Belon lagi beasiswa yang ditujukan untuk mahasiswa kurang mampu. Kayaknya beaasiswa itu perlu diperhatikan dan ditinjau ulang lagi deh. Harus jelas kategori "MISKIN" itu yang bagaimana. Apakah orang yang tiap hari pulang pergi pakai motor, bawa laptop, dan bisa liburan ke Malaisya dan Singapura itu bisa dikategorikan miskin?? Hal yang seperti ini banyak sekali terjadi. Harusnya calon penerima beasiswa ini   menjalani penghitungan kekayaan orangtua kayak calon presiden gitu biar jelas dan nggak ada yang terdzolimi. Kasihan kan sama yang benar-benar membutuhkan beasiswa itu, malah nggak dapat.

Sempat ada kekhawatiran kalo seandainya nanti aku apply beasiswa lagi lalu ternyata hasilnya mengecewakan lagi. Mungkin aja kategori calon penerima beasiswa S2 itu nggak jelas lagi kayak beasiswa yang sudah-sudah itu."Astagfirullah. Ampuni Aku Tuhan. Tersadar, aku berburuk sangka lagi kepada-Mu." 

Semoga ada hikmah di balik semua susah. Aku yakin Tuhan menyiapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih menyenangkan daripada beasiswa yang dulu-dulu itu, asal aku selalu usaha dan selalu mengiringi usaha tersebut dengan doa. Where there is a will, there is a way. Aku harus tetap semangatdan yakin bahwa aku bisa lanjut kuliah. Semangat! Semangat! (sambil ngepalin tinju kanan ke udara)

Sunday, 7 October 2012

Beda

Mengapa perbedaan selalu menjadi perselisihan?
Mengapa perbedaan menciptakan kebencian?
Apakah ada yang salah dengan perbedaan?

Mengapa kau dan aku tak bisa bersatu
hanya karena kita berbeda suku?
Omong kosong apa itu?

Tak ada suku yang lebih baik
Semua sama rata, sama baik
Harusnya perbedaan itu untuk saling melengkapi
Bukan untuk saling memusuhi
apalagi mencaci maki.

Thursday, 4 October 2012

Rumah Puisi


Nanti, kau tak perlu mengajakku berbulan madu ke Bali

apalagi ke Pantai Senggigi
Cukup ajaklah aku ke Rumah Puisi
di antara kaki-kaki Gunung Singgalang dan Merapi
di antara Padang Panjang dan Bukittinggi

Lebaran kemaren, aku dan keluarga sempet pulang kampung ke Lintau Buo. Waktu berada di antara daerahPadang Panjang dan Bukittinggi, gak sengaja aku liat papan besar bertuliskan Rumah Puisi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jatuh cinta sama puisi. Hmm mungkin karena skripsiku kali ya. Hehehe. Namun sayang beribu sayang, keluargaku nggak ada yang mau singgah ke sana. Soalnya yang jatuh cinta sama puisi kayaknya cuma aku deh. Ya sudahlah, perjalanan tetap dilanjutkan ke Bukittinggi. Sebenarnya aku berharap banget bisa ke sana, tapi aku kan jarang pulang ke Padang. Hadeuh. Semoga suatu hari nanti, ada yang ngajak ke sana.

sumber poto: google ya (belum sempat jepret sendiri)




Monday, 1 October 2012

METAMORFOSIS



Udah lama ya ternyata aku gak nulis cerita-cerita ringan lagi. Hehe. Mungkin akibat kejar tayang skripsi nih. Finally hari ini, aku mencoba menulis cerita-cerita ringan lagi. Dibuat sendiri dan untuk konsumsi pribadi (gak pede publish sih tepatnya hehe). Susah juga ya kalo udah lama nggak nulis cerita ringan dan sekarang tiba-tiba nulis yang beginian lagi. Biasanya berkutat dengan skripsi yang memakai bahasa resmi dan EYD yang forrmal dan bukan hasil ngayal. Cekidot dikit ah di blog hehe.

***********

Kulihat langit masih mendung dan titiktitik hujan membasahi jendela kaca itu.Tampaknya hari ini aku tak ingin membaca novel misteri yang barusan kuambil dari rak baca. Aku malah menatap titik-titik hujan yang menempel di jendela. Pikiranku melayang jauh ke rumahku di kampung. Tiba-tiba aku teringat dengan wajah Bapak dan Ibu yang sangat menginginkanku untuk segera menikah.

“Nduk, kapan kamu mau ngenalin calon suami kamu ke Ibu dan Bapak?” Kata ibu sambil mengelus rambutku sayang.
“Saya belum kepikiran ke sana, Bu. Saya masih fokus menuntut ilmu” Kataku lirih.

Ibu hanya menghela nafas prihatin mendengar jawabanku. Sebenarnya aku juga ingin mengabulkan keinginan bapak dan ibu untuk segera menikah. Namun, masa lalu membuatku beranggapan bahwa semua laki-laki di bumi ini sama saja. Mereka hanya menginginkan kecantikan.
 “Hei! Ngelamun aja, Rei”
Suara itu menyadarkanku dari lamunan panjangku. Lul berdiri di hadapanku sambil tersenyum lebar. Dia segera meletakkan dua cangkir coklat hangat di atas meja dan duduk di hadapanku sambil mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas ransel.
“Rei. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Lul. Sungguh”
“Tidak mungkin Rei. Kau tak kan pernah bisa membohongiku,”
“Lul. Adakah cinta yang benar-benar tulus di muka bumi ini?Aku tak pernah melihatnya”
“Pasti ada. Kau saja yang belum menemukannya”
“Namun, mengapa para lelaki hanya mencari kecantikan saja? Percayalah... ketika kecantikan itu hilang, mereka pasti akan menghilang juga,”
“Siapa bilang?”
“Aku yang bilang. Dulu saat aku masih seperti seekor anak itik buruk rupa, mereka menghina dan menjauhiku. Namun kini ketika aku bermetamorfosis menjadi seperti angsa yang cantik, mereka semua datang menghampiriku dan menginginkanku,”

Lul hanya tersenyum mendegar opiniku yang sarkas tentang kaumnya. Beberapa saat kemudian, dia melirik jam tangannya lalu menepuk jidatnya. Tampaknya dia melupakan sesuatu atau melupakan janji bertemu dengan seseorang. Buru-buru Lul mengambil buku-bukunya dan memasukkannya kedalam ransel.
“Maaf Rei. Aku harus pergi. Namun yakinlah! Cinta tulus itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengannya. Sampai jumpa besok,”

Bayangan Lul telah hilang ditelan rak-rak buku perpustakaan yang menjulang tinggi. Aku terpekur memikirkan kembali ucapan Lul. Mungkin sudah saatnya aku melepaskan bayang-bayang masa lalu. Mungkin saatnya untuk berpikir positif. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah buku agenda kusam. Kuambil buku itu dan kubuka satu per satu halaman demi halamannya. Di salah satu halaman buku tersebut, aku menemukan selembar fotoku bersama Lul. Aku tersenyum melihat foto itu. Itu fotoku sebelum aku bermetamorfosis. Perlahan-lahan kubaca rangkaian kata-kata di bawah foto tersebut;

Namanya Rei. Reina.
Mungkin dia tak secantik teman-teman perempuan yang lain. Namun entah mengapa aku terkagum-kagum olehnya. Mungkin karena dia cerdas, ceria, dan selalu optimis. Dan senyumannya sangat manis. Tampaknya, kini aku menyayangi dia bukan sebatas sahabat saja. Aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan ini, namun aku tak ingin merusak jalinan persahabat kami. Biarlah waktu yang akan memberitahunya tentang perasaan ini.

Ailul

Sunday, 30 September 2012

Horor

"Nonton pilem horor yuk"
Akhirnya hari Sabtu kemaren kami putuskan untuk menyewa kaset di rental depan kos. Nonton pilem horor mungkin adalah salah satu penghilang stres yang murah meriah selain nyetrika dan nyuci (lho?). Murah? Yaiyalah dengan biaya lima ribu rupiah dibagi 6 kepala. Bayangkan aja betapa murahnya. Yup yup. Yang namanya hiburan gak mesti mahal kan. Hehehehe.

"Nonton yang ini aja! Ini serem banget lho kata mbak yang jaga rentalnya"
Karena wajah si pembicara yang meyakinkan, akhirnya kami percaya seratus persen dan segera nonton pilem horor Thailand itu. Namun beberapa menit berlalu, adegan yang menegangkan ternyata tidak terjadi sama sekali. Subtittlenya gak jelas dan ceritanya entah kemana. Yang paling ngaco itu ya tokoh setannya yang kocak. Biasanya dalam pilem horor, tokoh setan suka membunuh tanpa ampun. Tapi, setan di pilem ini, abis bunuh orang malah nyesel dan nangis sejadi-jadinya. Kalo di pilem horor, biasanya kalo setan muncul dan yang liat pada langsung lari terbirit. Kalo di pilem ini, si setan muncul, eh yang liat malah pada ngobrol sama si serannya. Ckckckckckckck. Tapi yang paling lucu adalah adegan setan yang sempet-sempetnya ngulek sambel dan masak makanan untuk suaminya yang notabene masih manusia. Hadeuhhhh... bener-bener deh pilem horor yang satu ini. Bener-bener horor sampe buat yang nonton ngakak-ngakak.

Friday, 28 September 2012

Hymne: Nakal Versi Kita

Aku mendengarkan lagi lantunan hymne itu. Alunan musiknya lembut mendayu-dayu di telingaku. Tiba-tiba, satu fase kehidupan itu berputar-putar di kepalaku. Memori itu berkelebat kuat. Celebes, Lamomea, Guest house: kamarku tercinta, bahkan aku ingat Mita, teman senasib, senakal, seperjuangan.

Saat itu, aku telah lulus dari pesantren dan dikirim ke Lamomea untuk mengabdikan diri. Pertama aku ngerasa heran. Heran karena kenapa aku bisa terpilih untuk mengabdi di sana. Padahal tak pernah terpikir olehku akan mengabdi di sana. Well. Semua harus dijalani dan berangkatlah aku ke sana.

Pertama tiba disana, ternyata oh ternyata, namaku tak tercantum. Dan akhirnya, aku ditampung di kamar LAC (Language Advisory Council). Kamar itu terletak di gedung paling pojok dekat hutan dan padang rumput. Dengan badan letih dan mata mengantuk, kami mendorong koper kami menuju gedung itu. Di tengah jalan, tiba-tiba segerombolan babi hutan lewat dengan cueknya. Kami yang baru melihat pemandangan itu shock bukan main.Tapi beberapa hari kemudian, kami tidak shock lagi. Mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Bahkan waktu berjalan kaki pun, kami (aku dan babi hutan) jalan beriringan dengan damai.

Selang beberapa bulan, aku dipindahkan ke bagian penerimaan tamu. Di kamar baru itu, aku nggak sendiri. Ada seorang lagi yang menjadi partnerku mengurus tempat penerimaan tamu. Sebut saja namanya Mita. Dia teman seangkatanku, namun kami nggak terlalu kenal dekat. Aku pikir, dia anaknya sombong dan hanya mau bergaul dengan mereka-mereka yang levelnya menengah ke atas (baca: kalo nggak cantik, ya modislah, ato duitnya banyak). Ternyata anaknya asyik dan menyenangkan. Berteman dengannya sangat menyenangkan dan seru banget. Oh ya. Kamar kami terletak di sebelah rumah yang sering disebut "Pilus". Tenang! Ini bukan jenis kacang kok. Pilus itu singkatan dari Pila (Vila maksudnya) Ustad. Di sana tinggallah Trio Macan... eh salah. Trio Ustad yang masih lajang-lajang saat itu (sekarang udah pada nikah semua). Kadang kalau ada acara besar, rumah itu penuh dengan ustad-ustad lajang yang datang dari pesantren putranya (Lumayan buat cuci mata aku dan Mita hehe).

Sebagaimana kehidupan di pesantren, banyak sekali peraturan yang harus dijalani. Saat itu, mungkin, aku dan Mita sedang memasuki masa-masa ingin bebas. Dulu, saat kami masih jadi santri, kami harus menjalani peraturan yang sangat ketat. Ketika kami tamat, ternyata kami masih harus berhadapan dengan peraturan lagi, walau peraturan kali ini tidak seketat dulu. Dan jadilah kami dua orang pengajar yang "nakal". Menurut kami, nakal itu ngga masalah sih, asal tidak melewati batas kewajaran dan norma yang berlaku.

Nakal kami sih sepintas pake MP3 saat mengajar atau saat rapat guru. Trus apalagi ya? Oh ya! Dulu kami juga sering kabur ke kota dengan Rambo (mobil pondok yang paling keren). Tentu saja, ini kongkalikong sama penghuni Pilus. Mungkin kami punya banyak kesamaan dan chemistry (ahaii) sebagai anak tiri yang diterlantarkan (maaf cerita tentang ini tidak dapat disampaikan di blog hehe). Jadilah kami sering kongkalikong dengan beliau-beliau itu. Hehe. Pergi ke kota pun, kami nggak ngelakuin apa-apa kok. Paling hanya belanja keperluan bulanan atau cuma makan bakso di bilangan Wua Wua. Paling jauh sih ke Ke-Bi (Kendari Beach) untuk liat-liat pemandangan dan makan sea food.

Kenakalan kami yang palin terbesar kayaknya adalah masalah handphone deh. Di sana, kami ngga boleh punya handphone kecuali pengajar-pengajar yang senior dan tentu saja penghuni Pilus. Suatu hari, Mita punya ide untuk beli handphone dan menyembunyikannya di kamar (untung sekamar cuma berdua. Nggak ada ember bocor soalnya hehe). Singkat cerita, kami berdua punya satu handphone. Handphone 2 in  1 karena sering gonta-ganti kartu. Kadang kartuku, kadang kartu Mita. Handphone itu tidak kami gunakan untuk macam-macam juga sih. Karena handphone itu digunakan untuk menelpon orangtua dan kerabat kami masing-masing. Suatu hari kami singgah ke kamar teman-teman yang lain, ternyata di kamar itu juga penuh dengan handphone berbagai merek. Aku dan Mita hanya senyam-senyum sendiri melihat itu semua.

Suatu malam di hari Kamis perasaanku rasanya ngga enak. Saat itu, nomorku yang sedang aktif. Entah kenapa tanganku mematikan handphone itu dan tidur dengan sukses. Keesokan harinya, setelah mandi plus plus (plus nyuci maksudnya), aku bertandang ke kamar teman-temanku dan di sana ternyata sedang terjadi keributan. Ternyata oh ternyata, handphone mereka disita Bu Nyai saat mereka tidur. Kata mereka Bu Nyai sudah curiga, dan akhirnya tadi malam, beliau nge-misscall satu-satu nomor kami. Dan ternyata nomor-nomor itu aktif semua, kecuali nomorku dan Mita. Aku dan Mita hanya senyam-senyum menyaksikan kehebohan di hadapan kami. Terima kasih, Ya Allah!

Itu nakal versi aku dan Mita di pesantren dulu. Menurutku, nggak masalah kok jadi anak nakal, asal nakalnya masih wajar. Nggak enak juga sih, hidup di pondok itu datar-datar aja. Hidup di sana itu mesti seru dan menantang. Hehe. Life is never flat! Suatu saat, akan kuceritakan kisah ini kepada anakku. Kisah tentang cerita hidup mommy-nya yang menantang. Hehe. To be continued.

Wednesday, 26 September 2012

Hymne: Mengingatkanku Tentang Sesuatu

Setelah ngutak-ngatik youtube beberapa menit, aku gak sengaja nemu video yang menampilkan profil  sebuah pesantren dengan backsound hymne "Oh Pondokku". Itu hymne pondok tempat aku nyantri dulu. Biasanya dinyanyiin pas ada apel tahunan ato acara-acara penting di sana. Setelah video habis, aku replay lagi dan dengerin hymne itu sambil merem (gak pake melek) dan ikutan bersenandung juga. Ternyata aku masih hapal sama hymne itu. Padahal hymne kampus aja aku gak hapal sampe aku mau wisuda gini (menyedihkan). Hadeuh jadi terharu banget dan inget sama masa-masa itu, sebuah masa kehidupanku yang seru, lucu, bahagia, meyedihkan, miris. Pokoknya manis, asem, asinlah kayak permen Nano-Nano.

Aku jadi inget hari pertamaku masuk pesantren. Saat itu, aku kasihan liat Mama nganterin dan ngurusin tetek bengek administrasi. Mama pasti capek banget. Bayangin aja! Perjalanan Padang-Jogja ditempuh dalam waktu 4 hari 3 malam dengan menggunakan Bis (dulu belon jaman naek pesawat). Belum lagi perjalanan Jogja ke Ngawi yang pake acara nyasar dulu sampai Ponorogo. Finally dengan gaya sok cool dan berhati besar, aku minta Mama buat pulang aja ke Padang dan bilang kalo aku berani dan mampu di sini sendirian. Akhirnya, dengan berat hati, Mama pulang. Setelah Mama hilang dari padangan, aku langsung ke kamar, ambil handuk dan alat mandi. Lalu masuk kamar mandi dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya sampai puas.

Setelah puas dan lega, aku keluar kamar mandi dan masuk kamar. Di sana, aku melihat seorang anak perempuan sebayaku. Namanya Hilda. Asalnya dari Magelang. Dan jadilah Hilda teman pertamaku di pesantren. Saat lulus, kami pun masih bersama untuk mengabdi di Gontor Putri 4 Sulawesi Tenggara.Selesai mengabdi pun, kami sama-sama kuliah di Jogja. Aku di UGM, sedangkan Hilda di MSD. Dan saat ini kabar membahagiakan datang darinya. Hilda hamil. Alhamdulillah... senangnya mendengar kabar itu. Semoga Hilda kelak menjadi ibu yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi generasi saleh dan salehah. Amiin.


Tuesday, 25 September 2012

Naluri

Aku hanya tersenyum mengingat diriku yang dulu. Ya. Diriku yang punya sejuta cita dan asa. Cita-cita ingin menghabiskan hidup nomaden alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Di sana, rasanya aku ingin melihat berbagai keanekaragaman manusia, aku ingin melihat kesenian dari setiap negara, atau ingin mengenal berbagai macam bahasa mereka. Namun, ketika waktu terus bergulir, angan-angan itu hilang begitu saja. Blass. Tak ada lagi yang tersisa. Diplomat, keliling dunia... semuanya lenyap. Ibarat nafsu makan, aku tak punya selera lagi. Aku tak berambisi lagi. Kelak aku ingin berwirausaha agar aku bisa me-manage waktuku sendiri. Ya. Rasanya kelak aku ingin memperhatikan rumah tanggaku. Aku ingin selalu ada dalam setiap fase perkembangan anak-anakku. Aku ingin merawat, menjaga, dan membesarkan mereka dengan tanganku ini.Tuh kan! Semua berubah. Dan mungkin ini adalah naluri setiap perempuan di muka bumi.

Monday, 10 September 2012

Bebas

Bebas. Menurut saya bebas bukan berarti melakukan segala sesuatu sesuka kita tanpa batas, tanpa aturan. Bebas tetap ada batasnya dan tetap ada aturannya. Batas dan aturan ini terkadang menjadi kambing hitam bahwa kebebasan itu tak pernah ada. Katanya aturan dan batasan merengut semua kebebasan. Namun, renungkanlah bahwa aturan dan batasan dalam kebebasan merupakan sesuatu yang sangat berarti. Aturan dan batasan ini kelak akan melindungi kita dari marabahaya.Boleh bebas, asal masih dalam batas.


Saturday, 1 September 2012

Langkah Pertama

A journey of a thousand miles must begin with a single step
(Lau Tzu)

Langkah pertama adalah langkah yang menjadi penentu langkah selanjutnya. Namun tak jarang langkah pertama itu terasa sangat berat dan sulit. Walau demikian,tetaplah berusaha dan percaya diri agar langkah pertama menjadi nyata. Jangan pernah menyerah!Jangan pernah berkeluh kesah! Langkah pertama adalah langkah penentu.


Petikan semangat kali ini
"Sampai Nanti, Sampai Mati" by Letto

Kalau kau ingin berhenti ingat tuk mulai lagi
Tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari
sampai nanti, sampai mati
Tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari
sampai nanti, sampai mati...

Gubah Lagu

Kata orang, lagu yang kita dengar bisa mempengaruhi kejiwaan kita. Jika lagunya bertema sedih, maka hati kita juga akan ikut sedih. Jika lagunya bikin semangat, maka semangat kita akan terpacu juga. Dan satu lagu yang aku suka adalah lagu Rumor yang berjudul "Butiran Debu". Aku suka musiknya dan suara penyanyinya, namun liriknya bercerita tentang keputusasaan. Agar aku nggak ikut-ikutan putus asa, jadi iseng-iseng aku gubah beberapa petik lirik lagu ini. Biar buat aku optimis.

Aku terjatuh dan tak  namun bisa bangkit lagi
Aku (memang) tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak pasti akan tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu putiran debu BAIK-BAIK SAJA

Dulu memang pernah terjatuh dan tenggelam dalam sakitnya rasa luka. Aku tidak boleh diam dan merasakan rasa sakit itu terlalu lama. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus mengobati lukaku. Aku harus bangkit. Dan sekarang, inilah aku. Aku tanpamu baik-baik saja.


Monday, 13 August 2012

Lubang

Sebuah pepatah mengatakan bahwa janganlah jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tampaknya pepatah itu harus aku junjung setinggi-tingginya, kalo perlu setinggi bintang di angkasa. Kisah ini sebenarnya sudah kadaluarsa dan nggak zaman lagi untuk dibahas. Namun, kisah inilah yang kembali terulang kini. Tidak.... Aku tidak akan terperosok jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku harus tegar dan tidak terpengaruh dengan semua tipu muslihatnya. Aku tidak akan pernah tergoda, tidak akan pernah lagi merasa tersanjung, apalagi jatuh hati. Cukuplah yang lalu berakhir pilu. Cukuplah yang lalu berlalu dan menjauh meninggalkanku. Aku bahagia sekarang. Tolong jangan hapuskan lagi kebahagiaan ini, wahai perasaan!


Tuesday, 31 July 2012

Maha Adil

Adil itu bukan seperti rumus empat bagi dua sama dengan dua. Adil itu bukan memberikan satu hal yang sama kepada beberapa orang. Adil itu bukan seperti pembagian porsi makan yang sama banyak atau sama besar. Namun, adil itu tentang memberikan sesuatu sesuai porsinya dan keperluannya. Agak abstrak memang, tapi itulah adil. Dan Sang Maha Adil hanyalah Tuhan semesta alam ini. Bukan berarti Dia tidak adil ketika Dia memberi kita musibah dan tidak memberi musibah kepada orang lain. Bukan berarti Dia tidak adil ketika memberikan Si Kaya rizki yang berlimpah daripada Si Miskin. Dia hanya inginkan kita selalu berpikir positif, sabar, dan mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Dia hanya inginkan kita menjadi makhluk ciptaannya yang sempurna.


Tuesday, 17 July 2012

Tidak Hanya

Hidup tidak hanya tentang seorang bayi yang kemudian tumbuh menjadi anak-anak, masuk TK, SD, SMP, SMA, kuliah, lalu kerja. Hidup tidak hanya tentang menikah, punya keturunan, kemudian menjadi kakek atau nenek hingga ajal menjemput.

Hidup tentang raga dan jiwa yang dapat berguna dan memberi manfaat kepada sesama. Hidup tentang perjuangan yang sarat darah dan air mata, namun bahagia pada akhirnya. Hidup tentang bagaimana mengumpulkan kebaikan dan pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Menikah tidak hanya tentang pesta mewah dan bulan madu keliling dunia. Menikah tidak hanya soal menjadi raja dan ratu sehari yang dibalut dengan busana indah memesona. Menikah tidak hanya soal poto prewedding  atau after wedding yang diatur semesra dan seromantis mungkin.

Menikah adalah tentang dua sejoli yang dipersatukan Tuhan dan cinta. Menikah adalah tentang saling menguatkan antara satu dengan yang lain saat suka maupun duka. Menikah adalah tentang saling menerima kekurangan. Menikah adalah tentang tanggung jawab pada masing-masing pribadi, bahkan pada Tuhan, Sang Maha Pencipta cinta di muka bumi.

Wisuda tidak hanya tentang bahagia menyelesaikan skripsi dan masa studi. Wisuda tidak hanya tentang poto-poto berkebaya dan tersenyum bahagia sambil melempar toga kemudian diunggah ke akun jejaring sosial. Wisuda tidak hanya tentang hari bahagia bersama orang-orang yang dicintai.

Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya....



Monday, 16 July 2012

Aku Dan Kamu



Aku dan kamu adalah pribadi yang hampir serupa. Keinginanmu dan keinginanku sama. Tujuan yang kita dambakan pun tak ada bedanya. Hanya jalannya saja yang berbeda. Tak apalah! Tak usah risaukan bagaimana atau dari mana aku dan kamu berjalan masing-masing tanpa saling berpegangan tangan. Percayalah hati ini yang akan saling menguatkan. Semoga aku dan kamu bertemu di tempat tujuan sembari tersenyum satu dengan yang lain. Dan di sanalah kau dan aku akan saling berpegangan tangan tuk menguatkan satu sama lain. Untuk mengisi hari-hari melanjutkan sisa perjalanan ini.

Saturday, 14 July 2012

Melawan Takut

Done! Akhirnya 3 bundel skripsi dan semua persyaratan pengajuan ujian pendadaran telah kuberikan kepada staf jurusan. Tinggal menunggu waktu eksekusi alias sidang skripsi. Fiuh. Rasa takut sukses bikin jantung dag dig dug. Padahal jadwal ujiannya aja belum keluar. Rasa takut ini benar-benar sukses menyerangku. 

Sebenarnya pasal takut yang kualami adalah takut "dibantai" sama para penguji. Namanya juga manusia yang diciptakan berbeda. Dosen yang satu pasti punya pendapat tersendiri tentang cara menulis skripsi. Kalo aku baca skripsi beberapa teman, aku merasa takut dan ciut. Pasalnya, dosen mereka menuntut agar teori harus dipertajam dari asal mulanya. Sedangkan kata teman-teman, skripsiku adalah skripsi paling simple, baik dari penulisan teori sampai penulisan hasil penelitiannya. Sebenarnya, aku senang sekali dengan sesuatu yang simple dan langsung ke pokok pembicaraan seide dengan pembimbing skripsiku, namun tidak semua dosen mempunyai pikiran dan pendapat seperti dosen pembimbingku. Di situlah ketakutanku bermula. Bayangkan saja! Jika dosen yang mengujiku adalah dosen yang berpendapat bahwa teori harus ditulis dari sejarah awal mulanya atau hasil penelitian harus sangat detil. Pastilah aku bakal "dibantai" habis-habisan. Sangat menyeramkan mungkin.

Namun, aku tersadar. Jika aku selalu merasa takut dan tidak bisa, kapan aku akan maju? Jika aku terus ketakutan, aku tidak akan pernah mencoba sesuatu yang baru. Dan otomatis, aku tidak akan pernah berani, aku tidak akan pernah belajar, bahkan aku tidak akan pernah sukses. Takut? Wajar dan biasa! Tapi menghilangkan ketakutan adalah luar biasa. Aku nggak boleh takut. Aku harus tetap berusaha dan berani menghadapi semua yang terjadi. Aku yakin bahwa Tuhan selalu bersamaku, melindungiku dan mendengar semua doa-doaku. AKU HARUS BERANI!


Thursday, 12 July 2012

Bukan Akhir

Ini bukan akhir dari semua yang telah terjadi. namun, ini adalah permulaan dari semua yang akan terjadi. Bahkan setelah akhir kehidupan kita di dunia ini, kita akan bertemu dengan permulaan kehidupan baru di akhirat. Akhir itu tak kan pernah ada. Tak kan pernah.... Tetaplah semangat, bekerja keras, dan berdoa.





Saturday, 7 July 2012

Betapa Merindunya

Beberapa hari yang lalu, air mata saya sempat menetes saat mengetik nama alm. mbak Kakung di halam persembahan skripsi. Saya rindu setengah mati dengan kehadirannya beliau. Sempat berandai-andai sedikit bahwa pasti mbah akan tersenyum bahagia saat saya wisuda dan menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mbah kakung adalah sosok yang sangat berjasa bagi saya. Walau rada galak dan disiplin, mbah sangat menyayangi saya. Dari saya bayi, saya dirawat oleh mbah kakung dan mbah putri. Namun, kedekatan saya lebih berintensitas tinggi dengan mbah kakung. Mungkin karena mbah kakung yang sering menemani saya tidur, jalan-jalan sore, beli mainan, dan mengabulkan semua permintaan saya.

Dulu, saat saya kecil, acap kali saya masuk ke dalam pangkuannya dan menjadikan sarung, yang sedang dipakainya, sebuah ayunan. Kemudian perlahan-lahan mbah akan bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kakinya sehingga tubuh saya terbuai lembut. Setiap hari, mbah kakung menemani saya tidur siang sambil bercerita tentang perjuangannya di zaman Jepang dan tentu saja cerita Si Kancil. Walau cerita itu sering diulang-ulang, tapi saya tidak pernah bosan dan selalu menganggapnya menarik. Saat sore tiba, biasanya kami akan jalan-jalan keliling kompleks tempat kami tinggal sambil jajan sate padang, coklat, permen dan semua makanan yang aku sukai. Kalo hari Ahad datang, biasanya kami akan main sepeda ke Siteba, By pass, atau Pantai Padang.

Setelah saya duduk di bangku SD, mbah membeli sebuah motor, dan setelah itu, kami makin sering jalan-jalan dan makin jauh arah tujuan kami. Saat supermarket pertama di Padang buka, kami langsung jalan-jalan ke sana melihat barang-barang yang dipajang di etalase. Saat itu, saya sangat menyukai film "Pokemon" dan tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah jam tangan bergambar tokoh utama "Pokemon", yaitu Pikhacu. Tiba-tiba mbah langsung membeli jam itu dan memberikannya kepada saya. Saya hanya terbengong dan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Setelah melihat jam, kami mengunjungi bagian furniture, saat itu saya melihat tempat tidur bertingkat yang sedang ngetrend saat itu. Tanpa sadar, saya berucap bahwa tempat tidur itu bagus karena saya bisa sekamar berdua dengan adik saya saat dia sudah TK kelak. kata mbah, tempat tidur yang kami lihat itu berkualitas buruk. Setelah itu, tanpa bicara panjang lebar lagi, kami meninngalkan plaza itu. Seminggu kemudian, saat saya pulang sekolah, saya dapati kamar saya telah berubah. Tempat tidur biasanya telah berganti dengan tempat tidur bertingkat. Namun, tempat tidur yang ini kokoh dan lebih bagus daripada tempat tidur yang kami lihat di plaza. Betapa senangnya saya saat itu.

Suatu hari, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sebuah pondok pesantran di Jawa Timur. Papa dan Mama sebenarnya agak keberatan karena masalah ekonomi. Namun mbah kakung langsung berinisiatif mebayar semua biaya itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan sekolahku ke pondok pesantren. Suatu hari, mbah kakung datang ke pondok untuk menjengukku. Sebenarnya mbah kakung datang dari jam 7 pagi, namun aku baru bisa bertemu dengan beliau jam 7 malam [bayangkan!]. Saat itu mbah kakung bilang jika akan pergi berangkat haji. Dan sebelum berangakat, mbah ingin ketemu saya dulu. Saat mbah mau pulang, mbah memberi saya meja belajar lipat dan uang 500.000 [jumlah yang sangat fantastis untuk anak sekecil saya saat itu]. Beberapa bulan kemudian, saya dikirimi paket yang berisi sebuah jam tangan hitam sejenis G-shock. Kata orantua jam itu adalah pemberian mbah sebagai oleh-oleh naik haji untuk saya. Ketika saya menelpon ke rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada mbah, orang-orang di rumah bilang bahwa mbah sedang tidur. Hal ini mereka lakukan berulang kali sehingga saya merasa ada yang disembunyikan dari saya tentang mbah. 

Suatu hari, orangtua saya datang ke pondok dan mengajak saya ke Yogya karena ada yang akan dibicarakan. Saat sampai di Yogya, saya diberitahu bahwa mbah telah tiada. Mbah meninggal sesampainya di Padang setelah menunaikan ibadah haji. Hanya hanya diam sedikit kesal karena tak ada seorang pun yang pun yang memberitahu saya berita ini. Namun, sebelum berita itu saya dengar, saya sudah punya rasa bahwa mbah telah meninggal.

Mbah... begitu cepat rasanya mbah pergi
Terima kasih untuk semuanya mbah
Terima kasih untuk cinta
sayang
mainan
dipan bertingkat
biaya sekolah dan semuanya yang tidak saya sebutkan satu persatu karena terlalu banyak kasih sayang yang mbah berikan
Maafkan saya juga mbah
karena saya tidak bisa menjaga jam tangan terakhir pemberian mbah
Model jam tangan itu dilarang di pondok dulu
saya sudah berusaha menyembunyikannya, tapi akhirnya ketahuan bagian keamanan pondok. 

Mbah...
sebentar lagi saya pendadaran dan wisuda
Andai mbah masih ada, pasti saya akan melihat senyum bangga mbah karena cucu mbah yang nakal ini menjadi seorang sarjana
Namun, walau mbah telah pergi dari sisi saya, saya bercaya mbah pasti sedang tersenyum bangga di surga sana

Mbah...
saya juga mengikuti jejak profesi mbah. Tapi tentu saja bukan jadi tentara. Saya memilih jadi pengusaha. Bedanya, saya bukan pengusaha burung puyuh seperti mbah. Rasanya ingin bercerita banyak pada mbah. Mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali di tempat yang disebut surga... [amiin]


Wednesday, 4 July 2012

Izinkan Aku Tersenyum



Aku terduduk di kursi yang terletak di sudut ruangan kantor INCULS (Indonesian Language and Culuture Learning Service). Tujuan mengunjungi kantor itu bukanlah untuk bertemu dengan teman mahasiswa asing, mengisi absen tutorial, apalagi mengambil jatah honor. Namun, maksud kedatanganku adalah untuk bimibingan skripsi. Pagi itu hawa ruang kantor semakin dingin saja kurasakan. Sofa empuk yang kududuki tak tahan lagi menghangatkanku. Brrr dingin, sedingin wajah pembimibing skripsiku yang diam seribu bahasa sambil menatap tajam ke lembaran-lembaran tulisanku. Tak ada kata. Tak ada suara. Yang ada hanya desiran suara mesin pendingin ruangan yang disebut AC.

Beberapa detik kemudian, pembimbingku bergeming dan menatapku tajam sambil berkata,
"Shinta, penulisan skripsimu salah besar. Masih perlu perombakan besar-besaran. Tulis ulang dari Bab I dan serahkan secepatnya"
"DEG!" Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kaki saya lemas. Mata saya berkunang-kunang. Oh Tuhan.... Sudah banyak rencana yang akan kulakukan usai menulis skripsi. Namun semua akan tertunda akibat harus mengulang semuanya. Sedih. Sedih sekali. Teramat sedih. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dunia serasa berputar dan gelap. 

Entah berapa lama aku tertidur. Akhirnya aku terbagun dan mendapati bahwa hari ini adalah hari Rabu tanggal 4 Juli 2012. Itu berarti hari bimbingan skripsi. Olalala... ternyata itu hanya MIMPI! Aku segera berdoa semoga mimpi ini tidak jadi kenyataan. Amin. Baru kali ini aku tak ingin mewujudkan impianku menjadi nyata. Hehe.

Teng! Jam sembilan. Akhirnya aku benar-benar bimbingan skripsi. Masih sedikit trauma karena mimpi tadi malam terbayang-bayang di benakku. Fiuh. Namun syukur berjuta syukur karena apa yang kutakutkan tidak terjadi sama sekali. Pagi tadi, alhamdulillah semua berjalan lancar walau masih ada coretan sana-sini. Yah setidaknya selesailah semua revisi skripsi itu. Tinggal ringaksan bahasa Arab yang bab 2, 3, dan 4. Halaman Motto, persembahan, kata pengatar hingga abstrak pun sudah kuselesaikan semuanya. Walau belum diperiksa. Namun setidaknya sudah kukumpulkan semua. Semoga besok lebih lancar. Amin. Sekarang! Izinkan aku tersenyum sebagai pengganti mimpi buruk tadi malam. Ayo kejar tayang lagi!

GR dikit:
Aku punya bakat nulis ama bahasa Inggris? Amin. Semoga itu benar adanya.
#sambil nyengir plus pipi bersemu merah plus kedua tangan di bawah dagu persis kayak cherybelle

Friday, 22 June 2012

Gak Percaya

Sampai saat ini saya nggak percaya sama sekolah bagus, tempat bimbingan belajar bagus, guru-guru bagus, universitas bagus, dosen-dosen bagus, dan lain-lain yang serba 'bagus' dalam hal pendidikan. Menurut saya, sekolah, bimbingan belajar, universitas, atau para pengajarnya hanyalah fasilitator sebagai sarana kita menerima ilmu yang kita dapatkan. Toh kalau fasilitas pendidikan kita bagus, tapi kemauan kita nggak bagus ya sama saja. Semuanya kembali ke kita juga. Kalo kita sungguh-sungguh, otomatis kita akan berhasil dan juga sebaliknya. Namun kalau kemauan belajar kita bagus dan ditunjang dengan fasilitas bagus, itu sangat luar biasa dan banyak nilai plusnya.
#changing the mindset

Thursday, 21 June 2012

Peul And Me



Adekku satu-satunya. Nyebelin sih, tapi tetepa aja ngangenin. Kalo lagi jauhan kayak gini, bawaannya kangen dan pengen ketemu, tapi kalo udah pulang ke rumah dan ketemu, pasti bawaannya berantem terus. Hmm. Hidup memang warna warni, dan manusia tak pernah puas akan warna-warni itu.

Saturday, 16 June 2012

How Lucky I'am!


Kata orang-orang, aku adalah seorang anak yang tidak seberuntung anak-anak lain. Kata mereka, aku adalah anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua karena aku sudah merasakan perpisahan sejak aku masih balita. Saat itu mama sedang mengajar di Lampung, sedangkan papa masih sekolah di BPN Yogyakarta. Karena beliau berdua terpisah oleh selat Sunda, maka diputuskanlah menitipkanku di Bekasi, tepat di tengah-tengah keberadaan beliau berdua. Setelah semuanya stabil (papa dan mama sudah bekerja di Padang), akhirnya kami bertiga berkumpul kembali. Namun, setelah tamat sekolah dasar, aku memutuskan untuk belajar di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Bayangkan! Seorang anak tamatan SD pergi merantau dan mencoba hidup mandiri di seberang pulau tempatnya tinggal.

Setelah masuk pondok pesantren pun, orang-orang masih mengatakan bahwa aku tidak beruntung karena selama enam tahun kuhabiskan hidupku di pondok pesantren, orangtuaku hanya mengunjungiku tiga kali saja. Bahkan ketika aku yudisium (semacam acara kelulusan), kedua orangtuaku tidak bisa hadir. Aku pribadi sih maklum saja. Karena rumah kami yang jauh di pulau Sumatra yang membutuhkan uang dan waktu yang lebih banyak untuk mencapai pondok pesantren. Setelah lulus dari pondok pesantren, aku langsung terbang ke sebuah desa yang bernama Lamomea di SULTRA untuk mengabdikan diri mengajar para santri. 

Setelah selesai mengabdi, akhirnya aku pulang ke rumah dan mempersiapkan perjalanan hidupku selanjutnya, yaitu kuliah. Karena terbiasa mengerjakan segala sesuatu sendiri, aku mencari informasi tentang ujian masuk PTN tanpa bantuan dari orangtua. Karena aku rasa, aku cukup dewasa untuk menetukankan tempat kuliahku kelak. Aku membuat banyak planning. Mungkin dari A sampai Z. Akhirnya disinilah sampan kecilku berlabuh, UGM. Setelah lulus, aku berangkat berdua dengan temanku ke Yogyakarta untuk mengurus daftar ulang dan segala sesuatunya. Lagi-lagi kulakukan sendiri tanpa bantuan orangtua, kecuali bantuan dana hehe. 

Setelah kuliah, masih banyak orang yang bilang bahwa aku anak yang tidak beruntung karena uang jajanku yang di bawah rata-rata teman-teman atau saudara-saudaraku yang lain. Aku sendiri tidak pernah ambil pusing soal ini. Berapapun yang diberikan orangtua sebisa mungkin selalu aku syukuri. Setidaknya orantuaku masih mampu membiayaiku. Itu saja, aku sudah bersyukur. Pernah satu hari ada yang menanyakanku tentang uang bulananku. "Emang segitu cukup, Mbak?" Katanya kaget. Aku hanya bisa senyam-senyum dan berkata, "Ya... dicukup-cukupkanlah". Mungkin dalam hatinya, dia juga berpendapat sama dengan yang lain bahwa aku adalah seorang anak yang tidak beruntung.

Namun kurasa pendapat mereka salah. malah aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia ini. Atau mungkin sama beruntungnya dengan anak-anak lain di muka bumi. Yang berbeda hanya caranya saja. Jika mereka beruntung karena dilimpahi kasih sayang berupa perhatian dan materi di atas rata-rata, sedangkan kasih sayang orangtuaku berupa pelajaran hidup yang langsung aku praktekkan dalam perjalanan hidupku. Mungkin agar aku tidak kaget dan shock jika kelak aku harus menjalani kehidupanku sendiri. Setidaknya aku belajar mandiri dalam mengerjakan semua tugas, belajar bersyukur bahwa aku masih jauh beruntung dari mereka yang tidur di bawah jembatan layang, aku belajar untuk tidak mengeluh, dan belajar untuk merasakan bagaimana susahnya mencari uang agar aku lebih menghargai apa yang kudapatkan. Apapu kata orang, aku tak kan percayai  itu. Yang aku tahu, betapa aku sangat beruntung!

Friday, 8 June 2012

Sedikit Serpihan



Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang mampu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita
dan di pusarnya besemayam pusat tata surya
kecuali engkau

Aku bersaksi bahwa tiada perempuan
yang di atas lingkaran pinggangnya masa-masa berkumpul
dan ribuan planet berkeliling
kecuali engkau
 [Serpihan yang terkumpul dari puisi Nizar Qabbany]

Saturday, 2 June 2012

Sore Tadi

Sore ini kita bersenda gurau kembali. Bercerita dan saling menggoda satu sama lain. Tertawa, teriak, dan ribut. Ah. Rasanya sudah lama tidak berkumpul, menggoda, tertawa, dan teriak. Mungkin karena kita sekarang lebih sibuk berkutat pada tumpukan-tumpukan buku, pada teori-teori penelitian, pada monitor komputer, bahkan pada kertas yang berisi coretan pembimbing masing-masing.Semua telah berubah ya ternyata? Tapi tak masalah. Yang aku tahu, kau adalah kau. Kau adalah temanku sampai kapanpun.


Wednesday, 30 May 2012

Ibu Pintar Wanna Be

Kata orang kalau jadi seorang entrepreuner nggak usah sekolah tinggi-tinggi, tapi saya nggak sependapat dengan pendapat itu. Pendidikan adalah suatu yang sangat penting bagi saya. Pendidikan merupakan investasi nutuk masa depan apapun profesi yang kita geluti kelak. Perempuan pun berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Untuk yang satu ini, saya sangat bersyukur karena berada di tengah-tengah keluarga yang selalu mendukung untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya. Alhamdulillah.

 Pasalnya, beberapa tahun lalu, saya sempat maen ke pondok pesantren tempat dulu saya bersekolah. Saat itu saya hanya menemani teman seangkatan saya yang mau maen ke pondok. Suatu malam, saat kami jalan-jalan di lingkungan pondok, tanpa sengaja kami bertemu seorang usatad senior. Ustad ini adalah sosok ustad yang cerdas, baik, dan suka menasehati kami. Dan satu lagi, ustad ini adalah tempat anak-anak minta dicarikan jodoh atau tempat konsultasi jodoh. Teman saya langsung curhat tentang jodoh dan pernikahan, sedangkan saya hanya diam dan mendengarkan wejengan sang ustad dan curhatan teman saya. Krik-krik juga sih karena saya belum kepikiran untuk menuju ke arah sana walaupun saya sadar bahwa suatu saat saya akan memasuki fase kehidupan pernikahan juga.

Di tengah-tengah percakapan, ustad itu melihat ke arah saya dan tiba-tiba bilang kalau saya jangan terlalu memikirkan untuk belajar setinggi-tingginya karena jihad perempuan yang sesungguhnya adalah ketika dia menikah dan menjadi seorang istri serta seorang ibu. Saya hanya mendengarkan perkataan beliau Tapi, semua orang punya pendapat masing-masing. Saya sadar bahwa zaman telah berubah. Teknologi semakin canggih dan semuanya serba instan. Saat saya memutuskan untuk menikah dan menjadi seorang ibu, saat itu saya pasti dituntut agar menjadi seroang ibu pintar karena zaman yang makin berkembang dapat mempengaruhi perkembangan anak juga. Bayangkan saja! Dulu saya baru bisa mengoprasikan internet dan handphone saat saya tamat dari pesantren. Sekarang, anak SD aja udah bisa pake internet dan handphone yang canggih. Hmm.  Apalagi saat saya punya anak nanti ya. Pasti perkembangan anak lebih cepat dari sekarang.

Dari fenomena yang ada, mau nggak mau kita dituntut untuk lebih cerdas menghadapi kemajuan zaman seperti ini termasuk dalam mendidik anak-anak kelak. Jadi, saya rasa, saya dituntut untuk lebih pintar agar saya menjadi seorang ibu pintar yang mampu membesarkan, merawat, dan mendidik anak-anak saya.  Dan caranya adalah dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Semoga saya bisa menjadi seorang ibu pintar kelak. Amin.

Friday, 25 May 2012

Anak dan Perkembangan Zaman

Barusan nonton program "Laptop Si Unyil". Episode kali ini kebetulan ngambil setting di kab. Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Seperti biasa, tempat tersebut masih sangat alami. Gunungnya masih hijau, air kalinya masih bersih bening, dan sawah-sawah pun masih terhampar luas, nggak ketinggalan juga rumah gadang berdiri di antara pepohonan, sawah,  atau parak pisang membentuk suatu perkampungan. Seru banget ya.

Waktu nonton program itu, tiba-tiba jadi kepikiran sesuatu. Hmm. Ada katakutan tersendiri hidup pada zaman yang terus berubah dan kemajuan teknologi yang terus menerus berkembang seperti saat ini.  Semua berubah dan semua makin berkembang termasuk dunia anak-anak. Dulu, saat aku masih kecil, aku nggak kenal sama yang namanya komputer, telepon, handphone, laptop, dan lain-lain itu.Namun sekarang faktanya, anak TK aja sudah pada mahir menggunakan alat-alat tersebut. Sepupuku yang masih SD aja, sudah bisa pakai internet, bahkan punya akun jejaring sosial dan juga blog. Hmm. Ckkk. Kalah deh aku soalnya aku ngerti tentang dunia maya ya waktu tamat dari pondok pesantren. Hehehe.

Di satu sisi, ada positifnya sih kalo anak-anak sudah mengerti cara memakai barang-barang elektronik. Bisa dibilanglah anak-anak tersebut nggak gaptek dan cerdas karena ngerti tetek bengek berbau teknologi tersebut. Namun, sepertinya sisi negatif lebih dominan dalam masalah ini. Contohnya saja masalah pornografi yang beredar di dunia maya. Kalo seusia kita yang lihat atau nggak sengaja lihat sih, nggak masalah karena kita bisa ngebedain mana yang baik, mana yang buruk ato mana yang boleh dan yang nggak boleh. Belum lagi masalah penculikan anak yang rentan karena si anak yang dibekali handphone yang bagus oleh orangtuanya. Ato masalah yang lain adalah pengarh pada kepribadian si anak. Bayangkan jika si anak sibuk dengan dunia mayanya, maka ini akan sangat berpengaruh dengan cara bersosialisasinya.

Memang gaswat ya tantangan menjadi orangtua di masa mendatang itu. Hmm. Kalo suatu saat aku jadi seorang ibu dan punya anak-anak. Aku pengen banget anak-anakku tetap kenal pada agama dan budaya bangsanya. Contoh terkecilnya, ya permainan tadisional kita. Aku pengen anak-anakku tau permainan yang dulu dimainkan ibu dan ayahnya. Sebut saja cak bur, cik mancik, en, atau lompat tali. Aku pengen anak-anakku nggak hanga duduk di depan layar komputer berselancar di dunia maya. Aku pengen anak-anakku tau bahwa negerinya ini kaya dan indah. Aku pengen mereka merasakan petualangan-petualangan seperti yang ibu ayahnya rasakan. Main di kali, mancing ikan di tabek, atau sekedar duduk-duduk di sungai belakang rumah (tentu saja ini dilakukan tidak luput dari perhatianku). Satu lagi, aku pengen mereka tetap mengenal dan menyayikan lagu anak-anak dan lagu daerah. Buat yang satu ini, aku mulai download lagu anak-anak zaman aku masih kecil soalnya takut nanti lagu anak-anak semakin punah. Hehehe.


Wednesday, 23 May 2012

Hay Que Visitar India

Tengo un illusion. Yo quero visitar India. Hmm. Algun dia voy a ir a India. Insyaallah. Amin. Voy a visitar el palacio de Taj Mahal. Voy a tomar los fotos en unos monumentos en India. Voy a aprender la danza de India. Voy a eschucar las musicas de India. Hmm. Lo mas importante voy a encontrarse con los actores de Bollywood. Ellos son Aamir Khan, Sah Ruh Khan, Aksay Kumar, Riteish Desmukh y otros. Voy a comprar los recuerdos por mi familia y mis amigos. Oh ya! Voy a vestirse sari, un vestuario tradicional de India. (Desearia que mi illusion se hace realidad)


Saturday, 19 May 2012

Heyy Babyy

Libur panjang telah tiba. Berarti bisa nonton satu atau dua film. Kali ini aku pengen nonton film yang ringan dan lucu aja. Karena mengingat otakku yang setiap hari diperas untuk berpikir nulis skripsi, jadi harus ada obat penyegarnya. Pikir-pikir, kayaknya asyik deh nonton pilem Bollywood tapi yang ber-genre komedi biar nggak terlalu mikir kayak dulu pas nonton film "Khabi Alvida Nah Kehna". Akhirnya dapet satu film jdulnya "Heyy Babyy". Pertama nonton sih, ada perasaan underestimate sama film ini, tapi ternyata bagus dan lumayan sarat akan pesan terutama untuk para cowok yang suka mempermainkan cewek. Hehe. Ceritanya ringan, lucu, tapi tetap ada pesan yang ingin disampaikan. Film ini adalah film yang disadur dari sebuah film Prancis tahun 1985 yang berjudul "Trois Hommes et Un Couffin" (Three Mans and The Baby).



Film "Hey Babyy" ini bercerita tentang tiga orang cowok bernama Arush (Aksay Kumar), Tanmay (Ritesh Desmukh), dan Ali Haider (Fardeen Khan) yang playboy abis. Setiap hari mereka bersenang-senang dengan para cewek yang berbeda-beda sampai pada akhirnya suatu pagi mereka menemukan seorang bayi perempuan di pintu apartemen mereka. Mereka merasa kerepotan dan merasa kehidupan mereka diganggu oleh kehadiran bayi perempuan tersebut. Puncaknya adalah ketiga mereka kehilangan pekerjaan mereka dan kalah berjudi. Mereka merasa bayi itu adalah pembawa sial. Kemudian mereka memutuskan untuk membuang bayi itu di depan sebuah gereja pada malam natal dan langsung menuju club malam untuk bersenang-senang. Namun mereka tidak merasa bahagia, mereka malah memikirkan nasib bayi tersebut. Tiba-tiba hujan pun turun dan mereka cemas jika ternyata tidak ada yang membukakan pintu gereja itu. Akhirnya mereka kembali ke gereja dan menemukan bayi itu pingsan terendam air hujan di dalam box-nya.

Ternyata bayi tersebut dalam keadaan kritis dan nyawanya terancam. Mereka bertiga merasa sangat bersalah dan menangis sejadi-jadinya. Ketika Arush dan Tanmay akan keluar menuju ruang tunggu rumah sakit, mereka melihat Ali aka Al sedang shalat berdoa memohon kesembuhan si bayi. Arush dan Tanmay sangat kaget karena selama ini Al bukanlah seorang muslim yang taat. Kejaiban doa ternyata terkabul. Bayi tersebut dapat diselamtkan dan mulai saat itu mereka berjanji akan merawat bayi tersebut sepanjang hidup mereka.

Semenjak kehadiran bayi itu, hidup mereka berubah. Mereka tidak minum minuman keras lagi, tidak berjudi lagi, tidak kencan dengan wanita lagi, dan Al telah menjalankan kewajibannya mengerjakan shalat sampai suatu sore ibu si bayi datang dan mengambil bayi perempuan tersebut. Akhirnya terkuaklah ayah dari anak tersebut dan dimulailah konflik untuk merebut hati wanita tersebut agar mereka kembali bersama. Seru, lucu, sedikit ada harunya. Pokoknya baguslah.

Bukan film Bollywood juga kalau nggak ada nyanyi-nyanyinya. Dalam film ini ada satu lagu yang aku suka banget. Judulnya adalah "Meri Duniya Tu Hi Re" dan dinyanyikan oleh Sonu Nigam, Shan Santanu, dan Shankar Mahadevan. Mereka ini juga para penyanyi yang telah banyak menyanyikan lagu-lagu untuk soundtrack film Bollywood. Lagu ini menceritakan tentang kehidupan mereka yang berbuah menjadi baik setelah kedatangan bayi perempuan tersebut. Ini dia video klipnya. Cekidot!




Friday, 11 May 2012

Kangen

Barusan pergi ke toko alat-alat tulis, tanpa sengaja, saya menemukan buku-buku diary yang unik dan lucu-lucu. Ah jadi inget dulu waktu menulis di buku diary sambil senyam-senyum sendiri atau terkadang nangis atau terkadang tanpa ekspresi. Itu masa-masa di pondok sampe semester tiga sepertinya. sebenernya tahun 2008, saya sudah punya blog sih, tapi lebih enak nulis diary, sekalian melatih tulisan tangan. Jadi kangen nulis pake tangan lagi. Hehehe. Kapan ya? Semoga ajaada yang mau kasih buku diary lucu di ulang tahun saya #ngarep.

Thursday, 10 May 2012

First Anniversary

Ini memang first anniversary saya, namun bukan dengan seorang lelaki.
Melainkan dengan PARAPLUIE
Parapluie? Itu nama penerbitan yang saya rintis dengan lima oramg teman saya. Ada Ana, Eva, Iman, Irul, Yayun, dan saya.
Semoga langgeng selalu untuk selamanya. Amin

Tuesday, 8 May 2012

Hidupku Bukan Hidupnya


Selamat pagi menjelang siang!!!! Sudah tanggal 8 Mei 2012. Sebelum kembali berkutat dengan skripsi, saya ingin menulis sedikit paragraf tentang sesuatu yang akhir-akhir ini berterbangan di pikiran saya. Beberapa hari ini, tanpa sengaja, saya bertemu dengan orang-orang galau bin bimbang. Pasalnya sih macam-macam. Mulai yang ribut belum dapet pacar sampe umur 24 tahun atau yang diminta sang pacar untuk ngelanjutin kuliah bareng-bareng. katanya sih biar selalu bersama untuk selamanya. *Lebai yang belakang.

Sebenernya hal yang begini gak perlu dibuat galau bin bimbang. Saya sering banget diketawain karena menjomblo hampir 24 tahun (curcol bo!). Hehe. Kaget? Biasa aja tuh. Really! menurut saya sih, dalam hal jodoh gak ada yang namanya sistem 'siapa cepat, itu yang dapat'. Maksudnya, belum tentu orang-orang yang udah berpacaran lama atau dapet pacar sebelum saya akan menemukan jodohnya lebih dulu daripada saya kelak. Pacar kan sekedar pacar. Semacam perkenalan lebih dalem aja tentang diri masing-masing. Kalau cocok ya lanjut, kalo nggak cocok ya... loh guweh end! 

Jadi, jangan sampai kita terlalu sayang dengan pacar sehingga sampai memberi yang sebenernya belum patut kita beri karena kita gak tahu apa yang akan terjadi nanti. Nggak hanya soal,virgin aja sih. Soal lain juga banyak dan ini fakta. Contohnya si cewek tiap hari Ahad operasi semut di kos cowoknya; bersihin kamarnyalah, ngepel, sampe nyuci bajunya. Bayangkan! Kita bukan apa-apanya mereka. Kalo saya, mending bersihin kos saya atau ngerjain tugas kuliah yang numpuk deh, lebih kerasa manfaatnya buat saya. Hehe.

Nah, karena terlalu sayang inilah yang membuat kita lalai untuk merencanakan masa depan kita sendiri. Menurut saya, hidupku bukan hidupnya (pacar). Bayangin aja, misalnya kita pengen jadi dosen. Setelah lulus ada tawaran untuk jadi dosen plus dikuliahin lagi GRATIS TIS TIS! Tapi, sang pacar menginginkan kita melanjutkan kuliah di kota tempat dia kuliah. sayangnya, jika mengikuti keinginan sang pacar, kita kuliah pake duit sendiri dan nggak dapat kesempatan untuk menjadi apa yang kita inginkan. Hayoo mau pilih yang mana? Kalo saya sih pasti pilih yang pertama. Karena saya harus merencanakan dan menjalani masa depan sendiri, kecuali jika sudah menikah. Itu lain lagi urusannya hehe. Tapi, kalo sekedar pacaran... ya sayang banget untuk menghabiskan hidup kita dengan selalu patuh dengan pacar. Iya kalau si dia itu adalah orang yang nemenin kita di pelaminan, kalau putus di tengah jalan? Piye?

Kedua orangtua saya sebenernya bukanlah tipe yang melarang anak-anaknya pacaran. Saya pun begitu. Saya bukan orang yang mengharamkan pacaran. Tapi, setidaknya ada prinsip-prinsip yang harus kita pegang. Saat kita memutuskan untuk berpacaran, seharusnya kita perpikir bahwa pacaran bukanlah suatu ikatan resmi antara perempuan dan laki-laki sehingga kita tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Sekali lagi, ini tidak hanya kasus virginitas semata. Sekarang sudah ada loh KDHP alias Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran. Ini sangat penting. Saat menjalani hubungan pacaran, seharusnya kedua pasangan harus saling menghormati jalan hidup masa depan masing-masing sampai masa depan kita dan pasangan kita bersatu kelak. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa memohon yang terbaik dari-Nya.Tapi, kalo kita gak mau terjerumus, lebih baik kita gak usah pacaran. Ingat! Mencegah lebih baik daripada mengobati loh!

Sunday, 6 May 2012

Skripsi Shinta

Bulan Mei telah tiba. Yang terpikir oleh saya adalah kapan skripsi saya akan selesai. Fiuh. Banyak sekali yang terjadi dalam fase kehidupan akademik saya kali ini. Setiap hari sibuk membaca, buka kamus, ngelamun, atau malah main game. Terkandang saya begitu semangat untuk mengerjakannya, terkadang saya males banget melirik skripsi saya itu. Terkadang, ide brilian untuk penulisan skripsi baru mampir pas mepet waktu bimbingan. Ckckckckckck. Parah banget ya saya? Tapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa tentang hal ini. This is all my fault! Yang dengan mudah terbujuk dengan hal-hal yang nggak bermanfaat untuk penyelesaian skripsi saya.

Saya harus semangat! Saya harus segera menyelesaikan skripsi ini agar saya bisa mengerjakan semua planning yang sudah saya susun dengan rapi. Namun untuk mengerjakan planning-palnning tersebut, saya harus melewati skripsi. Bagaimana untuk melewatinya? Ya otomatis dengan mengerjakannya. Karena satu-satunya jalan untuk menghadapi sesuatu, ya mesti dengan menjalaninya. Semangat Shinta!!!!!!


 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang