Monday, 31 December 2012

Pergantian Tahun

Beberapa jam lagi tahun baru datang. Di luar jendela sana, euforia penyambutan tahun baru telah menggema. Hujan memang turun, namun tampaknya masyarakat tetap berbondong-bondong menuju titik-titik keramaian yang akan menyajikkan macam-macam kegiatan untuk mengisi euforia menjelang pergantian tahun. Aku? Aku masih seperti tahun-tahun yang lalu. Rasanya tidak ada yang spesial dalam setiap event pergantian tahun sama dengan tahun-tahun yang lalu. Tidak ada euforia, yang ada hanya untaian doa untuk mengharap masa depan yang lebih cemerlang. 

Dan tahun 2013 ini adalah tahun perjuangan hidup perdanaku. Benar-benar perjuangan untuk mencoba menjalani hidup tanpa meminta pasokan lagi dari orang tua. Hanya usaha dan doa yang akan kulantunkan. Semoga Tuhan mendengar doaku dan melihat usahaku. Ini langkah baruku di tahun baru yang akan datang beberapa jam lagi. Banyak harapan di sana; semoga semua usaha yang aku dan teman-teman rintis kelak akan sukses, semoga keluarga yang kucintai selalu diberi kebahagian di dunia dan akhirat serta selalu dimudahkan rezkinya, semoga ada jalan untuk menjadi seorang pengajar, semoga tahun ini aku bisa melanjutkan studiku dan meneliti puisi-puisi Qabbany lagi. Aku harus bekerja keras dan harus selalu ingat bahwa aku memiliki-Nya, Dia yang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Finally, I'am thingking about my future man who will spend his lifetime loving me. This is my secret wish in this new year.


Wednesday, 26 December 2012

English Vinglish: Kekuatan Hati Wanita

English Vinglish adalah sebuah film India tentang seorang ibu rumah tangga bernama Shasi. Untuk mengisi waktu luangnya, ia membuat laddo dan menjualnya. Dia adalah tipe wanita konservatif yang masih mengikuti norma yang berlaku dalam masyarakat di lingkungannya sehingga dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurus suami dan kedua anak-anaknya. Namun, karena dia tidak bisa berbahasa Inggris, ia sering diejek oleh suaminya, Satish, dan anak perempuannya, Sapna. Malah anak perempuannya sampai malu memperkenalkannya kepada guru-guru di sekolah akibat keterbatasannya.

Suatu hari, keluarganya diundang oleh Manu, adik Shasi, untuk menghadiri acara pernikahan anaknya di New York. Satish memintanya untuk pergi duluan agar bisa membantu Manu. Diam-diam, Shasi mendaftar kursus kelas percakapan bahasa Inggris dalam 4 minggu. Di sana ia bertemu dengan teman-teman baru dan semuanya tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka adalah seorang supir taksi bernama Salman Khan dari Pakistan, Eva seorang nanny dari Meksiko, Yu Son seorang penata rambut dari China, Rama seorang engineer dari India, Udumke dari Afrika, dan Laurent seorang koki dari Prancis. Kelas itu sangat mengasyikkan dan Sashi menikmati hari-harinya belajar bahasa Inggris. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang baik dan supel sehingga teman-temannya menyukainya. Karena kepribadiannya itu, Laurent tertarik padanya. Laurent sangat berbeda dengan suaminya yang selalu mengolok-olok bahwa dia terlahir untuk mengurus rumah tangga dan membuat laddo. Laurent sangat menghargai apa yang dikerjakan Shashi. Suatu hari, Laurent mengungkapkan perasaannya pada Shasi. Namun, Shasi masih setia dengan suami dan keluarganya.

Suatu hari, suami dan anak-anaknya datang dan ia otomatis sibuk mengurus keluarganya dan mengurus persiapan pernikahan sehingga ia tidak bisa masuk kelas bahasa Inggris itu lagi. Dengan bantuan keponakannya, Radha, ia tetap dapat belajar via telepon selular. Karena tes bahasa Inggris bertepatan dengan hari pernikahan keponakannya, Radha mengundang guru dan teman-teman bahasa Inggris Shasi. Ia kaget dengan kehadiran teman-temannya itu. Lalu ia memperkenalkan teman-temannya kepada Satish. Satish tidak menyangka bahwa istrinya punya banyak teman di New York. Saat perayaan pernikahan itu, Shasi mencoba memberi sambutan dan pesan untuk kedua mempelai dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia menghatakan bahwa memiliki sebuah keluarga adalah hal yang terindah dalam pernikahan. Family is only one who will never laugh at your weakness. Family is only place will you always get love and respect. Kata-katanya ini, membuat anak perempuan dan suaminya sadar dengan yang mereka lakukan terhadap Shasi.


Dari film ini, kita bisa tahu bahwa itulah kekuatan hati seorang wanita. Walau ia disakiti oleh keluarganya, ia akan tetap setia mendampingi suaminya dan merawat anak-anaknya dengan segenap kasih sayang yang dimilikinya. Wanita bukan dilahirkan untuk membuat laddo atau sejenisnya. Wanita juga setara dengan pria. Wanita harus belajar setinggi-tingginya tak peduli apa pilihannya nanti. Berkarirkah atau hanya menjadi ibu rumah tangga. Wanita tetap harus pintar karena ia akan menjadi seorang ibu. And... I proud of being a woman.

Monday, 3 December 2012

Almost 25

Kembali membuka lembaran album foto dan menemukan banyak kenangan lampau masa lalu. Mulai sejak aku masih dalam gendongan papa dan mama, bahkan paman dan bibi yang turut serta merawat dan membesarkanku. Tak lupa pula mbah kakung dan mbah putri yang dengan penuh kasih juga turut serta merawat diri ini. Betapa aku sangat disayangi oleh mereka. 

Kubuka lagi lembaran selanjutnya. Kutemui potret-potret saat aku duduk di taman kanak-kanak. Akhirnya aku merasakan dengan jelas hidup bersama papa dan mama. Masa taman kanak-kanak adalah sebuah masa yang menyenangkan. Namanya juga masih anak-anak yang lagi menggemaskan dan lucu-lucunya. Saat itu, aku adalah pribadi yang ceria, aktif, dan kreatif. Memang sih, dalam soal akademik, aku agak lamban. Haha, honestly aku baru bisa baca waktu duduk di kelas satu SD. Tapi itulah aku yang (insyaallah) mampu  mengejar ketinggalan. (Hal ini pun terjadi saat masuk pesantren). Kembali ke cerita semula. Saat itu, aku senang sekali ikut berbagai macam lomba, seperti lomba mewarnai, menggambar, menyanyi, dan juga lomba fashion show (teman-temanku tak ada yang percaya kalo aku suka ikut lomba fashion show waktu kecil). Nggak semua lomba aku menangi sih, tapi nggak sedikit juga yang aku menangkan (Sayang piala-pialanya hancur akibat gempa 30 September 2009). Aku juga sudah mandiri. Lihat saja! Dulu aku pernah jadi anak daro ketek (semacam little bridemaid) pernikahan rekan mama yang menikah di luar kota Padang. Walhasil, aku ikut pergi tanpa didampingi orangtua. Belum lagi tentang liburan dadakanku ke Palembang bersama Om Eri dan Tante Ema saat idul fitri ketika aku berumur 3,5 tahun. Aku pergi ke Palembang tanpa orangtua juga. Mama dan Papa sempat khawatir. Namun, aku selalu enjoy. Malah saat mama telepon, aku katakan bahwa aku sekarang bisa cebok sendiri. Aku mengatakan itu dengan sangat bangga.

Kubuka lagi lembar berikutnya. Kulirik potret-potret yang berbaris rapi. Itu potret-potret saat aku mulai duduk di bangku SD. Yippi. Akhirnya aku bisa membaca. Saking senangnya karena bisa membaca, aku selalu membaca papan iklan, papan petunjuk jalan, bahkan papan nama yayasan yang bertebaran di pinggiran jalan. Keranjingan membaca sepertinya masih terpatri hingga sekarang (melirik rak buku yang sudah sumpek karena kebanyakan buku). Masa SD juga masa menyenangkan. Aku nggak suka pelajaran Matematika, tapi aku suka bahasa Inggris. Waktu SD, aku sesekali masih ikut lomba nyanyi, paduan suara, dan menggambar. Trus, aku tertarik dengan puisi dan beberapa kali membaca puisi di depan kelas adan saat perpisahan kakak-kakak kelas 6. Nah! Di masa ini juga aku memutuskan memakai jilbab pertamaku tanpa paksaan dari mama dan papa (aku lebih dulu pake jilbab daripada mama). Dan di kelas 6, aku memutuskan untuk masuk pesantren.

Masa-masa di pesantren itulah yang sangat menyenangkan dan membekas dalam benakku. Cerita tentang pesantren dan kehidupannya, tak kan muat deh kalau ditulis semuanya dalam postingan kali ini. Intinya, hidup di pesantren selama 6 tahun itu penuh dengan suka dan duka. Memang sih, lebih banyak dukanya. Namun, marilah kita lihat duka tersebut dari segi positif. Insyaallah... kita akan menemukan sesuatu bermanfaat yang akan berguna bagi kehidupan kita di luar pesantren kelak. Pengen sih berbagi tentang ini. Mungkin suatu hari kelak ya nama saya bisa sejajar dengan Bang Fuadi. Hehehe. Amin.

Selanjutnya yang nggak kalah menarik adalah masa kuliah. Setelah keluar pesantren, rasanya gamang banget menghadapi kehidupan di luar tembok pesantren. Pasalnya aku nggak terlalu paham dengan sistem pendidikan non pesantren yang terkesan angker. Di pesantren dulu, tidak ada yang namanya penjurusan IPA, IPS, atau bahasa. Semua dipelajari keculi pelajaran ekonomi. Hehe. Saat itu, aku sempat mengatur list mau melanjutkan di universitas mana dengan menempuh ujian apa. List pertamaku adalah ikut UM UGM. Dan list itulah yang mengantarkanku ke UGM. Soal jurusan, aku nggak muluk-muluk. Aku memilih apa yang aku inginkan. Seperti biasa, mama dan papa tidak pernah memaksakan pilihan mereka. Aku bebas memilih. Aku suka mempelajari bahasa, karena itu aku pilih jurusan sastra. Dan... Aku bangga menjadi bagian dari Sastra Asia Barat UGM.

Kini, masa kuliah strata 1 telah usai. Penyusunan listku juga selesai. Namun, banyak kebimbangan dan keraguan yang menghalangi. Rasanya, aku masih ingin kembali belajar dan berkutat dengan teori-teori sastra serta berencana meneliti puisi Qabbani lagi. Namun, kendala biaya dan umur bergentayangan menakut-nakutiku bagai hantu. (Well, aku sedang berusaha untuk mengejar beasiswa). Tapi kalo soal umur... itu masalah yang belum terpecahkan. Hahahaha. Ngakak menutupi kemirisan. Cita-citaku sih nggak muluk-muluk karena aku nggak terlalu tertarik untuk kerja di perusahaan atau di kedutaan. Aku hanya pengen mnegajar dan berwirausaha. That's it!. Fiuhh. Semoga Tuhan mendengar doa-doaku dan kini sedang Dia mempersiapkan kejutan manis untukku. Yang terpenting aku harus tetap berusaha dan berdoa.

Btw. Almost 25. Dan ada rasa malu juga karena belum bisa memberikan apapun untuk keluarga tercinta. Sedih, tapi harus tetap semangat berusaha dan berdoa. Harus percaya diri dan nggak boleh putus asa.

Monday, 26 November 2012

Pulang

Senja di Yogyakarta memang selalu memesona. Selalu mampu membuatku berada dalam dilema. Berat rasanya pergi meninggalkan kota ini. Namun, aku harus pulang untuk mengabdikan diri kepada keluarga tersayang. Kapan lagi aku akan hidup bersama mereka? Selama ini, aku selalu pergi menjauh dari rumah. Bukan karena kesengajaan, namun karena nasib yang menerbangkan. Ada kecemasan akan meninggalkan kota ini. Namun ada juga ketakutan bahwa aku tak kan pernah punya waktu untuk mengabdi kepada mereka, keluargaku tersayang. Aku harus pulang. Setidak untuk beberapa saat karena kurasa, aku tak mampu jua meninggalkan kota ini.




Sunday, 25 November 2012

Ragu

Apa betul aku punya bakat menulis? Kata dosen pembimbing skripsiku, aku berbakat untuk menulis dan beliau memintaku untuk terus berlatih menulis dan menulis kemudian memintaku menulis sebuah karya ilmiah di blog. Kata-kata beliau masih terngiang-ngiang dalam benak. Tapi, aku masih saja meragu. Permintaan beliau untuk menulis lagi pun belum kulakukan sama sekali. Dalam lubuk hati, aku memang ingin menulis, tapi ya tulisanku hanya seperti ini. Sederhana dan tampaknya kurang berbobot. Hehehe... Aku pribadi sih senang-senang aja nulis. Karena dengan menulis, aku bisa menciptakan dunia yang kuinginkan sesuka hati. Aku adalah penguasa dalam dunia imajinasi sendiri. Tapi... ya tulisan-tulisan itu hanya kukonsumsi sendiri tanpa pernah kubagi atau kupublikasi. Tapi, suatu hari ingin juga sih karya tulisanku dikenal khalayak ramai. Bisakah aku? Masih meragu....


Friday, 23 November 2012

Dicintai

Kota ini tampaknya masih berteman dengan hujan. Lihat saja di luar sana hujan masih menyisakan tetesan demi tetesan menciptakan genangan air di permukaan jalan. Senyumku tiba-tiba mengembang. Kilas balik masa lampau berputar-putar mengambang. Aku ingat jika dulu aku pernah melakukan  suatu kebodohan besar. Kebodohanku adalah pernah memendam rasa cinta untuknya. Tiap hari tak henti-hentinya aku memikirkannya. Aku berharap dia punya rasa yang sama denganku. Namun aku salah. Dia hanya angin yang datang sesaat. Dia memberikan aku rasa sejuk dan nyaman. Lalu dia tinggalkan aku sendirian tanpa kepastian. Di benakku, cinta tak lagi indah. Cinta tak lagi membahagiakan. Cinta hanya penderitaan dan kesia-siaan, Entah sudah berapa lama aku tak bersahabat dengan cinta lagi. Aku tak berpikir untuk mencintai sekali lagi. Aku hanya ingin dicintai agar hati ini tidak tersakiti.

Berharap suatu saat semua kembali normal; aku tak takut lagi untuk mencintai

Thursday, 22 November 2012

The End of The Beginning



Wisuda adalah akhir dari sebuah awal. Awal dimana kita merasakan suka duka kehidupan yang sesungguhnya. Awal untuk berusaha dan bertahan tanpa pasokan dana dari orangtua. Terseok, tertatih, jatuh. Namun, itulah hidup. Harus dijalani dengan hati yang kuat, kesungguhan yang luar biasa, dan doa kepada-Nya. (Sate Padang, 17 Juli 2012)

Friday, 16 November 2012

Sisa Memori Tentangmu

Aku terduduk dalam kamarku yang hening bebas dari bising. Dari jendela kamar kulihat titik-titik hujan masih berjatuhan menerpa jalanan. Hujan dan hening. Kedua hal itu sukses mengingatkanku kembali pada dirimu yang pernah mengisi hari-hari dengan kecerian, yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan, yang menorehkan luka hati yang dalam, yang membuat hati ini tertutup rapat untuk cinta lain yang ditawarkan.

Aku masih ingat bagaimana awal kita jumpa kemudian melalui hari-hari bersama. Aku masih merasakan kecerian itu. Tawa kita. Canda kita. Dan juga amarah kita. Awalnya biasa saja. Aku tak pernah merasakan apa-apa. Kau hanya teman atau setidaknya kuanggap kau kakak laki-laki semata. Namun, rasa itu menelusup begitu saja dalam kalbu. Tiba-tiba... aku menginginkanmu lebih dari sekedar teman. Namun apalah daya? Aku hanya seorang wanita yang terlahir dalam budaya timur yang para wanitanya diharuskan malu-malu mengungkapkan rasa cinta duluan. Aku hanya memendam rasa itu jauh di lubuk hatiku. Tak ada yang tahu kecuali aku dan Dia. Kau tahu? Tiap malam aku selalu menitikkan air mataku mengadu pada-Nya bahwa aku tak sanggup menanggung beban ini. Aku menunggu dan terus menunggu. Namun, pada akhirnya kau sirna tanpa kabar berita.

Aku salah dan terlalu banyak berharap. Kau tak punya rasa yang sama dengan yang kurasakan. Namun... salahkah aku memaknai kebersamaan? Salahkah aku menafsirkan semua perhatian? Memang mungkin aku terlalu percaya diri dan yakin bahwa kau juga punya rasa itu padaku. Ah bodohnya aku yang pernah mencintaimu! Aku hanya bisa tertawa miris mengingatmu dan kenangan-kenangan yang kau bawa dalam hidupku.

Kau tahu? Aku telah mempersiapkan diri jika kau tinggalkan aku pergi. Aku sadar semua yang kulakukan pasti punya konsekuensi. Kau tahu? Aku sangat tegar saat kau hilang. Aku sangat tegar saat mendengar kau bersanding dengan seseorang. Aku turut bahagia dan mendoakanmu menjadi keluarga bahagia bersama dia. Kau memang bukan untukku. Bukan karena kau tidak baik. Namun, karena Tuhan Maha Tahu siapa yang terbaik untukku dan untukmu. Tuhan akhirnya telah menjawab semua doa-doa yang kupanjatkan  di sepertiga malamku. Namun Dia belum memberitahuku siapa yang terbaik untukku. Mungkin Dia ingin memberi kejutan indah padaku suatu saat nanti.

Aku relakan dirimu. Namun apakah kau tahu? Kisah ini menorehkan satu hal dalam diriku. Aku belum mampu untuk jatuh hati lagi. Untuk apa jatuh hati lagi jika akhirnya akan tersakiti? Aku tertawa lagi. Miris kuadrat. Apakah mungkin cinta itu seperti undian dalam fish bowl? Tinggal kita aduk isi fish bowl itu dan ambil satu gulungan kertas di dalamnya. Lalu membuka nama yang tertera dan jegjengjengg.... orangnya langsung tersedia di samping kita tanpa perlu mencintainya terlebih dahulu. Lupakan! Itu hanya imajinasi liarku saja. Sekedar untuk menghibur diriku yang terdiam dalam keheningan malam. Sudahlah... ceracauku sudah semakin kacau tak menentu. Selama tinggal...



sepertinya aku harus mengembalikan selera membacaku ke genre novel misteri dan petualangan deh biar nggak galau kayak begini.

Thursday, 15 November 2012

Jago Merah Malang

Selesai sesi pemotretan pre wedding eh... maksudnya pre graduation, aku memutuskan untuk langsung belanja kebutuhan sehari-hari. Berhubung udah sore dan motor mau dipinjem, aku memutuskan belanja kilat dan langsung ke kasir. Ketika giliranku bayar, tiba-tiba pengeras dari bagian informasi supermarket tersebut membahana. Begini bunyinya kira-kira:
"Selamat sore. Panggilan kepada pemilik motor Vario Merah....

aku: "Vario merahh? punyaku dong?!

"....... dengan nomor polisi BA 6959 AG ditunggu kedatangannya di area parkir supermarket. Terima kasih. Selamat sore,"

Aku langsung kaget setelah mendengar pengumuman lengkap itu. Aduh! Ada apalagi ini? Aku deg-degan berat. Perasaan motorku itu udah aku parkir di tempat yang benar. Dengan terburu-buru. Aku mengambil barang-barang belanjaanku dan segera kabur ke area parkir. Di dekat motorku, berdiri dua orang pemuda  yang memberitahu bahwa motor mereka menabrak knalpot motorku hingga tutup knalpotnya lepas dengan sukses. Aku bingung, takut, sebel, marah, kesel. Argghhht!!!! Kenapa sih si Jago Merah kesayanganku itu selalu menjadi korban kebrutalan pengendara motor.

Dulu sebelum aku ujian pendadaran, si Jago Merah ditabrak dari samping sampe aku jatuh dan Jago Merah terluka. Pijakan kaki si jago Merah hancur dan bolong-bolong nggak karuan. Sekarang, kejadian lagi deh. Beberapa hari sebelum wisuda, si Jago Merah ditabrak lagi. Haduhhhh.... Kesel banget deh! Untungnya dua orang itu mau ganti. Berhubung udah sore dan bengkel udah pada tutup lapak. Akhirnya aku minta aja ketemuan langsung di bengkel sama kedua orang itu. Semoga mereka beneran mau ganti. Amin. 

Tuesday, 13 November 2012

Tak Pernah Bersedih?

"Kamu kok sepertinya nggak pernah bersedih? Ceria melulu. Gak pernah punya masalah ya?"

Aku hanya tersenyum menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka bilang aku selalu ceria dan tak pernah punya masalah. Siapa bilang aku tak punya masalah? Kalau aku tak punya masalah, kenapa aku harus hidup? Hidup itu kan tak pernah luput dari masalah yang kadang bikin kita sakit hati, menangis, pengen marah, dan sedih. Aku sama dengan mereka. Aku juga punya sejuta masalah dan sejuta keluh kesah. Yang beda hanya keceriaan yang selalu terpancar walau aku ada dalam masalah.

Entah kenapa setiap ada masalah atau ingin berkeluh kesah, aku selalu teringat bahwa masih banyak orang-orang yang lebih menderita dan ditimpa masalah lebih banyak dbandingkan aku. Jadi kenapa aku harus bersedih? Toh masalah dan keluh kesah tak kan habis dengan hanya bersedih dan menagis. Tapi, aku juga bukan orang kuat, kadang aku juga menangis. Karena menangis terkadang dapat melegakan perasaan kita, tapi jangan terlalu ditangisi juga sih. Sekedarnya saja. Detik ini pun, aku sedang menangis menahan rasa sakit. Mungkin setelah puas menitikkan air mata, aku akan pulang ke kos, mandi, dan tidur berharap esok pagi rasa sakit ini pergi.

Friday, 9 November 2012

Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai atau dicintai? Mana yang kau pilih? Kalau aku lebih memilih untuk dicintai ketimbang mencintai. Pilihan ini memang berdasarkan pengalaman masa silam. Mencintai itu adalah suatu hal yang menyakitkan apalagi untuk seorang perempuan yang tak bisa mengungkapkan rasa cinta yang dipendam. Bahkan emansipasi wanita yang saat ini sedang gencar sekalipun tak akan berlaku dalam hal ini. Untuk apa mencintai jika akhirnya menyakiti hati?


Friday, 2 November 2012

Friendshit

Bagiku, di dunia ini nggak ada yang namanya friendship, close friend, best firend, sahabat dekat, atau apalah itu istilahnya. Bagiku, teman ya teman saja. Sekedar berteman sajalah karena toh manusia nggak bakal bisa hidup sendirian di muka bumi. Temen itu emang selalu ada dalam suka dan duka, dalam sedih dan tawa. Tapi dengan satu catatan: kalo kita dan mereka masih berstatus jomblo. Kalo mereka udah bertemu dengan cinta mereka... ya siap-siap ikhlasin kepergian mereka dan siap-siap juga nerima mereka kembali ketika mereka sedang punya masalah dengan pasangan mereka. Saat masalah mereka selesai, ya ikhlasin lagi mereka kembali ke pasangan mereka dan begitu seterusnya. Toh itu adalah kehidupan baru mereka. Kita pun akan menemui kehidupan baru kita dan bertemu dengan teman-teman baru lagi. Intinya sih adalah ikhlas dan cari teman baru sebanyak-banyaknya. Nggak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada hanya individu yang berusaha menjadikan persahabatannya sempurna. Persahabatan itu bak pergantian musim yang sama-sama datang silih berganti.


Monday, 29 October 2012

Kata Kajol

If you are a women, then you are a mom type because every girl has this mom formula hidden in her as soon as she born. Career women, like you, forget this. But when the time comes, you will remember everything (We Are Family).

Itu kalimat yangaku kutip dari salah satu scene film We Are Family. Kalimat yang bagus dan ngena banget. Bener juga ya kalo naluri keibuan itu telah ada dalam diri seorang wanita semenjak ia lahir. Mungkin terkadang, ia lupa karena terlalu sibuk dengan dunia yang digelutinya. Namun, jika saatnya tiba,dia akan ingat semuanya. Indahnya menjadi seorang wanita. Aku bersyukur untuk itu.


Sunday, 28 October 2012

Hymne: Peraturan

Hari ini masih saja irama hymne "Oh Ponndokku" mengalus dari MP3 handphone. Beribcara tentang pondok, otomatis tak kan bisa lepas dari yang namanya peraturan. Aku jadi teringat dengan keponakan ibu kos yang membatalkan niatnya masuk pondok karena ada peraturan bahwa di pondok para santriwati tidak diperkenankan memakai handphone. 

Itu hanya sebagian peraturan, kawan. Peraturan memang sekilas tampaknya memberatkan, menyulitkan, dan mempersempit kebebasan kita. Namun, apa yang terjadi jika tak ada peraturan di muka bumi? Semua pasti akan menjadi kacau balau dan manusia tak kan ada yang menghormati, menghargai, dan tenggang rasa satu dengan yang lainnya. Peraturan itu untukkebaikan kita sendiri kok.

Aku pribadi menghargai peraturan pondok yang berlaku. Kadang menyebalkan sih, namun aku berusaha memandang peraturan dari sudut pandang berbeda. Aku mencoba berpikir positif pada setiap peraturan. Contohnya adalah peraturan penggunaan bahasa Arab dan Inggris. Bayangkan saja jika peraturan itu tidak ada! Pasti para santri tak akan pernah mempraktekkan bahasa yang dipeajari sehingga mereka tidak akan pernah berani berinteraksi dengan bahasa tersebut.

Peraturan lain misalnya adalah diarang menggunakan handphone. Zaman sekarang yang namanya handphone sudah merajalela di masyarakat kita. Tua muda, kaya miskin semuanya punya handphone. Bahkan anak TK nol kecil saja sudah dibelikan handphone canggih. Handphone itu bagai obat candu. Sekali melirik layarnya, maka kita akan lupa dengan dunia nyata di sekitar kita. Kita pasti akan berkutat dengan benda itu. Dan akhirnya kita malas melakukan hal-hal nyata karena hanya berkutat dengan handphone  di tangan. Bayangkan saja jika seluruh santri di paondok membawa handphone! Pasti mereka tidak akan pernah berinteraksi satu dengan yang lain. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka dan handphone mereka. Mereka mungkin lebih memilih bermain dengan benda itu ketimbang mengikuti kegiatan-kegiatan mengasyikkan yang disediakan seperti pramuka, pidato, olah raga, musik, dan organisasi lainnya. Kegiatan itu memang tampaknya sepele, namun sebenarnya sangat berarti di kemudian hari.

Aku sangat menghargai peraturan pondok walau terkadang tak jarang aku langgar. Namun, ada satu peraturan yang masih sulit aku terima, yaitu para santri tidak boleh membaca dan menulis karya sastra. Itu peraturan saat aku masih mondok dulu. Aku suka membaca novel ataupun kumpulan cerpen. saat kelas1 sampai kelas 3, kami masihdiperbolehkan membaca novel ataupun kumpulan cerpen asalkan bertema islami, seperti karya Asma Nadia, Ari Nur, Izzatul Jannah, dan Pipit Senja. Tak masalah, peraturan ini masih bisa ditolerir. Setelah naik ke kelas 4 (sederajat dengan 1 SMA), ada peraturan baru, yaitu tidak boleh membaca karya sastra walau bertema islami. Sedih sekali rasanya. Untungnya masih ada cerita bersambung yang berjudul "Ayat-Ayat Cinta" di koran Republika saat itu. Jadilah cerbung itu sesuatu yang selalu kami nantikan kehadirannya sebagai pelipur lara akibat tak bisa membaca karya sastra. 

Lain halnya dengan peraturan dilarang menulis. Saat itu, aku baru seorang calon santriwati. Seorang teman sekamarku gemar sekali menulis cerpen. Cerpen itu ditulis di sebuah buku tulis isi 40. Tiap hari, ketika waktu senggang, dia terus menulis. Tulisannya berkisar pada cerita cinta dan persahabatan anak ABG. sesuailah dengan umur kamisaat itu. Suatu sore, aku duduk di sebelahnya menemaninya menulis. Tiba-tiba, seorang ustadzah lewat dan merebut buku tulis itu. Temanku diam saja, termasuk juga aku. Aku hanya diam.Takut dan heran. 

Ah andaikan aku punya kekuatan... ingin rasanya aku menghilangkan dua peraturan itu. Tak masalah jika para santri gemar membaca karya sastra atau menulis. Mungkin saja, kelak mereka jadi penulis handal yang melahirkan tulisan-tulisan bagus dari pondok. Semoga saja, peraturan itu kini tak lagi ada. Semoga saja, novel karya A. Fuadi menginspirasi para santri dan para pengurusnya untuk menghapus peraturan itu. Amiin.
Aku merindukan pondokku....

Wednesday, 24 October 2012

Romantisme

Ini mungkin kali keseribunya aku menonton film Bollywood yang berjudul "Ghajini". Film ini rupanya memberi kesan tersendiri bagiku. Kesan tersebut kudapatkan dari dua karakter dalam film ini, yaitu Sanjay Singhania (Aamir Khan) dan Kalpana Shetty (Asin Thottumkal). Kesan itu berupa arti romantisme. Romantisme itu tidak hanya ditunjukkan dengan perhatian berlebihan dan kontak fisik saja. Romantisme itu  ya bisa ditunjukkan dengan saling menyemangati satu sama lain, saling menguatkan, saling menghormati, saling menghargai, dan saling memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Itulah romantisme, kawan.

Tuesday, 16 October 2012

Hymne: Tong Seng

Instrumen hymne "Oh Pondokku" masih mengalun syahdu mengingatkan aku dengan sesuatu. Aku teringat tong seng. Namun, tong seng ini bukan tong seng gulai khas Jawa itu. Tong seng ini nama suatu tempat di area tempatku mondok dulu. Tong seng ini adalah deretan kamar mandi panjang berdinding seng dan baknya dari tong. Maka, jadilah kami menyebutnya tong seng.

Walau sederhana dan bukan merupakan tempat terkenal, tong seng ini punya tempat khusus di hati. Bagaimana tidak? Tong Seng ini bisa dibilang saksi bisu yang menyaksikanku menangis untuk pertama kalinya karena pisah dari orangtua untuk mondok selama 6 tahun lamanya. 

Aku ingat benar hari itu. Saat banyangan mama sirna dari pandangan, aku langsung sedih ingin menangis. Aku langsung masuk kamar dan mengambil baju ganti, handuk, dan alat mandiku. Setelah itu, aku menuju tong seng, masuk ke dalamnya dan mandi sambil menangis sejadi-jadinya. Selesai mandi di tong seng, hilang sudah rasa sedih itu. Kenapa harus sedih ya? Toh semua orang di sekitarku senasib denganku semua; sama-sama jauh dari orangtua.

Saturday, 13 October 2012

Baca Novel (Lagi)

Asyikkkk! Dua hari ini memang asoy geboy. Kembali ke rutinitas awal sebelum sibuk-sibuknya ngerjain skripsi, yaitu baca novel. Hehehe. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Seharian di dalam kamar meringkuk membaca banyak novel dan mengimajinasikan wajah tokoh dan latarnya dalam pikiran. Apalagi kalo hari hujan, semakin nikmatlah acara baca novelku itu. Hidupin kipas, selimutan, dan meringkuk membaca novel. Tampaknya aku memang merindukan kegiatan ini. Mungkin karena kegiatan ini pernah lama terhenti karena aku harus banyak baca buku teori penelitian sastra dan buku-buku acuan yang serius dan nggak bisa dibuat menghayal.

Dulu, aku seneng banget baca novel bertema cinta gitu. Kayaknya seru dan bikin haru. Tapi, semenjak kejadian 'cinta bertepuk sebelah tangan' itu, aku lebih memillih novel-novel misteri, petualangan, dan detektif, seperti The Lost Symbol, Sherlock Holmes, The Last Supper, dan The Grail Conspiracy. Rasanya seru aja mengimajinasikan petualangan-petualangan seru tersebut. Menjelajahi Gedung Capitol, White House, Baker Street, atau bahkan memikirkan keindahan kota Milan. Novel-novel bertema ini cocok banget untuk ngilangin galau akibat kasih tak sampai deh.

Akhir-akhir ini, aku malah tertarik baca novel yang bertema rumah tangga. Hehehehe. Mungkin emang saatnya aku ganti selera ya? Ya anggap aja untuk pelajaran di masa depanku kelak.Hehe. Salah satu, eh salah dua yang kusuka adalah Quarter Life Dilemma, C'est La Vie, Test Pack, dan Alpha Wife. Yang terbaru ya yang terakhir. Aku suka sama tema ceritanya yang mengusung tentang alphawife. Sekarang kan jaman tuh masalah alpha wife dalam rumah tangga. Aku kira, aku perlu sedikit tahu tentang masalah ini.

Friday, 12 October 2012

Asal Mula

Jika ditanya seberapa sukakah aku sama pilem Bollywood. Mungkin aku akan menjawab bahwa aku suka pilem Bollywood kayak mereka yang lagi kena deman Korean Wave gitu. Tapi bedanya, aku nggak bakal tereak-tereak kalo ketemu ama aktor atau artis favoritku (sadar umur).

Awalnya, dulu aku nggak suka pilem India. Pertamanya sih karena dilarang sama emak nonton pilem India soalnya adegannya "ngeri". Ya sudah, saya nggak pernah suka sama pilem India. Waktu masuk pesantren, ternyata lagu India adalah sesuatu yang wajib dalam acara-acara penting pesantren, sebut saja acara Apel Tahunan, Drama Arena, dan Panggung Gembira, semacam pentas seni gitulah kalo di SMP ato SMA. Apalagi teman-teman sekamar sering "mencekoki" aku dengan cerita-cerita pilem India. Mulai dari Kuch Kuch Hotahai, Mohabbatain, Khusi, Mann, dll deh. Namun, saat itu aku masih belum tertarik, aku cuma suka dengerin lagunya aja. Itupun karena sering diputar waktu latihan nari. 

Waktu semester 1, akhirnya aku nonton Kuch Kuch Hotahai. Itu pilem India pertama yang aku tonton (Halo??!! Kemana aja guweh? Baru nonton Kuch Kuch Hotahai waktu semester 1). Tapi, aku belon tertarik sama pilem India. Kok ceritanya gitu-gitu aja dan ada nyanyi-nyanyinya yang panjang plus bikin ngantuk. Akhirnya, aku memutuskan kalo aku nggak suka pilem India sampai bermunculanlah pilem India tahun 2000-an, kayak Slumdog Millionaire, My Name is Khan, dan 3 Idiots. Awalnya sih sempat underestimate sama pilem-pilem tersebut. Eh ternyata pilem-pilemnya bagus-bagus banget. Setelah nonton 3 pilem tersebut, akhirnya aku keranjingan cari info seputar pilem India tahun 2000-an. Ternyata bagus-bagus dan penuh dengan pesan. Oh ya. Pertama sih kurang suka sama adegan nyanyi dan narinya, tapi lama kelamaan, aku nikmati juga. Malah aku bela-belain download lagu-lagunya hehe. Pilem India tanpa adegan nyanyi dan nari kayakny sama dengan sayur tanpa garam ya.

So... bener juga kata orang, Don't Judge the book by it's cover.Hehe. Enjoy dan nikmati pilem India. Nggak bakal nyesel kok.

Thursday, 11 October 2012

Sekseehh

Akhirnya aku terbujuk dengan rayuan pulau kelapa, eh salah, maksudnya rayuan maut temenku untuk nonton     pilem di bioskop. Pertamanya sih, aku nggak pengen ikut, berhubung isi kantong menipis dan capek karena seharian nguruusin naskah skripsi. Tapi, dipikir-pikir, bolehlah sekali-sekali menghibur diri pergi nonton ke bioskop. Kali ini pilemnya dipilihin sama teman. Judulnya "Looper" (Bukan loper koran ya!). 

Ceritanya tentang pembunuh bayaran yang membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu dari masa depan. Pilemnya lumayan menegangkanlah walau agak harus mikir untuk mencerna ceritanya. Yang penting, kali ini aku nggak menyia-nyiakan dua puluh llima ribu untuk beli tiket. Pasalnya, dulu aku pernah trauma nonton pilem di bioskop. Udah bayar mahal-mahal, eh akunya malah tidur pulas. Ckckckckckck. Kalo mo tidur, ngapain di bioskop ya?Tapi yang paling berkesan ya itu, si Joseph Gordon Levitt yang menjadi peran utama. Dia seksi banget dengan potongan rambut kayak gitu. Dan satu lagi, bibirnya juga seksehhhh. Beuhhh. Ckckckcckckck.Semoga ada lanjutannya nih pilem. Rodo ngegantung sih. Tapi like this lah.


Wednesday, 10 October 2012

Pasti Ada Hikmah

"Abis lulus mau kemana, Shin?" Tanya Bu Mahmudah, dosenku, saat menemani beliau beli snack.
"Saya pengen lanjut S2, Bu" Kataku bersemangat. Aku memang pengen lanjut S2. Aku memang masih punya keinginan besar untuk mendalami sastra Arab. Aku masih ingin lagi meneliti karya sastra Arab dengan teori-teori  kritik sastra yang lebih tajam ketimbang yang aku dapatkan di S1. Rasanya  nama Nizar Qabbaniy masih mengelilingi otakku. Tanganku juga gatal untuk mencari-cari dan memborong karya-karyanya yang lain dan membacanya. Nanti aku ingin mengulas tentang Nizar Qabbaniy lagi dalam tesisku, mungkin dengan semiotik lagi atau teori kritik sastra yang lain, seperti kritik sastra feminis. Namun, aku sadar bahwa biaya S2 itu nggak murah. Sebentar lagi adekku juga masuk kuliah. Mama juga sedang S2. Papa? Aku sudah bertekad tidak akan memberatkan beliau.

"Bagus kalau kamu mau melanjutkan kuliah. Coba cari beasiswa. Tanya-tanya sama temanmu. Kemaren kan ada anak Sastra Arab yang dapat beasiswa unggulan," Suara Bu Mahmudah memecah lamunan.
"Iya, Bu" Kataku sambil mengangguk setengah hati teringat bahwa temenku yang dapat beasiswa itu agak terkenal pelit ilmu dan informasi, apalagi info beasiswa.

Beasiswa ya? Siapa yang gak pengen dapet beasiswa? Aku juga pengen dapet beasiswa seperti mereka. Aku juga nggak pengen kale ngeberatin beban orangtuaku yang harus ngeluarin banyak biaya. Tapi aku kepalang antipati sama yang namanya beasiswa. Beasiswa itu nggak jelas. Dulu ada penawaran beasiswa BOP intinya beasiswa itu ditujukan untuk mahasiswa yang IP-nya bisa dibilang gedelah. Dengan semangat 2012, aku ikut apply beasiswa itu dan sangat berharap banget karena saat itu, IP-ku lagi hot-hotnya, Lumayanlah ngalahin teman seangkatanku yang langganan IP tinggi. Namun, ternyata oh ternyata, aku nggak dapat beasiswa itu. Malah teman-temanku yang IP-nya di bawahku yang pada dapet. Haduhh. Makjleb rasanya hati ini!

Terus waktu biaya kuliah membengkak karena harus bayar uang KKN, aku juga ikut apply beasiswa lagi. Kalo dapet ya lumayanlah, beban orang tua bisa terkurangi. Ternyata sama saja. Hasilnya mengecewakan. Ini lebih parah! yang dapat malah kakak-kakak angkatan yang notabene cuma tinggal nyusun skripsi doank. Harusnya lebih baik beasiswa itu dialirkan kepada mahasiswa yang masih banyak menanggung beban SKS, dan saat itu plus beban biaya KKN.

Belon lagi beasiswa yang ditujukan untuk mahasiswa kurang mampu. Kayaknya beaasiswa itu perlu diperhatikan dan ditinjau ulang lagi deh. Harus jelas kategori "MISKIN" itu yang bagaimana. Apakah orang yang tiap hari pulang pergi pakai motor, bawa laptop, dan bisa liburan ke Malaisya dan Singapura itu bisa dikategorikan miskin?? Hal yang seperti ini banyak sekali terjadi. Harusnya calon penerima beasiswa ini   menjalani penghitungan kekayaan orangtua kayak calon presiden gitu biar jelas dan nggak ada yang terdzolimi. Kasihan kan sama yang benar-benar membutuhkan beasiswa itu, malah nggak dapat.

Sempat ada kekhawatiran kalo seandainya nanti aku apply beasiswa lagi lalu ternyata hasilnya mengecewakan lagi. Mungkin aja kategori calon penerima beasiswa S2 itu nggak jelas lagi kayak beasiswa yang sudah-sudah itu."Astagfirullah. Ampuni Aku Tuhan. Tersadar, aku berburuk sangka lagi kepada-Mu." 

Semoga ada hikmah di balik semua susah. Aku yakin Tuhan menyiapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih menyenangkan daripada beasiswa yang dulu-dulu itu, asal aku selalu usaha dan selalu mengiringi usaha tersebut dengan doa. Where there is a will, there is a way. Aku harus tetap semangatdan yakin bahwa aku bisa lanjut kuliah. Semangat! Semangat! (sambil ngepalin tinju kanan ke udara)

 

Sate Padang Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang